STELLA berlari mengejar Arion, ini sudah terlanjur. Arion telah mengetahui masalahnya. Kecerobohannya kali ini kembali membuat Stella terkena masalah.
“Arion! Arion! Ar.... ”
Stella berteriak, saat berada di ruangannya, matanya tidak sengaja menatap cctv yang memperlihatkan bahwa pria itu baru saja memasuki lift setelah telepon di matikan.
Suasana Ramainya perusahaan seketika berubah menjadi tegang. Dimana semua mata menatap pada sang CEO yang berlari tanpa memikirkan citra nya selama ini.
Stella menekan tombol lift terus menerus hingga pintu itu kembali terbuka, senyuman tipis muncul di pipinya seketika, Saat mata mereka bertemu, tangan Arion langsung meminta kode agar para karyawannya dan staff bodyguardnya keluar, membiarkan hanya keduanya yang ada dalam lift.
"Apa kau gila?! Kau berlari mengejarku??!" cerca Arion saat pintu lift tertutup.
"Aku waras. Kau pikir hanya orang gila yang bisa berlari"
Arion semakin menatapnya tajam, layaknya pisau mata, “Aku harap kau tidak menyesali perbuatan mu tadi. Kau bahkan berlari di depan para karyaman mu dan bahkan tidak sadar mereka menatapmu lapar melihat gunung kembar mu yang naik turun di saat kau berlari. Dasar bodoh, ceroboh! "
Mata Gadis itu terblaklak kaget, bola matanya sudah hampir keluar. Tak menyadari kesalahannya, "Hah! Ini semua karna mu Arion! Kau sudah merusak image seorang CEO Auristella, seharusnya kau bertanggung jawab "
"Aku tidak berbuat apa-apa kau saja yang kurang kerjaan mengejarku layaknya seorang anak kecil. Seharusnya kau menjaga images mu sadar posisimu Ms. Jovanca"
Stella menghela nafas,"Ah, perkataanmu ada benarnya, maafkan aku jika begitu. Tapi tenang saja tidak akan ada yang berani mengusikku karna jika itu terjadi, mereka akan segera angkat kaki" jelasnya dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Ting!
Pintu lift kembali terbuka, mereka sampai di lobby. "Kita perlu berbicara, ini penting?"
"Apakah tentang isi telepon tadi? Pencarian pria ber-IQ tinggi, Dan berbagi bibit?"
Stella melotot, dengan cepat dia memberhentikan suara Arion dengan tangannya,"Arion! Tutup mulutmu sampai kita menemukan lokasi yang tepat, kalau tidak aku akan menghajarmu!" ujar Stella penuh tekanan dengan suara yang sangat kecil.
"Jadi ada yang bisa aku bantu, non--- ?" ucapnya kembali berusaha.
Stella menemukan mobilnya, memencet tombol remote agar pintu mobil terbuka dan menarik paksa tangan Arion masuk bersamanya.
"Ayolah Arion jangan bermain-main kau tau kan apa akibatnya jika masalah ini terdengar orang asing"
"Ms. Jovanca, apakah kau tidak salah? Kita baru saja berdebat kecil di dalam ruang rapat dan sekarang gaya berbicara mu seperti kita sudah kenal lama. Aku dan kau sama-sama orang asing"
"Ba-bagaimanapun perusahaan kita bersahabat sejak lama. Dan masalah perusahaan jangan pernah masukkan ke dalam hati"
Arion menggeleng," Aku sama sekali tidak mengerti, terserah kau saja. Dan sekarang katakan kau mau apa? Menjaga rahasia? Atau mau aku mencarikan pria ber-Iq tinggi sesuai kriteria mu dalam percarian bibit?"
Stella menunduk lesu, "Yah, seperti yang kau dengar di telepon tadi. Pertama aku minta maaf terlebih dahulu karna salah menekan nomor telepon. Dan kedua, aku tidak menginginkan kedua pilihanmu. Tapi apa kau mau membantu ku?"
" Membantumu? Menjadi salah satu calon pencarian pria untukmu? Yang benar saja, bukan seperti mu aku masih menjaga citraku sebagai pemimpin sekaligus pria tampan. Dasar wanita, hanya tau merusak saja"
Stella tersenyum malu, "Munafik, aku yakin yang ada di pikiran kalian para pria itu sama saja" cicitnya pelan.
