David meregangkan tubuhnya begitu keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Tepat jam delapan tadi ia baru sampai rumah dan langsung cepat-cepat mandi karena ia mulai merasakan tubuhnya lengket karena keringat.
"David?"
David yang baru saja akan duduk di tepi kasurnya menoleh ke arah pintu dan menemukan Amru berdiri di sana dengan nampan berisi segelas air hangat di atasnya. Amru tersenyum dan meletakkan nampan itu di meja kecil yang berada di sebelah kasur David. Sementara David, ia merebahkan tubuhnya dengan bersandar di kepala kasur. Tampak tidak ingin memulai obrolan dengan Amru.
"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Amru seraya duduk di tepi kasur, berhadapan langsung dengan cucunya.
David mengangguk kecil. "Iya," sahutnya.
"Nenek minta maaf, Dav. Nenek nggak maksud ngomong gitu tentang Ibu kamu. Nenek itu cuman nggak mau kamu kaya Ibu kamu, Nenek mau kamu jadi cucu Nenek yang berpendidikan dan mengerti tentang tanggung jawab, Nenek--"
"David tuh bingung sebenarnya sama Nenek. Kenapa sih Nenek bilang, Nenek nggak mau David sama kaya Mama. Emang Mama kenapa?"
Amru terdiam. Kepalanya sontak menunduk seiring dengan David yang kini duduk tegap, menatap Amru dengan serius.
"Jawab, Nek," ujar David mencoba mendesak Amru.
"Kamu nggak perlu tau, cukup diam di sini sama Nenek maka kamu--"
"Siapa bilang David nggak perlu tau? Ini hidup David dan David tentu aja boleh tau semuanya," potong David cepat karena merasa Amru menyembunyikan sesuatu darinya.
"Nenek ‘kan sudah bilang kalau Nenek nggak mau kamu sedih atau kecewa kalau dengar semuanya."
"David siap nerima resiko dari apa yang Nenek katakan," sahut David. Mencoba meyakinkan Amru bahwa ia siap mendengar semuanya. Amru menatap cucunya tepat ke dalam mata remaja laki-laki itu.
"Kamu tau kan apa kelemahan kamu?"
David mengangguk dalam diam. Amru menarik napas dalam.
"Mama kamu... nggak bisa nerima kekurangan kamu, dia... dia serahin kamu ke Nenek waktu Ayah kamu meninggal. Nenek nggak ngerti lagi apa yang--"
"Ssst. David udah paham, nggak usah Nenek terusin lagi," ujar David cepat seraya merengkuh tubuh ringkih Amru. Ia pikir Amru masih memiliki tubuh yang kuat, tapi ternyata tidak, Amru sudah termakan usia dan David selama ini tidak sadar.
Jika ditanya bagaimana perasaan David, maka jawabannya jelas hancur. Hancur-sehancur-hancurnya dari rasa hancur yang pernah ia rasakan selama delapan belas tahun hidupnya.
"Tapi tenang, Dav. Nggak usah khawatir, Nenek selalu sama kamu, kok."
David menarik senyumnya seraya melepas Amru dari dekapannya. David jelas merasa bersalah karena telah berprasangka buruk tentang Amru.
"David baru sadar kalo selama ini David selalu ngerepotin Nenek."
"Nggak ngerepotin, ah. Siapa yang bilang?"
David terkekeh. Amru pun begitu.
"Udah, ini minum air hangatnya dulu biar tidurnya enak. Jangan lupa diminum obatnya karena tadi Nenek lihat pilnya masih banyak."
David mendengus. "Nenek ngeledah kamar David?"
"Nggak ada maksud, Nenek cuman mau liat obatnya aja dan ternyata masih utuh."
"David bosen, Nek."
Amru melayangkan tangannya ke lengan David membuat cucunya itu meringis seraya mengusap lengannya. "Nggak boleh ngomong gitu. Kamu itu calon pemimpin perusahaan, Nenek nggak mau ya kamu masih sakit waktu gantiin posisi Nenek."
"Iya, iya, Nek. David ngerti banget itu. Udah Nenek keluar ya, David mau tidur," ujar David seraya mencoba menarik tubuh Amru.
Amru menahan tubuhnya seraya mengambil segelas air hangatnya dan menyerahkan ke arah David. "Minum dulu di depan Nenek."
David berdecak namun tetap menuruti kemauan Amru. David meletakkan gelas yang tadinya berisi air hangat itu kembali di atas nampan. “Sudah ‘kan?”
