Zafar mengajukan banding dan menuduh hakim terpengaruh tekanan media. Pengacaranya meminta rekaman kecelakaan dikeluarkan karena diperoleh dari brankas luar negeri.
Jaksa menyiapkan bukti rantai penyitaan. Aydan gak diwajibkan hadir, tetapi berita banding membuat tidurnya kembali terganggu.
“Aku takut semuanya dibatalkan,” katanya kepada terapis.
“Banding adalah bagian proses, bukan bukti putusan salah.”
Aydan membatasi waktu membaca berita. Dia fokus pada yayasan karyawan dan perusahaan Raihan.
Kaif mendaftar seleksi calon CEO bersama tiga kandidat profesional. Raihan menegaskan gak ada jalur khusus.
“Kalau kalah, jangan marah sama Aydan,” kata Hanin.
“Kenapa selalu aku yang dicurigai?”
“Karena sejarahmu panjang,” jawab Aydan.
Kaif menggerutu, tetapi tetap belajar.
Emilia menjalani pekerjaan tetap dan mulai sibuk. Pertemuan dengan Aydan berkurang. Aydan sempat mengira Emilia menjauh, tetapi perempuan itu menjelaskan dirinya ingin membangun karier.
“Aku gak bisa selalu tersedia hanya karena pacarku sedang punya masalah,” katanya.
Aydan tersentak, lalu mengakui dirinya mulai berharap Emilia menjadi tempat pelarian dari sidang.
Mereka menyusun jadwal tanpa saling menuntut. Hubungan itu diuji bukan oleh ancaman besar, melainkan kesibukan biasa.
Di pengadilan banding, permintaan menghapus rekaman ditolak. Namun hakim memerintahkan pemeriksaan ulang satu bagian suara yang dianggap kurang jelas.
Zafar mendapatkan satu celah, dan pengacaranya berniat memakainya untuk menggoyahkan seluruh perkara.
Pemeriksaan ulang suara dilakukan oleh dua laboratorium. Zafar mengatakan bagian perintah menabrak adalah gangguan rekaman, tetapi ahli menemukan pola suaranya konsisten.
Aydan diminta memberikan sampel rekaman lama Safar dan Zafar dari arsip keluarga. Mama Raihan menyerahkan kaset pertemuan bisnis yang selama ini disimpan. Dia gak lagi menahan bukti karena takut.
“Nenek seharusnya memberikan ini dari dulu,” katanya.
“Iya,” jawab Aydan. Dia gak menenangkan dengan kebohongan, tetapi menghargai tindakan sekarang.
Kaif menjalani simulasi seleksi CEO. Dalam latihan, dewan sengaja menanyakan skandal keluarga untuk melihat reaksinya.
“Kasus pidana gak boleh dijadikan bahan promosi,” jawab Kaif. “Perusahaan akan mengikuti putusan dan audit.”
Raihan menilai jawabannya lebih dewasa daripada dugaan.
Di rumah, Aydan mulai terlalu sering membahas banding dengan Emilia. Setiap pertemuan berubah menjadi laporan pengadilan. Emilia akhirnya meminta mereka punya satu malam tanpa Zafar.
“Aku mau mengenal Aydan yang suka melukis dan bercanda, bukan hanya Aydan yang sedang menunggu hakim,” katanya.
Aydan tersinggung karena merasa Emilia gak memahami beban. Dia pulang lebih awal, lalu menyadari Emilia benar. Trauma mulai mengambil semua ruang hubungan.
Dia meminta maaf dan menyusun batas: kabar sidang hanya dibahas jika Emilia bertanya atau Aydan benar-benar membutuhkan dukungan, bukan menjadi topik otomatis.
Mereka pergi ke toko buku pada pertemuan berikutnya. Emilia memilih novel, Aydan membeli alat gambar. Percakapan biasa terasa canggung pada awalnya, lalu perlahan menyenangkan.
Sementara itu, keluarga korban lain diminta memberikan pendapat tentang banding. Sebagian takut hukuman Zafar dikurangi. Aydan meminta pengacara menjelaskan bahwa proses banding bukan pengulangan seluruh trauma mereka; perwakilan hukum dapat hadir.
Yayasan menyediakan konseling sebelum dan sesudah sidang. Dana gak memakai nama Aydan agar bantuan gak berubah menjadi pencitraan.
