Ahli memastikan tanda tangan Safar pada surat untuk Zafar asli. Tanggalnya lima tahun sebelum kecelakaan, ketika Zafar masih menjadi rekan bisnis dan belum diketahui terlibat pengiriman ilegal.
Surat tersebut menjanjikan saham terbatas sebagai imbalan mengelola dana perlindungan Nayla serta Aydan jika Safar meninggal. Namun ada syarat penerima gak boleh terlibat tindakan yang membahayakan keluarga.
Pengacara korban menyatakan keterlibatan Zafar otomatis membatalkan hak. Pengacara Zafar berargumen surat itu tetap membuktikan asal klaim.
Aydan membaca salinan tanpa merasa dikhianati Safar. “Papa mempercayai orang yang salah sebelum mengetahui kebenaran. Itu bukan izin untuk kejahatan setelahnya.”
Salma kesulitan menerima bahwa Safar begitu dekat dengan Zafar. Raka menunjukkan foto lama mereka mendirikan usaha bersama. Hubungan itu memang pernah nyata.
“Kita sering ingin penjahat selalu terlihat jahat sejak awal,” kata Raka. “Padahal pengkhianatan menyakitkan karena pernah ada kepercayaan.”
Pengadilan menolak klaim sementara Zafar karena syarat perlindungan jelas dilanggar. Putusan akhir menunggu pemeriksaan perusahaan cangkang Livia.
Livia mengajukan keberatan ekstradisi. Jaksa menyusun perkara berdasarkan perintah ancaman, konspirasi penghilangan saksi, serta pemalsuan kematian. Usia gak menghentikan proses, tetapi kondisi medis menentukan cara pemeriksaan.
Nadia diminta memberi DNA untuk memastikan identitas Livia. Hasilnya cocok. Diah menolak sampel tambahan karena bukti sudah cukup. Haknya dihormati.
Nadia menulis satu pesan kepada ibunya: “Aku akan bicara hanya di pengadilan.” Setelah itu dia memblokir nomor pribadi.
Aydan menemui Alia setelah jaksa menyelesaikan perlindungan Jefri. Percakapan direkam untuk dibuka publik setelah identitas keluarga saksi disamarkan.
Alia menyerahkan laporan asli yang disimpan di balik bingkai ijazah. Laporan mencatat Livia sebagai perencana tekanan ekonomi, Darma sebagai pengatur sabotase, Zafar sebagai pelaksana pengejaran, dan Harun sebagai orang yang menutup jalur dana.
“Semua punya bagian,” kata Alia. “Gak ada satu otak tunggal.”
Itulah arti kalimat “siapa yang memilih kecelakaan.” Gak seorang pun secara tunggal memilih tabrakan, tetapi beberapa orang memilih kondisi yang membuat kematian hampir gak terhindarkan.
Aydan bertanya mengapa nama Alia ditulis di belakang foto. Alia mengatakan Nayla menyelipkan alamatnya ketika merencanakan laporan. Foto itu seharusnya dibawa Raihan jika mereka gagal bertemu.
Raihan merasa bersalah gak menemukan tulisan lebih awal. Pemeriksa barang bukti menjelaskan tinta tersembunyi di bawah bingkai yang baru longgar karena usia. Gak ada alasan Raihan mengetahuinya.
Di perusahaan, seleksi CEO masuk penilaian publik internal. Pegawai memberikan masukan anonim. Kaif mendapat nilai tinggi pada integritas, sedang pada kecepatan keputusan, dan rendah pada komunikasi awal restrukturisasi.
Dia membaca kritik tanpa mencari identitas pemberi. Tim kampanyenya ingin membuat video tentang pengorbanannya memotong bonus. Kaif menolak menjadikan keputusan dasar sebagai kepahlawanan.
Sari Pranoto mengusulkan otomatisasi besar yang dapat mengurangi pegawai. Marwan fokus ekspansi. Kaif mengajukan pertumbuhan lambat dengan dana keselamatan dan pengawasan pekerja.
Dewan belum memutuskan.
Emilia mengirim dokumen penawaran dua tahun. Dalam sesi konseling daring, dia mengatakan ingin menerima, tetapi takut hubungan mereka gak bertahan selama itu.
