Tiga minggu setelah malam empat gardu, Anjani duduk di kursi plastik di teras klinik seberang gang, menonton layar ponsel butut Bayu yang dipangku di antara mereka berdua. Siang itu panas, dan kipas angin tua klinik berputar malas, tapi tak satu pun dari mereka beranjak ke tempat teduh. Di layar, seorang pembawa berita membaca dengan suara datar yang justru membuat isinya terasa lebih besar daripada teriakan mana pun: Kejaksaan menetapkan empat tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek peremajaan jaringan distribusi Karangwetan, termasuk seorang pejabat dinas dan dua direksi perusahaan kontraktor pemenang tender.
Nama-nama itu disebutkan satu per satu. Anjani mengenali sebagian dari dokumen yang dulu ia curi di malam yang membuat jantungnya nyaris copot, nama-nama yang selama berbulan-bulan hanya berupa tanda tangan di lembar tender dan angka di kolom anggaran, abstrak, tak tersentuh, orang-orang berdasi yang tak pernah mengotori tangan di gardu mana pun tapi memutuskan gardu mana yang harus jatuh. Sekarang mereka punya wajah di layar, dijepret dengan kilatan kamera, menutupi muka dengan map cokelat.
"Itu yang di dokumen, kan, Mbak," kata Bayu pelan. "Yang ngeloloskan pembebasan lahan koridor industri."
"Iya." Anjani menahan diri untuk tidak menyentuh layar. Tangannya masih diperban tipis di telapak kiri, dan kebiasaan menjaga jarak dari benda elektronik belum hilang sepenuhnya, meski sudah berminggu-minggu ia tak menarik satu watt pun dari mana-mana. "Itu yang paling susah dipercaya orang. Bahwa lampu mati di rumah Pak Wiryo, pabrik tutup, orang nganggur, semuanya ujungnya cuma ke situ. Ke lahan yang mau dibeli murah."
Proyek peremajaan dibatalkan dan diaudit ulang dari awal. Itu kalimat yang dibacakan pembawa berita seolah ringan, satu baris di antara baris-baris lain, tapi Anjani tahu beratnya. Proyek itu bernilai ratusan miliar. Proyek itu adalah seluruh alasan gardu-gardu disabotase, alasan Pak Hadi dipojokkan, alasan Galih dibayar, alasan Sudibyo membunuh. Dan sekarang proyek itu mati, dibekukan, dibedah ulang oleh tangan yang tidak ikut bermain. Bukan keajaiban yang membunuhnya. Bukan tubuh bercahaya. Hanya bukti yang akhirnya didengar, kesaksian yang akhirnya direkam, dan tekanan publik yang akhirnya terlalu besar untuk dikubur.
Lestari menelepon sore itu. Suaranya serak karena tiga hari kurang tidur, tapi ada sesuatu yang puas di dalamnya, kelelahan yang baik. "Mereka nggak bisa nahan lagi, Jan," katanya. "Begitu satu pejabat ditetapkan tersangka, yang lain mulai saling nunjuk. Aku dapat bocoran, ada yang udah nyanyi ke penyidik buat ringanin diri sendiri. Struktur kayak gini selalu begitu. Kuat selama semua diam. Begitu satu retak, semuanya rontok."
Anjani memandangi gang di luar, anak-anak yang main bola di antara genangan sisa hujan, kabel-kabel listrik yang menjuntai dari tiang ke tiang seperti selalu, jaringan yang sama yang ia jaga seumur hidupnya. "Aku kira ngejatuhin satu orang itu udah cukup," katanya. "Sudibyo. Aku pikir kalau dia jatuh, selesai."
"Kamu sendiri yang dulu bilang nggak cukup," kata Lestari. "Kamu bilang ini bukan kejahatan satu orang, ini jaringan. Kamu benar. Dan jaringan susah dirobohkan. Tapi nggak mustahil."
Malam itu Anjani datang ke kantor lama, kantor BUMN kelistrikan tempat ia bekerja belasan tahun, tempat yang pernah menskorsnya dan menjadikannya tersangka atas kejahatan yang ia lawan. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di seberang jalan, memandangi gedung itu yang lampunya menyala di lantai dua, tempat ruang kendali SCADA, tempat Mawar masih bekerja, tempat dulu Reza duduk membaca data yang dimanipulasi. Di lobi, ia bisa melihat spanduk lama proyek peremajaan masih tergantung, foto render gardu-gardu baru yang mengilap, janji modernisasi yang ternyata kuburan. Besok, ia tahu, spanduk itu akan diturunkan.
Ia teringat malam pertama, busur putih, bau jam tangannya yang meleleh, Pak Hadi yang terlempar ke lantai gardu. Ia teringat berbulan-bulan berikutnya, ketakutan pada tangannya sendiri, blok yang padam tiap kali ia menolong, kota yang membencinya, perusahaan yang memburunya. Semuanya mengalir ke titik ini: sebuah gedung dengan lampu menyala, sebuah spanduk yang akan diturunkan, sebuah proyek korup yang mati di meja audit, bukan di ledakan dramatis melainkan di tumpukan kertas dan tanda tangan penyidik.
Ini kemenangan, ia tahu. Tapi rasanya tidak seperti kemenangan di film. Tidak ada sorak, tidak ada cahaya. Hanya kota yang lambat membenahi dirinya, jujur untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dan seorang teknisi lelah yang berdiri di seberang jalan, menonton lampu menyala di gedung yang dulu ingin menghancurkannya.
"Mbak." Bayu sudah berdiri di sampingnya, membawa dua bungkus nasi dari warung. "Udah lama berdiri di situ. Ayo pulang. Bu Tarmi nungguin."
Anjani memandangi adiknya, lalu gedung itu sekali lagi. "Bentar," katanya. "Aku cuma mau lihat lampunya. Sebentar aja." Dan ia berdiri di sana sebentar lagi, di gelap di seberang jalan, menonton cahaya di jendela orang lain, tidak lagi karena ia takut akan memadamkannya, melainkan karena akhirnya, untuk pertama kalinya, ia tahu cahaya itu akan tetap menyala tanpa harus ia bayar dengan tubuhnya.