* * *
Ini sudah menjadi hari ketiga setelah pertemuan Arion dan Stella namun bagai anak SMA yang sedang terlibat cinta monyet, begitu pula keadaan Arion.
Wajahnya sejak kemarin tampak sumringah, tersenyum dan tertawa tanpa alasan selama tiga hari berturut turut. Berbanding balik dengan kepribadian Arion yang sebenarnya.
Arion tersenyum tipis saat menatap kedua orang tuanya yang kini tengah menunggunya di ruang keluarga Mansion.
“Sudah lama Mom? Dad?” tanya Arion dengan suara bariton menggelegar ke penjuru Mansion disaat melihat Daddynya sedang meminum kopi sembari membaca koran bisnis sedangkan Mommynya yang menatapnya dengan aura kerinduan.
“Baru saja sampai nak, sekitar satu jam lalu"
Arion mengangguk, dan tersenyum kembali, “Kamu baik-baik saja kan Arion? Mengapa rasanya hari ini auramu terlihat aneh” tanya Kino dengan raut wajah bingung, pria paruh baya itu perlahan membuka kaca matanya dan menutup koran bisnisnya.
Kening Arion bertautan, apa maksudnya ini? Dia memicingkan matanya, “Ada apa denganku Dad? Aku tetap sama, biasa-biasa aja. Aku sehat wal'afiat, dan aura? Aura apa? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang berubah sama sekali”
Kino menatap Arion malas, “Kau seperti bukan seperti Putraku yang ku kenal. Tidak ada jiwa kejantanan di dalam dirimu saat ini” ucapnya lalu beralih ke arah Tv.
Jane menghela nafas, selalu saja begini, Jane berdiri dan memeluk tubuh kekar Arion kemudian dia tersenyum, “Kau bahagia sekali hari ini nak, bukan seperti biasanya. Auramu terlihat lebih bahagia tidak dingin dan cuek yang biasanya kau pamerkan”
Benar, jika apa yang kita lakukan adalah cerminan dari keluarga ataupun lingkungan kita. Kino yang merupakan tipe pria yang tegas dan dingin, memiliki pandangan ataupun pemikiran jika hanya seorang pria bodoh yang bersifat humoris, menurutnya pria sejati itu adalah pria dingin namun memiliki sisi peduli yang kuat.
Dan itulah yang diajarkannya pada Arion, tidak boleh terlalu bahagia jika di depan umum, berlakulah seadanya saja. “Sebenarnya tidak ada yang spesial, hanya saja entah mengapa suasana hatiku sedang gembira”
“Hm... Pria normal akan begini jika sudah berkenalan dengan wanita. Namun sayangnya, aku tidak yakin Kau juga akan mengalami hal yang sama. Jadi Pria mana yang membuatmu begini?" jawab Kino menimpali, kembali ke Aktivitasnya..
Arion menatap Kino tak percaya, ayolah apa Daddynya menganggap semua berita itu benar adanya. Jane yang melihat tingkah keduanya malah senyum sumringah.
“Daddy, kau membuka kartunya. Tapi dengarkan Mom Arion, Kita disini keluarga, dan tidak ada yang perlu kau sembunyikan. Ayo katakan saja, kami akan siap mengeluarkan berapapun yang untuk pengobatan mu nak" jelas Jane lembut.
Seketika Arion menarik semuanya senyum yang sedari tadi dia pancarkan," Tidak bisakah ada seorang yang mempercayai ku?"
"Stop berbicara, dengarkan Mommy kalau kau memang penyuka sesama jenis, Mom tidak akan pernah setuju punya menantu pria. Apa kata orang nantinya. Lebih baik kau Singel seumur hidup”
“Aku harus bagaimana jika aku memang belum mendapatkan seorang wanita yang cocok. Pasangan dipilih bukan seperti memilih barang Mom"
"Pria tua sepertimu sudah bisa di panggil Paman. Dan kau bilang belum bisa dapat yang cocok? 30 tahunmu sia-sia begitu saja?" Sambung Kino memutar bola matanya malas.
" Ayolah, belum punya pasangan belum tentu aku penyuka sesama jenis Mom, Dad. Aku pria sejati, aku waras!”
