* * *
Kegiatan yang sama yang sangat melelahkan, walau kali ini mereka melakukannya lebih lama dari yang pertama kali tapi tetap saja Arion harus bangun pagi, karna janji paginya di rumah sakit.
Jakarta kembali seperti biasanya. Macet dimana-mana dan banyaknya orang yang tidak mematuhi peraturan hingga membuat semuanya semakin banyak memakan waktu.
"Huh, akhirnya" Arion mematikan mesin mobil dan keluar.
"Selamat pagi dokter," sapa Beberapa pasien yang memang hadir selalu untuk pemeriksaan rutin.
"Pagi, Mr. Flow. Bagaimana keadaan anda?"
Pria tua itu tersenyum," Semakin baik, tapi aku harus mengambil resep kembali untuk pemulihan"
"Kabar yang sangat menggembirakan. Aku menanti pesta kesembuhanmu,"
"Kau yang akan mendapat undangan pertama dokter"
Arion tertawa kecil, "terima kasih, aku duluan Mr. Flow"
Kekesalan menyapanya saat akan kembali fokus berjalan ke area rumah sakit, melihat gadis bergaya centil di depan sana dengan santai memainkan rambutnya di tengah perkumpulan dokter muda.
"Gadis itu tidak bosan yah"
Seperti mengerti situasi beberapa dari mereka mulai berpencar. Menjauh dari kehadiran Arion yang sudah menampakkan mata tajamnya pada mereka.
Mitha berdecih," Haish, mereka pergi kan. Ini semua karnamu, padahal beberapa dari mereka berjanji untuk membeli ku coklat, dan yah aku lupa siapa tadi yang mengatakannya"
"Coklat semalam sudah habis? Calon diabetes dan orang gemuk"
Arion menoel pipi wanita itu," lihat lemak sudah terlihat nyaman disini"
Mata Mitha memicing," Arion! Aku akan ke Gym. Aku membencimu. Katakan jika aku tidak bisa hadir hari ini,"
"Lebih baik tidak melihat mu, dari pada harus melihat mu di goda seperti tadi"
Mitha tersenyum, "Tidak jadi, aku akan disini saja. Melihatmu marah lebih baik"
Arion menarik tubuh Mitha mendekat, "Aku tidak butuh alasan apapun, kuingat kan sekali lagi jangan terlalu dekat. Dan tetap lah biasa saja, tidak semua orang tulus ada disini. Kau tau bisa banyak kemungkinan yang terjadi, Bagaimana jika mereka mendekatimu hanya karna kau anak direktur utama pemilik rumah sakit?"
Mitha menghela nafas, over protektif milik Arion telah kembali menyerang tubuhnya, dikecupnya pipi Arion, "Sudahlah jangan marah lagi, aku tidak akan mengulangnya lagi hari ini, tapi jujur kau sedikit berlebihan"
* * *
Selesai makan siang Arion kembali ke kantor, Urusannya sudah diambil alih oleh dokter lain yang memang sudah di jadwalkan bertugas hari ini. Memang membagi waktu antara pekerjaan dan rapat bukan hal yang mudah, apalagi disaat dia sudah di kenal sebagai seorang CEO. Maka semua urusan perusahaan ada dibawah kendalinya. Jadwalnya sebagai dokter akhirnya di persingkat.
Perjanjian rapat kemarin ialah Stella berjanji akan menjadi model iklan untuk perusahaan Damain di awal pertemuan mereka, kalian masih ingat itu kan.
"Dia ada dimana?"
Tristan menatap Arion kebingungan,"Maaf Tuan, siapa yang anda maksud? Apa yang anda maksud adalah Nona Auristella?"
Arion mengangguk seketika dengan antusias.
"Nona Auristella sudah menunggu, seperti yang Tuan pesankan. Nona Auristella tidak akan menjalankan pemotretan sebelum anda tiba, sekarang berada di ruangan anda Tuan,"
Tanpa sepatah katapun, Pria itu pergi dari hadapan sang sekretaris. Dan menuju ruangannya .