“Aku juga takut,” kata Aydan. “Tapi pulang karena takut kehilangan aku bisa membuatmu kehilangan dirimu.”
Mereka membahas pilihan lain: Aydan dapat membagi waktu antara Medan dan Yogyakarta karena studio memiliki pengelola. Namun dia gak boleh pindah hanya sebagai pengorbanan mendadak.
Aydan mencoba tinggal satu bulan di Yogyakarta sebagai uji coba, bukan keputusan permanen. Dia menyewa kamar sendiri, menjaga pekerjaan studio jarak jauh, dan gak pindah ke rumah Emilia.
Percobaan dimulai setelah perkara pameran selesai. Dalam minggu pertama, mereka terlalu sering bertemu dan pekerjaan terganggu. Emilia meminta dua malam tanpa Aydan.
Aydan sempat tersinggung, lalu mengingat kedekatan juga membutuhkan batas. Mereka membuat jadwal sebagaimana saat berjauhan.
Pada minggu kedua, Aydan merasa kota itu asing. Dia mencari komunitas seniman dan bekerja dari studio bersama, bukan menunggu Emilia pulang.
Percobaan tersebut menunjukkan hidup di kota sama gak otomatis menyelesaikan hubungan. Mereka tetap harus membangun kehidupan terpisah yang dapat bertemu dengan sehat.
Sementara itu, Alia menerima ancaman setelah kabar kesaksiannya bocor. Pesan datang dari nomor Makau dan menyuruhnya menarik laporan. Polisi mengaitkannya dengan pengurus aset Livia.
Alia masuk perlindungan sementara bersama suaminya. Kali ini dia gak menghilang atau menunggu sistem berubah sendiri.
“Saya sudah pernah diam terlalu lama,” katanya. “Sekarang saya akan tetap menjadi saksi.”
Polisi menelusuri pengirim ancaman melalui perusahaan telekomunikasi. Nomornya dibeli asisten lama Livia bernama Melati, yang kini mengelola aset cangkang di Jakarta. Melati ditahan saat hendak terbang dan mengaku mengirim pesan atas instruksi pengacara Livia di Makau.
Pengacara tersebut menyangkal. Catatan pembayaran menunjukkan Melati menerima bonus setiap kali saksi menarik keterangan. Alia bukan target pertama; dua mantan pegawai pelabuhan juga pernah diancam.
Jaksa membuka jalur perlindungan bagi keduanya. Satu bersedia bicara dan membenarkan Livia hadir di kantor malam kecelakaan. Saksi lain belum siap. Identitasnya tetap dirahasiakan.
Aydan memuji Alia karena bertahan, lalu berhenti sebelum menjadikannya pahlawan. Keberaniannya sekarang gak menghapus puluhan tahun diam, tetapi tetap memiliki nilai.
Alia sendiri meminta pernyataan publik mencantumkan kegagalannya melapor. “Saya gak mau kisah ini berubah menjadi cerita satu jaksa menyelamatkan semua orang.”
Di Yogyakarta, bulan uji coba Aydan memerlukan anggaran. Perjalanan serta sewa kamar lebih mahal dari perkiraan. Dia menolak memakai dana perwalian korban dan menghitung dari penghasilan lukisan.
Emilia juga menolak Aydan membayar semua makan mereka hanya karena pendapatannya lebih tinggi. Mereka membuat pembagian fleksibel: yang mengundang memilih tempat sesuai kemampuan, tanpa menghitung setiap rupiah secara kaku.
Pada minggu ketiga, Emilia pulang sangat lelah dan membatalkan pertemuan satu jam sebelumnya. Aydan kecewa, tetapi menggunakan malam itu menghadiri diskusi seni. Emilia meminta maaf keesokan hari dan menjadwalkan ulang.
Kehidupan di kota sama mulai terlihat nyata, lengkap dengan penolakan kecil dan kebutuhan sendiri-sendiri. Percobaan itu gak dirancang untuk membuktikan mereka cocok. Ia dirancang agar keduanya mendapat informasi jujur sebelum membuat keputusan besar.
Sementara mereka belajar, berita datang bahwa Livia setuju diperiksa dengan syarat medis. Alia mempersiapkan kesaksian tandingan dan menyerahkan semua bukti kepada jaksa, gak lagi menyimpan salinan rahasia seorang diri.