Raka ditemukan sadar tetapi terluka. Dia mengatakan petugas berseragam membawanya keluar dengan alasan pemindahan pemeriksaan. Mobil yang dipakai memiliki lambang resmi dan surat tugas palsu.
Penyidik memeriksa seluruh personel. Kamera menunjukkan seorang petugas bernama Junaidi menyerahkan akses kendaraan kepada dua pria. Junaidi menghilang bersama keluarganya malam itu.
Darma mengenal Junaidi sejak masih menjadi instruktur kepolisian. Rekening istrinya menerima pembayaran dari perusahaan Reza, tetapi Reza menunjukkan transaksi itu dibuat melalui faktur keamanan palsu tanpa persetujuannya.
Reza menawarkan membuka seluruh pembukuan. “Kalau perusahaan saya dipakai Ayah, saya ingin tau sejauh apa.”
Laras meminta auditor perusahaan Safaraz bekerja terpisah agar bukti gak tercampur. Kaif menyetujui dan menahan diri membuat tuduhan publik.
Raka dibawa ke rumah sakit. Aydan ingin menjenguk, tetapi penyidik menunda karena keamanan. Dia menerima keputusan dan hanya mengirim pesan melalui pengacara bahwa kesaksiannya masih dibutuhkan.
Hanin merasa bersalah karena pernah menganggap Raka bagian keluarga. Aydan mengingatkan rasa sayang mereka dulu nyata meski Raka menyimpan rahasia.
“Orang bisa menolong dan melukai pada waktu yang sama,” katanya.
Naufal akhirnya menghubungi Aydan. Penculikan Raka membuatnya takut semua saksi akan dihilangkan. Dia ingin menyerahkan dokumen terakhir Kirana kepada media.
Aydan gak melarang. Dia menyarankan Naufal berkonsultasi dengan pengacara serta perlindungan saksi agar data korban gak ikut tersebar. Naufal menerima dan memilih wartawan yang disetujui bersama.
Dokumen itu mengungkap gudang pelabuhan pernah digunakan mengirim obat ilegal. Salah satu korban adalah keluarga Ros, yang tanahnya diambil. Yayasan Jalan Pulang memperluas bantuan hukum tanpa memakai dana perusahaan untuk mengatur kesaksian.
Nadia menawarkan membayar semua biaya. Bu Ratna menolak sumbangan langsung sampai sumber uangnya diperiksa. Nadia menempatkan dana pada rekening penampungan independen.
Di Yogyakarta, Emilia mendapat pesan anonim yang menyebutnya “perempuan pembawa sial.” Kali ini dia melapor kepada kantornya dan polisi setempat sebelum memberi tahu Aydan. Pesan gak memuat ancaman atau lokasi.
Aydan mendengar dengan cemas. “Apa pilihan keamananmu?”
“Nomorku disaring kantor. Belum perlu pengawal.”
“Baik.”
Dia gak menghubungi polisi Yogyakarta di belakang Emilia. Setelah panggilan, dia membawa kecemasannya kepada terapis dan berlari di taman. Kemajuan itu gak menghilangkan takut, tetapi mencegahnya menjadi kontrol.
Emilia sendiri gak mengecilkan dampak pesan. Dia meminta pendampingan psikolog kantor dan membatasi media sosial. Hubungan mereka menjadi tempat berbagi, bukan satu-satunya sumber keselamatan.
Penyelidikan internal menemukan Junaidi pernah mengakses jadwal perlindungan Naufal dan Emilia. Untungnya, sistem baru mencatat setiap pembukaan data. Lokasi Naufal segera dipindahkan dengan persetujuannya.
Naufal marah karena harus pindah lagi. Dia ingin keluar dari program, tetapi pengacaranya meminta waktu satu malam. Setelah menimbang, Naufal memilih lokasi baru dengan petugas dari wilayah berbeda.
“Aku memilih bertahan, bukan dikurung,” katanya.
Polisi mendapatkan sinyal telepon Junaidi dari perkebunan di Deli Serdang. Tim menemukan istri dan anaknya di rumah sewa. Mereka mengaku ditinggalkan. Junaidi mengatakan akan memperbaiki kesalahan lalu pergi menemui Darma.
