Ini adalah jalinan persahabatan antara Lisa, Vina dan Desi. Mereka bukan teman sekolah, tetangga rumah, kenalan di universitas ataupun saudara yang memiliki pertalian darah. Ketiganya hanya bertemu secara tidak sengaja dan bernaung dalam satu aula pertemuan yang sama. Dalam runtutan acara yang cukup panjang itu mereka bisa berbicara atau mendengarkan bahkan berisyarat untuk menggambarkan rasa gembira.
Pada jumpa pertamanya, Lisa masih sangat kaku. Mereka yang mengantarkannya, langsung pulang begitu saja setelah menemui seseorang yang sangat terkenal di lingkungan tersebut. Lisa hanya diberitahu bahwa ia akan dipercayakan kepada pihak ini sampai waktu yang ditentukan. Semua bergantung pada dirinya tanpa tahu bagaimana perasaan Lisa saat itu. Jujur ia merasa takut dengan rencana yang diputuskan secara sepihak ini. Peristiwa yang sudah setahun berlalu saja, masih menjadi guncangan terbesar pada jiwa mudanya. Lisa pun berbalik ke belakang dan dengan kalutnya menyusuri kembali jalan pulang.
Ia selalu berpikir orang-orang melihat dengan pandangannya yang aneh, menjadikan Lisa sangat tidak percaya diri. Lisa merasa tidak aman berada di sekitar manusia karena suatu saat manusia itu bisa saja ingin berbuat sesuatu yang menyakiti dirinya. Lisa menghindari keramaian. Ia duduk sendiri di atas papan sebuah ayunan.
Sementara itu, Vina baru bertengkar dengan seseorang. Vina yang tengah marah, tidak sengaja menabrak Lisa dan menjatuhkan alat perekam suara yang berada dalam diletakkan dalam pangkuannya. Secepat mungkin Vina meminta maaf dan mengambilkan benda milik Lisa yang terjatuh di atas tanah. Kemudian ia mengembalikan sambil berkata bahwa nasib baik telah diterima oleh pemiliknya dan nasib buruk telah dihindari oleh diri Vina. Alat perekam itu selamat, tidak jatuh dalam kubangan air di dekatnya. Lisa tersenyum mempercayai apa yang didengarnya itu sebagai satu kebenaran.
Kedua wanita sejajar itu berkenalan. Vina memiliki karakter yang sangat kuat dinilai dari nada suara dan cara penyampaiannya yang tegas. Bisa dibilang juga bahwa dia termasuk orang yang banyak bicaranya. Tanpa sadar hingga membuat Lisa mampu untuk menceritakan kembali kejadian nahas yang telah mengubah seluruh dimensi kehidupannya. Ia telah kehilangan arah. Lisa tidak bisa lagi menilai orang dari apa yang dilihatnya. Semua orang telah menghilang bagi Lisa seolah tenggelam di dasar laut yang terdalam. Nyaris Lisa menyerah pada keadaan. Tak ada yang tampak sungguh-sungguh ingin menolongnya. Hingga baru saja Lisa harus dibawa ke tempat yang sangat asing tersebut.
Vina menggertak Lisa habis-habisan. Sejenak Lisa merasa telah aman dari seseorang tetapi tega sekali wanita itu menghakimi buah pikiran Lisa yang tengah terpuruk. Lisa ingin marah tapi ia tahu apa yang dikatakan semua itu memang benar. Mungkin hal itu pula yang menjadi alasan mereka untuk membawa Lisa dan menyerahkan urusannya kepada orang lain.
Berselang lama kemudian datanglah seorang ibu dengan setelan baju yang mencolok, menandakan beliau memiliki jabatan atau status kedudukan tertentu. Namanya Amanda. Ia bersama dengan seorang gadis muda yang senang dengan mengikuti trend makeup tiap tahunnya. Lisa mendengarkan suara langkah kaki yang semakin tegas menghampiri ke arahnya. Baru mengambil dua langkah mundur namun Vina menahan Lisa.
Mereka menggandeng tangannya dan mengajak masuk ke sebuah rumah. Desi, gadis yang bersama bu Amanda tadi kemudian bernyanyi untuk semua orang yang ada di dalamnya. Ia sama sekali tidak merasa malu walau hanya mendapatkan suara tepuk tangan dari delapan orang saja. Tiba-tiba ada ketenangan hati yang dirasakan Lisa.
