Anton ditemukan melalui catatan pengobatan luka bakar atas identitas palsu. Selama dua puluh tahun dia tinggal di berbagai kota dan bekerja sebagai sopir alat berat. Pembayarannya berasal dari rekening Zafar hingga setahun lalu, kemudian berpindah ke Darma.
Zafar menyangkal masih berhubungan dengannya. Catatan penjara menunjukkan satu pengacara lama Zafar mengirim uang kepada perusahaan tempat Anton bekerja. Pengacara tersebut dipanggil dan memilih bekerja sama.
Menurutnya, Anton memegang rekaman dasbor kendaraan pengejar. Zafar membayar agar rekaman gak muncul. Setelah Zafar dipenjara, Darma mengambil alih pembayaran.
Polisi mengumumkan pencarian terbatas tanpa menyebut rekaman. Reza mengidentifikasi rumah singgah ayahnya di kawasan pegunungan. Tim menemukan makanan baru, dua tempat tidur, dan peta jalur perbatasan.
Darma serta Anton berencana keluar melalui Sumatra bagian utara. Pos pemeriksaan diperketat.
Aydan mengikuti perkembangan melalui laporan resmi. Dia gak lagi duduk di ruang kendali setiap malam. Terapisnya menyarankan mempertahankan rutinitas, jadi dia tetap melukis dan bekerja pada jadwal terbatas.
Naufal datang ke studio yayasan untuk pertama kali setelah mendapat izin. Dia melihat lukisan kotak penyimpanan yang dibuat Aydan.
“Kau menggambar ketakutanmu?” tanyanya.
“Kadang. Kau?”
“Aku memperbaiki mesin. Mesin lebih jujur daripada keluarga.”
Aydan tertawa. Mereka membicarakan Safar tanpa mencoba menentukan siapa lebih dekat. Naufal memberikan cerita tentang buku gambar; Aydan menceritakan surat Nayla.
Kaif bergabung saat makan siang. Awalnya suasana kaku. Naufal berterima kasih karena Kaif membela statusnya di sidang. Kaif menjawab dia hanya memperbaiki bahasa hukum yang merendahkan.
“Tetap saja, terima kasih,” kata Naufal.
Kaif menerima tanpa lelucon. Tiga laki-laki yang pernah merasa tempatnya terancam duduk di meja yang sama, walau belum berani menyebut hubungan mereka.
Di perusahaan, audit transaksi Bima menemukan pinjaman ilegal memakai lahan pelabuhan sebagai jaminan. Jika kontrak dibatalkan, perusahaan harus membayar denda besar. Kaif memilih membuka negosiasi dengan bank dan melibatkan kuasa Naufal.
Naufal menolak menanggung utang yang dibuat tanpa sepengetahuannya. Kaif menyetujui. Perusahaan akan memikul denda jika pengadilan menetapkan lahan milik Naufal.
Pemegang saham marah, tetapi Laras mendukung karena risiko berasal dari perusahaan.
Emilia mendapat kesempatan mempresentasikan sistem persetujuan data di konferensi nasional. Jadwalnya bertepatan dengan kunjungan pertama Aydan ke Yogyakarta. Aydan mengatakan kunjungan dapat dipindahkan.
“Kamu gak kecewa?”
“Kecewa. Tapi aku bisa kecewa tanpa membuatmu membatalkan kesempatan.”
Mereka menjadwalkan ulang dua minggu kemudian. Emilia merasa lega sekaligus tersentuh karena perubahan Aydan muncul dalam keputusan kecil, bukan hanya saat polisi hadir.
Penyidik menangkap Anton di terminal kecil setelah seorang petugas mengenali bekas lukanya. Darma gak bersamanya. Anton mencoba melarikan diri, tetapi kondisinya gak kuat.
Dalam pemeriksaan, dia menuntut perlindungan. Rekaman dasbor disimpan di kotak bank atas nama istrinya yang sudah meninggal. Polisi menemukannya setelah mendapat perintah pengadilan.
Video rusak, tetapi memperlihatkan Zafar memerintahkan Anton mengejar mobil Safar. Sebelum berangkat, Darma terlihat berbicara dengan mekanik dan menyerahkan amplop. Beberapa menit kemudian mekanik menyentuh bagian rem kendaraan pengejar.