Istrinya menyerahkan pesan suara. Junaidi terdengar menangis dan mengatakan Darma mengancam membocorkan keterlibatannya dalam penghilangan bukti kasus lain.
Jejak kendaraan menuju sebuah rumah dinas lama. Ketika polisi tiba, Junaidi menyerah. Darma sudah pergi melalui terowongan drainase. Junaidi mengaku Darma berencana menemui hakim dalam daftar pembayaran untuk meminta dokumen perjalanan.
Hakim tersebut, Bima Setiadi, sedang menghadiri konferensi di Jakarta. Komisi yudisial mengamankan ruang kerjanya. Bima menyangkal, tetapi rekaman hotel menunjukkan dia menerima paket dari kurir Darma.
Paket berisi halaman audit dan pesan agar Bima mengeluarkan perintah pembebasan aset Harun. Bima belum sempat bertindak. Dia dinonaktifkan sambil diperiksa.
Kaif menghadapi akibat langsung karena Bima pernah mengesahkan tiga transaksi perusahaan. Semua harus ditinjau ulang. Laras meminta Kaif memimpin tim pemulihan, tetapi membatasi kewenangannya agar gak ada konflik keluarga.
Kaif setuju tanpa merasa direndahkan. Dia bahkan mengusulkan pengawas dari serikat pekerja.
Malam itu, Raka sadar penuh dan memberikan detail penculik. Salah satu pria memiliki bekas luka bakar di leher. Deskripsi cocok dengan sopir yang dulu mengejar mobil Safar dan dinyatakan meninggal dalam kebakaran kendaraan.
Namanya Anton Wijaya.
Harun mengenali Anton sebagai orang kepercayaan Zafar. Jika Anton masih hidup, dia dapat menjawab siapa yang merusak kendaraan dan bagaimana kecelakaan sebenarnya terjadi.
Polisi memeriksa rekaman rumah dinas. Seorang pria berbekas luka terlihat keluar bersama Darma. Mereka kini mencari dua buronan yang sama-sama membawa bagian berbeda dari malam kematian Safar dan Nayla.
Junaidi bersedia menunjukkan tempat Darma menyimpan kendaraan cadangan. Sebagai gantinya, dia meminta keluarganya masuk perlindungan. Jaksa gak menjanjikan pengurangan hukuman, tetapi menjamin keselamatan istri dan anaknya sebagai pihak yang belum terbukti terlibat.
Di garasi sewaan ditemukan pelat nomor palsu, seragam polisi, serta kotak obat milik Darma. Ada pula daftar kebiasaan Raka, Naufal, dan Aydan. Nama Emilia sudah dicoret dengan catatan, “Terlalu jauh, gak berguna.” Aydan merasa lega sekaligus muak karena keselamatan Emilia dinilai berdasarkan kegunaan bagi pelaku.
Dia memberi tahu Emilia melalui jalur resmi. Emilia marah namanya terdapat di daftar, tetapi gak membatalkan pekerjaannya. Kantor Yogyakarta meningkatkan penyaringan tamu atas keputusan lembaga, bukan permintaan Aydan.
Raka akhirnya sadar dan mengingat percakapan selama penculikan. Darma menuntut kode tempat surat asli Safar disimpan. Ketika Raka mengatakan surat sudah diberikan polisi, Anton memukulnya. Darma kemudian menerima telepon dan menyebut jalur “makam lama”.
Petunjuk itu mengarah pada pemakaman mekanik yang tewas dalam kebakaran. Polisi menjaga lokasi tanpa langsung menggerebek karena berharap Darma kembali mengambil sesuatu.
Naufal memilih tetap berada dalam perlindungan meski bosan. Dia mulai membantu pengacara menyusun kronologi Kirana agar ketakutan ibunya gak hanya tercatat sebagai kebohongan. Setiap keputusan dicatat sebagai miliknya sendiri.
Tiga hari kemudian, kamera tersembunyi menangkap Anton menaruh bunga di makam mekanik. Darma gak terlihat, tetapi Anton membawa kunci kendaraan yang berasal dari garasi sewaan. Polisi memilih membuntutinya, berharap dia membawa mereka kepada Darma.
Operasi dilakukan tanpa keluarga.