"Auristella, apa menurutmu keputusan ini yang terbaik? "
Auristella mengangguk, "Aku sudah memutuskan tidak akan menikah Mama. Mama bilang pernikahan itu wajib bukan? Tapi kenapa...kenapa Mama ga menikah setelah memiliki aku? Kenapa Mama bisa bertahan hidup tanpa suami? Kenapa Mama bisa tetap membesar kan ku tanpa sosok suami? begitu juga aku Ma, Jika Mama bisa bertahan sendirian kenapa aku tidak? Ini pilihanku, tidak ada yang bisa mengaturku akan menikah atau tidak, ini adalah keputusan ku, "
Mata Evi berubah sayu, dia mengulurkan tangan mengelus pipi putrinya lembut, "Mama mengerti, bukan hanya aku yang merasakan trauma ini, tapi batinmu juga sepertinya mengerti. Tapi Stella, menikah bukan sesuatu yang buruk, cobalah mencari cinta sejatimu nak, ini tidak seburuk yang kau kira. Mama memang bisa hidup tanpa seorang suami tapi mama yakin jika hidup seseorang akan lebih lengkap jika memiliki pasangan hidup"
Stella tersenyum samar, "Menurutku tetap saja, mama pasti tau kan setiap orang pasti akan di tinggalkan, Hah, sudahlah tapi aku tegaskan lagi aku tidak akan menikah,"
"Sejujurnya aku takut Ma... Aku takut mendapat seorang suami yang tidak dapat menerimaku, dan jika pun ada yang dapat menerimaku, aku takut peristiwa pernikahan ku akan sama seperti pernikahan Mama Eva. Dan sudah ku putuskan tidak akan menikah dan menjadi wanita karir. Yah... Menghabiskan waktu tuaku bersama perusahan Jovanca"
"Kehidupan ini sudah di atur Stella, kita hanyalah artis dari drama yang sudah diatur oleh takdir. Tidak ada yang tau bagaimana nanti indahnya takdir pernikahan mu, jadi kau tidak berhak membayangkan pernikahanmu akan menjadi buruk"
Retina matanya kini kosong, senyum samar masih tetap terukir, "Yah, tapi Ma tidak ada juga yang tau bagaimana nantinya buruknya takdir pernikahanku"
"Kau tak akan tau jika kau belum mencobanya sayang "
Stella menatap Evi dengan seksama, "Pernikahan adalah hal sakral, dan tidak ada kata coba-coba di dalamnya. Itu yang selalu Mama katakan bukan? Apakah kini kata-kata itu akan menghianati kata-kata mu selanjutnya? "
"Sudahlah Ma, jangan membicarakan ini lagi denganku. Aku sudah membuat keputusan dan aku tidak akan melanggarnya"
"Jadi bagaimana dengan Syarat keturunan yang diberikan Kakekmu? Jika kau tidak memiliki keturunan maka kau juga tak akan bisa menjadi wanita karir seperti yang kau impikan bukan? "
Stella mengangguk," Aku sedang memikirkannya Ma, aku pasti punya jawaban akan semua ini. Aku percaya Tidak ada masalah yang tak akan terpecahkan "
Cup
"Aku mencintaimu Mama, selamat malam, aku sudah mulai mengantuk. Acara TV nya juga tak lagi seru, aku akan ke kamar Bye"
Mata gadis cantik itu terkesiap kaget saat mimpi tentang kejadian kemarin terulang di mimpinya. Ada rasa sesak saat mimpi itu akhirnya selesai. Sedikit menghela nafas akhirnya mampu menghentikan sesak di d**a Stella.
Suara jarum jam terdengar sedikit nyaring karna sepinya apartemen mewah Stella. Dan ternyata masih pukul 04:00 pagi. Sejujurnya Stella sedikit takut, takut jika keputusannya kali ini adalah sebuah kesalahan.
Pertanyaan mulai bermunculan di dalam kepala, matanya kosong menatap langit-langit kamar. Apa yang akan terjadi selanjutnya seolah tidak bisa di tebak.
Dia memutar badannya dan menatap Arion yang kini tengah tertidur pulas, wajahnya tak lagi datar dan mencengkam yang ada hanya wajah polos dan Damai. Senyuman tipis terukir di bibir merah Stella, setelah melihat wajah itu, kekhawatirannya sedikit hilang.
* **
Mata coklatnya biasanya terlihat pekat ia tutupi dengan softlens biru yang membuatnya sedikit aneh, topeng silikon itu kini terlihat pas di tubuhnya, tampak sangat cocok pula dengan warna rambutnya yang tiap hari harus di ubah.
