Menjadi Zac bukanlah hal yang mudah, pekerjaannya yang cukup merepotkan ditambah harus membantu Stella dalam mengurus perusahaan. Seperti hari ini, harus ada rapat penting yang ia hadiri, dan siangnya dia akan kembali ke asrama dan sore akan kembali mengecek keadaan saudarinya.
Keheningan mulai memakan waktu, hanya ada deru nafas Stella terdengar. Yah gadis itu tertidur. Dokter bilang ini adalah hal yang lumrah terjadi bagi beberapa ibu hamil muda.
Roy sedari tadi sibuk dengan ponselnya, pria itu tak habis pikir dengan pria yang telah berani menghamili cucu kesayangannya. Rasanya dia bukanlah kakek yang tidak bertanggung jawab. Dua kali dia gagal menjaga orang yang dia sayang adalah hal yang sangat tidak terpuji. Dan terlalu lalai.
Emosinya belum juga reda, ingin rasanya dia berteriak, marah mencaci bahkan memaki perbuatan Stella. Namun ini bukan salah gadis itu melainkan salah dirinya sendiri yang lalai. Dan yang salah adalah pria itu.
"Menurut penyelidikan, pria itu adalah Putra semata wayangnya Mr. Damain. Pemilik perusahaan periklanan ternama"
"Tidak peduli siapa dia, segera tangkap dan bawa ke hadapan ku!"
"Banyak hal yang harus di waspadai tuan. Kami akan mencobanya kembali, tadi kami hampir tertangkap basah"
"Berhati-hatilah! Karna ini bukanlah hal yang mudah,"
"Baik Tuan"
Stella mengeliat di tempat tidur, keadaan yang sedikit berisik membuatnya terbangun.
"Berhati-hatilah? Siapa yang harus berhati-hati? Kakek sedang merencanakan apa?"
Merasa terciduk Roy hanya dapat terkekeh, "Hal biasa yang mungkin tidak perlu kau ketahui. Karna ini tentang pria lansia" ujarnya di ujungi tawa.
Stella mengagguk, "Aku kira soal bisnis. Kek, aku merindukan Mama? Bisakah kau menyuruhnya datang kemari. Entah kenapa aku ingin bertemu dengannya sekarang"
"Apa kau salah makan sesuatu? Kau merindukan Evi? Hahaha, tidak seperti biasanya. Biasanya kau akan mencari keributan dengannya"
"Hm, Yah aku juga bingung kenapa aku tiba-tiba merindukan Mama. Tapi entah kenapa aku ingin melihatnya sekarang. Lagipun Apa Mama tidak mengkhawatirkanku? Putri semata wayangnya sedang berada di rumah sakit tapi aku tidak melihat tanda-tanda kehadirannya"
"Kenapa kau sekarang menjadi berlebihan sekali? Tapi mungkin saja Evi tidak peduli karna kan kau bukan putri kandungnya"
Detik berikutnya kedua orang itu tertawa lepas, walau tidak ada kemiripan akan wajah mereka. Sangat berbeda jauh tetapi sifat mereka sebelas dua belas.
Jokes itu sudah menemani Stella dan Zac sejak kecil, setiap kedua ibunya sedikit tidak perhatian. Maka akan ada jokes itu dari Roy. Sangatlah tidak masuk akal.
"Evi kemarin ikut kemari, tapi ia sudah pulang terlebih dahulu sebelum kau bangun, dia mengkhawatirkan mu kemarin. Tapi melihat mu yang baik-baik saja, dia memilih pulang"
"Kenapa langsung pulang? Dia bahkan belum menayai keadaan ku, Apa karna aku hamil dan tidak sakit? Mama menjadi khawatir, Aneh sekali"
Eva tiba-tiba datang dari balik pintu, yang langsung ikut masuk ke pembicaran mereka, dengan wajah serius, dan sedih, "Sangat khawatir, kau tau kan kalau saudariku itu sangat trauma akan kehamilan diluar nikah dan itu terjadi padamu. Ohh mungkin juga kau bukan salah satu orang yang tau akan traumanya"
Roy menggeleng, mencoba menghentikan perkataan Eva. Stella belum pulih, dia seharusnya tidak mendengar ini.
