Emilia menelepon pada Sabtu pagi sesuai jadwal. Aydan sudah menyiapkan teh dan mematikan notifikasi perkara. Mereka sepakat pembicaraan mengenai perpanjangan kerja gak boleh disela telepon keluarga atau kantor kecuali darurat.
“Aku ingin menerima satu tahun itu,” kata Emilia.
Aydan merasakan dadanya mengencang. Dia sudah menduga jawabannya, tetapi mendengar langsung tetap berbeda. “Aku sedih karena berharap kamu pulang setelah enam bulan.”
“Aku tau.”
Emilia menjelaskan program baru memberinya wewenang membangun sistem perlindungan data di tiga kota. Itu pekerjaan yang selama ini dia inginkan, bukan sekadar cara menjauh dari Medan.
Aydan bertanya apakah Emilia masih ingin menjalani hubungan mereka. Emilia menjawab iya, tetapi gak dapat menjanjikan jarak selalu mudah. Mereka akan menilai setiap tiga bulan dan bebas mengakhiri dengan percakapan jujur bila hubungan berubah menjadi kewajiban.
“Aku gak akan memintamu menolak,” kata Aydan. “Tapi aku juga gak mau berpura-pura senang setiap saat.”
“Aku membutuhkan kejujuran itu.”
Mereka menyusun rencana kunjungan bergantian. Biaya perjalanan dibagi sesuai kemampuan, bukan selalu dibayar Aydan. Emilia menolak apartemen yang ditawarkan perusahaan Safaraz dan memilih tempat tinggal dari kantornya sendiri.
Setelah panggilan, Aydan menangis sebentar. Hanin melihatnya di dapur dan menahan keinginan mengatakan Emilia seharusnya pulang. Dia hanya memeluk setelah Aydan membuka tangan.
“Mama boleh sedih, tapi jangan membujuk dia,” ujar Aydan.
“Mama belajar.”
Di perusahaan, Kaif menerima keputusan perpanjangan Laras. Laporan dewan menyatakan dirinya berkembang, tetapi krisis hukum membuat pergantian kepemimpinan terlalu berisiko.
Kaif merasa alasan itu adil sekaligus menyakitkan. Dia meminta penjelasan apakah ada jalur penilaian yang jelas atau dirinya hanya terus ditunda karena nama keluarga.
Laras memberinya daftar kompetensi: pengelolaan krisis sudah kuat, tetapi pengalaman pendanaan dan operasi lintas wilayah masih kurang. Kaif ditawari memimpin restrukturisasi dua cabang selama setahun.
“Kalau aku berhasil, apakah kursi CEO menjadi milikku?”
“Tidak otomatis,” jawab Laras. “Kau berhak ikut seleksi, bukan memiliki hasilnya.”
Kaif hampir menolak. Malam sebelumnya dia sudah membayangkan memimpin perusahaan saat masa Laras selesai. Namun dia membaca tugas tersebut dan menyadari pengalaman itu memang belum dimilikinya.
“Aku terima dengan target tertulis dan evaluasi independen.”
Laras menyetujuinya.
Hari yang sama, persidangan awal Darma dimulai. Jaksa mendakwa sabotase, pembiaran pertolongan, suap, penculikan, penghilangan bukti, dan kebocoran data. Darma mengaku bersalah atas pelarian serta pencurian arsip, tetapi membantah berniat membunuh Safar.
Aydan hadir hanya pada pembacaan dakwaan. Dia duduk bersama Salma, bukan di kursi keluarga perusahaan. Anton memberikan keterangan melalui perlindungan saksi.
Pengacara Darma berusaha menyalahkan Zafar sebagai satu-satunya penyebab pengejaran. Jaksa menampilkan rekaman dasbor yang menunjukkan Darma menyerahkan amplop kepada mekanik. Sidang bukti dijadwalkan bulan berikutnya.
Di luar gedung, wartawan bertanya apakah Aydan akan memaafkan Darma. Aydan menjawab pengampunan pribadi gak menentukan pertanggungjawaban hukum.
Naufal menolak hadir. Dia bekerja dengan arsitek merancang pusat pelatihan di lahan pelabuhan, meski status akhirnya belum diputus. Desainnya mempertahankan satu gudang sebagai ruang arsip kejahatan pengiriman.