"Aku cantik kok kalau ga pakai ini, aku yang paling cantik malah ga ada yang bisa mengalahkan kecantikan ku" perlahan tangan lentiknya mulai mencopot semua hal yang membuatnya berbeda.
Air matanya turun tak lama setelah itu, "Apa sih yang kurang dari aku? Aku sempurna... Tapi kenapa ini terjadi...Mom, when did you pick me up...hiks" sedikit demi sedikit sakit kepalanya mulai kambuh.
Tangannya mulai naik, menarik rambutnya kuat hingga ia merasakan sakit yang sangat, rambutnya beberapa lepas dan rontok, sakit kepalanya kini beralih ke sakit jambakannya.
Clarissa menghela nafas, "Untuk apa kau copot lagi? Apa kurang rapi? Dan kenapa pakai acara jambak-jambakan sih? Kau kuat Sya... Ayo dong semangat, kalahin penyakit lo" gadis itu tersenyum lalu memeluk pengawal pribadi sekaligus sahabatnya itu.
Akhirnya kembali melihat dunia kembali,walau dengan busana sedikit tertutup. Tapi ini sudah lebih baik dibanding di dalam ruang rehabilitasi.
Terik matahari membuat siapapun yang terkena sinarnya siang ini akan merasakan seperti terkena luka bakar. Panas sekali, bahkan dalam beberapa menit berjalan di panas matahari mampu membuat kita seperti demam.
Wanita itu keluar dari mobil dengan perlengkalannya yang serba hati-hati, banyak pasang mata yang berlalu lalang sejak tadi. Sedikit salah pergerakan saja maka dia akan kembali ke tempat busuk itu.
Tangannya menarik paksa koper yang beratnya mungkin lebih berat dari tubuhnya, banyak hal yang ia lakukan hari ini. Dengan tetap berfokus pada tujuan yang sama, yaitu mencari cinta sejatinya.
Petugas bandara internasional mulai mengecek segala perlengkapannya dan saat dia akan di periksa dengan cepat Lasya tersenyum manis ke arah CCTV, Setelah kode rahasia itu kini dirinya dinyatakan aman.
Sungguh dunia ini sangat rakus, semuanya mereka lakukan agar mendapatkan uang, mengingat itu mampu membuat senyuman evil Lasya muncul.
Saat tangannya mulai menunjuk ke arah lain, maka kode sudah terganti. Ibarat sebuah karya fiksi ataupun film itulah yang saat ini ia lakukan. Melakukan adegan yang mungkin tidak dapat dipikirkan oleh siapapun.
Hidupnya adalah hal yang sangat terlarang dan tidak pantas, dikelilingi oleh para pembunuh bayaran dan juga para mafia. Sungguh bukanlah sebuah hidup yang baik. Tidak lupa juga ada pihak keamanan, para tenaga medis dan Bodyguard khusus. Dan banyaknya orang dalam yang selalu bisa berguna.
Disini terlihat dia seperti berjalan seorang diri, namun sebenarnya jarak 4 setengah meter dengan pakaian tidak mencolok ada sekitar 20 orang penjaganya yang berjaga tanpa mencari perhatian.
Negara yang selanjutnya dia datangi adalah Indonesia, setelah ia mendapatkannya ia berjanji tidak akan membiarkannya lepas kembali.
* * *
Stella bangun dari tidur panjangnya, rasanya Tidur selama apapun belum cukup. Tubuhnya benar-benar sangat kelelahan pagi ini, sepertinya tulangnya sudah hancur lebur, remuk bagaikan terinjak mobil. Ada rasa lelah walau hanya bergerak sedikit.
Matanya panas, dan berat jika di buka, terlebih lagi bawahannya yang kini sangat perih dan sakit. Membuat siapa pun yang merasakan ini akan lebih suka dunia mimpi.
Tangan kekar Arion kini terasa semakin membebani tubuh kecil Stella, dia perlahan memberikan pergerakan kecil namun mampu membangunkan mimpi seorang Arion.
"Ini masih terlalu pagi Stella, aku masih mengantuk. Kita tidur aja dulu, tidak perlu ke kantor, aku tau kok sakitnya belum hilang" ucapnya dengan suara serak basa khas orang baru bangun tidur.
Stella menghela nafas dan akhirnya kembali memenjamkan matanya, ucapan Arion memang benar. Dia harus beristirahat pagi ini.
