Latihan pertama dimulai pukul enam pagi.
Reza memaksa kelima anak itu datang sebelum matahari benar-benar tinggi, sebelum warnet ramai. Mereka mengeluh, tentu saja. Bayu datang sambil menguap, Kevin protes karena harus melewatkan tidur. Tapi Reza tidak menggubris.
"Pro player itu bukan soal bakat," kata Reza, berdiri di depan papan tulis bekas yang ia pinjam dari tetangga. "Bakat cuma tiket masuk. Yang menang itu yang disiplin. Yang latihan saat orang lain tidur."
Ia tidak langsung menyuruh mereka bermain. Hari pertama, ia melarang mereka menyentuh keyboard. Sebagai gantinya, ia menggambar peta di papan tulis dan menjelaskan konsep yang asing bagi telinga mereka: kontrol objektif, prioritas target, rotasi terstruktur, peran sebagai sebuah sistem, bukan kumpulan individu.
"Esports itu catur yang gerak cepat," kata Reza. "Setiap detik lo bikin keputusan. Dan keputusan yang bagus itu lahir dari informasi, bukan dari nekat."
Damar menyerap semuanya dengan rakus. Tapi yang lain butuh waktu. Bayu paling sulit—egonya menolak gagasan bahwa ia harus bermain "untuk tim," bukan untuk statistik pribadinya.
"Bang, gua MVP terus kalau gua main agresif," bantah Bayu di hari ketiga.
"MVP di tim yang kalah itu namanya juara di kuburan," balas Reza. "Mau jadi bintang yang kalah, atau pemain biasa yang menang?"
Bayu cemberut, tapi tidak membantah lagi.
Reza menerapkan latihan yang dulu menempanya di Garuda Vanguard. Drill komunikasi—di mana setiap pemain wajib memanggil posisi musuh dengan lantang, sampai mata mereka otomatis menyapu minimap setiap tiga detik. Latihan disiplin lane, di mana ia menghukum siapa pun yang meninggalkan posisi tanpa alasan dengan menyuruh mereka mengulang dari awal. Latihan mental, di mana ia sengaja membuat skenario mereka tertinggal jauh, lalu mengajari mereka cara comeback tanpa panik.
"Kalah lagi nggak apa-apa," kata Reza setelah mereka tumbang dalam latih tanding melawan tim acak online. "Asal lo tau kenapa lo kalah. Kekalahan yang lo ngerti itu lebih berharga dari kemenangan yang lo nggak ngerti."
Perlahan, sesuatu mulai berubah.
Di hari kesepuluh, Reza melihat hal yang membuat dadanya berdesir. Saat Damar masuk terlalu dalam dan terkepung, ia tidak mati konyol seperti biasa. Ia berteriak, "Gua kepung, mundur semua!" Dan tanpa diperintah, Gilang melempar skill perlindungan, Tio maju jadi tameng, Bayu menahan diri untuk tidak nekat. Mereka mundur bersama. Utuh. Sebagai satu tubuh.
Reza tidak berkata apa-apa. Tapi malam itu, di kamar kontrakannya, ia tersenyum untuk pertama kalinya entah sejak kapan.
Ia juga mulai menyadari sesuatu yang menakutkan: ia menikmatinya. Bukan sekadar mengisi waktu. Ia hidup di setiap latihan, setiap koreksi, setiap kemajuan kecil. Suaranya kembali punya tujuan. Otaknya kembali bekerja pada level yang dulu membuatnya legenda.
Api yang ia kira padam ternyata hanya tertidur.
Tapi bersama api itu, datang pula bayangan. Suatu malam, setelah latihan, Damar bertanya hal yang membuat Reza membeku.
"Bang, gua googling soal pelatih e-sports. Banyak nama-nama lama. Eh, ada satu nama yang gua rasa familiar sama gaya lo. Reza 'Vanguard'. Kapten Garuda yang menang nasional terus..." Damar berhenti, menatap Reza dengan ragu. "...terus kena skandal."
Warnet mendadak terasa sunyi.
"Itu lo, ya, Bang?" tanya Damar pelan.
Reza menatap anak itu lama. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia hanya berkata, "Latihan besok jam enam. Jangan telat."
Ia mematikan lampu warnet dan pergi, meninggalkan pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap yang enggan hilang.