"Selamat siang, Nona Auristella. Kita bertemu kembali"
Auristella mengangguk," Kau selalu saja terlambat. Sama sekali tidak bisa mengerti waktu"
"Setidaknya memiliki waktu untukmu untuk beristirahat dari pertempuran kemarin malam"
Stella memicing matanya, "Jaga omonganmu Arion, bagaimana jika ada yang mendengarnya"
Pria itu hanya tertawa kecil, mengambil remote untuk menutup dinding transparan yang memang di rancang untuk ruangan Pemimpin perusahaan. Semuanya tertutup sekarang.
"Kau mau apa?" tanya Stella saat kegiatan Arion mulai beralih ke membuka Jas kedokterannya.
Arion berhenti,"Mau melakukannya disini?"
"Jangan gila, kau harus tau tempat. Aku sudah pernah mengatakannya bukan"
Arion kembali terkekeh,"Aku hanya bercanda. Aku sudah selesai dari rumah sakit, dan sekarang saat nya baju kantor sebagai penggantinya, kau lihat, satu kancing lagi. Dan beres"
Stella menghela nafas, pria ini sepertinya memiliki seribu macam cara untuk memamerkan tubuhnya.
"Kenapa harus di hadapanku? Aku kira kau punya toilet pribadi disini?"
"Kau sudah sering melihatnya. Jadi untuk apa mengeluarkan effort untuk ke kamar mandi" jelasnya kemballi membuka dinding transparan ruangannya.
"Mari ke ruang pemotretan Nona Auristella," ucapnya sembari membuka pintu ruangannya.
"Terimakasih, Mr. Damain"
"Saya sangat berterimakasih atas ketersediaan anda sebagai model. Bahkan untuk kehadiran anda ke sini saja sebenarnya saya sudah sangat bersyukur. Selama perjalanan menuju ruangan pemotretan, mari saya perkenalkan beberapa ruangan kami,"
Dan pada akhirnya pria itu selalu saja berbicara sampai tujuan mereka. Perbincangan yang sepertinya tidak di dengarkan oleh Stella sama sekali. Ini sangat tidak nyaman, beberapa karyawan menatapnya lapar saat melewati mereka.
Fokusnya adalah membuat dirinya tampak anggun, elegan serta berkelas. Hal-hal yang bisa membuatnya semakin terlihat sangat profesional sebagai pemimpin perusahaan Jovanca.
"Tidak ada yang boleh masuk ke studio ini kecuali aku dan CEO perusahaan Jovanca. Aku yang akan menjadi fotografer untuk nya" jelas Arion saat mereka masuk, dua orang pria bertubuh besar juga langsung berdiri berjaga di depan pintu ruang pemotretan.
Beberapa Karyawan mulai berbisik-bisik, menjadikan ini topik hangat perbincangan mereka. Pertama ini kali pertama ada seorang CEO mau menjadi model, dan kedua sekarang pemimpin mereka juga ikut turun tangan menjadi fotografer. Ini kegiatan langka, yang pernah terjadi.
Biasanya pimpinan mereka, hanya akan menerima hasil foto. Menilainya apakah sudah sesuai harapan produk mereka dan tidak perlu repot - repot pergi ke studio, pekerjaan itu akan di kerjakan fotografer khusus bukan hanya satu namun ada banyak fotografer profesional yang bisa mengerjakannya.
Stella keluar dari ruang ganti mengenakan pakaian yang akan menjadi produk yang di pasar kan.
"Arion! Dimana fotografer nya? Mengapa kau yang ada disini?" tanya Stella sedikit gugup, saat menyadari tidak ada siapapun disini selain mereka berdua.
"Tidak ada yang boleh melihatmu memakai pakaian kurang bahan seperti ini. Biar aku saja yang memotretmu" jelas Arion yang mampu membuat bulu kuduk Stella meremang.
"Hasil iklan ini akan di pajang di televisi, majalah bahkan koran jadi semua orang akan melihat aku memakai pakaian ini" jelas Stella membuka pikiran Arion. Ini faktanya, jadi alasan Arion tidak akan masuk akal.
Raut wajahnya seperti berpikir keras, dan pada akhirnya mengangguk,"Kau benar. Masuk kembali ke dalam sana, Ganti pakaian yang lebih tertutup. Akan sangat tidak etis jika kau terlihat memamerkan lekuk tubuhmu di posisimu sebagai pemimpin"
Tanpa berkata apapun, Stella kembali berganti Pakaian. Perkataan Arion memang benar. Ini sama seperti dia mempermalukan dirinya. Pakaian pertamanya ini adalah sebuah dress panjang selutut, namun bahan menerawang ada pada bagian besar. Dan hanya area leher dan pinggang yang tertutup.
