Pak Wiryo tinggal di ujung gang Mawar Tujuh, di rumah petak yang dindingnya sudah lama tak dicat, dengan satu pohon belimbing di halaman sempit yang buahnya tak pernah sempat matang karena selalu diambil anak-anak tetangga. Anjani mengenalnya dari masa-masa paling awal, teknisi pensiunan yang dulu sekerja dengan ayahnya, orang tua yang sepanjang cerita ini hanya menginginkan satu hal yang sederhana: lampu rumahnya menyala, dan menyala stabil.
Dulu lampu Pak Wiryo termasuk yang paling sering padam. Rumahnya berada di ujung jaringan, di titik terjauh dari gardu, tempat tegangan sudah lemah sebelum sampai dan kedipan sekecil apa pun di hulu langsung terasa di sini. Tiap kali Anjani turun tangan menstabilkan sesuatu di kota dan satu blok ikut padam, sering kali blok Pak Wiryo yang kena. Orang tua itu tak pernah tahu bahwa anak rekan kerjanya dulu adalah penyebab sebagian pemadaman yang ia keluhkan; ia hanya tahu listrik kotanya makin lama makin tak bisa dipercaya, dan ia mengeluh seperti semua orang tua mengeluh, dengan kepasrahan yang lebih menyakitkan daripada amarah.
Sekarang Anjani datang membawa belimbing dari pasar, karena ia tahu pohon Pak Wiryo tak pernah berbuah cukup, dan mereka duduk di teras petak itu sementara sore turun perlahan. Di dalam rumah, lampu sudah menyala, meski hari belum gelap benar, lampu kuning lima belas watt yang menerangi ruang tamu sempit dengan foto-foto keluarga dan kalender masjid.
"Sekarang lampunya gimana, Pak?" tanya Anjani, meski ia sudah tahu jawabannya dari catatan jaringan yang ia pelajari tiap hari.
Pak Wiryo mengisap rokok kreteknya pelan. "Nyala," katanya, dan kata sederhana itu keluar dengan kepuasan yang dalam. "Udah hampir dua bulan ini, Nduk, nggak pernah kedip. Dulu, ya Allah, satu hari bisa lima kali mati. Lagi nonton bola, mati. Lagi cucu ngerjain PR, mati. Istri saya almarhumah dulu sampai apal di mana naruh lilin di tiap kamar." Ia tertawa kecil, tawa orang tua yang sudah berdamai dengan banyak kehilangan. "Sekarang lilinnya nggak kepake. Mau saya buang aja, tapi sayang."
Anjani memandangi lampu kuning di dalam, dan sesuatu mengetat di dadanya, di otot yang sudah membayar harganya. Dua bulan tanpa kedip. Itu karena jaringan dibenahi dengan jujur sekarang, tegangan di ujung gang dinaikkan dengan tap trafo yang dulu tak pernah disetel benar karena tak ada yang mau repot ke gardu terjauh. Itu pekerjaan yang ia awasi sendiri, ia ajarkan ke teknisi-teknisi muda, perbaikan yang membosankan dan tak terlihat dan tak heroik sama sekali. Tak ada cahaya di tangan. Tak ada penyelamatan dramatis. Hanya tap trafo yang disetel benar, dan akibatnya, lampu kuning lima belas watt di rumah seorang lelaki tua menyala stabil selama dua bulan, dan istri yang almarhumah tak perlu lagi menyiapkan lilin di tiap kamar, kalaupun ia masih hidup.
"Bapak saya, Pak," kata Anjani, ragu, lalu memutuskan untuk mengatakannya, "dulu sering ke sini ya?"
"Sering. Bapakmu itu, kalau ada yang ngeluh lampu mati, dia yang paling nggak bisa diem. Padahal bukan tugasnya. Dia tukang dinamo, bukan orang PLN. Tapi kalau ada gang yang gelap, dia yang muter-muter nyari mana yang putus." Pak Wiryo menatap Anjani dengan mata tua yang masih tajam. "Kamu mirip dia. Lebih dari kamu sadar, Nduk. Saya denger cerita-cerita di koran, tentang yang nyelametin kota, tentang segala macem. Saya nggak ngerti yang kayak gitu. Saya orang tua, otak saya nggak nyampe ke yang aneh-aneh." Ia mengisap rokoknya lagi. "Tapi yang saya ngerti, lampu saya sekarang nyala. Dan tagihan saya bulan kemarin turun, nggak ada lonjakan-lonjakan aneh kayak dulu yang katanya ada yang mainin meteran. Buat saya, Nduk, itu udah pahlawan. Lampu nyala, tagihan bener. Orang kecil kayak saya nggak butuh yang lebih dari itu."
Anjani menunduk, menatap belimbing di pangkuannya. Sepanjang cerita ini ia bergulat dengan pertanyaan apakah ia penyelamat atau perusak, alat berguna atau risiko yang harus dimatikan, pahlawan atau hantu. Ia mengukur dirinya dengan ledakan, dengan blok yang padam, dengan cahaya di tangan, dengan media nasional yang memburunya. Dan di sini, di teras petak Pak Wiryo, seluruh pergulatan itu mengecil menjadi ukuran yang sebenar-benarnya, ukuran yang ayahnya akan setujui: lampu kuning lima belas watt yang menyala stabil, dan tagihan yang adil. Itu definisi pahlawan bagi orang yang lampunya pernah mati lima kali sehari. Bukan yang menyelamatkan kota dalam ledakan. Yang membuat lampu tetap nyala, diam-diam, tiap malam, tanpa ada yang sadar bahwa seseorang merawatnya.
"Saya pamit, Pak," kata Anjani akhirnya, suaranya agak serak. "Belimbingnya buat cucunya."
"Mampir lagi, Nduk," kata Pak Wiryo. "Bawa apa-apa nggak usah. Cuma mampir aja. Rumah ini terang sekarang. Saya seneng ada yang mampir pas terang."
Anjani berjalan pulang lewat gang yang lampunya menyala satu per satu saat malam turun, lampu tiang, lampu teras, lampu rumah, kota tua yang menyala stabil, dan untuk pertama kalinya ia berjalan di bawah lampu-lampu itu tanpa menghitung berapa watt, tanpa merasa setiap cahaya adalah utang yang harus ia bayar, hanya berjalan, di kota yang terang, sebagai orang yang ikut membuatnya terang.