Selama dua minggu, Damar datang setiap hari.
Ia tidak lagi sekadar bermain. Ia mulai bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang tajam, yang membuat Reza tidak bisa menjawab dengan setengah hati. Kapan harus menarik diri saat tertinggal level? Bagaimana membaca posisi musuh dari minimap yang kosong? Kenapa rotasi yang ia rasa benar malah membuat tim kalah?
Reza menjawab sambil pura-pura tak peduli. Kalimat-kalimat pendek dari balik meja kasir. Tapi Damar menyerap semuanya seperti spons kering. Dan yang membuat Reza tak nyaman—anak itu menerapkannya. Setiap saran kecil yang ia lontarkan, esoknya sudah menjelma jadi permainan yang lebih rapi.
"Bang," kata Damar suatu sore, menggeser kursi mendekati kasir. "Gua menang sepuluh kali berturut-turut. Semua karena lo."
"Lo yang main," kata Reza.
"Tapi lo yang ngarahin." Damar menyodorkan ponselnya. Di layar, sebuah grup chat. "Ini temen-temen gua. Kita mau bikin tim buat turnamen Karawang. Tapi kita kacau, Bang. Mereka jago, tapi nggak ada yang bisa ngatur. Kayak lima ekor kucing dilepas."
Reza tidak menyentuh ponsel itu. "Cari pelatih lain."
"Di Cilamaya? Mana ada." Damar menatapnya lurus. "Bang, gua nggak tau masa lalu lo. Gua nggak peduli. Yang gua tau, lo punya sesuatu yang nggak ada di orang lain. Sayang banget kalau cuma buat jaga warnet."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Damar sadari. Reza meletakkan lap yang sedari tadi ia pegang.
"Dengar," kata Reza, suaranya lebih keras dari yang ia mau. "Gua punya alasan kenapa gua di sini. Gua nggak mau balik ke dunia itu. Dunia itu busuk, Damar. Dunia itu bakal makan lo, peras lo, terus buang lo pas lo udah nggak berguna. Lo masih bocah. Lo nggak ngerti."
Damar terdiam sejenak. Lalu, dengan ketenangan yang aneh untuk anak seusianya, ia berkata, "Bokap gua pergi pas gua kelas empat. Nyokap kerja jadi buruh pabrik, pulang malem, capek. Gua gede sendiri. Satu-satunya tempat gua ngerasa berarti tuh di sini—di depan layar ini." Ia menunjuk PC nomor tujuh. "Lo bilang dunia itu bakal makan gua. Mungkin. Tapi dunia di luar sana juga udah makan gua dari kecil, Bang. Bedanya, di game gua bisa lawan balik."
Reza menatap anak itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan sekadar bocah berbakat, tapi cermin. Versi lebih muda dari dirinya sendiri, yang dulu juga menemukan keselamatan di depan layar saat dunia nyata tak menyisakan tempat.
"Gua nggak bisa," kata Reza akhirnya, suaranya melemah.
"Belum bisa," koreksi Damar, menyeringai. Seringai yang sama dengan malam pertama. "Gua sabar, Bang. Gua tunggu."
Anak itu kembali ke PC-nya. Reza menatap punggung kecilnya, lalu menatap tangannya sendiri—tangan yang dulu menari di atas keyboard kelas dunia, kini hanya menghitung uang receh dan menyeduh kopi.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Reza membuka kardus berdebu di sudut kamarnya. Ia mengeluarkan jersey biru bernomor sembilan. Kain itu masih wangi samar—wangi yang ia kira sudah hilang. Ia menggenggamnya lama.
"Setiap orang berhak satu babak tambahan," gumamnya, mengulang kalimat yang dulu sering diucapkan pelatih lamanya, Coach Hendra, sebelum semuanya runtuh.
Tapi Reza tidak yakin kalimat itu masih berlaku untuk orang seperti dirinya.
Ia melipat jersey itu, memasukkannya kembali. Tapi kali ini, ia tidak menutup kardusnya rapat-rapat. Ia membiarkannya sedikit terbuka, seolah memberi ruang bagi sesuatu untuk bernapas.