Laras langsung membekukan akses Kaif tanpa menuduhnya. Kaif menyerahkan laptop, telepon kantor, dan kartu identitas kepada auditor. Dia mundur sementara dari restrukturisasi sampai pemeriksaan awal selesai.
“Kalau aku tetap memimpin, semua hasil audit akan diragukan,” katanya kepada tim.
Raihan ingin menyediakan pengacara keluarga, tetapi Kaif memilih penasihat independen. Dia gak mau perlindungan ayahnya dianggap campur tangan.
Log sistem menunjukkan kredensial Kaif digunakan dari ruang rapat kantor pusat. Kamera koridor mati selama tujuh menit akibat pemeliharaan yang gak dijadwalkan. Hanya empat pegawai mengetahui kata sandi cadangan sistem, termasuk kepala teknologi bernama Faisal.
Faisal menyangkal. Dia mengatakan kata sandi Kaif mungkin dicuri ketika presentasi cabang. Auditor menemukan perangkat asing pernah terhubung ke laptop Kaif melalui pengisi daya umum.
Kaif mengingat seorang staf cabang menawarkan kabel saat baterainya habis. Staf itu bernama Reno, keponakan direktur yang kontraknya dihentikan.
Reno gak masuk kerja. Polisi menemukan kamarnya kosong dan tiket ke Pekanbaru. Laras meminta semua orang gak menyebarkan namanya sebelum bukti cukup.
Media telanjur menerima tangkapan layar yang menunjukkan akun Kaif. Judul berita menuduh keluarga Safaraz mencuri data korban sendiri. Harga saham jatuh lagi.
Kaif ingin mengadakan konferensi pers untuk membela diri. Penasihatnya menyarankan menunggu hasil forensik. Dia akhirnya mengeluarkan satu pernyataan: aksesnya dibekukan dan dirinya bekerja sama penuh.
Aydan menelepon kakaknya. “Kau butuh aku datang?”
“Tidak. Tapi jangan percaya semua berita.”
“Aku percaya prosesnya. Dan aku percaya kau akan menyerahkan bukti.”
Jawaban itu berbeda dari pembelaan buta. Kaif menghargainya.
Naufal lebih curiga. Klinik berdiri di lahannya dan data korban berada di bawah pengawasannya. Dia menutup jaringan sementara serta meminta audit sendiri. Kaif gak tersinggung.
“Lakukan apa yang perlu untuk melindungi orang,” katanya.
Forensik menemukan perangkat asing menyalin token akses, tetapi percobaan masuk terjadi setelah token seharusnya kedaluwarsa. Seseorang di bagian teknologi memperpanjangnya secara manual.
Faisal menghilang malam berikutnya. Di rumahnya ditemukan uang tunai dan pesan dari Darma sebelum penangkapan. Darma meminta Faisal menyimpan “jalan terakhir” untuk menghancurkan keluarga jika sidang memburuk.
Ternyata Darma telah merekrut Faisal bertahun-tahun lalu saat perusahaan memasang sistem audit. Reno hanya mencuri token; Faisal yang memperpanjang serta menggunakannya.
Reno ditangkap di terminal dan mengaku dibayar. Dia gak mengetahui targetnya data korban. Faisal ditemukan di rumah kerabat setelah polisi melacak kendaraan.
Kaif dibersihkan dari keterlibatan, tetapi audit menyatakan dia lalai memakai kabel asing dan gagal mengaktifkan autentikasi tambahan ketika bekerja di cabang.
Laras mengembalikan akses terbatas. “Tidak bersalah bukan berarti gak melakukan kesalahan keamanan.”
Kaif menerima teguran tertulis dan mengikuti pelatihan bersama pegawai lain. Dia menolak kelas khusus eksekutif.
“Kalau aturan berlaku untuk semua, aku duduk bersama semua.”
Di persidangan, temuan Faisal menjadi bukti baru bahwa Darma merencanakan kebocoran jauh hari. Darma mengatakan pesan itu hanya tindakan berjaga-jaga. Jaksa menunjukkan pembayaran rutin kepada Faisal.
Aydan melihat Kaif berubah melalui cara dia menghadapi tuduhan. Kakaknya gak mengamuk, gak menyalahkan Aydan, dan gak menggunakan Raihan untuk membersihkan nama.