Eva menggeleng,"Tidak ayah, ada baiknya gadis ini tau keadaan ibumu. Setidaknya dia harus berfikir sebelum bertindak. Tidak ada yang mengetahui keadaan Evi sekarang, setelah mengetahui kau hamil ia langsung meminta untuk pulang dan mengunci diri di dalam kamar" pertanyaan Stella akhirnya terjawab, suara itu terdengar parau saat menjelaskan semuanya.
"Aku sudah mencoba menenangkan nya tadi tapi tetap saja tidak bisa, ia terus sekali mengetakan bahwa ia telah gagal menjadi seorang ibu, ia gagal menjaga, mengatasi dan menyembuhkan lukanya. Kau sangat tega, sekarang luka yang dia alami tiga puluh lalu keluar begitu saja" tambah Mama Eva lagi.
Stella menunduk lesu, air matanya mulai mengalir. Memang ia ingin sekali hamil tetapi ini bukanlah yang ia harapkan. Dia sama sekali tidak berpikir hingga kesini. Tanpa dia sadari Evi sudah masuk kedalam ruangan itu, duduk seraya menatap kecerobohan putrinya.
Dan Trauma? Cukup! Dia sungguh masih ingat dimana saat usianya 4 tahun, ibunya pulang entah dari mana dengan keadaan yang sangat menyedihkan, menangis, berteriak, mencaci maki semua orang, hingga akhirnya kelelahan dan pingsan. Yang paling ia ingat adalah ucapan kakeknya yang mengatakan kepada dokter kalau Trauma ibunya kembali lagi.
Trauma berdekatan dengan pria dan tersentuh oleh seorang pria, walau sekarang tidak pernah lagi terjadi, namun hal itu selalu membekas di ingatan Stella. Hanya itu yang dia tau bukan yang ini.
Aku benar-benar ceroboh melakukan sesuatu tanpa tau akibatnya. Bagaimana nanti kalau Mama tidak mempercayai ku lagi? Percuma saja aku bisa menaklukkan dunia bisnis tapi tidak dengan hati mama yang terluka akan perbuatan ku. Bolehkah aku berkata jika saat ini aku sangat menyesal.
"Sudahlah nak ini semua sudah terjadi. Mungkin ini yang terbaik. Tapi aku mohon, kau bisa saja membuat kami kecewa tapi tidak dengan dirimu sendiri. Kau harus kuat, tidak ada lagi yang disesalkan kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan, jaga dia baik-baik" nasihat Mama Eva sembari mengusap perut Stella perlahan.
Mama Eva menyisihkan rambut Stella, "Jangan jatuhkan harga dirimu yah nak, Mama mohon katakan siapa yang membuatmu seperti ini? Tidak ada lagi yang bisa menolong mu dalam situasi ini. Berita ini hanya akan menjatuhkan kita"
Stella dengan cepat menggeleng, "Untuk yang ini, maaf Ma aku nggak bisa. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Aku janji akan merawat anak ini seorang diri, aku yakin aku pasti mampu membiayai materi serta kasih sayangku, aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuknya"
"Mama mohon jangan memperumit masalah Stella, cukup biarlah kami terima jika ini semua sudah terjadi. Namun tidak untuk yang ini, mana mungkin kami akan membiarkannya bebas dan tidak bertanggung jawab atas anak ini"
Stella tetap bersikeras, "Tapi Ma, aku akan tetap dengan pilihanku. Anak ini hanya milikku, aku mampu Ma"
"Ke-kemarin kakek mengatakan akan memberikan ku seluruh harta miliknya dengan syarat aku harus sudah memiliki keturunan. Aku selalu berprinsip kalau aku tidak akan pernah menikah, tapi den--"
Stella terdiam sebentar menghela nafas, " Dengan bodohnya aku menyewa seorang Pria untuk membuat ku hamil. Aku berjanji akan memberikan dua puluh lima persen harta milikku untuk nya kalau dia mau menghami.."
[ PLAK ] tamparan itu begitu keras hingga suaranya memenuhi ruang rawat Stella.
"Dasar wanita gila, hanya demi harta kau melakukan nya? Hanya demi harta kau mau kehilangan harga diri dan kehormatan mu? IYA?! APAKAH KAU WARAS MELAKUKAN SEMUA ITU? BUKAN HANYA KAU STELLA, TAPI KAMI SEMUA MERASAKAN KEHILANGAN HARGA DIRI. Terlebih kakek mu, apakah kau pernah berfikir akan hal Itu? Aku kira aku gagal, aku kira aku yang lalai menjadi Mama. Aku kembali, ingin menanyai siapa pria itu, tapi ternyata. Kenapa kau bodoh sekali!" bentak Evi tak karuan, emosinya tidak lagi stabil, wanita paruh baya itu memang sudah berada di ruangan itu sejak tadi. Wajah dan mata nya memerah, kesedihan dan kemarahan bercampur disana.