“Waras? Aku tidak mengatakan Orang gay itu tidak waras, dan semua perkataanmu tidak bisa di percaya jika kau tidak bisa mendapatkan bukti. Dan jalan satu-satunya adalah kau harus membawa seorang gadis ke hadapan kami”
Pada akhirnya jatuh pada perkataan pemaksaan," Mungkin dalam waktu dekat ini. Aku akan benar-benar membuktikan nya, lihat saja"
Jelasnya, lalu menghilang dari hadapan Kino dan Jane. Dan Jane tersenyum," Bagus sekali, ini yang aku nantikan"
"Jangan terlalu berharap Mom"
"Daddy, percaya kalau putra kita Gay? Engga mungkin lah. Daddy ngaco yah, dia normal"
"Iyalah apalagi, semuanya sudah jelas kan dia tidak memiliki satu calon pun"
***
Stella tengah tersenyum manis merapikan pot bunga kamelia kesukaanya. Wangi dan auranya yang khas sepertinya menambah seribu kali lipat kebahagiaan Stella. Membayangkan bagaimana nantinya kehidupan mereka.
Hidup bersama keturunannya yang bahagia tentunya adalah impian dan cita-cita Stella saat ini. Dia sudah mulai berpikir, jika hidup bersama seorang anak akan jauh lebih bahagia di banding hidup sendiri.
Refleks tangan mungil Stella kini sudah berada di perutnya, mengelus perut ratanya dengan penuh kasih sayang. Tersenyum-senyum sendiri dengan wajah yang sangat berseri-seri.
“Siang nona, pagi ini anda memiliki jadwal bertemu dengan para direktur perusahaan, untuk membahas target saham perusahaan”
Wajah polos dan senyuman damai Stella seketika mengilang dalam sekejap mata, berubah menjadi wajah kaku dan juga tegas. Dia mengangguk lalu membuka map yang diantarkan Kyara.
“Targetnya hampir terpenuhi nona, namun saham perusahaan sepertinya perlahan menurun setelah kepergian nona kemarin yang secara tiba-tiba, tetapi untungnya perusahaan hanya kehilangan target bukan kerugian saham” Stella mengangguk, mencoba fokus dengan apa yang akan di hadapinya sekarang.
"Ara, aku ingin kau tetap membantuku mencari tau sesuatu. Informasi kemarin tidak cukup, Cari tau siapa saja teman kencan Arion Damain selama ini. Setidaknya kekasihnya dalam lima tahun terakhir"
* * *
Terdengar suara ricuh, kaki berlarian.
Gadis itu tampak tersenyum bahagia menatap ke arah wanita paruh baya yang dia cari. Mendengar kericuhan itu membuat wanita itu juga ikut mendekati Gadis itu.
“Aunty! Kalian berbulan madunya, lama sekali. Aunty tau kan aku tidak bisa jauh darimu. Aku sangat merindukan mu, Aku bahkan ingin menangis bisa merasakan pelukanmu lagi. Apalagi Arion semakin lama semakin menjengkelkan”
Jane tertawa, dan membalas pelukan gadis itu, “Oohh sayang, Aunty juga sangat merindukan mu. Telepon sama sekali tidak membantu jika sudah sangat rindu. Kau tau sebagus apapun Los Angeles rasanya kurang saat kau tidak bersama Aunty"
"Bagaimana keadaanmu? Kau sehatkan?"
Mitha menggangguk," Seperti yang Aunty lihat, ini jauh dari kata sakit"
"Bagus sekali, sore ini waktu yang cocok untuk me time, Mau melakukannya berdua seperti biasa?"
Mitha mengangguk antusias," Itu yang aku nantikan"
"Berlebihan, aku akan ke dalam kamar"
Ujar Kino pada akhirnya, tidak tahan melihat drama yang berada di hadapannya.
Mitha menggeleng, menarik tangan Kino agar kembali duduk," Uncle tidak merindukan ku?"
Kino menggeleng namun pada akhirnya mengangguk," Sangat, kau terlalu senang melihat Aunty mu sehingga melupakan aku, sungguh mengecewakan"
"Hahaha, baiklah maafkan aku. Daddy mencari Uncle, banyak yang harus kalian bicarakan secara empat mata katanya. Dan itu perbincangan penting, Hanya itu yang dia pesankan"
"Jadi hanya untuk mendengarkan pesan itu kau menghentikan ku? Aku kira kau benar-benar merindukan ku"
"Hahaha, bukan begitu tapi bisa dikatakan begitu hehehe. Ohh iya Tidak hanya itu, aku ingin hadiah. Banyak janji yang kalian sampaikan selama di telepon. Dimana hadiah ku?"