Kendaraan Anton kehilangan kendali saat mengejar dan menabrak mobil Safar. Anton selamat, sedangkan mekanik membakar sisa kendaraan untuk menghapus jejak.
“Apakah Darma menyuruh merusak rem?” tanya penyidik.
Anton mengangguk. “Dia ingin pengejaran gagal dan semua orang yang tau mati. Dia pikir kendaraan kami akan jatuh sebelum mencapai Safar.”
Rencana Darma justru menyebabkan tabrakan. Zafar memerintahkan pengejaran, Darma menyabotase kendaraan, Harun membiarkan ancaman berlangsung. Kematian Safar dan Nayla lahir dari kejahatan yang saling bertumpuk.
Anton mengaku membawa Safar yang masih bernapas keluar dari mobil. Darma tiba dan melarang memanggil ambulans. Safar meninggal beberapa menit kemudian.
Kabar itu menghancurkan Salma. Selama ini dia percaya kakaknya tewas seketika. Aydan juga marah karena pertolongan mungkin menyelamatkan ayahnya.
Raihan mendampingi tanpa meminta Aydan tenang. Mereka membiarkan kemarahan hadir, lalu menyerahkan keputusan hukum kepada jaksa.
Anton memberi satu petunjuk terakhir: Darma memiliki pondok dekat makam mekanik yang membantunya. Polisi bergerak ke lokasi dan menemukan Darma sedang membakar paspor palsu.
Darma ditangkap setelah perlawanan singkat. Di sakunya terdapat salinan surat wali Aydan dan foto Nayla di rumah sakit sebelum meninggal.
Dia tersenyum kepada kamera petugas. “Kalian terlambat. Arsipnya sudah terkirim.”
Beberapa menit kemudian, data korban Yayasan Jalan Pulang mulai muncul di sebuah situs anonim.
Anton dibawa ke tahanan terpisah agar gak berkomunikasi dengan Darma. Dia meminta Aydan datang untuk mendengar permintaan maaf. Aydan menolak. Kesaksiannya dapat diberikan kepada penyidik; korban gak berkewajiban menyediakan panggung pengampunan.
Salma juga menolak bertemu. Dia menulis nama Safar dan Nayla pada dua lembar kertas, lalu meletakkannya di depan foto keluarga. Selama ini perkara hukum sering mengubah mereka menjadi bukti, korban, atau pewaris. Salma ingin mengingat keduanya sebagai kakak yang suka menyanyi buruk dan perempuan yang selalu membawa permen.
Raihan menceritakan kenangan lain kepada Aydan. Safar pernah merusak sepeda lalu menyalahkan hujan. Nayla memaksanya mengaku. Cerita kecil itu membantu Aydan melihat orang tuanya di luar malam kematian.
Kaif datang membawa makanan. Dia gak membahas perusahaan sampai Aydan bertanya. Saat mendengar data korban mulai bocor, keduanya segera berdiri. Kaif menelepon Laras, sedangkan Aydan menghubungi Bu Ratna.
Mereka bekerja melalui jalur masing-masing. Gak ada perebutan siapa yang memimpin. Ancaman kali ini bukan hanya tentang nama Safaraz, melainkan orang-orang yang datanya dipercayakan kepada lembaga mereka.
Situs anonim menampilkan penghitung waktu menuju unggahan berikutnya. Di bawahnya ada kalimat Darma: “Kalau saya jatuh, semua penjaga kebohongan ikut jatuh.”
Aydan menyadari Darma masih memakai kebenaran sebagai senjata, bukan tanggung jawab. Membuka kejahatan seharusnya melindungi korban, bukan mengorbankan mereka sekali lagi.
Bu Ratna mengingatkan tim agar gak mengunduh berkas bocor ke perangkat pribadi. Setiap salinan baru justru memperluas kerusakan. Yayasan menyediakan nomor bantuan khusus dan menempatkan konselor bagi korban yang panik.
Naufal meminta namanya gak dipakai untuk membenarkan kebocoran. “Saya ingin kebenaran tentang lahan dibuka melalui pengadilan, bukan dengan menyebarkan alamat orang lain,” tulisnya dalam pernyataan.
Pernyataan itu diterbitkan tanpa menyebut lokasi atau nomor barunya. Aydan melihat Naufal membedakan keterbukaan dari kekerasan lebih tegas daripada banyak orang yang mengaku melindungi keluarga.