Warning 21+
Yang merasa usianya belum dewasa, ga perlu dibaca, Sebagian dari part ini mengandung adegan dewasa. Mohon kebijakannya dalam membaca.
KINI jam sudah menunjuk pukul 20:04, Arion dan Auristella baru saja masuk ke area gedung apartemen. Wanita itu meminta mengambil beberapa map, setelah keduanya pulang dari rumah sakit.
Keduanya masuk kedalam lift, "Lantai berapa?"
"26, "
Arion mengangguk, "Sebenarnya apa isi Map yang akan kita ambil? Apakah itu persyaratan lagi?" tanya Arion sedikit mengeluh jengkel akan semua persyaratan.
Stella mengangguk sembari tersenyum, "Benar, kalau bisa kita harus menyelesaikannya malam ini karna kemungkinan besok hari yang sibuk"
Arion menghela nafas, yang dari tadi dia lakukan adalah mengangguk dan mengikuti perintah Stella.
Lift menunjuk lantai 20, dan berhenti. Arion dan Stella sama-sama mengambil jarak, membiarkan orang lain mendapat tampat.
Lift terbuka dan memperlihatkan sepasang kekasih muda yang sedang berpelukan dengan bibir yang bertautan membuat keduanya menghela nafas.
Kegiatan sepasang kekasih itu semakin gencar, masuk kedalam lift. Sepertinya dalam kondisi sedikit mabuk, sebelum lift menutup terdengar suara jeritan dan musik yang kuat, pertanda mereka sepasang kekasih muda ini baru saja menghadiri sebuah pesta.
"Ehemm..." Arion menatap Stella seketika saat mendengan deheman wanita itu. Tersenyum manis saat melihat tampak ketidaksukaan wanita itu pada kegiatan mereka.
Sepertinya sadar di dalam lift bukan hanya ada mereka berdua, wanita muda itu mendorong pasangannya kuat hingga tautan bibir mereka terputus.
Dengan wajah merah, gadis itu menunduk, "Maaf Om, tante"
Mimik wajah Stella kembali menunjukkan hal lucu, wanita dewasa itu tampak tidak suka dengan panggilan gadis ini untuknya.
"No problem, but kancing kan kemejamu. Disini bukan hanya ada kekasihmu!" tegasnya.
Ting! Lantai 26 pada akhirnya sampai. Dengan cepat Stella keluar lebih dahulu, "Entah apa yang dipikirkan anak muda zama sekarang, cih. Tidak tau malu!"
Arion tersenyum kembali, "Sudah lah, tante akan terlihat semakin tua saat marah"
Mata tajam Stella seketika dia layangkan bersamaan dengan bendera pertempuran yang dia kibarkan.
"Arion! Kau juga sudah tua, dasar om-om"
"Tidak masalah, karena usiaku memang sudah menginjak 30 tahun,"
Stella diam tidak bergeming, menatap pria itu tidak suka. Di ambilnya map diatas meja, dan menarik secarik kertas dari dalamnya. Membuka lebar agar pria menyebalkan itu bisa membaca isi kertas itu.
Arion melototkan matanya, menatap Stella dari ujung rambut hingga kaki. Menarik secarik kertas itu dari tangan Stella sembari memasang raut wajah tidak terima.
"Kita baru saja melakukan Pengecekan dan hasilnya aku sehat wal'afiat. Sekarang kau ingin aku memeriksa IQ? Kau tidak salah?"
"Kau sudah berjanji mengikuti semua persyaratan yang ada Arion. Kau tidak akan lupa kan?"
"Kau harus percaya padaku, besok aku akan mengantarkan surat hasil pengujian test IQ yang pernah ku ikuti. 140 bukan hasil yang sedikit, jangan pernah mengira aku bodoh, Stella"
Stella tersenyum, "Aku sama sekali tidak mudah mempercayai seseorang tapi berterima kasihlah karna kali ini aku mampu mempercayaimu"
Arion menatapnya datar, dan dibalas senyuman manis oleh Stella, "Ayo berterima kasih, hahaha"
"Baiklah, TERIMA KASIH"
"Rasanya bahagia bisa melihatmu terlihat tertekan"
"Aku juga bahagia, karna bisa melihat senyuman manis seorang wanita cantik"
Seketika mimik wajah Stella berubah, "Jangan membuat aku ragu Arion. Entah sudah berapa banyak wanita yang kau goda seperti ini"
"Lupakan lah, aku akui aku suka wanita cantik tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama seperti denganmu, Lalu apa selanjutnya?"