"Huh,"
"Aku sudah tau jika kau akan bingung, sini aku akan memilih beberapa pakaian yang memang tidak terlalu terbuka untukmu"
Stella mengangguk,"Bagus kau disini, sekarang pilihlah" ucap Stella sembari tersenyum tipis karna yang ia inginkan saat ini adalah keluar dari ruangan ini.
Dia akan sangat gugup jika berada berdua dalam satu ruangan terus-terusan bersama Arion. Kejadian di dalam ruangan Arion adalah hal yang dia syukuri. Dia mampu melawan kegugupannya saat pria itu lagi-lagi menggodanya.
Pria ini selalu bersikap semaunya, sedangkan Stella harus kembali menetralkan diri,"Kau bisa pakai yang ini,"
"Keluar lah sebentar aku akan menggantikan pakaianku"
Arion menurut dan keluar dari ruang ganti, dia memilih kembali menyiapkan kamera,"Kau yakin hasil fotonya akan bagus?" tanya Stella menetralkan detak jantung nya yang tak karuan.
"Kau meremehkan ku? Aku ini Arion yang bisa mengerjakan segalanya, lihat saja nanti ini akan sangat bagus" jelas Arion percaya diri.
"Cepatlah ini sudah memakan banyak waktu ku" rengek Stella.
Sudah hampir satu jam mereka di dalam tapi tetap saja hasil jepretan fotonya belum sempurna. Kaki Stella sudah sangat pegal, ditambah lagi belum ada asupan makanan yang masuk kedalam lambungnya sejak tadi pagi.
"Arion jangan menatapku seperti itu aku tidak bisa berpose dengan baik" Ini terjadi sejak tadi, entah kenapa di saat Arion menatapnya serius Stella tidak bisa menetralkan detak jantungnya. Kegugupannya semakin menjadi.
"Sebaiknya kau memotretku dengan menutup mata. Matamu mengganggu ku sejak tadi kalau seperti ini pemotreran tidak akan selesai"
Arion terkekeh, "Kau lucu sekali Stella, mana mungkin aku memotretmu dengan menutup mata"
"Atau kau panggil saja fotografer lain. Sungguh aku tidak bisa jika seperti ini"
Arion menggeleng, "Tidak! Aku tidak mau Stella"
Kekesalan Stella makin menjadi, beberapa jepretan mulai terdengar. Setelah sedikit perdebatan akhirnya semuanya berhenti. Dan saat itu raut wajah Arion menampilkan kekecewaan.
"Ini terlalu bagus untuk menjadi foto majalah"
"Lebih baik aku tidak menjadi modelmu, aku tidak terlalu suka berhadapan dengan kamera, dan aku yakin akan banyak wawancara saat iklan majalah ini dikeluarkan. Kembali ke profesi kita saja, hidup sudah damai saat menjadi seorang CEO. Kau panggil saja fotografer mu dan aku akan memanggil salah satu model terbaik dari perusahaan"
Arion berfikir sebentar, "Aku setuju, Kita memang harus menyudahinya"
Dua jam mereka pada akhirnya berakhir sia-sia, "Hm... ini akan sia-sia jika kita menyudahinya sekarang,"
Alis Stella terangkat, "Mau berfoto bersama? Kita sudah sampai disini, ayolah ini akan menjadi foto pribadi tidak akan dikeluarkan dari majalah manapun"
Gadis itu tampak berfikir dan kemudian mengangguk setuju,"Kau berdiri disana, dan aku akan menghidupkan timer"
"Bagaimana jika begini?" tanya Stella mengambil bangku dan menaruhnya di hadapan Kamera dan duduk. Berdiri sejak tadi melelahkan sekali.
"Tampak lebih baik, menghilangkan wajah tampak melelahkan mu seketika, hehehe"
Mata wanita itu kembali memicing,"Satu dua tiga, ayo tersenyum"
Dan hasilnya potretan Arion yang sedang berjalan menuju Stella, dan Stella yang melihatnya dengan memicingkan matanya. Selesai yang pertama keduanya sama sekali tidak berhenti dan kembali melakukan pemotretan lainnya.
* * *