Damar tidak bertanya lagi setelah malam itu. Tapi Reza tahu, anak itu sudah tahu.
Dan pengetahuan itu mengubah sesuatu. Bukan dalam cara Damar memperlakukannya—ia tetap memanggil "Bang," tetap patuh, tetap haus belajar. Tapi ada rasa hormat baru, juga rasa hati-hati, seolah Damar kini menyadari ia sedang berdiri di dekat seseorang yang membawa luka besar yang belum sembuh.
Suatu sore, saat Reza sedang menjelaskan strategi di papan tulis, pintu warnet terbuka. Seorang pria berjaket mahal masuk, kacamata hitam meski hari sudah sore, ponsel mahal di tangan. Ia memindai ruangan dengan tatapan menghitung, sampai matanya berhenti di Reza.
Reza membeku. Ia kenal pria itu.
"Lama nggak ketemu, Reza," kata pria itu, melepas kacamatanya. Senyumnya tipis, dingin. "Atau sekarang lo lebih suka dipanggil penjaga warnet?"
Lima anak itu menoleh bingung. Reza meletakkan spidolnya pelan-pelan.
"Ngapain lo ke sini, Vino," kata Reza datar.
Vino. Mantan rekan setimnya di Garuda Vanguard. Penembak jitu tim, yang kini—Reza tahu dari berita yang sesekali tak sengaja ia baca—menjadi manajer di salah satu organisasi e-sports besar. Salah satu dari lima orang yang diam saat Reza ditenggelamkan.
"Wah, galak banget," Vino terkekeh, melangkah masuk lebih dalam, sepatu mahalnya menapak lantai warnet yang kusam. "Gua denger desas-desus. Ada mantan pro yang sembunyi di kota antah-berantah, melatih bocah-bocah ingusan. Gua kira bohong. Ternyata beneran lo."
"Lo nggak jawab pertanyaan gua."
Vino mengedikkan bahu. "Cuma penasaran. Lagi nyari talenta buat akademi tim gua. Eh, kebetulan lewat sini." Matanya menyapu kelima anak itu, berhenti sejenak di Damar. Tatapan menilai. "Anak ini lumayan. Dia yang lo banggain?"
"Mereka bukan urusan lo," potong Reza.
"Tenang, tenang." Vino mengangkat tangan, pura-pura menyerah, tapi senyumnya makin lebar. "Gua cuma mau ngingetin, Reza. Dunia yang dulu ngebuang lo itu nggak berubah. Lo masuk lagi, lo cuma bakal nyeret bocah-bocah ini ke dalam lumpur yang sama." Ia menatap Reza tajam. "Nama lo masih beracun. Tim mana pun yang lo sentuh bakal kena getahnya. Lo tau itu."
Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling rapuh. Reza terdiam.
"Eh, Bang," Bayu tiba-tiba berdiri, suaranya menantang. "Lo siapa, ya? Sok tau banget."
Vino tertawa pendek. "Bocah, lo tau nggak siapa pelatih lo? Tanya dia soal final tiga tahun lalu. Tanya kenapa dia kabur." Ia memakai kembali kacamatanya. "Gua kasih saran gratis. Cari pelatih lain. Yang ini bawa sial."
Ia berbalik dan keluar, meninggalkan keheningan yang berat.
Damar menatap Reza. Begitu juga keempat anak lainnya, yang kini tahu ada sesuatu yang besar dan gelap di balik pelatih mereka.
"Bang..." Tio memecah keheningan. "Bener yang dia bilang?"
Reza menatap papan tulis penuh coretan strategi, tangannya terkepal. Tiga tahun ia bersembunyi justru agar tidak menyeret siapa pun ke dalam reruntuhan namanya. Dan kini bayangan itu datang sendiri ke pintunya, mengancam akan menumpahkan racun yang sama ke lima anak yang baru saja ia ajari cara bermimpi.
"Latihan bubar," kata Reza pelan. "Pulang. Sekarang."
"Tapi Bang—" Damar memulai.
"PULANG." Suaranya pecah, lebih keras dari yang ia maksud.
Anak-anak itu berpencar, satu per satu keluar dengan wajah bingung dan terluka. Hanya Damar yang berhenti di pintu, menoleh sekali, sebelum akhirnya ikut pergi.
Reza tinggal sendirian di warnet yang gelap. Ia menatap layar PC nomor tujuh yang masih menyala, menampilkan ulangan latihan terakhir mereka—lima anak yang bergerak sebagai satu tubuh.
Lalu ia mematikan layar itu, dan bersamanya, ia mencoba mematikan kembali api yang baru saja hidup.