"Seriusan lo dijodohin?"
"Iya. Katanya sama keluarganya kolega Bokap gue," sahut Ralin pasrah, ada raut gelisah di wajahnya yang menandakan ia pun tidak setuju dengan keputusan Ayahnya.
"Terus gimana? Lo pasrah aja? Nggak ada niatan buat nolak gitu?" cerca Alana dengan pertanyaan beruntutnya. “Ralin?”
Ralin mendesah seraya menatap wahah Reva dan Alana bergantian. "Ya gue mesti gimana? Kalian tau sendiri kalau gue nggak bisa nolak kemauan orangtua gue."
Reva menggelengkan kepalanya prihatin, tidak tega mendengar cerita Ralin. "Kasian amat temen gue."
"Lo tau orang yang mau dijodohin sama lo?" tanya Alana lagi, masih penasaran akan hal itu.
"Belum, sih. Katanya pas liburan pergantian semester gue sama dia bakal tunangan."
"Buset," decak Alana dan Reva bersamaan. Tidak habis pikir kalau salah satu teman mereka akan mengalami hal seperti ini dan dalam tempo secepat ini. “Serius?” tanya Reva lagi.
“Semoga aja cowok yang disiapin buat lo ini nggak mengecewakan ya," ujar Alana dengan terkekeh kecil, setengah hatinya masih tidak percaya dengan jalan hidup Ralin namun setengah hati lainnya ikut senang kalau Ralin bisa jadi akan menjadi yang pertama melepas masa lajangnya di antara mereka bertiga.
Dan obrolan mengenai perjodohan Ralin seketika terhenti saat segerombolan anak laki-laki datang memasuki kelas karena jam pelajaran juga sudah akan dimulai.
Alana yang sudah duduk menghadap ke papan tulis merasakan ponselnya bergetar di dalam tas, gadis itu menyempatkan waktunya sejenak untuk mengambil ponselnya dan memeriksa dari siapa notifikasi barusan itu berasal.
Alana membelalakkan matanya ketika membaca notifikasi tersebut.
David R. Amru add you as friend by Id Line.
David Amru started following you.
David Amru liked your photo.
David Amru liked your photo.
David Amru liked your photo.
"Mampus gue."
o0o
David yang saat ini sedang bersandar duduk di meja paling belakang di dalam kelasnya mengerutkan dahi saat melihat Aron dan Karel tertawa geli seraya menatap layar ponsel David yang dipinjamnya.
"Lo ngapain sih?" tanya David akhirnya, tidak tahan dengan tawa keduanya. Karel yang terkejut nyaris saja menjatuhkan ponsel milik David. “Balikin sini.”
"Bentar ah, nanggung."
David yang curiga pun langsung bangkit dari kursinya.
Karel dan Aron mendadak ngeri ketika menatap wajah David yang kini sedang berjalan mendekati keduanya, tanpa pikir panjang Aron segera melempar ponsel David ke arah laki-laki itu dan langsung menarik kemeja Karel di bagian bahu untuk segera berlari menghindar dari David.
"Kabur, Rel," bisik Aron dan Karel pun langsung mengangguk tanpa banyak melemparkan pertanyaan, keduanya dengan terburu-buru keluar dari kelas dan memilih untuk mengabaikan dering bel yang menandakan akan dimulainya jam pertama yang akan berdentang beberapa menit lagi.
David membuka berbagai macam aplikasi yang terpasang di ponselnya dan matanya melebar saat membuka aplikasi i********:, aplikasi yang sebelumnya tidak sering ia buka.
Alana Putri has requested to follow you.
"Anjing," desis David pelan seraya menatap ke arah pintu kelas. “Pantesan aja kabur.”
David langsung berjalan cepat keluar kelas untuk menyusul kedua temannya yang kadang-kadang b******k itu. David paling tidak suka menyebar akun sosial medianya, bahkan karena kedua setan kecil itu David terlihat menstalk akun i********: Alana dan sengaja menyukai beberapa foto yang menampilkan wajah close up Alana.