"Sejak aku mengandung mu aku sudah sangat tidak menyukaimu, karna kau ada karna suatu pemaksaan bahkan kekerasaan"
Mama Eva mencoba menenangkan suasana, namun sama sekali tidak bisa, trauma ini mungkin hadir kembali. Disaat ini lah semua kejujuran akan keluar bersamaan dengan caci maki yang sangat menyakitkan.
"Evi tenangkan dirimu, sudahlah jangan membawa masa lalu, itu akan membuatmu semakin terpukul"
Kakek Stella yang tidak tahan melihat semua ini memilih untuk keluar dan menenangkan diri, ini adalah pertengkaran terhebat yang pernah terjadi di keluarga Jovanca.
"Tidak kak, dia harus mengetahui semuanya. "
Stella hanya bisa menunduk lesu, "Katakan, katakan semuanya Ma! Aku ingin tau semuanya. Mungkin ini saat yang tepat Mama jujur tentang semuanya kepadaku, hiks"
"Kau dengar sendiri kan kak! Dia memang anak yang tidak tau diri, Aku hampir saja bunuh diri saat mengetahui aku hamil. Hamil dari sebuah insiden, Seseorang pria yang tidak aku kenali menyetubuhi ku. Hingga membuat aku ketakutan saat melihat pria yang tidak aku kenali selama lima tahun. Disaat itu ayahku adalah seorang manajer, aku benar-benar takut memberitaunya aku sungguh tidak ingin ayahku kehilangan harga diri. Lalu semua orang mengetahui semuanya termasuk ayah, Ayah terus saja menanyai ku dan membujuk ku agar mengatakan siapa pria itu. Karna trauma yang sangat mendalam aku tidak memberitaukannya pada Ayah sama sekali" jelas Evi panjang lebar.
"Saat usia kandunganku empat setengah bulan, perutku mulai tampak besar, bahkan jaket pun tidak bisa lagi menutupinya. Semua orang membicarakan ku dari tetangga, teman kampus bahkan kolega bisnis ayah. Aku hampir mengugurkan kandungan ku namun Kak Eva berhasil membujukku"
Mama Evi menghela nafas, "Saat kau lahir aku bertambah tidak menyukaimu karna sedikit pun wajahmu tidak mirip denganku. Setiap aku melihatmu aku mengingatnya. Tapi setelah nya aku sadar bahwa kau itu putriku, aku mulai bisa melupakan kejadian itu dan menerima kehadiran mu. DAN SEKARANG?! PERBUATANMU SEKARANG?! MEMBUATKU MENGINGAT BAHWA AKU DULU TIDAK MENYUKAIMU! Dan mungkin perbuatan sekarang akan membuat ku tidak pernah lagi menyukaimu" Setelah itu Mama Evi meninggalkan ruang rawat Stella. Dan dengan cepat Mama Eva ikut meninggalkan Stella untuk menenangkan Evi.
Sendiri. Itu lah yang kini dirasakan Stella sebelumnya ia tidak pernah melihat kemarahan sang Mama sebesar ini. Menangis dalam diam. itu juga yang sedang ia lakukan. Ia pikir reaksi keluarga nya akan sama dengan Zac namun ia salah.
Aku harus bagaimana? Semuanya sudah terjadi. Tidak mungkin aku menelpon Arion dan mengatakan yang terjadi. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini.
Apa aku harus meminta agar ia menikahi ku setidaknya sampai anak ini lahir.
Tapi tidak mungkin aku melanggar prinsip hidup yang sudah aku janjikan.
Apa aku harus mengugurkan kandunganku? aku, aku yang salah dan yang pantas dibunuh juga adalah aku.
"Yah jalan terbaiknya mungkin aku akan mencoba menghilangkan diri. Mama benar, harga diri keluarga Jovanca akan sangat jatuh saat media mendengar berita kehamilan ku, hiks"
Gadis itu menarik rambutnya kasar,"Kenapa kau bodoh sekali Stella. Kenapa tidak memikirkan ini sebelumnya" keluh Stella menyesal pada akhirnya.
* * *