"Jika begini, kita tidak harus ke apartemen ini. Harusnya sejak tadi kau memberi kepastian akan test IQ"
"Aku bahkan tidak tau isi map itu,"
"Hahaha, Iya kau benar. Untungnya tadi aku sudah membuat janji ke rumah sakit. Masih tersisa dua puluh lima menit lagi sebelum perjanjian melakukan peroses pengambilan dan penanaman bibit, kita kesana sekarang sebelum terlambat"
Jelas wanita itu, kembali mengatur kegiatan. Dia berjalan seperti melakukan pencarian.
"Nah ini dia tasnya, ayo kita bisa terlamb--
"Kau kesini saja,"
Arion menarik paksa Stella mendekat kearah tubuhnya. Sehingga membuat tabrakan kecil kedua tubuh mereka. Mengambil alih suasana, menyelipkan rambut di belakang telinga Stella.
Wanita itu hanya diam pasrah,"Kau datang pada dokter yang tepat nona, kau tidak lupa kan apa profesi ku. Aku akan mengambilnya dan memberikannya ke tubuhmu tanpa campur tangan alat medis"
"Ini lebih baik, dibanding pakai alat medis. Lebih banyak kemungkinan, calon anak kita akan datang lebih cepat"
Anak kita, Stella tertunduk diam kaku. Wajahnya terasa panas yang dia yakini telah berubah warna. Jujur saja ini pertama kali baginya berjarak sedekat ini dengan pria asing.
"Tenang kan dirimu, kita akan melakukannya perlahan. Ingat tujuanmu dan upayakan yang terbaik"
Suasananya kini jauh berbeda, kegiatan yang tadinya di pimpin oleh Auristella kini diambil alih oleh Arion.
Pria biasanya memang punya gairah bercinta yang lebih tinggi dibanding wanita. Bahkan, pria itu layaknya bensin, yang dipancing api sedikit langsung terbakar nafsu.
Jakunnya bergerak naik turun, menelan salivanya kasar. Matanya terus menelanjangi seluruh tubuh Stella. Senyuman evil juga tampak jelas di bibir tipis Arion.
Tatapan Arion berhasil membuat seorang Auristella bergerak gelisah tak nyaman. Tatapan intens yang mampu membuatnya menjadi salah tingkah, sekali lagi ini yang pertama baginya.
Dia bukan sosok manusia suci, tapi dari dulu alur hidupnya tidak pernah berkaitan dengan pria. d**a Stella naik turun, kegelisahannya semakin terjadi.
Dengan sekali hentakan dan dorongan keras, wanita itu berhasil melepas tautan tangan dan rangkulan Arion yang menahan tubuhnya, "Maaf tapi beri aku waktu"
Cicitnya, berpelukan dengan pria asing saja bisa membuatnya tidak bisa tidur semalaman apalagi melakukan yang mereka rencanakan ini.
Arion menarik kembali tubuh Stella, menyentuh jari jemari Stella yang kaku, dan terasa sangat dingin. Wanita ini sungguh takut, padahal Arion belum melakukan apapun.
Digenggamnya jari jemari itu,"Maafkan aku, tapi kau harus melawan ketakutan mu. Entah apa yang kau rasakan selama ini tapi yang kurasakan kau memiliki trauma"
Stella memejamkan matanya, mulai menguasai diri, tubuhnya tidak lagi bergetar hebat seperti tadi. Arion membawanya ke pelukan nya, memeluk erat tubuh wanita itu seperti mentransfer ketakutan yang dirasakan Stella.
Arion meraih wajah Stella, mendekatkannya dan menempelkan bibirnya. Beberapa detik tertempel, Dia dapat merasakan hembusan nafas Stella kembali memburu. Tapi saat itu pula wanita itu mulai mengambil alih permainan, dia menggerakkan bibirnya dan menguasai bibir Arion.
Gerakan semakin terpaut gairah, beberapa kali jeda pengambilan nafas dan melanjutkannya kembali. Kondisi yang berdiri kini berganti ke tempat tidur. Tubuh semakin panas terbakar nafsu.
Tangan kekarnya Arion menyibak rambut Stella, perlahan mulai menguasai tengkuk leher Stella, hingga membuat beberapa kali Stella mengeluarkan suara panjang.
