"Selamat pagi nona Stella, Nyonya meminta anda untuk turun dan makan bersama,"
Silauan cahaya Surya menyerangnya dari penjuru jendela. Kemarin malam dia kembali ke kediamannya. Terhitung hampir sebulan dia tidak kembali membuatnya Beberapa kali menerima telponan, dengan alasan merindukan Stella membuatnya harus kembali ke rumah ini.
Ini adalah salah satu yang dia rindukan, tapi juga dia kesalkan. Stella selalu saja merasa terganggu jika harus di bangunkan. Dia bisa bangun pagi tapi tidak untuk di bangunkan.
"Auristella! Kau lihat ini sudah Jam setengah delapan. Dan kau belum juga bangun?!"
Nah ini dia yang sangat dia tidak suka. "Sudah bangun Mah, Mama berisik sih!"
"Kau itu uda mau kepala tiga tapi ngga akan bangun kalau ngga di bangunin. Kau tau, hanya karna kau seisi rumah ini terlambat sarapan tiga puluh menit lalu,"
"Aku tidak pernah mengatakan harus menungguku, Mama" ujar Stella menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Sudah jangan banyak bicara, kau harus bangun dan bekerja!"
Stella membuka kembali bantal yang ada di wajah nya dan setelah itu bantal sofa mengenai wajahnya.
"Kena kau pemalas! Ayo bangun, aku sudah lapar menunggu mu! Hahaha"
Tawa itu sudah jelas milik Zac, dia selalu menjadi pendukung sejati Evi jika Evi sedang memarahi putrinya itu.
Plak!
Suara tepukan tangan keduanya membuat gadis itu geram, akhirnya bangkit dan pergi ke area kamar mandi.
"Keluarlah kalian, aku akan segera turun" ucap Stella menatap tajam Zac dan sang Mama.
Selesai cuci muka dan menyikat gigi, Stella bergegas turun sebelum Evi kembali naik lagi dan memberikan berbagai macam nasehat padanya.
"Selamat pagi Stella,"
Stella tersenyum,"Pagi kakek" dan kembali menunjukkan ekspresi wajah kesal pada semua orang kecuali kakeknya.
"Kau akhirnya datang, ayo makan. Kami sudah makan sebagian kau datang terlalu lama Stella"
"Seharusnya ini yang dari tadi kalian lakukan, tidak perlu menungguku"
"Aku bawa sepotong roti ini saja, aku berangkat,"
"Tidak ada yang boleh keluar dari sini sebelum memakan sarapan nasi hangat!" seru Eva, menahan pundaknya saat tubuhnya hendak berdiri.
Stella pada akhirnya duduk kembali, dan menuruti semua keinginan kedua Mamanya.
"Ayolah Stella, makanan Mama sangat enak!"
***
Rapat Selesai. Di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Dan sekarang saatnya makan siang, sorot matanya mencari seseorang. Yang sepertinya belum tiba. Membuatnya kembali menghela nafas.
"Dia selalu terlambat seperti biasanya," keluh Stella tetap memeriksa keadaan, berharap Arion tiba secepat mungkin.
Lebih dari sepuluh kali mereka membuat pertemuan dan sepertinya hanya dua kali dimana Arion tidak terlambat.
Diaduknya kembali teh hijau pesanannya, moodnya sangat tidak baik. Dia sudah terus-terusan mencoba tapi belum ada tanda-tanda kalau dia mengandung. Ini hari ke-24 sejak pertama kali mereka melakukannya.
"Maaf aku kembali terlambat, pasien terakhir ku adalah anak-anak. Aku harus merayu mereka agar mau di periksa, dan itu memakan waktu"
Jelas Arion, tapi wanita itu sepertinya tidak mendengarkannya. Stella masih termenung, diam dan fokus pada teh yang dia aduk.
Arion menjulurkan tangannya, menggenggam tangan Stella perlahan, memgelusnya halus dan kini wanita itu sedikit terkejut melihatnya yang tengah duduk dihadapannya.
"Kau termenung? Apa ada masalah yang sedang kau hadapi?"
Tanya Arion, namun bukan jawaban yang dia terima melainkan lepasan genggaman tangannya. Sembari menggeleng kan kepala.
