Jam menunjuk pukul 20.00 dan wanita itu masih bekerja keras di dalam ruangan kantor. Hampir semua lampu gedung sudah mati, namun tidak membuatnya berhenti juga.
Suara getaran dan notifikasi telepon pada akhirnya membuatnya berhenti dari aktivitas panjangnya.
"Halo Arion, ada apa"
[Kau sudah mengeceknya? Setidaknya dengan tes pek]
Wanita itu menggeleng,"tidak akan ada alasan aku mengeceknya. Sudahlah aku sedikit sibuk. Jika hanya untuk memerintahkan ku melakukannya aku matikan teleponnya ya--uueekk.. Haish kenapa mual ini tidak selesai juga. Bye Arion aku harus mengorder makanan"
Wanita itu kembali mendapat telepon,[Stella jangan mengorder apapun. Kau masih di kantor kan? Aku akan datang, kebetulan aku dekat dengan area kantormu]
"Baiklah, aku menunggumu"
Sekitar dua puluh lima menit, Pria itu sudah sampai.
"Senang sekali melihatmu tidak datang terlambat seperti biasanya,"
"Terimakasih, walau aku tau ini sedikit menyinggung ku, hehehe"
Makan malam bersama di dalam keadaan kantor yang sudah sunyi adalah pilihan terbaik, keduanya makan dalam keheningan. Namun dalam waktu singkat Stella sudah mual dan menyuruh Arion menghabiskan sisa makanannya.
"Kau terlambat makan kembali pasti. Lihatlah Maagmu kembali lagi, angin sudah terlebih dahulu mengisi perutmu, beginilah jadinya"
"Shutt.... Perutku benar-benar bermasalah saat ini Arion. Jangan buat aku semakin kesal! "
"Katakan saja semuanya aku tidak peduli, kau ini memang sangat keras kepala. Tidak disiplin sekali jika menyangkut kesehatan"
"Terserah padaku, uueekk!"
Dengan cepat Arion berlari mengikuti langkah Stella, memijit perlahan pundak wanita itu, memijit-mijitnya hingga akhirnya semua yang Stella makan keluar percuma.
"Ayo minum dulu, kumur-kumur juga, jangan sampai sisa makanannya masih adaa, kau harus makan ini lagi, setidaknya buat perutmu berisi dengan makanan"
Stella menggeleng, "Lagi? Tidak Arion perutku tadi sudah kenyang"
"Dan baru saja terbuang semuanya kan. Ayo tidak ada alasan, sebelum semakin parah. Kau harus makan dulu, setidaknya buah apel ini"
Stella menghela nafas,"Ini akan terbuang juga nanti, aku pasti akan mual kembali"
"Jangan membuat otakmu memikirkan mual itu lagi. Ini akan bisa berhenti jika kau pun berhenti memikirkannya"
Saran, nasihat, ocehan selalu saja di lontarkan Arion hingga mereka bersama-sama keluar dari kantor Stella. Jangan terlambat makan, selalu ingat istirahat, jaga kesehatan, jangan begadang, kurangi lembur dan yang lainnya. Yang mampu membuat telinga Stella memerah.
Walaupun hatinya bersikeras untuk tidak mengunjungi mansion, tapi tetap saja dia datang kesini. Seperti saat ini, Stella kini tengah mengintip ibunya yang tengah sibuk di dapur di temani oleh Evi, dan beberapa pelayan.
"Hai kalian semua! Kedua mamaku yang paling cantik dan cerewet. Aku sangat merindukan kalian, ohh tidak kalian juga pasti merindukan diriku kan" ucap Stella yang membuat semua orang terkekeh.
"Tadi pagi baru melihat mu, Untuk apa merindukanmu? Kau pergilah, sebelum semuanya jadi berantakan "
Gadis itu malah tertawa cengengesan, dia semakin mendekati Evi dan mengecup seluruh permukaan wajah wanita paruh baya itu.