Kaif mengunjungi lokasi atas undangan resmi. Naufal menunjukkan bagian yang ingin disewakan kepada perusahaan. Mereka berdebat tentang biaya perbaikan dan akses jalan, tetapi negosiasi dilakukan bersama pengacara.
“Aku gak mau harga keluarga,” kata Naufal.
“Aku juga gak boleh memberikannya,” jawab Kaif.
Perbedaan itu justru membuat mereka saling menghormati.
Malamnya, Emilia mengirim surat penerimaan yang sudah ditandatangani. Aydan merasakan sedih lagi, lalu membalas ucapan selamat tanpa menutupi perasaannya.
Dia membuka kalender dan menandai jadwal kunjungan pertama. Bukan hitung mundur sampai Emilia pulang, melainkan cara merawat hubungan di masa depan yang bentuknya telah berubah.
Kaif juga menandatangani tugas restrukturisasi. Dua bersaudara itu makan bersama tanpa merayakan atau meratapi berlebihan.
“Setahun ternyata panjang,” kata Kaif.
“Tapi bukan selamanya.”
Raihan mendengar dan tersenyum. Mereka akhirnya mulai memahami bahwa penundaan bukan selalu penolakan, sedangkan cinta gak selalu dibuktikan dengan tinggal di tempat yang sama.
Namun ketenangan hanya bertahan sampai Bu Ratna menerima laporan baru. Salah satu korban kebocoran kehilangan seluruh tabungannya setelah penipu memakai data dari situs Darma.
Korban itu bernama Ros, perempuan yang tanahnya dulu dibeli secara curang oleh perusahaan Safar.
Kesalahan lama dan kebocoran baru kini melukai orang yang sama untuk kedua kalinya.
Bu Ratna meminta tim gak menghubungi Ros sebelum polisi siber memastikan bentuk penipuannya. Aydan merasa menunggu seperti pembiaran, tetapi pendamping menjelaskan terlalu banyak telepon justru dapat menambah kepanikan korban.
Kaif memeriksa apakah layanan perlindungan identitas yang dijanjikan perusahaan benar-benar aktif. Dia menemukan sebagian korban belum menerima kode pendaftaran karena alamat surel mereka lama. Laras memerintahkan pemberitahuan melalui surat, telepon terverifikasi, dan kunjungan pendamping.
“Kita gak boleh menganggap semua korban memiliki perangkat serta kemampuan sama,” kata Kaif.
Di rumah, Aydan memberi tahu Hanin bahwa dirinya mungkin datang terlambat ke makan malam karena kasus Ros. Hanin mengingatkannya makan dan tidur. Menolong korban gak berarti mengulang kebiasaan menghancurkan kesehatan sendiri.
Emilia mengirim pesan dukungan tanpa meminta rincian. Dia juga mengingatkan Aydan bahwa Ros harus menentukan sendiri apakah ingin kisahnya dibagikan dalam kampanye pencegahan.
Keesokan paginya, Ros memberi izin Aydan datang bersama Bu Ratna. Dia duduk di teras dengan buku rekening di pangkuan dan berkata suaranya gemetar bukan karena malu, melainkan marah.
“Dulu tanah kami diambil karena kami gak mengerti kertas,” katanya. “Sekarang uang diambil karena mereka mengerti semua isi kertas tentang saya.”
Kalimat itu membuat Aydan menyadari pemulihan gak cukup dengan mengembalikan dana. Sistem harus mengembalikan kendali atas informasi kepada orang seperti Ros.
Ros memberi izin kisah penipuan digunakan untuk memperingatkan korban lain, tetapi wajah serta alamatnya gak boleh dipublikasikan. Bu Ratna mencatat syarat itu dan menjanjikan Ros dapat menarik persetujuan kapan saja. Aydan lalu meninggalkan rumah bersama tim tanpa meminta foto. Di mobil, dia memahami satu tahun mendatang bukan hanya soal menunggu Emilia atau menyelesaikan sidang. Ada kepercayaan yang harus dibangun kembali melalui ratusan keputusan kecil.