David mendesis jengkel saat melihat kedua temannya sedang duduk dengan tertawa lebar di balik tiang bendera. David cepat-cepat melepas sepatunya dan melemparkan keduanya bersamaan ke arah teman-temannya.
"BANGS--" Aron seketika menahan teriakannya sesaat setelah memutar tubuhnya dan menemukan David sedang berjalan ke arah mereka dengan hidung kembang kempis menahan emosi. “Eh, hehe. David.”
"Apa? Gua atau lo yang b*****t? Sialan emang." Tanpa pikir panjang David langsung menempeleng kepala Karel dan Aron bergantian.
Ia merampas sepatunya dan kembali memakainya. Karel yang melihatnya hanya cengengesan.
"Sori, Dav. Udah jangan cemberut gitu, gantengnya hilang loh."
"Bacot," balas David tajam kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah Karel. Biarlah ia tidak ikut pelajaran hari ini. “Lain kali nggak usah gitu lah, nggak suka gue.”
"Lo kenapa sih marah banget? Alana nggak buruk-buruk amat kok, cantik malah," ujar Aron seraya mengingat-ngingat wajah Alana di i********: tadi. “Jago olahraga juga ‘kan anaknya, apa lo nggak kesemsem sama dia setelah kemarin main basket sebentar sama dia?”
"Ya, tetap aja. Gua nggak suka."
"Udah terlanjur tapi, lo ga bisa unlike fotonya dan lo ga mungkin unfollow IG-nya dan lebih nggak mungkin lagi kalo lo block linenya tuh anak."
David mendengus. "Bacot."
"Bacot mulu jawabnya. Kehabisan kata-kata lo?"
"Gue nggak mau ya itu cewek ngira gue suka sama dia."
"Emang lo nggak suka sama dia?" tanya Aron memastikan.
"Nggak lah. Temen bukan tiba-tiba suka. Sama sekali nggak ada alasan buat gue suka sama dia."
Karel dan Aron berpandangan sejenak kemudian menarik seringai bersamaan. David yang menyadari itu hanya diam, masih terlalu jengkel dengan kelakuan temannya yang menurutnya keterlaluan.
"Dav, mau tau sesuatu nggak?"
David hanya berdeham seraya menatap kedua temannya.
"Lo bilang nggak ada alasan buat suka sama Alana?"
David mengerutkan dahinya samar mendengar kata-kata Aron.
"Tau nggak sih, kalo suka sama orang itu emang tanpa alasan. Apalagi cinta. Karena kalo ada alasan itu namanya nafsu doang."
Mampus, salah jawab gue.
o0o
Alana sedari tadi tidak bisa menahan pandangannya untuk tidak selalu melirik foto profil Line milik David. Walau senyum David tampak sedikit terpaksa tapi ia tidak bisa berbohong kalau David itu bisa dibilang manis juga.
"Buset! Dari tadi ngeliatin foto David?!" pekik Reva saat mengintip layar ponsel Alana. Alana yang terkejut langsung me-lock ponselnya dan menggetok kepala Reva dengan ponselnya pula.
Ralin yang sedang mengunyah baksonya cepat-cepat menelan makanannya itu sebelum akhirnya ia tertawa ngakak seraya memukul-mukul meja kantin.
"Mulut lo, Rev! Ahaha bocor banget!"
"Tau nih, g****k banget," sahut Alana dengan wajah memerah malu karena teriakan Reva tadi membuat mereka jadi pusat perhatian yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. “Anjir lah.”
"Kelepasan gue tuh, kaget liat mukanya David di layar HP lo," ujar Reva dengan sesekali meringis seraya mengusap kepalanya.
Alana hanya diam. Ia kembali melirik ponselnya yang berdering tanda masuknya sebuah notifikasi.
