Pengacara Zafar segera mengajukan klaim atas saham yang diserahkan Nadia. Mereka memakai perjanjian tiga puluh tahun lalu antara Zafar dan perusahaan Livia. Jika sah, sebagian dana pemulihan korban dapat dibekukan.
Nadia marah dan ingin membatalkan seluruh pelepasan saham agar Zafar gak mendapat apa pun. Administrator mengingatkan pembatalan dapat merugikan korban lebih dulu.
Naufal meminta pengadilan memisahkan saham sengketa dari aset yang sudah ditetapkan. Aydan mendukung. Pembayaran korban lain gak boleh dihentikan karena perebutan baru.
Pengadilan mengabulkan pemisahan sementara. Zafar hanya dapat menuntut bagian yang tercantum dalam kontrak.
Forensik dokumen menunjukkan tanda tangan Livia asli, tetapi perjanjian menyebut syarat Zafar harus melindungi perusahaan dari penyidikan. Karena Zafar justru terlibat kejahatan, pengacara korban berargumen kontrak melawan hukum.
Raka, yang kini gak lagi menjadi penasihat perusahaan, memberikan arsip lama melalui pengacaranya. Dia pernah melihat kontrak itu dan mencatat Livia menggunakannya untuk mengendalikan Zafar, bukan memberi kepemilikan nyata.
Aydan menolak menjadi saksi karakter Raka, tetapi bukti dokumennya tetap diperiksa. Batas pribadi gak menghalangi kebenaran hukum.
Livia diperiksa melalui kerja sama internasional. Dia mengakui menelepon Darma pada malam pengejaran, tetapi mengklaim hanya meminta Safar ditakut-takuti agar saham kembali.
“Saya gak memerintahkan kecelakaan,” katanya.
Jaksa menunjukkan tindakannya mengetahui Zafar akan mengejar kendaraan di malam hari. Livia juga gak mencari bantuan setelah kecelakaan.
Dia menyalahkan Nurdin, Darma, dan Zafar bergantian. Nadia menonton rekaman pemeriksaan dan akhirnya mematikan layar.
“Aku gak membutuhkan dia mengaku sebagai ibu untuk tau apa yang dia lakukan,” katanya.
Diah memilih gak menonton. Dia memberikan surat kepada jaksa yang menjelaskan kunjungan Livia di panti. Keselamatannya lebih penting daripada menghadapi ibu secara langsung.
Di Yogyakarta, pameran Aydan terjual lebih baik dari perkiraan. Dia menolak tawaran pembeli yang ingin membeli seluruh seri korban sebagai investasi tertutup. Sebagian karya memang dijual, tetapi lukisan kotak terbuka disumbangkan kepada arsip publik dengan perjanjian gak boleh diperdagangkan.
Kurator awalnya kecewa. Aydan menegaskan nilai seni gak boleh selalu berubah menjadi kepemilikan privat.
Emilia menerima keputusan permanen programnya. Dia ditawari posisi kepala regional selama dua tahun. Kali ini dia gak segera berkata ingin menerima. Dia meminta rincian serta waktu mempertimbangkan dampak pribadi.
Aydan kembali ke Medan sebelum jawaban diberikan. Mereka berjanji membahas setelah masing-masing menuliskan harapan dan batas.
Kaif menjalani simulasi krisis dalam seleksi CEO. Kasus rekaan meminta memilih antara menutup pabrik atau meminjam dana mahal. Kaif menanyakan data keselamatan, hak pekerja, dan alternatif pembagian operasi sebelum menjawab.
Panel menilai dia terlalu lambat. Kaif menjelaskan keputusan cepat tanpa data dapat mengulangi kegagalan cabang. Dia tetap memberikan keputusan pada batas waktu.
Marwan menyelesaikan lebih cepat dan mendapat pujian presentasi. Kaif merasakan kecemburuan lama, tetapi gak mencari kesalahan pribadi lawan.
Setelah simulasi, Marwan mengajak minum kopi. Dia mengakui dulu melihat Kaif sebagai anak pemilik yang mudah dikalahkan.
“Sekarang?” tanya Kaif.
“Sekarang kau tetap menyebalkan, tapi layak bersaing.”
Kaif tertawa. Mereka gak menjadi sahabat, tetapi sepakat gak memakai bocoran atau dukungan politik.
