Gudang belakang bengkel itu gelap dan pengap, penuh debu setebal jari. Galang menyibak terpal kanvas yang menutupi sesuatu di sudut, dan debu beterbangan ke udara, berputar di bawah cahaya senter Doni.
Di balik terpal itu, sebuah coupe tua. Catnya kusam, ban kempes, kaca berdebu. Tapi di balik penampilan reyotnya, Galang melihat sesuatu yang lain. Rangkanya kokoh. Mesinnya—ia membuka kap—masih utuh, blok besi tua yang dibuat di era ketika mesin dibuat untuk bertahan.
"Ini AE86," kata Galang pelan, hampir penuh hormat. "Bokap nyimpen ini diam-diam. Mesin 4A-GE. Ini mobil legenda, Don. Ringan, seimbang, gerak roda belakang. Buat lintasan lurus mungkin kalah sama mobil turbo, tapi di tikungan—" ia menepuk atap mobil, "—ini bisa nari."
Doni hanya bisa menggeleng. "Lu ngomong kayak orang lagi jatuh cinta."
Selama sepuluh hari berikutnya, bengkel berubah jadi medan perang. Mereka bekerja siang malam. Galang membongkar mesin, membersihkan tiap komponen, mengganti yang aus, menyetel ulang yang bisa diselamatkan. Uang tabungannya menipis untuk membeli part bekas—busi baru, kampas rem, karburator yang di-rebuild, ban yang masih ada kembangnya meski second. Doni membantu apa yang ia bisa, mengangkat, mengelas, dan yang paling penting, menjaga semangat Galang tetap menyala saat lelah datang menyerang.
Tangan Galang seperti punya ingatan sendiri. Ia tahu di mana harus mengencangkan, di mana harus melonggarkan, mendengarkan suara mesin seperti dokter mendengarkan jantung pasien. Ini yang ayahnya wariskan—bukan hanya bengkel, tapi insting di ujung jari.
Pada malam kesebelas, mereka menyalakan mesin untuk pertama kalinya. Setelah beberapa kali batuk dan tersendat, mesin itu meraung hidup. Suaranya kasar, lalu perlahan halus, lalu berubah jadi geraman rendah yang stabil. Galang menutup mata dan tersenyum. Hidup. Mobil ini hidup.
"Sekarang gimana?" tanya Doni.
"Sekarang gue cari pintu masuk."
Pintu masuk itu bernama Bang Karim, mantan pembalap liar yang kini hanya menonton dan jadi semacam penghubung. Galang menemuinya di sebuah bengkel cat di pinggir kota. Saat Galang menyebut nama ayahnya, Surya, mata tua Bang Karim sedikit melebar.
"Anak Surya," gumamnya. "Gila. Lu beneran mau turun? Bokap lu pasti bangkit dari kubur kalau tahu."
"Saya butuh masuk lintasan, Bang. Kelas pemula dulu. Saya butuh uang."
Bang Karim menatapnya lama, lalu tertawa pendek tanpa humor. "Semua butuh uang, Nak. Tapi aspal nggak peduli sama kebutuhan lu. Dia cuma peduli siapa yang lebih cepat dan siapa yang lebih berani mati." Ia menulis sebuah alamat di kertas. "Kamis malam. Kawasan gudang lama dekat dermaga. Bawa duit taruhan minimal lima juta. Kalau lu nggak punya nyali, jangan datang. Sekali lu masuk lintasan itu, lu nggak bisa cuma jadi penonton lagi."
Kamis malam tiba terlalu cepat.
Kawasan gudang lama itu seperti dunia lain. Lampu-lampu mobil menyorot ke segala arah, asap knalpot menggantung di udara, dentum musik dari sound system mobil bercampur dengan teriakan dan tawa. Puluhan mobil berjajar—ada yang modifikasi habis dengan body kit dan stiker mencolok, ada yang sederhana tapi terdengar buas dari suara mesinnya. Orang-orang berkerumun, uang berpindah tangan, mata-mata menilai siapa lawan siapa.
Galang menggenggam setir kuat-kuat. Telapak tangannya basah. Jantungnya berdebar sampai ke tenggorokan. Di sebelahnya, lewat jendela, Doni menatapnya. "Lu yakin?"
"Nggak," jawab Galang jujur. "Tapi gue tetap jalan."
Lawan pertamanya seorang anak muda dengan mobil hatchback berwarna kuning menyala, sombong, banyak omong. Taruhannya lima juta. Setengah dari sisa tabungan Galang. Kalau kalah, rencananya selesai sebelum dimulai.
Garis start ditandai dua orang di tepi jalan. Seorang gadis berdiri di tengah, mengangkat tangan. Mesin meraung. Galang menarik napas, menatap lurus ke depan, ke kegelapan jalan yang dibatasi tembok gudang di kiri kanan.
Tangan gadis itu turun.
Galang melepas kopling. Ban berdecit, mobil meloncat ke depan, tubuhnya tertekan ke kursi. Dunia menyempit jadi terowongan cahaya dan kecepatan. Hatchback kuning di sampingnya, mengaum sengit. Tikungan pertama datang cepat. Galang menahan napas, masuk dalam, lalu—ia ingat suara ayahnya di kepalanya, "kurangi gas sebelum masuk, tendang lagi saat keluar"—ia melakukannya. Mobil tua itu menari, ekornya sedikit melebar lalu menggigit aspal lagi, melesat keluar tikungan lebih cepat dari lawan.
Adrenalin membakar tubuhnya. Untuk pertama kali sejak surat itu datang, Galang merasa hidup.