"Obatnya juga."
"Duh, David bisa minum sendiri."
Amru tidak menjawab. Ia hanya menatap David dalam dengan aura menyeramkan yang selama ini selalu ia tunjukkan kepada cucunya. David yang paham betul dengan karakter Amru yang tidak mau dibantah segera menuruti perintahnya, ia membuka laci meja dan mengambil tabung kecil yang berisi puluhan pil berwarna hijau pucat.
Ewh, batin David karena tau rasanya pil ini sangat pahit. David yang telah menelan obatnya cepat-cepat meraih air mineral yang memang tersedia di kamarnya. Kan, rasanya masih sangat pahit dan akan selalu begitu.
"Udah kan? Sekarang Nenek keluar, David capek."
"Iyaudah Nenek keluar. Night, Hun."
"Hm night."
Setelah Amru keluar, David merebahkan tubuhnya dengan telentang membentuk bintang besar. Pikirannya tertuju pada Ibunya yang kini entah ada di mana.
Rasa ingin bertemu itu masih ada, sangat kuat malah.
David ingin bertemu sekali saja, sekalipun Ibunya tidak ingin.
Tiing!
Pikirannya seketika bercabang begitu mendengar notifikasi itu. Ia melihat ponselnya dan menemukan pesan dari seseorang yang akhir-akhir ini hadir sebagai sosok baru di hidupnya.
Alana Putri A. : malem oey
---
Alana menekan dalam-dalam wajahnya ke dalam bantal setelah mengirim sederet kalimat basa-basi itu. Ia memaki dirinya sendiri karena berani-beraninya melakukan hal memalukan seperti itu.
Setelah hampir setengah jam tidak mendapat balasan, Alana mendengus keras seraya membuka kolom chat-nya. Berbagai sumpah serapah terpikir di otaknya karena melihat pesan yang ia kirim.
Tiing!
Alana nyaris saja menjatuhkan ponselnya begitu notifikasi itu masuk. Dan sialnya itu pesan dari David. Alana yang berniat membalas pesan laki-laki itu dengan jangka waktu yang lama harus mengubur rencananya hidup-hidup.
David R. Amru : apaan
David R. Amru : ketauan kan lo nunggu chat dari gua
Alana menatap pesan itu tidak percaya.
Bisa pede juga nih manekin.
Alana Putri A. : gausah geer mas
David R. Amru : ya serah. ngapain chat gua?
Alana Putri A. : accept ig gue. sombong bgt lu, padahal lu yg follow gue duluan
Alana terkekeh sendiri membaca pesan yang ia kirim itu. Tidak tau kenapa tiba-tiba bisa sesantai itu. Padahal beberapa menit yang lalu ia nyaris mati karena menahan rasa gugup yang berlebih.
David R. Amru : dah.
o0o
Pagi-pagi sekali Alana sudah memakirkan motornya di halaman parkir sekolah yang masih cukup lengang. Hanya ada beberapa motor dan mobil yang parkir berjauhan. Gadis itu berlari kecil menuju lokernya guna mengambil kotak pensil yang tertinggal dan beberapa buku yang ia butuhkan. Setelah absen sidik jari seperti biasanya, Alana melangkahkan kakinya menuju kelas dua belas IPS tiga.
Alana duduk dengan cepat di bangkunya seraya merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi i********: dan membuka profil seseorang.
Tangannya sibuk men-scroll layar ponselnya dengan memandangi satu persatu foto orang itu.
"Halah apaan! Punya IG isinya foto-foto alam doang," gerutu Alana karena sedari tadi tidak menemukan foto David secara jelas. Sekalinya ada, fotonya sengaja diblur.
"Oh, ternyata dari tadi lo stalk IGnya David."
Alana menjatuhkan ponselnya ke lantai dan menoleh dengan wajah horornya kemudian menemukan Ralin berdiri di belakangnya dengan tersenyum mengejek.
"Jangan mikir aneh-aneh ya lo! Gue nggak suka sama dia."
Ralin terkekeh seraya meletakkan tasnya di sebelah meja Alana. "Gue nggak ada bilang apa-apa loh ya, lo sendiri yang bilang."
Alana menggeram jengkel. "Ya-ya gue mau kasih tau aja kalau gue nggak suka sama dia, gue fix cuman penasaran aja."
"Dan sekarang?"
"Sekarang gue tau kalo di IGnya nggak ada foto dia. Adanya foto alam doang, hih sok misterius dia tuh," dengus Alana diiringi dengan kekehan Ralin.