"Ada apa Stella? Kau dan aku adalah partner, kau boleh bercerita sepuas apapun kepada ku"
Stella kembali menggeleng, "Kau sudah pesan? Aku tidak bisa berlama-lama hari ini jadi kita harus cepat"
"Aku harap masalah yang memberatkan mu bukan tentang apa yang sedang kita upayakan, aku pergi memesan sebentar"
Stella menatap punggung pria itu, dan tanpa sadar, matanya mulai berkaca. Dia menarik nafas perlahan mencoba menghentikan air matanya yang akan segera turun.
"Apa memang sudah seharusnya aku menghentikannya"
Pria itu kembali, "Kau lama, aku sudah lapar. Kau memakan waktu tujuh menit untuk berbicara dengan orang lain"
Arion tersenyum," Dia tidak punya cukup uang untuk membayar, jadi aku menebus makanannya. D--
"Terima kasih nak, kau baik sekali. Aku tidak punya apapun untuk membalasmu, hanya ini terimalah"
Arion menggeleng, "Terimalah ku mohon," pada akhirnya Stella mengambil sebuah permen lollipop coklat dari tangan ibu itu tua itu.
"Terimakasih sekali lagi, walau hanya sebuah permen. Tapi semoga saja membantu memperbaiki suasana hatimu gadis cantik,"
Stella mengerutkan dahinya, dan mengangguk," Terimakasih kembali nenek"
Setelah kepergian ibu tua itu, gadis itu mulai kembali berbicara,"Dari mana dia tau? Kau tidak memberitahukannya kan?"
Pria itu terkekeh," sedikit, tadi aku hanya berkata jika wanita yang sedang bersamaku suasana hatinya sedang tidak baik jadi aku harus cepat. Dan aku tidak tau jika dia akan mengikuti ku sampai kesini"
Stella menghela nafas,"maafkan aku, sejujurnya Aku takut. Takut jika apa yang kita lakukan ini sia-sia Arion. Aku sudah banyak mengorbankan semuanya"
Stella menatap ke atas berusaha agar air matanya tidak jatuh," Tidak ada gunanya menangis, kita hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Atau bila perlu kita akan melakukan tes kesehatan kedua"
"Permisi tuan dan nona, ini pesanan anda. Salad buah saus yoghurt dan salad sayur"
"Terima kasih" setelah pelayan itu pergi.
Stella menggeleng, "Tidak perlu, biar saja berjalan begini. Tapi jika sampai bulan ini berakhir tapi belum ada tanda-tanda juga, sudahlah kita akhiri saja. Mungkin Tuhan tak mengizinkan karna tujuan kita dan cara yang kita lakukan salah"
"Kau akan menyerah? Tapi kita harus mencoba uji kesehatan kedua. Aku tidak yakin semuanya akan sia-sia. Dan siapa tau kau sudah mengandung sekarang, banyak kasus yang terjadi ibu hamil sama sekali tidak menyadari jika dia dalam keadaan mengandung"
Stella menggelengkan lagi, "Beberapa hari yang lalu aku melihat info kehamilan di internet, kalau ibu hamil biasanya akan mengalami mual atau indra penciuman sensitif dan sebagainya dan kalau di pikir aku tidak pernah mengalami itu. Tidak ada hal yang membuat ku harus mengecek kehamilan"
"Dan yang paling fatal, sejak dua hari lalu belum mungkin sampai lusa ini kita tidak bisa berhubungan karna aku ternyata sedang datang bulan, tidak ada kemungkinan hamil kan. Lihat sekarang kram perut itu muncul lagi"
Arion mengangguk, "Baiklah, Apa sakit? Selesai makan kita akan membeli obat untukmu"
Jelas Arion sedikit kecewa, perbincangan kali ini cukup membuatnya sedikit bersedih. Dia tidak mungkin memaksa Stella terus melakukan hubungan mereka jika tidak ada lagi tujuan.
Tersisa seminggu lagi, dan jika memang belum ada jalan itu artinya dia dan Stella akan kembali ke jalan mereka. Sebagai teman kerja. Arion yakin sekali jika Sifat Stella akan sangat berbeda saat dirinya kembali menjadi teman bisnis.