Arion tertawa lepas melihat wajah Stella yang memerah, "Hahaha... Wajahmu lebih berwarna sekarang. Aku yakin pikiran mu lebih ganas dari pikiran ku"
"Hentikan pembahasan ini, kau mau apa tidak? Hanya itu yang aku tanyakan? Jangan menebak isi pikiranku"
Arion seketika terdiam, "Kau malu? Atau sedang marah? Raut wajahmu terlihat sama saja"
" Arion!"
"Stella, ini bukan perbincangan ringan. Kau pasti tau banyaknya efek yang akan terjadi. Aku harap kau berpikir sekali lagi sebelum melakukan tindakan. Aku serius, kita sesama orang asing. Sama sekali tidak saling kenal, dan rencanamu kali ini pasti akan membuat akibat besar juga untukku. Aku yakin kau bukan penggila harta "
Stella menatap tajam Arion, "Aku bukan w************n yang haus akan harta. Yang aku inginkan hanya menjalankan peraturan perusahaan, dimana Sang CEO harus memiliki keturunan jika ingin mengambil haknya. Aku yakin peraturan ini bukan hanya di perusahaan Jovanca Groups"
Entah bagaimana konsep berpikir Stella, bukan haus harta tapi melakukan apapun untuk harta?
"Aku tidak yakin kau bisa menolaknya, dan jika memang ingim memiliki anak, kenapa kau tidak menikah saja?"
"Seperti yang kau katakan ini tidak mudah. Aku tidak ingin menikah, sekarang keputusan ada padamu, mau atau tidak?"
"Mm.. Berapa bayaranku? Di dunia ini tidak ada yang gratis. Kau pasti tau itu, tapi jika dipikirkan kembali. Kalau seperti ini Aku bagaikan seorang p*****r, bukan?"
"Arion! Jangan bercanda. Aku tidak ingin menunggu lagi, kau mau, maka kau mendapatkan 25 % saham Jovanca Groups"
Arion tersenyum, "Mmm... Tidak terlalu buruk"
"Baiklah, kita akan buat perjanjian. Dimana setelah anak itu lahir, dia sepenuhnya milikku, dia akan berada pada kartu keluargaku. Kedua dia hanya boleh berteman baik dengan, tapi bukan menjadi ayah anak, teman. Yang ketiga kau harus tetap mengikuti beberapa persyaratan yang aku ajukan"
"Hah? Yang benar saja, itu juga darah dagingku. Jika memang kau hanya menginginkan dia bersamamu tidak apa-apa tetapi kau tidak boleh egois. Dia harus tau siapa ayahnya, dan seberapa gila ibunya?"
"Terima kasih Arion. Aku membiarkan kalian sebagai teman karna aku tidak ingin dia kehilangan kasih sayang seorang ayah. Tetapi bukan berarti menjadi alasan dia mengetahuinya"
Arion menatap tubuh Stella intens, matanya seperti sudah menelanjangi seluruh permukaan tubuh Stella. Perlahan wajahnya mulai mendekat, terus hingga punggung Stella tertubruk dinding dalam mobil. Iris matanya tak lagi tajam namun lembut dan menggoda. Ada sepercik nafsu disana.
Dengan sekuat tenaga Stella mendorong d**a bidang Arion hingga menjauh beberapa senti dari dirinya.
Arion tertawa puas lalu mengusap lembut puncak kepala Stella, “Bukankah kau yang menginginkannya?”
“Lihat tempat dan waktu juga bodoh! Bukan sekarang. Kau gila! Lagi pula kita butuh beberapa persyaratan lagi” cerca Stella gugup masih tetap dengan wajah memerah.
Tawa Arion semakin pecah, “Aku hanya bercanda Auristella. Jangan terlalu serius, tapi kamu cantik saat malu begitu”
Stella segera memalingkan wajahnya sebentar, " Nanti malam datanglah ke apartemen ku dan aku minta supaya kau tidak bermain-main dengan wanita lain. Sewaktu kau masih dalam perjanjian. Aku tidak mau mengambil resiko terkena penyakit kelamin karna mu"
Arion menatapnya tajam, "Kau?!"
"Kenapa? Benar begitu bukan? Yang benar saja, kita sesama orang dewasa. Bukan orang suci"
Arion mencengkram dagu Stella kasar, "Kau? Jangan sama kan aku dengan Pria seperti itu. Sangat berbeda, inilah mengapa kau perlu mengenalku lebih jauh" tegas Arion menahan amarah.
Stella menebas tangan Arion, " Jadi ini juga yang pertama untukmu? Baiklah kalau begitu aku percaya padamu. Walaupun sulit di percaya"
Untungnya tangan Arion terlepas, kalau tidak getaran tubuhnya pasti bisa Arion rasakan.