David R. Amru : jgn macem2in foto gue.
Alana meneguk ludahnya membaca pesan Line itu, ia menolehkan kepalanya ke arah kiri dan matanya langsung bertabrakan dengan mata hitam legam milik David.
Alana langsung membuang wajahnya dan kini menatap Reva tajam.
"Sialan lo, Rev," sungutnya dengan perasaan kesal berlebih.
---
"Langsung pulang?" Alana yang sedang memakai helm merah mudanya langsung menoleh ke arah Ralin yang barusan bertanya kepadanya.
"Kenapa? Mau bareng?" tawar Alana karena tidak tega meninggalkan Ralin sendirian di sekolah karena Reva sudah pulang beberapa menit lalu.
"Nggak, gue dijemput kok sama supir gue."
Alana ber-oh ria. "Kalo gitu gue duluan, ya? Biar nggak kesorean, males gue kena macet."
"Lagian lo kenapa nggak nebeng mobil Bang Kevin atau nebeng mogenya Bang Dean, kan nggak perlu macet-macetan."
"Males ah, orang gue ada motor juga," sahut Alana seraya menepuk motor maticnya.
"Iyaudah, hati-hati ya."
"Oke," balas Alana seraya menghidupkan motornya, memanaskannya sebentar dan langsung menjalankannya, meninggalkan Ralin seorang diri di halaman parkir.
o0o
"Loh? Nenek?"
David yang baru saja memasuki rumahnya jelas saja terkejut karena menemukan Amru sedang duduk santai di sofa. Amru tidak biasanya pergi hanya semalam. Amru akan menghabiskan waktu beberapa minggu untuk mengurus pekerjaan.
"Kenapa? Kok kaget gitu, Dav?"
"Kok Nenek udah pulang? Biasanya Nenek lama kalau ke Batam?"
Amru tersenyum. Namun senyum yang terlihat mencurigakan. "Nggak apa-apa. Urusan Nenek di sana cuman sebentar, jadi langsung pulang. Mau temenin kamu."
David menghela napas seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa hadapan Amru.
"Gimana sekolahnya, Dav?"
"Nothing special," sahut David pelan seraya menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sampai kepalanya mendongak menatap langit-langit rumahnya yang begitu tinggi.
"Kamu kenapa? Lagi ada pikiran?"
David berdeham kecil. "David sebenarnya mau tau sesuatu dari Nenek."
"Mau tau apa?"
"Mama David, dia... masih hidup atau sudah meninggal?"
Amru terdiam beberapa saat dengan wajah menegang. David tersenyum masam saat Amru tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Bebebrapa saat kemudian Amru kembali menatapnya seraya member senyum tipis yang David tidak tahu apa arti di dalam senyum itu.
"Kamu kenapa tanya tentang Ibu kamu? Dia nggak pantes untuk jadi Ibu kamu."
David berusaha tidak terpancing emosi seperti biasa ketika ia mulai membuka topic ini. "Why? I need a reason why I should trust you."
"Kamu nggak perlu tau alasannya apa, cukup Nenek simpan sendiri semuanya dan kamu tetap di sini sama Nenek."
David kembali menegakkan kepalanya dan menatap Amru tepat di mata. "Nenek nggak bisa kaya gini terus. David punya hidup, Nek, dan David punya hak untuk tau siapa Mama David."
"Emang fasilitas yang Nenek kasih kurang buat kamu?"
David tidak habis pikir saat pernyataannya dibalas dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Fasilitas dari Nenek bukan prioritas buat David. David itu hidup bukan cuman sebagai cucu Nenek, David juga seorang anak dan David nggak bisa bohong kalau David pengen ketemu sama Mama."
"Nenek nggak mau kamu kecewa," sahut Amru setelah ia terdiam cukup lama. “Nenek sayang sama kamu.”
