Ros menyadari uangnya hilang ketika kartu bank ditolak di pasar. Penipu menelepon sehari sebelumnya dan mengaku petugas Yayasan Jalan Pulang. Mereka mengetahui nomor pembayaran pemulihan, alamat lama, serta nama suaminya dari data bocor.
Bu Ratna mendatangi Ros bersama pendamping bank dan polisi siber. Aydan gak ikut sebelum Ros memberi izin. Perempuan tua itu akhirnya meminta bertemu karena mengenalnya dari proses pengembalian tanah.
“Katanya uang saya harus dipindahkan supaya aman,” ujar Ros. “Mereka tau semua hal.”
Aydan gak mengatakan Ros seharusnya lebih hati-hati. Dia mengakui sistem mereka gagal melindungi data. Yayasan menanggung kebutuhan mendesak melalui dana darurat tanpa menjadikan bantuan sebagai pengganti kerugian hukum.
Bank menelusuri transfer ke rekening penampung. Sebagian uang sudah ditarik, tetapi sisanya dibekukan. Polisi menemukan kelompok penipu membeli salinan data dari forum anonim setelah situs Darma ditutup.
Perusahaan Safaraz menawarkan mengganti seluruh tabungan Ros. Pengacara Ros menuntut perjanjian tanpa klausul pelepasan hak. Kaif menyetujuinya.
Beberapa anggota dewan keberatan karena penggantian dapat menjadi contoh bagi ratusan tuntutan.
“Memang akan ada tuntutan lain,” kata Kaif. “Kita harus menyiapkan dana, bukan berharap korban diam.”
Laras membentuk skema verifikasi independen. Korban dapat menerima penggantian cepat tanpa kehilangan hak menggugat kerusakan lain. Sumber dana berasal dari penjualan aset eksekutif serta asuransi keamanan data.
Naufal menyumbangkan penggunaan ruang di gudang pelabuhan untuk klinik bantuan digital sementara. Dia menolak namanya dipasang di depan bangunan.
“Ros kehilangan tanah karena ayah biologisku dan uang karena perusahaan yang memakai nama ayah pelindungku,” katanya. “Aku hanya menyediakan tempat.”
Ros menerima sebagian uang kembali dalam dua minggu. Dia masih takut menjawab telepon. Konselor mengajarinya memverifikasi panggilan tanpa membuatnya merasa bodoh.
Aydan membawa kejadian itu ke rapat yayasan. Dia mengusulkan semua pembayaran dihentikan sampai keamanan selesai diperbaiki. Bu Ratna menolak karena penundaan juga merugikan korban.
“Kita dapat memberi pilihan,” katanya. “Transfer baru, pembayaran bertahap, atau pengambilan langsung dengan pendamping.”
Aydan menyadari usulannya lahir dari ketakutan mengulang kesalahan. Menghentikan semuanya terasa aman bagi pengelola, belum tentu bagi penerima. Dewan memilih sistem pilihan.
Di Yogyakarta, Emilia menggunakan kasus Ros—tanpa identitas—sebagai bahan pelatihan. Dia menjelaskan bahwa persetujuan data harus mencakup risiko kebocoran dan cara pemulihan. Atasannya meminta Emilia memimpin audit seluruh program.
Pekerjaan tambahan membuat jadwal panggilannya dengan Aydan kembali terganggu. Emilia mengirim kata “aman” dan meminta penjadwalan ulang. Aydan kecewa karena itu malam ketiga yang berubah, tetapi dia gak menghukum dengan diam.
“Aku butuh waktu yang benar-benar dijaga minggu ini,” katanya keesokan hari.
Emilia memeriksa kalender dan memilih Minggu pagi. Mereka setuju jika pekerjaan terus mengambil semua waktu, hubungan perlu jadwal lain, bukan sekadar niat baik.
Kaif memulai restrukturisasi cabang. Cabang pertama merugi karena kontrak milik kerabat seorang direktur. Memutus kontrak dapat menyeret perusahaan ke sengketa, tetapi mempertahankan berarti kehilangan uang.
