Bu Ratna mengaktifkan protokol darurat ketika data pertama muncul. Situs memuat nama penerima dana lama, alamat yang sebagian sudah usang, serta catatan pembayaran perusahaan. Tim meminta penyedia layanan menurunkan data dan menghubungi korban yang berisiko.
Aydan ingin datang ke kantor, tetapi Bu Ratna meminta dia tetap di rumah karena namanya menjadi pusat perhatian media. Dia menuruti dan membantu hanya melalui tugas yang diberikan: merekam pernyataan singkat bahwa korban gak bersalah atas kebocoran.
“Jangan hubungi mereka untuk meminta komentar,” katanya kepada media. “Kesalahan berada pada orang yang mencuri serta menyebarkan data.”
Kaif dan Laras membuka pusat informasi perusahaan. Mereka mengakui Darma mendapat akses melalui jabatan komite etik dan perusahaan gagal mencabutnya lebih cepat. Layanan perlindungan identitas diberikan tanpa meminta korban melepaskan hak tuntutan.
Seorang penasihat menyarankan syarat pelepasan tanggung jawab agar biaya turun. Kaif menolak.
“Bantuan yang memaksa korban mengampuni perusahaan bukan bantuan.”
Biaya krisis membahayakan rencana tanpa PHK. Kaif memotong lebih banyak fasilitas eksekutif dan meminta dewan menyetujui pinjaman jangka pendek. Laras memastikan pinjaman gak memakai lahan Naufal sebagai jaminan.
Naufal menerima telepon dari wartawan setelah nomor lamanya bocor. Dia mematikan perangkat dan memakai nomor perlindungan baru. Kemarahannya tertuju kepada perusahaan, termasuk Kaif.
“Kalian selalu bilang sedang berubah, tapi data kami tetap berada di tangan orang seperti Darma,” katanya.
Kaif gak membela diri. “Kau benar. Kami gagal mencabut aksesnya. Aku bisa jelaskan tindakan perbaikan kalau kau siap, bukan sekarang.”
Naufal menutup telepon. Beberapa jam kemudian dia meminta laporan tertulis. Hubungan mereka mundur, tetapi gak hancur oleh perdebatan.
Polisi menyita perangkat Darma. Pengiriman otomatis menggunakan jaringan luar negeri, tetapi kunci penghenti ditemukan dalam arsip laptop. Situs diturunkan setelah enam jam. Salinan mungkin sudah tersebar, sehingga perlindungan harus berlangsung lama.
Darma diperiksa di bawah pengawasan medis. Dia mengaku menutup kasus kecelakaan untuk melindungi karier dan menerima uang Nurdin. Ketika Zafar mengancam membuka keterlibatannya, Darma memilih menyabotase kendaraan pengejar agar semua saksi mati.
“Safar bukan target langsung saya,” katanya.
Jaksa menjawab akibat tindakannya tetap kematian dua orang dan penghilangan pertolongan. Darma juga akan didakwa atas penculikan Raka, kebocoran data, suap, serta pelarian.
Raka memberikan kesaksian lengkap. Jaksa mempertimbangkan tindakannya menyembunyikan surat, tetapi ancaman serta bantuannya kemudian menjadi faktor. Raka gak meminta dibebaskan.
“Saya ingin keluarga tau perlindungan saya juga dibangun dari ketakutan,” katanya.
Aydan akhirnya menjenguk Raka dengan pendamping. Dia berterima kasih karena Raka menyelamatkannya dulu, tetapi gak menjanjikan hubungan kembali seperti semula.
“Saya mengerti,” jawab Raka. “Kesempatan kedua bukan sesuatu yang bisa saya tuntut.”
Kalimat itu mengingatkan Aydan pada Emilia.
Di Yogyakarta, data Emilia gak terdapat dalam kebocoran karena sistem yayasan baru memisahkan informasi pribadi. Namun media kembali mendatangi kantornya. Emilia dan atasannya membuat batas wawancara. Dia gak pulang ke Medan hanya karena tekanan.
Aydan mengirim kata “aman” setelah rumahnya dikerumuni wartawan. Emilia membalas hal sama. Malamnya mereka bicara tentang kelelahan, bukan membuat janji besar.
“Kadang aku bertanya apakah hubungan ini terlalu berat,” kata Emilia.
