Plang itu sudah lama copot sebelah, miring digantung satu paku berkarat, hurufnya pudar dimakan matahari belasan tahun: BENGKEL DINAMO LARASATI, SERVIS & GULUNG ULANG. Anjani melepasnya pagi itu, dengan tangga pinjaman dan tang yang sama yang dulu dipakai ayahnya, dan menggantinya dengan plang baru yang dicat Bayu semalaman. Bukan plang mengilap; mereka tak punya uang untuk itu, dan lagipula itu bukan gaya bengkel ini. Plang kayu, dicat tangan, huruf yang rapi tapi jelas dikerjakan manusia bukan mesin: BENGKEL LARASATI. LISTRIK RUMAH, DINAMO, BELAJAR.
Kata terakhir itu yang membuat Anjani berhenti sejenak saat memasangnya. Belajar. Bengkel ini, yang pernah jadi markas rahasia tempat ia mengisi diri dari baterai bekas tanpa memadamkan blok, tempat peta pengepungan menempel di dinding, tempat ia bersembunyi dari kota yang memburunya, sekarang menjadi tempat terbuka. Pintu rolling-door-nya yang dulu selalu setengah turun untuk menyembunyikan apa yang terjadi di dalam, kini dibuka penuh, dan sinar matahari masuk sampai ke sudut-sudut yang bertahun-tahun gelap.
Warga mulai datang seminggu setelahnya. Mula-mula ragu, lalu makin sering. Bu Sri dari gang sebelah dengan kipas angin yang berputar pelan, motornya yang lemah. Pak Carik dengan instalasi rumahnya yang sekringnya turun tiap kali nyalakan pompa air dan rice cooker bersamaan. Anak SMK yang ingin belajar menggulung dinamo karena bapaknya bilang Bengkel Larasati menerima yang mau belajar. Anjani memperbaiki yang rusak, dengan tangan, dengan obeng yang sama, dengan pengetahuan yang sama, dan tidak satu kali pun ia menarik arus dari tubuhnya. Ia tak perlu. Itu pekerjaan teknisi biasa, dan ia adalah teknisi yang baik, mungkin yang terbaik di kota itu, jauh sebelum busur putih dan jauh setelahnya.
"Mbak Anjani," kata Bu Sri suatu pagi, sambil menerima kipas anginnya yang sudah berputar kencang lagi, "ini bayarnya berapa?"
"Gulungannya nggak rusak, Bu, cuma kapasitornya soak. Tiga belas ribu, sama kapasitornya."
Bu Sri menatapnya seperti tak percaya. "Cuma segitu? Di tempat lain saya disuruh beli baru, dua ratus ribu."
Anjani mengangkat bahu. "Yang rusak cuma satu komponen, Bu. Ngapain beli baru. Bapak saya dulu marah kalau ada yang nyuruh orang beli baru padahal cuma perlu ganti satu komponen kecil. Katanya itu nipu. Katanya tukang yang bener itu yang bikin barang orang awet, bukan yang bikin orang beli terus."
Ia mengulangi kalimat ayahnya tanpa sadar, dan baru menyadari setelah mengucapkannya bahwa ia telah menjadi ayahnya, dengan cara yang paling baik. Sepanjang cerita ini ia takut menjadi versi terburuk dari warisan ayahnya, takut bahwa listrik yang membentuk hidupnya akhirnya membakar dirinya seperti membakar orang lain, takut bahwa tangan yang ayahnya wariskan justru menjadi tangan yang membahayakan. Tapi di sini, di bengkel yang hidup kembali, dengan kipas angin Bu Sri yang berputar dan tiga belas ribu di kotak laci, ia menyadari ia telah mewarisi yang benar: bukan kekuatan, melainkan prinsip. Perbaiki yang rusak. Jangan tipu orang kecil. Bikin barang awet. Buat lampu tetap nyala.
Sore itu Lestari mampir, bukan untuk wawancara, hanya mampir, membawa gorengan. Ia berdiri di mulut bengkel, memandangi tempat itu, anak-anak SMK yang berkerumun mengelilingi sebuah motor listrik bekas yang dibongkar Bayu, Pak Carik yang menunggu sambil ngobrol dengan tetangga, sinar matahari yang masuk penuh. "Beda banget sama waktu aku pertama ke sini," kata Lestari. "Dulu kamu nyuruh aku masuk cepet-cepet biar nggak ada yang lihat. Pintunya setengah turun. Gelap. Kayak markas penjahat."
Anjani tersenyum tipis, lap minyak di pundaknya, wajah lelah tapi tenang. "Dulu aku ngumpet," katanya. "Dari perusahaan, dari kota, dari semua orang. Bengkel ini tempat aku ngumpet." Ia memandangi pintu yang terbuka penuh, gang di luar, kota yang bising dan biasa dan hidup. "Sekarang nggak ada yang perlu diumpetin lagi. Yang aku lakuin di sini, semua orang boleh lihat. Aku mberesin kipas angin. Aku ngajarin anak SMK gulung dinamo. Itu aja. Dan itu cukup."
Lestari mengunyah gorengan, memandangi temannya. "Kamu tahu nggak, ini yang dulu kamu pengen," katanya. "Dari awal. Bukan jadi hantu gardu, bukan jadi pahlawan, bukan jadi legenda urban. Kamu cuma pengen jadi tukang yang bisa nolong tanpa harus mbakar diri sendiri."
Anjani tidak menjawab. Ia tak perlu. Ia hanya kembali ke meja kerjanya, mengambil motor listrik berikutnya yang menunggu diperbaiki, dan bekerja, di tempat terang, dengan pintu terbuka, di bengkel ayahnya yang hidup lagi, menjadi persis siapa dirinya seharusnya sejak awal.