Seleksi CEO dimulai dengan presentasi strategi lima tahun. Kaif membawa rencana pemasaran agresif, sementara kandidat profesional menawarkan pertumbuhan lebih stabil.
Aydan berada di komite, tetapi mengundurkan diri dari penilaian langsung agar gak terjadi konflik keluarga.
Kaif awalnya tersinggung. “Kau gak percaya aku objektif?”
“Justru aku mau kalau kau menang, gak ada yang bilang karena adikmu.”
Kaif menerima alasan itu.
Dalam presentasi, dewan menemukan angka penjualan Kaif terlalu optimistis. Dia diberi kesempatan memperbaiki, bukan langsung gugur.
Seorang mantan temannya menawarkan data rahasia kandidat lain. Kaif menolak dan melaporkan percobaan tersebut.
Raihan gak memuji berlebihan. “Itu memang tindakan yang benar.”
Di yayasan Safaraz, Aydan menemukan pembayaran dana pensiun kepada ratusan nama palsu. Penggelapan ternyata berlanjut setelah Zafar memalsukan kematian.
Salah satu pengelola lama masih bekerja dalam dewan baru. Aydan meminta audit tanpa mengumumkan nama agar bukti gak dihancurkan.
Emilia membantu lembaganya menangani keluarga pekerja yang belum menerima hak. Dia dan Aydan sepakat memisahkan informasi rahasia dari hubungan pribadi.
“Aku gak akan memberimu daftar korban dari kantor,” kata Emilia.
“Dan aku gak akan minta.”
Mereka bertemu makan malam setelah dua minggu. Aydan ingin membayar semua, tetapi Emilia meminta bergantian.
Sementara itu, hasil seleksi tahap pertama keluar. Kaif masuk dua kandidat terakhir. Lawannya adalah Marwan, eksekutif berpengalaman yang disukai dewan.
Kaif harus membuktikan dirinya tanpa menjadikan hubungan darah sebagai senjata.
Tahap kedua seleksi mengharuskan Kaif memimpin tim gabungan selama sebulan. Marwan memimpin tim lain dengan target sama. Dewan menilai hasil, etika, dan kemampuan menghadapi konflik.
Kaif memilih orang berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan. Dua teman lamanya marah karena gak masuk tim. Mereka menyebarkan rumor Kaif cuma boneka Aydan.
“Mau aku klarifikasi?” tanya Aydan.
“Enggak. Kalau kau terus membela, rumor boneka malah benar.”
Kaif menghadapi sendiri. Dia membuka kriteria seleksi kepada audit internal. Hasilnya menunjukkan proses adil.
Marwan menghasilkan angka penjualan lebih tinggi, tetapi memakai diskon besar yang mengurangi keuntungan jangka panjang. Rencana Kaif lebih lambat namun stabil.
Raihan gak memberi petunjuk kandidat mana disukai. Di rumah dia melarang pembahasan rahasia dewan.
Kaif frustrasi. “Papa bahkan gak bilang presentasiku bagus atau jelek.”
“Karena Papa ketua dewan, bukan juri lomba anak sendiri,” kata Hanin.
Aydan membantu Kaif latihan hanya pada materi umum. Dia gak membuka informasi kandidat lain.
Di yayasan, audit nama palsu berkembang. Beberapa rekening memakai identitas karyawan yang sudah meninggal. Uang dicairkan melalui perusahaan konsultasi Malik.
Marwan mengaku mengenal Malik dari rekomendasi profesional. Pemeriksaan surel menunjukkan Malik mendekatinya setelah seleksi CEO diumumkan. Ada kemungkinan Malik sengaja menempel pada kandidat kuat agar mendapat akses perusahaan Raihan.
Kaif ingin Marwan langsung dikeluarkan. Komite etik menolak tanpa bukti keterlibatan sadar.
“Kalau situasinya terbalik, kau juga mau diperiksa adil,” kata Aydan.
Kaif terdiam dan menyetujui.
Emilia menangani salah satu keluarga karyawan yang identitasnya dipakai. Dia menemukan pembayaran palsu menyebabkan hak janda pekerja dianggap sudah lunas. Namun aturan kerahasiaan melarang Emilia membagikan nama kepada Aydan.