Namun tekanan membuat Kaif sulit tidur. Dia mulai minum lebih banyak dan datang terlambat ke satu rapat. Laras menegur serta menyarankan konseling pegawai.
Kaif awalnya tersinggung. Setelah hampir menabrak pembatas jalan karena kelelahan, dia menerima bantuan. Dia mengaku selama ini merasa harus selalu kuat agar dewan melihatnya layak.
“Minta bantuan gak membatalkan kompetensi,” kata konselor.
Di Yogyakarta, Emilia melihat berita dan menghubungi Aydan pada waktu istirahat. Dia bertanya keadaan Kaif, lalu menceritakan audit programnya menemukan dua staf menyimpan data peserta di telepon pribadi.
Emilia menonaktifkan akses mereka sementara. Salah satu staf menuduhnya sok berkuasa karena dekat dengan keluarga kaya.
Emilia gak meminta Aydan membela. Dia menyerahkan bukti kepada atasannya dan mengundurkan diri dari keputusan disiplin karena konflik personal sudah muncul. Audit independen membenarkan pelanggaran.
Pada panggilan Minggu, Aydan dan Emilia akhirnya memiliki tiga puluh menit tanpa kasus. Mereka memasak resep sama dari dua kota. Masakan Aydan terlalu asin, sedangkan Emilia membakar bawang.
“Hubungan kita diselamatkan makanan gagal,” kata Emilia.
“Setidaknya gak ada rapat.”
Tawa mereka terasa ringan. Jarak masih ada, tetapi gak seluruh ruang diisi ketakutan.
Setelah namanya dibersihkan, Kaif kembali ke cabang. Pegawai menunggunya menjelaskan apakah akan ada hukuman karena insiden keamanan. Dia mengakui kelalaiannya sendiri sebelum membahas Reno.
“Jabatan membuat dampak kesalahanku lebih besar, bukan membuatku kebal,” katanya.
Pada akhir rapat, seorang pegawai menyerahkan amplop temuan dari loker Reno. Isinya foto Faisal bersama Darma dan satu daftar target berikutnya.
Nama pertama adalah Bu Ratna. Nama kedua Emilia. Nama ketiga belum dikenal keluarga: Diah Nurdin.
Nadia mengenali nama itu sebagai adik kandungnya yang hilang sejak remaja.
Daftar tersebut juga memuat tanggal di samping tiap nama. Tanggal Bu Ratna adalah hari sidang Darma berikutnya. Tanggal Emilia bertepatan dengan kunjungan Aydan ke Yogyakarta yang sudah dipesan. Polisi menduga Faisal mengumpulkan jadwal dari surel Kaif sebelum token dicabut.
Aydan ingin langsung membatalkan perjalanan. Emilia meminta mereka menunggu penilaian risiko. Polisi menemukan gak ada tiket atau pemesanan atas nama pelaku ke Yogyakarta, tetapi menyarankan lokasi pertemuan gak diumumkan.
“Kalau risikonya meningkat, aku yang akan memutuskan apakah kunjungan ditunda,” kata Emilia.
Aydan setuju. Dia menyadari pembatalan sepihak juga dapat menjadi bentuk mengambil pilihan, walau niatnya melindungi.
Bu Ratna memilih hadir di sidang dengan pengamanan resmi. Dia menolak bersembunyi, tetapi menerima perubahan rute dan pembatasan pengunjung yayasan.
Nama Diah berbeda. Gak ada tanggal, hanya tulisan “saksi terakhir Nurdin”. Nadia memberikan semua foto adiknya kepada polisi. Selama puluhan tahun dia menafsirkan kepergian Diah sebagai penolakan pribadi. Kini muncul kemungkinan Diah gak pernah bebas memilih pergi.
Naufal marah mendengar Nurdin mungkin menyembunyikan anak lain. Dia meminta Nadia gak menjadikan pencarian sebagai acara keluarga. Nadia menyetujui bahwa psikolog dan perlindungan korban harus terlibat sebelum pertemuan apa pun.
Polisi juga bertanya kepada Harun. Wajahnya berubah saat nama Diah disebut. Dia mengatakan Diah “terlalu banyak melihat”, tetapi menolak menjelaskan tanpa kesepakatan hukuman.
Jaksa menolak tawarannya. Catatan panti, daftar Darma, dan buku Nurdin akan digunakan lebih dulu. Untuk sekali ini, informasi gak bergantung pada harga yang ditetapkan pelaku.