“Aku juga bertanya.”
Mereka gak menganggap keraguan sebagai ancaman putus. Mereka sepakat menilai hubungan setelah tiga bulan jarak jauh, dengan konselor daring jika diperlukan.
Seminggu setelah kebocoran, perusahaan mengadakan pertemuan dengan korban. Kaif duduk tanpa panggung dan mendengar kritik selama empat jam. Beberapa orang menolak kompensasi awal karena ingin menggugat. Kaif memastikan pilihan itu gak menutup akses perlindungan.
Laras menilai cara Kaif menangani krisis dalam laporan dewan. Dia memuji keterbukaan, tetapi mencatat kegagalannya memastikan audit akses selesai tepat waktu. Kaif menandatangani evaluasi tanpa menghapus kritik.
Pengadilan menetapkan sementara lahan pelabuhan berada dalam penguasaan Naufal sampai sengketa akhir. Naufal berencana mengubah gudang menjadi pusat pelatihan teknisi kapal dan ruang arsip korban. Dia menawarkan perusahaan menyewa sebagian lahan dengan harga wajar, bukan menerimanya gratis.
Kaif membawa tawaran kepada dewan tanpa bernegosiasi diam-diam. Perjanjian harus diawasi pengadilan.
Nadia memutuskan melepas saham perusahaan warisan Nurdin untuk membayar pemulihan korban. Naufal belum bersedia menerimanya sebagai saudara, tetapi menyetujui kerja sama hukum. Salma berhenti memaksa mereka bertemu.
Harun mendapat dakwaan tambahan berdasarkan kesaksian Anton dan Kirana. Kondisinya membaik cukup untuk persidangan. Dia masih menolak disebut pembunuh, tetapi bukti menunjukkan kebisuannya memungkinkan pengejaran.
Zafar mendengar Darma tertangkap. Permohonan peninjauan hukum yang dia ajukan kehilangan dasar karena rekaman justru memperkuat perannya. Fariz memilih memberi keterangan baru untuk mengurangi hukumannya, termasuk daftar aset Zafar yang belum disita.
Aydan gak menghadiri konferensi pers. Dia pergi ke studio dan menyelesaikan lukisan kotak penyimpanan. Kali ini bagian dalam kotak gak lagi gelap. Ada banyak kertas, beberapa terbakar, tetapi pintunya terbuka dan cahaya masuk.
Raihan melihat lukisan itu. “Sudah selesai?”
“Lukisannya, iya. Perkaranya belum.”
Mereka menggantungnya di ruang kerja Yayasan Jalan Pulang, bukan di rumah keluarga. Kebenaran yang ditemukan bukan milik Aydan seorang.
Pada malam yang sama, Emilia menerima surat penerimaan program lanjutan. Jika berhasil, masa kerjanya di Yogyakarta dapat diperpanjang satu tahun. Dia belum memberi jawaban.
Aydan membaca pesan Emilia yang meminta mereka membahasnya akhir pekan. Dadanya sesak, tetapi dia gak menawarkan pengorbanan atau meminta kepulangan.
Di perusahaan, Laras menerima hasil evaluasi tengah tahun. Dewan puas atas penanganan krisis dan berniat memperpanjang masa CEO sementaranya. Itu berarti Kaif gak akan menjadi CEO dalam waktu dekat.
Kaif menutup laporan perlahan. Dua kabar tersebut menguji dua bersaudara dengan cara berbeda: apakah perubahan mereka tetap bertahan ketika masa depan bergerak menjauh dari keinginan pribadi.
Mereka bertemu di dapur malam itu. Aydan gak mengetahui laporan Kaif, dan Kaif gak mengetahui pesan Emilia. Masing-masing akhirnya bercerita tanpa meminta solusi.
“Aku ingin kursi itu,” kata Kaif jujur.
“Aku ingin Emilia pulang setelah enam bulan,” jawab Aydan.
Keduanya tertawa getir. Raihan yang mendengar dari pintu gak memberikan nasihat. Dia hanya menaruh dua cangkir teh dan meninggalkan mereka berbicara.
Untuk pertama kali, keinginan yang gak terpenuhi gak langsung mereka anggap sebagai penolakan. Namun ujian sebenarnya baru dimulai ketika mereka harus memberi jawaban.