Beberapa jam berlalu, akhirnya matahari telah mencapai puncak, sudah menunjuk pukul 12 siang, namun belum ada tanda-tanda Stella akan bangun.
Arion yang sudah bangun setengah jam lalu tetap Bermalas-malasan, tak ada niat bangkit atau sekedar membersihkan diri. Dia lebih memilih memandangi wajah natural Stella.
Mengingat malam panas yang telah mereka lalui, tersenyum simpul saat sadar ini adalah awal dari kisah mereka.
Tangannya perlahan mengelus rambut Stella, wanita itu tampak lebih segar sekarang. Arion bangkit lalu mulai membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket.
Merasakan kepergian pria itu, pada akhirnya Stella menghela nafas dan terbangun. Apalagi yang dia inginkan rasa malu membuatnya enggan melakukan apapun di hadapan pria itu.
Dielusnya perut yang masih datar, "Kau harus lebih cepat berkembang, kehadiranmu sangat ku nantikan Baby heir"
Ucapnya dengan senyum tersimpul di wajahnya. Dengan sangat hati-hati dia meraih pakaiannya, walau beberapa kali menghela nafas karna pakaiannya bertebaran di tempat-tempat yang berbeda.
Pikirannya kembali kepada hal yang baru berlalu membuatnya tersipu malu, Sebelum kegiatan ini terjadi rasanya dia terlalu percaya diri berhadapan dengan pria itu.
Tapi kini rasanya sangat malu, hingga ingin cepat mengusir pria itu. Selesai mengenakan pakaiannya, dia mengirim pesan izin pada Ara.
Ceklek
Pria itu muncul kembali dari balik pintu dengan memakai celana panjang kantor yang semalam, dan d**a telanjang yang bidang sembari menggosok rambut menggunakan handuk.
"Stella!"
Dengan cepat Stella beralih dari handphone, "Kenapa? Aaahkk!"
"Kau kenapa lagi?!"
"Pakai bajumu dulu Arion, kenapa bertindak bodoh,"
Pria itu malah cengengesan tidak jelas sembari semakin menjadi-jadi menunjukkan tubuhnya pada wanita itu.
"Aku akan memakainya nanti, tapi sekarang ada yang lebih penting. Rambutku basah, dan aku sangat membencinya. Aku tidak pandai menggunakan hair dryer milikmu" keluh pria itu sembari menunjuk Hair Dryer yang ada di dalam kamar mandi.
Alis Stella bertautan,"Kenapa? Sepertinya masih bagus, tidak ada yang salah dengan hair dryer nya"
"Tapi sudah lah, aku masih terlalu lelah. Kau ambil saja hair dryer di dalam lemari"
"Ta-tapi baiklah, ini dia ?"
Stella mengangguk, "Nah benar, ada beberapa walau tidak banyak tetapi aku yakin di dalam nya ada yang layak pakai"
Arion menggeleng,"Kau salah tidak ada yang baik jika aku yang menggunakan nya, sama sekali tidak mengerti cara memakainya"
Stella memutar bola matanya malas, "Bawa kemari akan ku ajari cara pakai nya,"
Arion tersenyum dengan senyuman tidak tertebak, menuruti perintah Stella dan akhirnya menyerahkan barang itu pada Auristella.
"Lihat, tekan ini lalu kau atur suhu dan tombol onn nah sudah ini berfungsi dengan baik. Tidak ada yang salah. Ini pakailah,"
Arion menggeleng, "Sangat berat tangan ku tidak kuat, selagi kau memegang nya kenapa tidak mengeringkannya juga"
"Dasar Drama, kenapa tidak berterus terang saja"
"Percayalah tanganku sedikit sakit, kau pasti ingatkan kau sama sekali tidak menggunakan bantal untuk tidur semalam. Dan berkat tangan ini kau bisa tidur nyenyak"
"Yah, yah, yah, anggap saja aku percaya dengan bualan mu"
Dan pada akhirnya terdengar tawa dari pria itu.
"Nah sudah kering, kau pergi sana. Badanku gerah, aku juga ingin mandi"
Arion menggeleng, "Sebagai pria jantan aku mengerti kesakitanmu, mari aku antarkan"
"Ahkk!" teriak Stelle setelah merasakan tubuhnya sudah beralih pada gendongan Arion.
"Kau benar-benar pembohong, tanganmu tidak sakit sama sekali Arion!" Keluhnya jengkel setelah menyadari sesuatu, yang di balas oleh tawa pria itu.
* **