Reza mengalah pada satu hal kecil: ia setuju menonton tim Damar bermain. Sekali. "Cuma nonton," tegasnya. "Gua nggak melatih."
Maka pada Minggu sore, lima anak berdesakan di warnet Sinar Game, menyewa lima PC berjejer di sudut. Reza berdiri di belakang mereka dengan tangan bersedekap, dan dalam lima menit ia sudah paham betul kenapa Damar menyebut mereka "lima ekor kucing."
Ada Damar di posisi mid—agresif, brilian, tapi sembrono. Ada Gilang, anak gemuk pendiam yang memainkan support dengan sabar tapi terlalu pasif, takut mengambil risiko. Ada Bayu, si penembak jitu dengan refleks luar biasa tapi ego sebesar gunung, selalu menyalahkan rekan saat ia sendiri yang mati. Ada Tio, anak jangkung yang memainkan tank tapi tidak pernah mau jadi garda depan, malah ngumpet di belakang. Dan ada Kevin, satu-satunya yang punya PC bagus di rumah, jago secara mekanis tapi bermain seolah hanya ada dirinya di peta.
Mereka berbakat. Itu jelas. Tapi mereka bermain seperti lima individu yang kebetulan berada di tim yang sama. Tidak ada komunikasi. Tidak ada rencana. Saat satu maju, empat lainnya entah ke mana. Saat satu butuh bantuan, tidak ada yang datang.
Mereka kalah telak. 3-28.
"Tuh kan, Bayu, lo feeding terus!" Kevin melepas headset, menyalahkan.
"Feeding apaan? Lo yang nggak pernah bantu!" Bayu balik berteriak.
"Gua udah bilang ganti hero, nggak ada yang dengerin," gumam Tio.
Gilang hanya menunduk, diam, terbiasa disalahkan.
Reza menarik napas panjang. Pemandangan ini terlalu familiar. Bukan karena ia pernah punya tim seburuk ini—justru karena ia tahu persis betapa indahnya lima orang yang bisa bergerak sebagai satu tubuh. Dan melihat potensi ini terbuang sia-sia membuat sesuatu di dadanya gatal.
"Stop," kata Reza.
Suaranya tidak keras, tapi kelima anak itu langsung diam. Ada nada di suara itu—nada otoritas yang sudah lama tidak ia gunakan, tapi tubuhnya masih ingat cara mengeluarkannya.
"Bayu, lo mati delapan kali. Bukan karena lo jelek. Karena lo selalu maju sendirian, mikir lo bisa carry semuanya. Lo nggak bisa. Nggak ada yang bisa." Reza menunjuk Tio. "Lo, tank, tapi lo takut mati. Tank yang takut mati itu kayak payung yang takut basah. Nggak guna." Ia berpaling ke Kevin. "Lo jago, tapi lo main kayak solo player di lima orang. Map ini punya lima jalur. Lo cuma lihat satu—punya lo."
Anak-anak itu terdiam, antara tersinggung dan terkesima.
"Lo siapa, Bang?" tanya Bayu, setengah menantang.
Damar menjawab cepat, "Dia pelatih kita."
"Gua bukan—" Reza memulai.
"Belum," potong Damar lagi, menyeringai.
Reza menatap lima wajah muda yang kini memandangnya dengan harapan mentah. Lima ekor kucing liar yang, jika diarahkan, bisa menjadi sesuatu. Ia tahu ia harus bilang tidak. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Dunia itu busuk. Dunia itu mengusirnya.
Tapi kemudian Gilang, si pendiam, mengangkat kepalanya dan berkata pelan, "Bang... ajarin kita biar nggak diketawain orang lagi. Tolong."
Dan Reza, yang sudah tiga tahun mengeraskan hatinya, merasa retakan halus menjalar di permukaannya.
"Satu bulan," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Sampai turnamen Karawang. Setelah itu, gua berhenti. Dan kalian harus ikutin semua kata gua, tanpa banyak omong. Deal?"
Lima anak itu berseru bersamaan, suara mereka pecah di langit-langit warnet butut. Damar menatap Reza dengan mata berbinar, seperti seseorang yang baru saja menyalakan kembali sesuatu yang ia kira mustahil.
Reza memejamkan mata sejenak. Apa yang baru saja kulakukan, pikirnya.
Tapi jauh di dalam, di tempat yang sudah lama ia tutup, sebuah api kecil mulai menjilat-jilat, ragu-ragu, tapi hidup.