"Lo kenapa sewot gitu sih, Lan?"
"Masa sih? Biasa aja gue mah," sahut Alana mengedikkan bahunya santai. Ralin hanya ber-oh ria masih dengan senyum mengejek.
"Muka lo kontrol kenapa, buat pengen nabok aja."
Ralin akhirnya tertawa. "Apaan sih Lan, sensi amat."
Alana menghela napas. "Ngomong-ngomong gimana sama perjodohan lo itu? Anjir ya lo tuh kaya FTV-FTV gitu deh, dijodohin di usia muda. Ewh."
"Ini tuh kemauan Nenek sama Bokap gue tau nggak, Nyokap gue nggak setuju padahal," sahut Ralin ketus.
"Yah, gue turut prihatin sama nasib lo yang begini amat," ujar Alana yang kini berganti senyum mengejek.
"Sialan."
"Eh by the way, Reva mana nih? Biasanya datang paling pagi," ujar Alana seraya menatap bangku Reva di depannya.
"Nggak enak badan katanya, mencret-mencret gitu."
"Anjir bisa sakit juga tuh anak."
---
"ANJIR DAVID! KITA GA SALAH LIAT? LO CHAT SAMA ALANA?!"
Teriak Karel seraya mengangkat wajahnya menatap David. David yang kesal karena teriakan berlebihan Karel langsung melempar tas ranselnya ke arah Karel, Rama dan Aron yang sedang bergerumul menatap ponsel miliknya. David benar-benar lupa menghapus chat dari Alana semalam sehingga ia ketauan saat Rama meminjam ponselnya untuk bermain game.
"Lo pada ngapain buka-buka line gue sih!" desis David tajam dengan perasaan ingin meninju satu-satu wajah temannya.
"Gue ga sengaja mencet serius dah, gila gue kaget banget liat nama Alana di paling atas daftar chat lo," ujar Aron panjang lebar. Dia tidak berbohong, ia jujur sepenuhnya.
"Bacot lo, Anjing."
"Eh anjir, galak amat," gerutu Rama.
"Serah," sahut David judes seraya bangkit dari kursinya.
"Ke mana lo? Jangan ngambek gitu dong," ujar Karel yang mengikuti gerak-gerik David sedari tadi.
"Apaan sih. Ke kantin gue."
"Tumben," celetuk Aron.
"Laper."
Jawaban David yang masih terdengar judes itu tentu saja mengundang tawa dari ketiga temannya. Rama, Aron dan Karel pun langsung menyusul langkah David menuju kantin.
Seperti biasa, kantin selalu dalam keadaan padat merayap jika jam istirahat. David yang telah selesai memesan baksonya, cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju meja yang memuat untuk enam orang.
David yang baru saja meletakkan mangkok baksonya langsung mengerut begitu sebuah piring yang berisi siomay datang bersamaan dengan mangkok baksonya.
"Gue duluan ya yang naruh piring," ujar gadis itu dengan senyum penuh kemenangan. David meliriknya tidak suka.
"Lo tuh selalu aja muncul di depan gue," dengus David dengan menatap Alana tidak percaya.
"Bodo. Emang gue pikirin, lo mending cari tempat lain deh, gue sama temen gue mau duduk di sini," ujar Alana santai seraya mendudukkan bokongnya di salah satu kursi panjang yang berhadapan.
"Masih muat kok kalo buat David sama temen-temennya, kita kan cuman berdua," ujar Ralin yang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan semangkuk soto.
"Nggak, makasih," sahut David jutek seraya mengangkat kembali mangkok baksonya. Matanya mengedar mencari meja kosong. Namun sejauh ia memandang, yang ia lihat semua meja terisi penuh.
"Udah, duduk sini aja. Gengsi amat." David jelas terkejut saat pundaknya ditekan Rama seolah-olah laki-laki itu memaksa David duduk.
"Gue mau cari meja lain aja."
"Makan deh, jangan bawel. Semua meja penuh," sahut Karel seraya meletakkan mangkok baksonya dan langsung duduk tepat di hadapan David.
David menoleh ke arah kirinya bersamaan dengan Alana yang menatapnya, entah mendapat dorongan dari mana, keduanya kompak memalingkan muka.
David bahkan lupa pernah meminta Alana untuk menemaninya, begitu pula Alana yang lupa pernah meluangkan beberapa menit waktunya untuk David.
"Awkward banget dah ah."
To be continued...