"Sudah... Sudah, Stella kamu pergilah, temui kakekmu. Sepertinya ada hal yang penting yang akan dia bicarakan. Karna sedari tadi dia sudah uring-uringan mengenai mu, cepat pergilah ke ruang makan" ucap Eva menengahi.
Gadis itu malah tertawa senang, "Seperti tamu penting saja, untuk apa? Apa keuntungan Kakek menunggu ku. Apa dia kalah bermain catur lagi?"
"Ayolah Stella jangan bersikap seolah-olah kau tidak mengetahui apapun. Mama tau kau sedang dekat dengan pria, tapi kenapa kau tidak pernah mengenalkan calon menantu ku itu kemari?" ucap Evi yang di jawab anggukan oleh Eva.
Stella terdiam beberapa saat, dan berusaha mencoba bersikap biasa-biasa saja dan tidak tau apa-apa, dia kemudian menggeleng, "Yang mama maksud siapa? Pria? Yang mana? aku kira kalian masih ingat tentang janji dan prinsip hidupku"
Eva menggeleng, menatap putri adiknya itu gemas, "Tidak perlu merahasiakannya dari kami lagi Stella, semuanya sudah terbongkar. Tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan, honey"
Stella mengerutkan keningnya, berusaha bersikap polos, "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kalian katak--
Belum juga ucapannya ia selesaikan, seseorang telah menarik telinganya kuat, yang membuat ucapannya beralih menjadi teriakan, "OMG! SIAPA INI!? HEI! SIAPA KAU!? BERANI SEKALI KAU MENARIK TELIN-Eh Kakek, kenapa Kakek menarik telinga ku?" keluh Stella yang mulai melembut setelah tau yang berbuat demikian adalah Kakeknya.
Alis pria itu bergerak naik turun, dan kerutan tampak di keningnya, "Jadi benar kau tidak tau siapa dia? Apa perlu aku menangkapnya dan menginterogasi nya agar semuanya terungkap?"
Stella dengan cepat menggeleng,"Kami hanya teman bisnis Kek. Kakek kan tau kalau Perusahaan Jovanca dan Perusahaan Damain itu sangat dekat jadi kami membuatnya lebih dekat lagi. Tapi tenang Kek, tujuan kami hanya satu yaitu mengembangkan bisnis bersama hanya Itu"
"Jangan mencoba mengelabui ku Stella, jika yang kau katakan itu benar. Kenapa ia selalu datang pada malam hari dan selalu menginap di apartemen mu? Dan kenapa juga kalian harus sering ketemuan di beberapa restoran atau Cafe?"
" I-itu kar-karna aku mulai menyukai nya....buk-bukan itu maksud ku aku nyaman dan menyukainya sebagai teman bisnis, yah teman bisnis. Tapi sekarang namanya apa yah, sahabat bisnis. Nah iya kami mencoba bisnis yang sangat bersahabat, kadang kala begadang bersama. Tapi tidak menginap, dia tidur di hotel terdekat dan akan datang kembali pagi subuh, karna harus menyelesaikan pekerjaan proyek kami " ungkap Stella mencoba untuk tidak gugup saat mengatakan alasannya.
Kakek Stella tersenyum, "Aku dapat menilai sandiwara mu. Yah, kau tuntas dan mendapatkan hasil yang memuaskan kau sudah hampir mampu mengelabui semua orang. Tapi tidak dengan aku" imbuhnya lembut namun penuh ketegasan dan penekanan di setiap katanya.
"Kenapa? Kenapa kalian semua tidak mempercayaku, ak-uueekkk!" Stella berlari ke kamar mandi sembari menutup mulut nya yang hampir saja mengeluarkan muntahan.
Semua orang panik dan mengejar Stella ke kamar mandi. Termasuk Roy, Eva dan juga Evi. Beberapa pelayan turut ikut, mengantisipasi adanya sebuah suruhan dalam adegan ini.
