Selama tiga hari, Reza tidak membuka warnet untuk latihan.
Ia bilang pada bos warnet ia sakit. Ia mengunci diri di kontrakan, mencoba meyakinkan diri bahwa Vino benar. Bahwa namanya beracun. Bahwa ia tidak berhak menarik lima anak itu ke dalam dunia yang akan mengkhianati mereka seperti dunia itu mengkhianatinya.
Tapi Damar tidak menyerah.
Anak itu menggedor pintu kontrakannya di hari keempat. Reza tahu itu Damar dari cara mengetuknya—tiga kali, jeda, dua kali. Pola yang sama dengan rotasinya di game: tidak terduga tapi punya niat.
"Bang, gua tau lo di dalam," teriak Damar dari balik pintu. "Gua bawa sesuatu. Buka, Bang."
Reza tidak bergerak.
"Oke, gua taruh di sini aja." Suara gemerisik kertas. "Gua nemu ini di forum lama. Orang-orang masih nyimpen, Bang. Baca, ya. Gua tunggu lo di warnet besok jam enam."
Langkah kaki menjauh. Reza menunggu sampai benar-benar sunyi, lalu membuka pintu. Di lantai, ada amplop lusuh berisi cetakan kertas. Ia memungutnya, membawanya masuk.
Isinya adalah tangkapan layar dari sebuah utas forum lama. Judulnya: "Untuk Coach Reza, di mana pun lo berada."
Reza membaca, dan dadanya sesak.
Ratusan komentar. Dari penggemar yang tidak pernah berhenti percaya. Dari pemain muda yang bilang mereka mulai bermain karena terinspirasi olehnya. Dari orang-orang yang menulis: "Kami tahu lo nggak bersalah." "Skandal itu nggak masuk akal." "Kembali, Coach. Kami nunggu." Ada yang menulis panjang, menganalisis bukti yang dulu dipakai untuk menjatuhkannya, menunjukkan kejanggalan yang waktu itu tak ada yang mau dengar.
Dan di antara semua itu, ada satu komentar yang membuat tangan Reza gemetar. Dari akun bernama "Hendra_Coach."
"Reza, kalau lo baca ini. Maaf gua nggak bisa belain lo waktu itu. Gua diancam. Tapi gua simpan semua bukti yang asli. Suatu hari, kebenaran bakal keluar. Lo nggak pernah jual pertandingan. Gua tau. Setiap orang berhak satu babak tambahan—termasuk lo. Jangan biarin mereka ngambil itu dari lo."
Coach Hendra. Pelatih yang dulu menempanya, yang mengucapkan kalimat tentang babak tambahan itu untuk pertama kalinya. Reza mengira pria itu juga membuangnya. Tapi ternyata ada penjelasan. Ada bukti. Ada seseorang yang masih percaya.
Reza duduk di lantai, kertas itu di tangannya yang gemetar, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, air matanya jatuh. Bukan tangis kesedihan. Tangis sesuatu yang terlalu lama ditahan—amarah, kerinduan, dan secercah harapan yang ia kira sudah ia bunuh.
Ia menatap jersey biru bernomor sembilan yang masih tergeletak di atas kardus yang kini terbuka lebar.
Vino datang untuk memastikan ia tetap bersembunyi. Untuk memastikan ia tetap takut. Tapi kenapa? Kenapa seorang manajer sukses repot-repot datang ke warnet kecil hanya untuk mengusir mantan rekan yang sudah hancur?
Kecuali Vino punya sesuatu untuk disembunyikan.
Pikiran itu menyalak di kepala Reza seperti play yang tiba-tiba terbaca jelas di tengah perang. Selama ini ia terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri untuk bertanya: siapa yang paling diuntungkan dari kejatuhannya?
Esok paginya, pukul enam, Damar membuka warnet dan terkejut menemukan Reza sudah berdiri di depan papan tulis. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Punggungnya tegak. Matanya menyala.
"Panggil yang lain," kata Reza. "Latihan kita lanjut. Dan kali ini, kita main buat menang Karawang—bukan buat main-main."
Damar menyeringai, seringai yang sama dengan malam pertama. "Siap, Coach."
Kata "Coach" itu, untuk pertama kalinya, tidak membuat Reza ingin menyangkalnya.