"Yah sedikit sakit, tapi aku takut jika memakan obat. Jangan khawatir kram perut ini sudah terbiasa aku rasakan"
Arion memicingkan matanya, "Kau yakin?"
Stella mengangguk dan tersenyum, "Tenanglah, maaf aku tidak bisa lebih lama lagi. Ada rapat penting yang harus aku hadiri setelah jadwal makan siang"
Ucap Stella saat menyadari kedua piring mereka sudah kosong, Arion mengangguk mengerti, dia berdiri terlebih dahulu membayar makanan mereka.
"Aku akan mengabari lagi, aku duluan"
Saat kakinya akan ikut keluar untuk mengantarkan Stella hingga ke perusahaan, tiba-tiba seorang wanita menarik tangannya untuk kembali masuk ke dalam ruangan itu.
Stella berbalik, menatap keduanya dengan pandangan yang Sulit di artikan. Memicingkan matanya sekitar 15 detik, lalu kemudian berjalan kembali seolah-olah tak peduli.
***
Stella masuk ke ruangan pribadinya dan menatapnya sekilas Pria tengah duduk di sofa ruangannya.Tangannya mencapai keningnya, memijitnya kasar lalu menghela nafas.
"Kau dari mana saja Stella aku mencarimu sejak dua jam lalu"
"Sebelum makan siang ada rapat yang harus aku hadiri di luar kantor. Dan setelahnya jadwal makan siang, kau mencari ku untuk apa?"
Stella mengalihkan pandangannya dari beberapa berkas,"Tidak hanya untuk mengajak makan siang saja. Aku sudah bosan dengan kekasihku, tapi tidak ada cara memutuskannya tanpa memamerkan dirimu Stella"
"Cih, enyahlah kau dari ruanganku. Kau datang kemari hanya ingin memainkan dramamu untuk menjadi pacar pura-pura mu lagi, Kau sudah membuang buang waktu ku" kesalnya.
Zac tersenyum, "Tenang jangan marah. Aku kesini juga di perintah oleh Kakek untuk mengundangmu makan malam di Mansion. Sudah dua bulan lebih kan aku berlibur. Dan panggilan dinas sudah kembali di luncurkan, lusa aku akan berangkat, aku pasti merindukan kalian, ralat hanya merindukanmu"
Stella tampak berfikir, "Wah kabar baik dan buruk. Baik karna kau akan bebas dari pembahasan pasangan yang harus kita bawa. Mereka selalu saja mengingatkan kita tentang kepala tiga dan tidak ada lagi pria menyebalkan seperti mu mulai lusa. Tapi kabar buruknya tidak akan adalagi teman untukku"
Zac mengangguk, "Kau berbohong, pria yang selalu mengunjungi apartemen mu selama ini akan pergi kemana? Dia juga akan pergi dinas sama seperti ku?" imbuh Zac yang mulai serius. Tidak ada nada candaan disini.
Stella melototkan matanya,"pria? Yang mana? Tidak ada satu pun pria di dekatku. Dan yang selalu mengunjungi ku yang kau Zac. Jangan mengada-ngada!"
Zac memutar bola matanya malas,"Stop hentikan semua ini Stella. Tidak mungkin aku tidak mengetahuinya. Itu hanya hal kecil. Oh iya aku juga penasaran apa tujuan pria itu datang ke apartemen mu? Dan kenapa sesering itu? Kadang membuatku agak segan ingin berkunjung. Siapa tau kalian sedang membuat keponakan untukku" Zac terkekeh di akhir kalimat nya.
Stella melirik Zac dengan tatapan membunuh yang sangat tidak bersahabat. Tapi tawa Zac malah makin lama semakin menjadi. Benar-benar sepupu gila.
"Tidak aku tidak bisa memberitahumu karna semua ini ada waktunya. Aku akan memberitahukan semuanya, tapi tidak sekarang" cicit Stella.
Zac tersenyum, "Aku paham tapi aku mohon datanglah malam ini"
Stella mengangguk,"Yah, aku akan kesana. Tapi mungkin akan sedikit terlambat karna banyak pekerjaan yang harus ku lakukan"
Stella menatap arlojinya," Waktunya rapat, aku pergi Zac"
***