Wajah Stella terlihat pucat saat seluruh makanan kini telah ia keluarkan, seolah merah blush on tidak mampu lagi membuat aura hidup di wajahnya. Kepalanya seperti sangat berat sepertinya badan dan kakinya lemas dan tak tahan lagi.
Stella tetap menggeleng mencoba lebih terlihat baik-baik saja, supaya semua orang tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tida--uueekkk! Aku tidak apa-apa, suda--ueekkk!"
Stella tetap mual, membuat tidak ada seorang pun yang percaya yang dia katakan. Dia berusaha keras mengeluarkan muntahan nya tetapi saat ini lambungnya sudah kosong. Muntahan pertamanya tadi sudah mampu membuat tidak ada makanan lagi disana.
Walau sudah mengeluarkan seluruh makanan, bahkan air liurnya seperti sudah hampir mengering. Namun tetap saja rasa ingin muntah selalu berulang-ulang.
Akhirnya rasa mualnya berhenti. Dia tersenyum di semua tenaga yang tersisa, "Sebenarnya Minggu ini aku tidak makan tepat waktu. Jadi maagku kambuh, tadi sempat konsultasi dengan dokter juga" jelas mencoba membuat perhatian tidak lagi ada padanya.
Dia berusaha tersenyum, dan tampil terlihat sehat, namun Kepalanya yang terasa semakin lama semakin berat tidak bisa lagi ia tahan, sampai tubuhnya tumbang dan matanya tertutup menampilkan kegelapan.
Untungya Eva dan Evi sudah siaga di belakang gadis itu, menangkap tubuh lemah Stella dan menahannya sampai pelayan pria datang untuk membantu mereka.
"PELAYAN! " teriak Roy dengan suara bariton yang menggelegar ke seluruh ruangan.
***
Setibanya di rumah sakit semua orang panik di depan pintu ruang UGD, apalagi mengingat selama ini Stella tidak pernah mengeluh dan tidak pernah di diagnosa memiliki penyakit serius.
"Apakah maag Stella sudah menjadi Maag akut? Atau bagaimana kak? Aku takut, apa dia baik-baik saja"
"Kita semua tau jika Selama ini Stella tidak pernah menderita penyakit serius, dan jika memang baru terkena Maag aku yakin belum separah ini. Jangan khawatir Evi, biarkan para dokter Bekerja terlebih dahulu"
Beberapa detik setelahnya, seorang dokter keluar dari ruang UGD dengan senyuman manis.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, ini biasa terjadi kepada seorang ibu hamil. Apalagi ini adalah kehamilan pertama, wajar nona Stella begitu lemas tubuhnya belum terbiasa saat hamil, jadi tidak perlu panik. Usia kandungan nya masih baru menginjak Minggu kedua, aku Selamat yah Tuan dan nyonya" jelasnya yang mampu membuat semua orang kaget bukan main.
Semua orang terkejut,"Kau tidak bercanda kan dok? Put-putri ku hamil?" tanya Evi sangat terkejut, sungguh ini adalah hal yang paling ia takuti. Evi takut putrinya akan merasakan apa yang dirasakannya dulu, membesarkan seorang bayi seorang diri bukanlah hal yang mudah.
"Yah nyonya, nona Auristella hamil. Nona Auristella hanya perlu menjaga kesehatan dan menjaga asupan makanan serta istirahat yang cukup. Sekali lagi saya ucapkan selamat yah nyonya dan tuan, Mari" Lalu dokter tersebut berlalu pergi meninggalkan keluarga Jovanca yang masih dalam keadaan terkejut.
***
Kelopak mata Stella akhirnya terbuka, ada rasa terkejut saat akhirnya dia menyadari bahwa saat ini dirinya berada di rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyegat adalah khas tempat ini.
[ceklek] suara pintu ruang inap Stella yang terbuka.