Kino tersenyum tipis mengelus puncak kepala Mitha,"Ada di dalam sana, yang paling penting ada permen coklat kesukaan mu"
"Aku bukan anak kecil lagi Uncle, Jadi aku tidak mau menerima coklat nya jika berjumlah sedikit, hehehe"
"Tas dan sepatu yang kau pesankan juga ada disana, Aunty yakin kau menyukainya karna itu pilihan Aunty"
Mitha tersenyum senang, memeluk kembali Kino dan Jane," Aku sangat bersyukur memiliki kalian"
"Kami juga, honey"
Tidak adanya putri di kediaman mereka, membuat rumah itu kurang lengkap. Namun kehadiran Mitha yang selalu ada tanpa di minta datang, membuat semuanya terasa lebih lengkap.
Mitha menatap takjub apa yang dia lihat sungguh membuatnya mempesona. Dua koper barang yang dia minta sungguh ada, dress, tas, dan sepatu limited edition nya lengkap.
Dan satu koper berisi coklat, dia tersenyum puas mengingat Uncle dan Auntynya menepati janji.
"Apa ada yang kurang, honey?"
Mitha menggeleng," Terimakasih, aku sangat menyayangi kalian"
Seperti biasa semua barang yang ada di dalam sana ada dua dan sama persis.
Arion turun setelah mendengar ada keributan yang terjadi di sana," Kau berisik sekali, pulanglah setelah mendapat kan hadiahmu"
Jane melotot kan matanya, mengambil bantal sofa dan melemparnya pada Arion yang kini tersenyum senang.
"Berani mengatakannya sekali lagi, kau yang harus pergi Arion" jelas Kino, yang semakin membuatnya tersenyum.
"Kau yang pergi sana, Hahaha. Aku lebih berhak dari pada Kau Arion" ucap Mitha seperti mendapatkan kemenangan.
"Pesanan ku mana?"
"Hanya dua buah dasi kan? Ada di sana"
Arion mengangguk,"Bagus, aku pergi. Aku sama sekali tidak suka berdekatan dengan orang yang diabetes" godanya kembali saat ingin meraih dua benda pesanannya.
"Pecinta coklat belum tentu diabetes Arion! Aku membenci mu!"
Dan dua bantal sofa terbang mengejar Arion yang sama sekali tidak kena karna dia berlari cukup kuat sambil tertawa kecil.
Arion naik kedalam mobil, Ada yang harus dia temui. Dia tidak bisa menunggu kapan wanita itu mencarinya. Dia sendiri yang harus turun tangan mencarinya.
Drrrttt... Drrtt... Drrrt.... Getaran ponsel Arion.
"Halo Arion"
Arion berdehem, “ Sudah tiga hari, dan belum ada tanda-tanda jika aku hamil. Kau juga ikut membaca laporannya kan? Dokter itu tidak salah mengatakan kita berdua cocok, dan sama-sama sehat. Tapi mengapa tidak jadi?"
"Apa mungkin ini memang tidak bisa? Apa kita sudahi saja?"
Kening Arion bertautan, “Mengapa kau cepat sekali menyerah begini! Baru pertama kali kita mencobanya, kau kira membuat seorang anak itu mudah?”
Stella terdengar tertawa miris, “Iya, itu dari buku yang telah k*****a, perempuan akan semakin cepat hamil jika itu pertama kali baginya melakukan hubungan"
“Itu kan hanya pendapat penelitian. Rata-rata begitu, namun bukan semua wanita mengalami hal yang sama”
“Yasudah, datang lah kesini malam ini. Kita harus mencobanya lagi'
Arion tersenyum, “Aku sekarang mengerti tujuan telpon ini, kenapa tidak to the poi--
Tut... Tut.. Tut..
Arion tersenyum lepas saat sadar jika Stella malu mengatakannya langsung, rasanya dia ingin terbang saja, agar cepat sampai ke kediaman Stella.
“Arion! ”
Arion berhenti menjalankan mobilnya, “Aku pulang dulu yah Aunty dan Uncle. Besok aku akan kemari lagi, terima kasih atas hadiahnya” ucapnya ramah sembari menyalam kedua tangan orang tuanya Arion.
“Nak, jika kau ingin pergi, sekalian kau antarkan Mitha dulu. Ini sudah malam, Jadi jangan biarkan dia pulang sendirian. Kau harus memastikan dia sampai dengan aman"
Arion menghela nafas, dan turun kembali dari mobil. Sesaat sampai di hadapan mereka, dua koper berpindah menjadi ke tangannya.
“Aku ini seorang Wanita, tidak boleh membawa barang berat. Jadi silahkan ambil tugas mu” Arion menggeram tetapi akhirnya menurut.
***