Aydan gak memaksa. Yayasan dan lembaga Emilia berkomunikasi melalui jalur resmi.
Hubungan mereka sempat terasa aneh karena sama-sama memiliki informasi yang gak boleh dibahas. Emilia takut Aydan menganggapnya gak percaya.
“Privasi kerja bukan rahasia hubungan,” kata Aydan setelah terapi membantunya memahami.
Mereka sepakat memberi tahu adanya konflik kepentingan tanpa membuka isi berkas.
Seleksi CEO mencapai presentasi akhir. Kaif mengakui target timnya gak tertinggi, lalu menunjukkan keuntungan serta retensi pelanggan lebih baik. Marwan mempresentasikan pertumbuhan cepat dan jaringan internasional.
Dewan belum memberi hasil. Mereka menemukan akses Malik dipakai mengunduh data kampanye melalui akun staf Marwan.
Marwan menyerahkan perangkat dan bersedia diperiksa. Kaif melihat lawannya mungkin juga dimanfaatkan.
Untuk pertama kali, Kaif gak berharap skandal otomatis menjatuhkan pesaing. Dia ingin menang karena kemampuannya sendiri, bukan karena orang lain terseret masa lalu keluarga.
Evaluasi independen meminta Kaif menghadapi simulasi pemutusan hubungan kerja. Dia harus memilih antara mengurangi bonus pimpinan atau memberhentikan puluhan staf.
Kaif memilih mengurangi bonus dan menunda ekspansi. Dewan menanyakan apakah keputusan itu hanya untuk terlihat baik.
“Kalau angka gak membaik enam bulan, kita tetap harus menilai struktur staf,” jawabnya. “Tapi pemecatan bukan pilihan pertama selama biaya atas masih bisa dipotong.”
Marwan memberi jawaban berbeda, lebih cepat dan efisien. Keduanya memiliki alasan bisnis. Kaif belajar keputusan kepemimpinan gak selalu punya jawaban tunggal yang baik.
Di divisinya, satu kampanye gagal. Kaif mengaku kepada tim bahwa konsep awal berasal darinya. Dia gak menyalahkan staf desain.
Aydan mendengar dan memberi saran, tetapi Kaif meminta adiknya berhenti sebelum mengambil alih.
“Biar aku yang memperbaiki.”
Kaif menyusun survei pelanggan dan mengubah kampanye. Hasilnya belum sempurna, tetapi kerugian berhenti bertambah.
Emilia serta Aydan menghadiri konseling pasangan pertama. Konselor menanyakan bagaimana mereka menangani perbedaan kekayaan.
Emilia mengaku takut setiap kebaikan Aydan menjadi sesuatu yang gak dapat dia balas. Aydan mengaku sering memberi solusi uang karena gak tahan melihat orang kesulitan.
Mereka menyepakati hadiah memiliki batas nilai dan bantuan besar harus dibahas. Emilia bebas menolak tanpa membuat Aydan tersinggung.
Saat ulang tahun Emilia, Aydan memberikan satu sketsa kafe tempat mereka bertemu lagi, bukan perhiasan. Emilia memberinya pensil gambar yang dibeli dari gaji pertama.
Hadiah itu sederhana dan seimbang dalam makna, bukan harga.
Dewan menunda keputusan CEO sampai penyelidikan Malik selesai. Kaif kecewa, tetapi gak mendesak Raihan.
Dia kembali bekerja sebagai kepala divisi. Kursi CEO tetap kosong sementara, dan untuk pertama kali Kaif gak menganggap kekosongan itu sebagai penghinaan pribadi.
Raihan melihat perubahan itu, tetapi gak langsung memberinya pujian. Kepercayaan, menurutnya, harus dibangun melalui kebiasaan yang bertahan lama. Kaif menerima penilaian tersebut. Keesokan paginya dia datang tepat waktu, membuka laporan timnya, dan bekerja tanpa menanyakan kapan keputusan dewan diumumkan.
Bagi Kaif, penantian itu akhirnya berubah fungsi. Bukan lagi hukuman, melainkan ruang untuk membuktikan bahwa dia sanggup memimpin bahkan ketika jabatan tertinggi belum menjadi miliknya.