David tersenyum miris seraya bangkit dari sofanya. "Nenek nggak pernah sadar kalau Nenek lagi buat David kecewa hari ini."
-
Setelah perdebatan singkat antara David dan Amru, laki-laki itu langsung pergi dari rumah tanpa mengganti seragam putih abu-abunya. Kepalanya panas dan ia butuh pendingin, setidaknya untuk saat ini.
Sejak beberapa jam lalu, David duduk di sebuah kedai es kelapa yang lumayan jauh dari rumahnya. Sengaja ia duduk di kursi luar untuk merasakan angin dingin yang berhembus menghempas penatnya.
"Om, es kelapa satu ya tapi airnya aja."
David tidak sadar saat kepalanya menoleh ke arah kanan setelah mendengar suara itu, jika boleh jujur David sangat terkejut menemukan Alana berdiri di sana sedang memesan es kelapa.
Merasa diperhatikan, Alana menoleh tepat ke arah David dan satu detik berikutnya matanya membelalak terkejut. "David?" serunya tidak percaya.
David hanya diam, laki-laki itu kembali menghadap jalanan yang tampak lengang. Ia tidak habis pikir, kenapa selalu saja bertemu Alana di saat-saat tidak tertentu.
"Lan," panggil David saat Alana hendak berjalan menuju motornya. Alana terdiam sebentar sebelum akhirnya menoleh dengan ragu.
"Lo? Manggil gue?"
"Iya lah."
Alana merilekskan wajahnya. "Oh, kenapa?"
"Temenin gue di sini, sebentar."
Alana melongo tidak percaya. Seorang David? Meminta gadis biasa seperti Alana untuk menemaninya? Yang benar saja, bahkan Alana sama sekali tidak terlihat cantik dengan pakaian rumahannya saat ini. Celana training dan kaus mickey mouse yang sedikit kebesaran.
"Biasa aja mukanya," ujar David melihat Alana yang masih berdiri di tempat. Alana mengerjap sebentar kemudian dengan santai ia duduk di sebelah David.
"Lo dari tadi belum pulang?"
David menggeleng pelan seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Gue nggak pernah liat lo di sini sebelumnya. Kenapa sekarang tiba-tiba ada?"
"Gue baru nemu tempat ini," sahut David kalem. Ia memang memilih tempat ini secara random, yang penting terlihat nyaman pasti akan ia datangi.
"Oh, rumah gue di sekitar sini," ujar Alana sekedar basa-basi.
David menyeringai kecil. "Gue nggak nanya."
Alana membuka mulutnya tidak percaya mendengar balasan David yang tidak sesuai ekspetasinya. David tersenyum geli melihat ekspresi Alana.
"Gitu ya jawaban lo sama orang yang lagi nemenin lo gini. Nggak tau terima kasih dasar."
"Oke, makasih."
Alana berdecak kesal seraya bangkit dari kursinya. "Karena lo makin nyebelin, gue mau pulang aja. Emosi deket-deket lo mulu," ujar Alana seraya berjalan menuju motornya.
David tertawa kecil dan langsung memanggil Alana. "Lan."
"Apa?" ketus Alana seraya memutar tubuhnya, memandang David dengan wajah galaknya.
"Gue bakal sering ke sini dan gue harap lo juga."
Alana mendadak merasakan kaku di sekujur tubuhnya hanya karena kata-kata David barusan. David ini kenapa sih? Sebentar-sebentar membuatnya emosi dan sebentar-sebentar lagi membuatnya bersemu malu. Seperti kali ini.
David bangkit dari kursi panjang itu. Berjalan mendekati Alana. "Udah sana balik. Hati-hati," ujarnya seraya menepuk kepala Alana dua kali. Jika tidak sadar, mungkin Alana sudah menjatuhkan plastik es di tangannya.
Alana masih saja terpaku di tempat sampai David masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari kedai sederhana itu.
"Buset, itu cowok kenapa dah?"
To be continued...