Pintu menara terbuat dari besi yang sudah berkarat menjadi warna darah tua. Sahala mendorongnya dengan bahu, dan engselnya menjerit panjang, suara yang memantul naik ke seluruh tubuh menara yang berongga.
Di dalam, lebih dingin daripada di luar. Tangga besi melingkar naik ke kegelapan, berputar di sepanjang dinding bagian dalam seperti tulang belakang. Di lantai dasar ada ruang penjaga: meja kayu, dipan dengan kasur tipis, kompor minyak, rak dengan beberapa kaleng dan toples, dan sebuah jendela kecil yang menghadap ke dermaga dan lumpur. Semuanya rapi dengan cara yang membuat Sahala tidak nyaman. Cangkir di atas meja masih ada bekas kopi mengering di dasarnya. Sandal jepit tergeletak di samping dipan, satu telentang. Seolah pemiliknya baru saja berdiri sebentar dan akan segera kembali.
Di atas meja, di bawah sebuah batu yang dipakai sebagai pemberat, tergeletak buku catatan.
Buku itu kecil, sampulnya kulit imitasi yang sudah mengelupas, halamannya menggembung dan bergelombang karena pernah basah lalu kering berkali-kali. Sahala membukanya. Tulisan tangan di dalamnya rapat, miring, ditulis dengan pena yang ujungnya menekan keras, kadang sampai merobek kertas. Halaman pertama tidak berisi nama, tidak berisi tanggal. Hanya satu kalimat di tengah, ditebalkan dengan ditulis ulang berkali-kali sampai tintanya menghitam pekat:
Patuhi persis. Tiap malam. Jangan satu pun terlewat.
Lalu di halaman berikutnya, daftar itu. Dua belas baris bernomor.
Satu, jangan pernah membalas sapaan dari arah laut sebelum pukul tiga. Dua, nyalakan lampu menara tepat saat air mulai pasang, padamkan tepat saat air mulai surut, dan jangan pernah membaliknya. Tiga, bila kau dengar lonceng kapal yang sudah karam, jangan turun ke dermaga walau ada yang memanggil namamu. Empat, jangan pernah membuka pintu ruang lampu untuk siapa pun yang basah. Lima, jangan menghitung perahu yang lewat setelah tengah malam. Enam, bila ada yang mengetuk dari dalam menara, jangan jawab. Tujuh, jangan menyebut namamu sendiri keras-keras di atas dermaga. Delapan, simpan satu lampu kecil tetap menyala di ruang penjaga sampai pagi. Sembilan, jangan tidur menghadap jendela. Sepuluh, bila air pasang lebih tinggi dari tangga ketujuh, naik ke ruang lampu dan kunci dari dalam. Sebelas, jangan percaya wajah yang kau rindukan.
Dua belas — dan di sinilah Sahala mengernyit. Baris kedua belas tintanya pudar, tersapu air entah kapan, hingga yang tersisa hanya bayangan abu-abu dari huruf-huruf yang dulu ada. Ia memiringkan buku ke arah jendela, mencari sisa goresan, tapi tidak ada satu kata pun yang bisa ia baca. Bagian yang ditulis paling rapi, paling ditekan, justru bagian yang hilang.
Sahala menutup buku itu dan tertawa pelan. Suaranya terdengar asing di ruangan kosong itu, terlalu nyaring, lalu lenyap ditelan dinding beton.
Takhayul orang tua, pikirnya. Pak Lahmudin sudah belasan tahun sendirian di tempat ini. Tentu saja kepalanya jadi penuh hantu. Manusia yang dikurung dengan kesepian dan air pasang akan menumbuhkan aturan-aturan untuk dirinya sendiri, ritual kecil agar tidak gila, sama seperti orang yang mengetuk meja tiga kali atau tidak mau menginjak garis di jalan. Ia, Sahala Marbun, bekas kuli pelabuhan yang putus kuliah teknik, tidak akan jadi gila karena dua belas baris yang ditulis orang tua kesepian.
Tapi satu aturan ia putuskan untuk patuhi, bukan karena percaya, melainkan karena itu memang tugasnya: nyalakan lampu saat pasang. Itu sebabnya menara ini ada. Kapal-kapal yang melewati muara di malam hari butuh tahu di mana lumpur berakhir dan jalur dalam dimulai, sebab pasang menyembunyikan segalanya. Itu pekerjaan yang ia dibayar untuk melakukannya, dan ia berniat melakukannya dengan benar.
Sore turun cepat di muara. Langit berubah dari kelabu ke ungu ke hitam tanpa warna-warna jingga yang biasa dilihat orang dari pantai berpasir. Di sini matahari tidak terbenam, ia ditelan. Sahala menyalakan lampu minyak di ruang penjaga, menjerang air, makan nasi bungkus terakhirnya, dan duduk di depan jendela mengawasi lumpur yang perlahan berubah.
Ia tidak menyadari kapan tepatnya air mulai naik. Lumpur yang tadi hitam mengilap perlahan menghilang di bawah lapisan air keperakan yang merayap masuk dari arah selat. Bakau yang tadi berdiri kini setengah tenggelam. Dermaga yang tadi setinggi dada kini hampir sejajar air. Dan Sahala, yang sudah mengantuk oleh perjalanan seharian, terkesiap ketika menyadari air sudah hampir menutupi seluruh gundukan dan ia belum naik menyalakan lampu.
Ia berlari ke tangga besi, menaikinya dua-dua, paru-parunya terbakar oleh seratus delapan puluh anak tangga yang berputar tak habis-habis ke atas. Di puncak, ruang kaca itu dingin dan berkabut dari dalam. Lampu besar berdiri di tengah, sebuah mekanisme tua dengan sumbu dan reflektor cekung dan tuas yang harus diputar. Tangannya gemetar mencari korek. Saat sumbu menyala dan cahaya kuning membesar lalu memantul keluar lewat kaca, Sahala menahan napas dan melihat ke bawah, ke muara yang kini sepenuhnya menjadi laut.
Dan laut itu diam. Terlalu diam. Tidak ada ombak, tidak ada riak angin. Permukaan air hitam itu rata seperti kaca, dan di permukaannya yang licin terpantul cahaya menara — satu titik kuning yang bergetar. Sahala menatapnya, dan untuk satu detik yang membuat seluruh tubuhnya membeku, ia merasa pantulan itu menatap balik. Bukan cahaya yang dipantulkan air, melainkan sesuatu di bawah air yang membuka mata karena cahaya itu menyala, sesuatu yang seluas muara, yang selama ini menunggu lampu dinyalakan agar ia tahu penjaga baru telah datang dan permainan boleh dimulai lagi.
Ia berdiri di sana sampai napasnya kembali normal. Lalu, perlahan, ia mengakui pada dirinya sendiri sesuatu yang tidak akan ia ucapkan keras-keras: untuk pertama kali sejak ia menginjak gundukan ini, ia merasa diperhatikan.