Kaif meminta audit tender. Terbukti harga layanan dinaikkan tiga puluh persen. Direktur tersebut menawarkan dukungan pencalonan CEO jika kontrak dibiarkan berakhir alami.
Kaif melaporkan tawaran kepada Laras. Kontrak dihentikan melalui prosedur dan direktur masuk pemeriksaan etik.
“Kau baru kehilangan satu suara lagi,” kata Laras.
“Kalau semua suara harus dibeli dengan kebisuan, seleksinya gak ada gunanya.”
Cabang tetap harus mengurangi biaya. Kaif mengadakan forum pegawai dan menerima usulan pembagian kerja, penutupan gudang sewa, serta pensiun sukarela. Gak semua orang puas, tetapi keputusan gak dijatuhkan tiba-tiba.
Persidangan Darma memasuki pemeriksaan saksi. Raka bersaksi bahwa Darma mengancam keluarganya dan memalsukan laporan kecelakaan. Pengacara Darma menunjukkan Raka juga mengubah tanggal surat wali.
Raka mengakuinya. “Saya membuat keputusan melanggar hukum karena takut. Itu gak membuat ancaman Darma menjadi bohong.”
Kejujurannya memperkuat sebagian kesaksian sekaligus membuka kemungkinan dakwaan untuk dirinya. Aydan gak hadir, tetapi membaca ringkasan melalui jaksa.
Salma mengunjungi Ros setelah diundang. Dia meminta maaf atas peran keluarga Safar dan gak membawa kamera. Ros mengatakan permintaan maaf baru berarti jika sistem benar-benar berubah.
“Saya sudah dua kali diminta percaya,” katanya. “Kali ini saya mau bukti.”
Sebulan kemudian, klinik digital di lahan pelabuhan membantu puluhan korban mengamankan rekening. Namun seorang petugas menemukan upaya masuk ke server dari jaringan internal perusahaan.
Akses itu memakai kredensial milik Kaif.
Kaif sedang berada di cabang luar kota ketika percobaan terjadi. Seseorang di dalam perusahaan berusaha menjadikan wakil CEO tersangka berikutnya.
Tim keamanan memutus sambungan server klinik dari jaringan utama, tetapi gak menghapus log. Naufal menyaksikan proses bersama auditor pilihannya. Dia menolak menyerahkan perangkat sebelum surat pemeriksaan menunjukkan data apa saja yang akan disalin.
Bu Ratna mendukung kehati-hatian itu. Setelah kebocoran Darma, kepercayaan gak boleh diminta hanya karena petugas memakai seragam atau surat berlogo perusahaan.
Ros ditawari tempat tinggal sementara karena alamatnya telah tersebar. Dia memilih tinggal bersama anaknya selama penyelidikan dan meminta rumahnya dipantau. Keputusan tersebut dicatat tanpa memaksa seluruh keluarga pindah.
Bank menemukan transaksi terakhir dilakukan melalui mesin ATM dekat salah satu cabang perusahaan. Kamera menangkap orang memakai topi serta kartu pegawai. Nomor kartu itu terdaftar atas nama staf yang sudah meninggal enam bulan lalu.
Kaif mengetahui sistem akses cabang memang belum selesai diperbarui. Itu bagian restrukturisasi yang baru akan dikerjakannya minggu depan. Rasa bersalah muncul karena dia menganggap masalah keamanan dapat menunggu setelah masalah keuangan.
Laras menolak membiarkannya mengambil semua kesalahan. “Kegagalan ini terjadi sebelum kau memimpin cabang, tapi kini kau bertanggung jawab memperbaikinya.”
Kaif meminta tim mengaudit semua identitas pegawai lama. Mereka menemukan sebelas kartu belum dimusnahkan dan satu pernah dipakai Reno. Temuan itu menguatkan kemungkinan serangan direncanakan, bukan dilakukan Kaif.
Malam sebelum pemeriksaan forensik selesai, Raihan duduk bersama Kaif tanpa menawarkan jalan keluar. Kaif mengaku lebih takut kehilangan kepercayaan pegawai daripada kehilangan kursi CEO.
“Itu tanda prioritasmu berubah,” kata Raihan. “Tapi perubahan tetap harus dibuktikan besok.”
Kaif mengangguk.