Gardu Dua Belas berbau persis seperti gardu mana pun: ozon, debu, dan minyak trafo yang menua. Anjani berhenti di ambang pintunya dan, untuk sesaat, hanya berdiri menghirupnya. Bertahun-tahun bau ini berarti pekerjaan; lalu, sejak malam busur putih, ia berarti bahaya, godaan, tubuhnya yang ingin menarik arus dari setiap kabel di ruangan. Malam ini ia memaksa dirinya mencium bau itu sebagai bau pekerjaan kembali, semata pekerjaan, dan ia melangkah masuk dengan obeng ayahnya di tangan dan sarung tangan isolasi yang dulu ia rakit di bengkel, bukan untuk melindungi orang lain dari dirinya kali ini, melainkan untuk melindungi dirinya seperti teknisi mana pun harus melindungi diri dari panel hidup.
Di luar, Bayu menjaga pintu dan radio, terhubung dengan Mawar di ruang kendali. Di dalam, Anjani membuka panel proteksi dan menyenter relenya, dan apa yang ia lihat membuatnya hampir tersenyum karena tahu betul siapa yang memasangnya. Galih sudah ditahan, tapi mereka menyewa tangan baru, dan tangan baru itu meniru gaya Galih, mengakali rele agar gardu menjatuhkan dirinya sendiri pada beban tertentu, terprogram untuk gagal pada lonjakan yang akan datang otomatis saat beban malam memuncak. Halus, profesional, dan, bagi mata yang tidak terlatih, tampak seperti kegagalan gardu tua yang biasa. Bagi mata Anjani, ia setransparan tulisan tangan yang ia kenal.
"Ada empat," katanya ke radio, suaranya rendah dan rata, suara kerja. "Dua Belas, lima belas, delapan belas, sama satu lagi yang ngumpan. Mereka set buat jatuh berurutan, biar kelihatan kaskade. Aku mulai dari yang pertama dalam urutan, bukan yang fisiknya paling deket." Ia berhenti. "Bayu, ini bukan soal kecepatan tubuh kayak dulu. Ini soal urutan. Salah urutan, gardunya jatuh pas aku lagi di dalemnya, dan aku nggak punya muatan buat nyelametin diri sendiri. Jadi kita pelan. Kita bener."
Ia bekerja seperti ayahnya mengajarinya bekerja, jauh sebelum tubuhnya bisa menyala: pelan, berurutan, tidak pernah menyentuh dua hal sekaligus, selalu memastikan satu titik mati sebelum membuka titik berikutnya. Ia mengembalikan setelan rele ke nilai yang benar, melepas jumper kecil yang dipasang untuk membuatnya gagal, mengembalikan proteksi ke fungsinya yang sesungguhnya, menjaga gardu. Ia bekerja dengan tangan yang masih diperban di sebelah kiri, canggung, sehingga setiap putaran sekrup harus ia lakukan dengan tangan kanan saja, lebih lambat, lebih sabar. Sekali, jantungnya tersandung, dan ia berdiri diam, menempelkan punggung ke dinding beton yang dingin, menunggu sampai ritmenya kembali, tanpa Bayu menghitung untuknya, hanya dirinya dan tubuhnya dan pengetahuan tenang bahwa ia akan menunggu selama yang ia butuhkan.
Gardu Dua Belas aman. Lalu Mawar memandunya, lewat data, ke setelan beban yang harus ia ubah agar lonjakan yang dijadwalkan tidak pernah memuncak, tidak dengan menahannya seperti dulu Anjani menahan dengan tubuhnya, melainkan dengan membagi beban ke gardu-gardu di sekitarnya yang sehat, mengalirkannya merata sebelum ia menumpuk. Itu bukan kekuatan; itu manajemen beban, hal paling dasar yang dipelajari teknisi distribusi di tahun pertamanya. Tapi malam ini, dilakukan dengan presisi dan pengetahuan yang Anjani warisi, hal paling dasar itu cukup untuk membongkar perangkap yang dirancang untuk menghancurkannya.
Satu per satu ia menetralkan keempat gardu. Tidak ada cahaya di tangannya malam itu. Tidak ada bau dagingnya sendiri terbakar, tidak ada blok yang padam, tidak ada jantung yang nyaris berhenti di gardu. Tidak ada yang menyala dan tidak ada yang mati selain apa yang ia matikan dan nyalakan dengan sakelar dan obeng, seperti teknisi mana pun. Ketika gardu terakhir aman dan jam menunjukkan lonjakan beban yang dijadwalkan telah lewat tanpa satu rele pun jatuh, Anjani duduk di lantai gardu yang dingin, menyandarkan kepala ke panel, dan menutup matanya.
Mereka merancang malam ini untuk memaksanya memilih antara mati atau dicemari, antara membakar tubuhnya yang tersisa atau membiarkan kota gelap menimpa namanya. Mereka membuat seluruh perangkap dengan asumsi bahwa nilai Anjani terletak pada kapasitor di dadanya, bahwa ia hanya bisa menyelamatkan dengan menyala. Dan ia telah menjawabnya dengan tangan dan obeng dan kepala yang dingin, dengan keahlian yang dibangun seumur hidup di antara koil dan multitester, jauh sebelum busur putih mengubahnya. Mereka melawan Hantu Gardu. Yang menggagalkan mereka adalah anak tukang servis dinamo.
Di radio, suara Bayu, lega dan ada getar bangga di dalamnya: "Mbak. Empat-empatnya aman. Mawar bilang jaringan stabil. Nggak ada yang sadar ada apa-apa malem ini."
Nggak ada yang sadar. Anjani membuka matanya dan memandangi langit-langit gardu yang gelap. Seumur hidupnya, itu adalah pujian tertinggi bagi seorang teknisi: tidak ada yang sadar, karena tidak ada yang salah, karena seseorang melakukan pekerjaannya dengan benar di tempat yang tak terlihat. Ia menghabiskan berbulan-bulan ketakutan pada tangannya sendiri, bertanya-tanya apakah ia alat yang berguna atau risiko yang harus dimatikan, apakah nilainya terletak pada kekuatan yang merebut tubuhnya. Malam ini, di lantai gardu yang dingin, dengan obeng ayahnya masih hangat di genggamannya dan tidak satu watt pun terpakai dari dalam dirinya, ia menemukan jawabannya. Nilainya tidak pernah ada di kapasitor yang dipasang busur putih ke dalam dadanya. Nilainya ada di tangan dan pikiran yang ayahnya wariskan, jauh sebelum itu, dan yang akan tetap menjadi miliknya bahkan setelah tubuhnya tak lagi bisa menyala. Untuk pertama kalinya sejak malam pertama, ia tidak takut pada tangannya sendiri. Ia hanya lelah, dan bangga, dan, dengan cara yang sederhana dan membumi, akhirnya tahu siapa dirinya.