Klinik itu bukan rumah sakit besar, hanya bangunan dua lantai di seberang gang Mawar Tiga, klinik yang dulu nyaris ia padamkan di hari-hari paling awal hidupnya yang baru, klinik yang lampunya pernah ikut mati saat ia menyentuh stopkontak rumahnya sendiri. Sekarang Anjani datang ke sini bukan untuk menyelamatkannya, melainkan untuk mendengar vonis atas tubuhnya sendiri.
Dokter Marsudi sudah merawatnya diam-diam sejak berbulan-bulan lalu, dokter tua yang tak banyak bertanya, yang menerima cerita setengah-setengah Anjani tentang "kecelakaan kerja kelistrikan" tanpa menggali lebih dalam dari yang Anjani izinkan. Sekarang ia menempelkan hasil rekam jantung ke lampu baca, dua lembar, satu lama dan satu baru, dan menunjuk dengan ujung pulpen ke garis-garis yang bagi Anjani tampak seperti gelombang yang ia kenal, gelombang arus, tapi kali ini gelombang dari dalam dadanya sendiri.
"Kamu lihat ini," kata dokter itu, suaranya tenang seperti orang yang sudah lama berhenti terkejut. "Yang lama, otot jantungmu masih ada cadangan. Yang sekarang, tidak. Ada bagian yang sudah mati, Nak. Bekas luka. Otot yang kena beban terlalu besar terlalu sering, lalu satu kali berhenti total, lalu dipaksa hidup lagi. Itu meninggalkan jaringan parut. Dan jaringan parut tidak menghantar listrik seperti otot sehat."
Anjani mengangguk pelan. Ia mengerti analogi itu lebih baik daripada dokter mana pun bisa menjelaskannya. Jaringan parut yang tidak menghantar. Sama seperti konduktor yang sebagian terbakar putus; arus tetap mengalir, tapi tak lagi merata, tak lagi bisa diandalkan, dan di titik yang rusak itu, panas menumpuk sampai akhirnya jebol.
"Artinya," lanjut Dokter Marsudi, melepas kacamatanya, "apa pun yang kamu lakukan dengan tubuhmu, yang menyebabkan ini, kamu tidak bisa lagi melakukannya dalam skala besar. Sekali lagi seperti malam itu, kamu tidak akan pulih. Tidak ada defibrilator yang bisa membalikkan jantung yang sudah kehabisan otot untuk dipacu." Ia menatap Anjani lurus. "Saya tidak tahu persis apa yang kamu lakukan. Saya tidak tanya. Tapi saya tahu jantung. Dan jantung ini sudah membayar harganya. Tubuhmu tidak akan memberimu kesempatan kedua untuk hal yang sama."
Di luar, di kursi tunggu, Bayu menunggu dengan kaki gemetar. Saat Anjani keluar, adiknya berdiri terlalu cepat. "Gimana, Mbak?"
Anjani tidak langsung menjawab. Mereka berjalan keluar, melewati gang yang basah sisa hujan sore, melewati klinik yang lampunya menyala terang dan stabil sekarang, melewati rumah-rumah dengan televisi menyala dan anak-anak yang dimarahi ibunya karena belum mandi. Hidup biasa, arus yang mengalir di balik dinding seperti seharusnya, tak terlihat, tak terpikirkan, persis seperti yang selalu Anjani jaga.
"Aku nggak bisa lagi," kata Anjani akhirnya, saat mereka sampai di mulut bengkel. "Yang gede-gede. Yang kayak malam terakhir. Kalau aku lakuin sekali lagi, aku mati. Bukan mungkin mati. Mati."
Bayu diam. Anjani melihat sesuatu di wajah adiknya, bukan kesedihan yang ia kira, melainkan semacam kelegaan yang adiknya sendiri malu untuk tunjukkan. Dan Anjani mengerti, karena ia merasakan hal yang sama, jauh di dalam, di bawah lapisan kehilangan.
Selama berbulan-bulan, ketakutan terdalamnya bukanlah bahwa ia akan mati. Ketakutan terdalamnya adalah bahwa ia akan terus dipanggil, terus dibutuhkan, terus menjadi satu-satunya yang bisa, sampai tubuhnya habis untuk kota yang bahkan tak tahu namanya. Ketakutannya adalah menjadi alat yang tak terbatas, yang akan selalu dipakai karena bisa dipakai, sampai aus total. Dan vonis dokter ini, dengan cara yang aneh dan pahit, membebaskannya dari ketakutan itu. Tubuhnya sudah menetapkan batas yang tak bisa ia langgar. Ia bukan alat tak terbatas. Ia tidak pernah jadi alat tak terbatas. Ia manusia, dengan jantung yang sudah membayar, dan batas itu bukan kelemahan yang harus ia sembunyikan, melainkan kebenaran yang harus ia hormati.
"Mbak nggak sedih?" tanya Bayu pelan.
Anjani duduk di bangku panjang di depan bengkel, bangku yang dulu jadi tempat ayahnya merokok sambil menunggu lem mengering. "Sedih," jawabnya jujur. "Tapi nggak kayak yang aku kira. Kamu tahu nggak yang paling aku takutin? Bukan mati. Tapi nggak pernah berhenti. Tiap ada yang padam, aku yang harus datang. Tiap ada yang celaka, aku yang salah kalau diam. Selamanya. Sampai habis." Ia memandangi telapak tangannya, kulit yang masih bekas luka bakar di beberapa titik. "Sekarang aku punya alasan buat berhenti yang nggak bisa diganggu gugat siapa-siapa. Bahkan sama diriku sendiri. Tubuhku yang bilang. Dan aku harus dengerin."
Ia menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, napas itu terasa seperti miliknya sendiri, bukan utang yang akan ditagih malam berikutnya. "Pak," gumamnya, terlalu pelan untuk didengar Bayu, ke arah bengkel yang gelap di belakang mereka, ke arah orang yang mengajarinya bahwa setiap konduktor punya kapasitas, dan melampauinya berarti kehancuran. "Ternyata aku juga punya batas, Pak. Akhirnya aku ngerti aturannya."