"Aku menunggumu di apartemen. Jemput aku, aku akan menunggumu. Kita harus melakukan syarat lebih lanjut. Kau bawa saja mobil ini sebagai jaminan"
Stella keluar dari mobil miliknya. Menurut nya sekarang adalah saat yang tepat untuk kabur. Ceroboh sekali Stella berkata tanpa berfikir. Membuat seorang pria marah itu mudah namun menenangkannya itu lebih sulit dari apapun.
Caranya? Jadi mengingatkan ku dengan Zac. Jika dibandingkan keduanya sangat mirip jika sedang marah. Batin Stella.
Flashback onn
“Halo”
[Halo]
“Aku ingin kau carikan pria yang tampan, matang dan cerdas. Aku tidak peduli bagaimana kondisi ekonominya yang ku perlu otaknya, IQ nya di atas 120. Dan jangan lupa dia harus rela berbagi bibit denganku”
“Keturunan? Kau ingin punya anak? Tapi kau kan belum menikah nona Auristella...
Matilah Stella..
"Mr. Damain?"
Mata Stella melotot kaget, apa yang dia bicarakan kali ini Oh Tuhan?
"Sepertinya waktu kedatanganku tidak tepat. Kau sedang repot sepertinya, aku akan kembali"
Stella menelan Saliva nya kasar. Terdiam kaku tidak bisa berbuat apa-apa, matanya menatap kearah ponsel dan seketika itu dia kembali terdiam. Deret nomor yang ia tekan bernama kontak, 'Pemimpin Perusahaan Damain'
Sudah ketahuan di dalam kantor, salah telepon juga. Apakah ini yang dibilang sudah jatuh terkena tangga pula?
Flashback of
Keterlambatan Arion tadi bukanlah dia sengaja, dia ingin mencari tau seseorang. Emosianya perlahan membaik, nafasnya tidak lagi memburu. Wanita itu mudah sekali mempermainkan nya. Baru saja di buat tertawa lepas dan dia mampu memutar balikkan nya secepat itu.
Drrrtt... Drrrrtt...
"Iya Tristan? Apa kau mendapatkan informasi nya?"
[ Iya tuan, Jadi nona cantik itu adalah Auristella Grizelle Jovanca putri tunggal keluarga Jovanca. Usianya 29 tahun. Hanya itu yang saya ketahui tuan informasi tentang nona Auristella sangatlah tertutup]
"Jovanca? Bukankah dia cucu dari anak perempuan Mr. Roy?"
[Yah, tapi insiden 30 tahun lalu sepertinya berusaha ditutupi. Insiden itu menjadi alasan mengapa nama belakang kedua cucu Mr. Roy menjadi Jovanca]
"Insiden?"
[Benar Tuan. Zachery Jovanca, beritanya tersebar kehilangan seorang ayah saat usianya masih balita. Sehingga ia kehilangan nama belakangnya, hingga membuat
Mr. Roy mengganti nama belakangnya menjadi Jovanca]
[Sedangkan, nona Auristella sama sekali tidak diketahui. Usianya lebih tua satu tahun dari usia Zac. Tepat 30 tahun lalu saat kelahiran nona Auristella, perusahaan Jovanca Groups baru menitis karier saat itu jadi belum ada berita jelas tentang keluarga pendiri Jovanca Groups ]
"Apa tidak bisa kau selidiki lebih lanjut lagi? Aku sangat membutuhkan berita ini Tristan"
[Maaf Tuan, tetapi hanya itu yang saya dapatkan. Tetapi saya akan tetap mencoba mencari lebih lanjut tentang nona Auristella Grizelle Jovanca]
" Aku menunggunya Tristan, Satu lagi apakah kau tau siapa ayah Auristella?"
[Sama seperti berita kelahirannya, saya juga tidak mampu menjawab pertanyaan yang anda ajukan Tuan. Seperti yang saya katakan, beberapa pihak web sepertinya berusaha menutupi kejanggalan insiden keluarga Jovanca]
"Baiklah, "
Telepon di tutup dengan seribu pertanyaan di benak Arion, bagaikan dimasukkan kedalam teka-teki. Ini semua semakin sulit. Keduanya orang asing yang sama sekali tidak saling kenal.
Hanya sepasang kolega bisnis biasa, tapi rencana dan perjanjian gila yang sudah Arion setujui membuatnya semakin ragu. Apakah tidak masalah jika menuruti permintaan wanita itu? Ada apa di balik masa lalu Auristella? Kenapa tidak ingin menikah?