Stella terkadang terdiam, tak ada reaksi sama sekali yang keluar dari bibirnya. Saat-saat itu mungkin saat kesadaran akan traumanya kembali menyerangnya, tapi di waktu itu pula Gerakan Arion lama-lama semakin menjadi. Arion terus melakukan gerakan yang sama yang membuat wanita itu berhenti berfikir akan ketakutannya.
Stella tampak menggigit bibirnya, matanya terlihat terpenjam, sesekali mendesis mengerang manja. Tangannya beberapa kali mencengkram kuat seprei yang melekat di ranjang king Size nya dan terkadang meremas badan kekar Arion.
"Lakukan seperti yang tadi, aku menyukainya hm..."
Keringat sudah mulai muncul, tubuh keduanya lapang tanpa sehelai benang pun. Suara pertempuran ranjang mereka mendominasi suara kamar Stella.
Entah sudah berapa lama pertempuran ini terjadi hingga pada akhirnya keduanya terkulai lemas di atas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, Arion melirik Stella. Terlihat wanita itu melakukan kegiatan yang sama. Mereka saling melihat tanpa memulai pembicaraan.
Fokus pada lamunan dan pikiran masing-masing. Mereka masih tidak menyangka akan melakukan semua ini, Seperti sebuah ilusi, karna dapat dirasakan jelas saat Stella menolak, dan ternyata semuanya sudah selesai.
"Untuk apa? Kau mengalami kram kaki?"
Stella menggeleng, "Beberapa situs membenarkan dan banyak orang yang hal ini agar mempercepat terjadi kehamilan"
Arion tersenyum, wanita itu tampak polos mengangkat kaki tinggi sejajar hingga 90 derajat. "Tidak ada penelitian medis yang membenarkan hal itu, yang di perlukan saat ini adalah pembuktian dari hasil pemeriksaan tubuh yang sehat"
"Tapi--
"Tapi jangan turunkan, biarkan seperti itu. Walau belum ada penelitian medis tidak apa mencoba karna sepertinya tindakan ini sama sekali tidak akan ada dampak negatif yang akan timbul"
Stella mengangguk, "Bersihkan dirimu dulu sebelum pulang"
Arion mengangguk,"Kau kejam, baru memakaiku dan sekarang mengusirku"
"Terlama malam menyetir itu tidak baik"
"Benar itu tidak baik, jadi Aku akan menginap malam ini. Sepertinya aku tidak ingin pulang"
Stella kembali mengangguk, "Terserah padamu" ucap Stella, menurunkan kakinya dan menarik selimut tebal di ujung tempat tidur.
Rasanya berbeda, suasana hangat mulai menyelimuti Stella, angin malam tidak mampu menerobos selimut yang tadinya berusaha masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Stella Membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lemari, membelakangi tubuh Arion. Bayangan percintaan mereka masih sangat melekat. Tubuh Stella terdiam, matanya seperti tidak ada niat untuk tidur sama sekali.
Walau ini menyangkut impiannya tapi terbersit rasa penyesalan yang sedikit mendalam. Dia sudah kehilangan semuanya, kesucian yang dimiliki seorang wanita. Hampir saja air matanya menetes.
"Auristella... " panggil Arion memastikan apakah gadis itu sudah tidur atau tidak.
Arion masih sama, lirikan matanya sama sekali tidak berpindah tempat. Kegiatan wanita itu mendominasi penglihatannya. Merasa panggilannya tidak di jawab membuatnya menghela nafas.
Dengan cepat Stella menutup matanya hingga membuat air matanya gagal menetes, berpura-pura tertidur melupakan yang baru saja terjadi. Beberapa detik berlalu dia merasakan tubuhnya di tarik, di putar balikkan menghadap pada Arion.
Tangan kekar pria itu mulai mengelus puncak kepala Stella sembari tersenyum tipis. Dan tangan kirinya memeluk erat tubuh wanita itu.
"Aku tau kau belum tidur Stella. Tetaplah menutup matamu, aku akan terus mengelus rambutmu hingga kau tertidur pulas, Jangan menyesalinya karna ini sudah selesai "
Bukan hanya sebuah kalimat semata, namun benar saja. Sentuhan lembut yang berada di kepala Stella mampu menghipnotis matanya hingga perlahan memasuki alam mimpi. Di tambah lagi pelukan nyaman dari d**a bidang Arion, sudah pasti tubuh Stella akan ketagihan nantinya.