Zac berteriak dengan girangnya, "Selamat yah saudariku, tak kusangka sangka akan secepat ini, dan tidak menyangka seperti ucapan ku kau sedang membuat keponakan untukku. Aku akan menjadi seorang Uncle, ooh ini berita yang sangat membahagiakan bagiku, walau tidak dalam waktu yang tepat. Aku membawa sesuatu untuk mu"
Lalu beberapa orang datang sembari membawa kotak hadiah yang jumlahnya tidak dapat dibilang sedikit dan ada sebuket bunga mawar merah dan juga sepasang Boneka teddy bear besar.
Stella tersenyum manis melihat keromantisan saudaranya Zac, sungguh sangking senangnya sampai membuat air matanya menetes tanda terharu.
"Selamat sekali lagi Queen Jovanca, dan selamat datang My Nephew. Aku menyayangi kalian" ucap Zac menampilkan senyuman lembut sembari mengelus perut Stella dan mencium kening Stella.
"Kau tidak salah Zac? Hahaha! Kau ini bermimpi atau bagaimana? Aku terkena Maag bukan hamil, lagi pun siapa yang menghamiliku!"
Seorang dokter tiba bersamaan saat kebingungan Stella yang meradang, "Selamat pagi nona Stella, perkenalkan saya dr. Mitha. Akhirnya anda bangun juga, pagi ini kita akan melakukan pemeriksaan dan penambahan suplemen vitamin supaya janin anda tetap kuat dan sehat" jelasnya lalu memberi kode supaya perawat memasukkan obat ke botol infus Stella.
"Kau tidak salah kan Dokter? Aku tidak mungkin hamil dokter, aku yakin seratus persen bahwa pemeriksaan mu pasti salah, aku tidak mungkin hamil"
Dokter cantik itu tersenyum lalu menggeleng pelan, "Tidak ada yang salah nona, maaf sebelumnya juga nyonya Evi sudah meminta saya memeriksa ulang keadaan anda. Dan hasilnya masih sama, anda hamil"
Stella tampak bingung, "Tetapi dokter, sejak dua hari lalu aku datang bulan, dan perutku juga kram. Aku tidak mungkin hamil jika itu terjadi dokter"
"Anda salah nona, itu bukanlah Darah menstruasi melainkan darah kehamilan normal. Ini biasa terjadi saat hamil muda. Penyebab umum perdarahan saat hamil muda adalah proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim, yang dikenal sebagai pendarahan implantasi. Hal ini tampak sebagai bercak darah atau perdarahan ringan selama beberapa jam atau hari, tapi tidak selama dan sebanyak menstruasi. Penyebab lain adalah iritasi karena gesekan saat hubungan intim, infeksi, atau perubahan hormon. Apakah darah tersebut hanya berupa bercak nona? Atau sebanyak saat anda menstruasi? "
Stella mengangguk, "Benar dokter, darah tersebut hanya berupa bercak. Syukurlah kalau itu normal. Dan kram perut itu?"
"Kram perut saat hamil muda, terbilang umum dialami ibu hamil. Penyebabnya pun beragam, mulai dari perubahan hormon, pembesaran ukuran rahim atau peregangan ligamen di perut. Selama kehamilan terjadi, rahim akan terus berkembang sehingga menyebabkan ligamen dan otot yang menopang rahim menjadi menegang, sehingga timbul kram perut saat hamil muda. Jika ini yang Anda alami, tidak perlu khawatir karena kram perut saat hamil muda umumnya merupakan keadaan yang normal."
Stella tersenyum puas, "Terima kasih banyak akan Informasi nya dokter , maaf jika pertanyaan ku menyita waktumu, tapi boleh aku tau berapa usianya?"
Dokter cantik itu mengagguk ramah, "Usia kandungan anda sudah dua Minggu nona, terima kasih kembali, tidak mengganggu sama sekali nona. Malah saya senang anda menanyakan hal tersebut, karna tidak banyak orang yang seperti nona, yang mau mengutarakan keluhannya"
***