Pengadilan banding akhirnya mempertahankan rekaman sebagai bukti. Satu bagian suara dianggap kurang jelas, tetapi bukti transaksi, perintah mengikuti, pemalsuan kematian, dan intimidasi tetap berdiri sendiri.
Pengacara Zafar mengubah strategi. Mereka meminta pengurangan hukuman dengan alasan usia serta penyakit. Pemeriksaan dokter independen memang menemukan penyakit jantung, tetapi kondisi dapat dirawat di fasilitas tahanan.
Aydan ditanya media apakah ingin pamannya meninggal di penjara.
“Saya ingin hukum dijalankan secara manusiawi dan adil,” jawabnya. “Kesehatan bukan alasan menghapus tanggung jawab.”
Jawaban itu membuat sebagian orang menuduhnya terlalu lembut. Aydan berhenti berusaha memuaskan semua pihak.
Malam sebelum putusan banding, dia tidur di rumah Hanin. Kaif masih belajar presentasi di meja makan. Mereka bekerja dalam diam, masing-masing menghadapi ujian berbeda.
Putusan banding mempertahankan sebagian besar hukuman dan hanya memperbaiki perhitungan satu dakwaan administratif. Zafar tetap harus menjalani hukuman panjang.
Aydan merasa lega, tetapi gak merayakan. Dia mematikan berita dan menyelesaikan lukisan yang tertunda. Masa lalu telah melewati satu pintu hukum lagi; hidupnya tetap harus bergerak di luar gedung pengadilan.
Putusan banding gak langsung menghilangkan ketakutan. Dua hari kemudian Aydan terbangun karena mimpi kecelakaan dan hampir menelepon Emilia tengah malam. Dia berhenti karena mereka sudah menyepakati hubungan gak menjadi satu-satunya tempat krisis.
Aydan menghubungi terapis darurat, lalu memberi kabar kepada Emilia keesokan hari tanpa menuntut balasan cepat.
“Makasih udah memakai bantuan yang tepat,” jawab Emilia.
Di yayasan, keluarga korban memilih tiga wakil untuk mengawasi penggunaan dana. Salah satunya adalah ibu yang dulu marah kepada Aydan. Dia menerima jabatan dengan syarat keluarga Safaraz gak dapat membatalkan keputusan sepihak.
Aydan menyetujui perubahan anggaran dasar.
Kaif membantu menyusun sistem pengaduan anonim. Ketika satu laporan menuduh Aydan memakai dana untuk keamanan pribadi, audit dilakukan tanpa pengecualian. Tuduhan itu gak terbukti karena keamanan dibayar rekening pribadinya.
“Rasanya menyebalkan diperiksa,” kata Aydan.
“Tapi kau sendiri yang minta sistemnya berlaku pada semua,” jawab Kaif.
Aydan menerima. Transparansi gak hanya nyaman saat memeriksa orang lain.
Zafar meminta izin menelepon Salma dari tahanan. Salma menolak. Pengadilan menghormati pilihannya. Zafar kemudian menulis surat panjang berisi pembelaan diri. Salma menyerahkan surat kepada pengacara tanpa membaca.
Aydan juga menolak salinan. Dia gak membutuhkan penjelasan baru untuk melanjutkan hidup.
Pada akhir bulan, terapis menilai gejala trauma Aydan mulai stabil. Sesi tetap berjalan, tetapi gak lagi setiap minggu.
Hanin merayakan dengan memasak, lalu Aydan mengingatkan terapi lebih jarang bukan berarti sembuh total. Hanin mengangguk dan gak memaksa cerita bahagia.
Banding telah selesai, tetapi pemulihan bukan keputusan hakim. Ia tumbuh dari malam-malam ketika Aydan memilih meminta bantuan, dari sistem yang berani memeriksa pewaris, dan dari hak Salma menolak suara abangnya sendiri.
Sebelum pulang dari pertemuan terakhir bulan itu, Salma menyerahkan nomor terapis pendamping korban kepada Hanin. Dia bilang dirinya juga akan mulai berkonsultasi. Aydan tersenyum kecil. Kini, tak seorang pun di antara mereka harus membuktikan kekuatan dengan menanggung luka sendirian.