Gugatan pekerja cabang menghasilkan mediasi. Dua kriteria PHK dinilai terlalu merugikan pekerja berusia lanjut. Kaif menerima revisi dan menawarkan kompensasi tambahan kepada kelompok terdampak.
Laras mencatat kesalahan itu dalam evaluasi CEO. Kaif gak meminta dihapus meski seleksi sedang berjalan.
Pengadilan aset menemukan kontrak Livia–Zafar memakai perusahaan yang sudah dibubarkan sebelum penandatanganan. Secara hukum kontrak kemungkinan batal. Namun Zafar menyerahkan lampiran rahasia: surat Safar yang menjanjikan saham jika Zafar menjaga keselamatan Nayla serta Aydan.
Tanda tangan Safar terlihat asli.
Jika surat itu sah, Zafar dapat mengklaim dirinya dulu bukan sekadar musuh, melainkan orang yang pernah dipercaya Safar sebelum pengkhianatan terjadi.
Salma mengenali kertas surat pribadi abangnya. Aydan harus menghadapi kemungkinan paling sulit: Safar pernah memilih Zafar sebagai pelindung keluarganya sendiri.
Raihan juga mengenali gaya bahasa Safar. Dia mengingat masa ketika Zafar sering datang ke rumah dan menggendong Aydan. Ingatan itu membuat Hanin mual karena orang yang kemudian mengancam mereka pernah dipercaya berada dekat bayi tersebut.
Aydan meminta orang tuanya gak menghapus foto lama. Foto itu bukti hubungan pernah ada, bukan bentuk penghormatan kepada Zafar. Menyembunyikannya hanya akan membuat sejarah kembali sederhana dan palsu.
Dalam terapi, Aydan membahas rasa marah kepada Safar karena salah memilih. Terapis bertanya apakah Aydan sendiri pernah mempercayai orang yang kemudian melukai. Dia teringat Emilia pernah mempercayai Fariz, Kaif pernah mempercayai Seno, dan dirinya pernah percaya perlindungan selalu membenarkan kontrol.
Kesalahan menilai orang gak sama dengan menyetujui seluruh tindakan mereka di masa depan.
Naufal melihat surat tersebut melalui pengacara. Dia gak merasa haknya terganggu karena syarat Zafar jelas dilanggar. Namun dia khawatir media memakai surat untuk menggambarkan Safar sebagai bagian tetap jaringan.
“Safar pernah bekerja dengan mereka,” kata Naufal. “Kita gak perlu menyangkal. Kita harus menjelaskan kapan dia mencoba keluar.”
Aydan setuju laporan arsip harus menyertakan urutan lengkap: keterlibatan awal, penemuan kejahatan, keterlambatan melapor, serta rencana memperbaiki.
Kaif meminta perusahaan menerbitkan kronologi yang sama setelah diverifikasi. Tim hubungan masyarakat ingin menghapus foto Zafar, tetapi Laras menolak penyuntingan selektif.
Di Yogyakarta, Emilia menerima pesan dari ayahnya yang mengatakan Aydan pasti akan meninggalkannya demi warisan. Dia memblokir nomor setelah menyimpan bukti. Aydan gak menjawab ayah Emilia atau menggunakan uang untuk membuktikan keseriusan.
Mereka membahas rasa takut tanpa membiarkan orang luar menetapkan arah hubungan. Emilia mengatakan tawaran dua tahun harus tetap dinilai dari pekerjaannya, bukan ancaman kehilangan pasangan.
Pada sidang dokumen, pengacara Zafar meminta Aydan hadir. Hakim menolak karena keaslian dapat dinilai ahli dan kesaksian Aydan gak relevan terhadap surat yang dibuat ketika dia bayi.
Aydan lega. Menjadi pewaris gak berarti harus duduk di setiap ruangan tempat nama Safar diperdebatkan.
Ahli kemudian menemukan tinta tambahan pada satu baris saham dibuat beberapa tahun setelah surat asli. Seseorang menambahkan nilai bagian, tetapi janji perlindungan memang terdapat dalam dokumen awal.
Pertanyaannya bergeser: bukan apakah Safar pernah percaya Zafar, melainkan siapa yang mengubah kepercayaan lama menjadi alat klaim sekarang.