“Bagaimana Lisa, nyanyianku tidak buruk bukan?” tanya Desi.
Lisa memberikan dua acungan jempol demi menghargai usaha Desi sebagai hiburan. Sejak itu Lisa memilih tinggal di gedung berasrama tersebut. Tapi sayang Vina dan Desi hanya menginap tiga malam di sana. Mereka harus kembali bersama dengan rombongan.
Selama masa pengenalan, Lisa hanya bisa dekat dengan teman seperti Vina dan Desi. Ia merasa telah menjadi orang yang normal kembali. Mereka biasa menonton film bertiga. Vina ataupun Desi adalah para pembisik handal yang membuat film terasa seru dan menghidupkan suasana hati Lisa. Mereka juga lebih sering duduk bertiga saat makan atau berada di ruang pertemuan. Sebelum lampu-lampu dimatikan, ketiga wanita itu sempat berbagi cerita.
Hingga saat Vina dan Desi harus meninggalkan tempat itu, Lisa khawatir akan kesepian. Tidak mudah baginya untuk beradaptasi dengan penghuni asrama yang lain. Vina seolah mengerti dengan perasaan Lisa dan memberikan satu pesan kepadanya.
“Meneleponlah!” Bila Lisa ingin.
Desi lalu menunjukkan tombol panggilan cepat ke nomornya begitu juga dengan Vina. Lisa sangat senang mendengarnya. Tali persahabatan antara tiga wanita muda itu menjadi semakin erat.
Pada satu waktu bu Amanda memiliki kebutuhan dana yang besar untuk mempertahankan yayasan yang dinaunginya. Beliau kelimpungan karena dana dari donatur yang semakin menipis sementara anak-anak di asrama juga butuh makan dan memenuhi kebutuhan penting lainnya. Ia tidak bisa mengandalkan kebaikan dari pihak luar untuk bisa bertahan menghadapi tantangan.
Bu Amanda memutuskan untuk mengambil seluruh uang dari tabungan pribadinya selama bertahun-tahun. Kemudian membeli aset berupa sebidang tanah kosong yang dekat dengan lokasi lahan milik yayasan. Dibagi menjadi tiga kaveling dan dengan perhitungan yang matang, mereka meminimalisasikan biaya pembangunan untuk masing-masing jenis usaha. Ada minimarket, kafe, dan usaha pembuatan aksesori buatan tangan. Mereka juga memanfaatkan sisa lahan yang ada untuk menanam produk pertanian dalam pot. Pengelolaannya juga tinggal melibatkan orang-orang yang tinggal di asrama sesuai kemampuan masing-masing. Meski berorientasi pada keuntungan, yang terpenting bagi bu Amanda adalah kemampuan untuk bangkit dan bertahan. Beliau menyampaikannya di sela-sela acara mentoring yang menjadi agenda rutin para penghuni asrama.
Mendengar kabar bahwa yayasan yang dipimpin bu Amanda tengah berkembang, Vina dan Desi ingin main lagi ke sana. Namun kali ini mereka sengaja datang berdua saja hanya untuk kunjungan personal.
“Oh ya! Lisa ada di mana, Bu? tanya Vina setelah sekian lama perbincangan di dalam kantor pimpinan.
“Dia biasanya sendiri di perpustakaan yayasan. Sekarang Lisa sudah jadi seorang penulis lho! Beberapa artikelnya juga dimuat di majalah.” kata bu Amanda.
“Sungguh!” ucap Vina dan Desi berbarengan saking tak percayanya.
Kemudian mereka berdua pergi menuju tempat yang ditujukan oleh bu Amanda. Pintunya terbuka lebar. Setelah masuk, Desi memanggil nama Lisa sampai beberapa kali namun tidak ada sambutan. Vina menduga mungkin saja Lisa sudah keluar dari ruangan itu. Berbeda dari Desi yang justru mempunyai pendapat sendiri. Jika Lisa bisa pergi sendirian tentu pintunya sudah ditutup.
“Tapi aku yakin sekali dia tidak ada, Desi! Tak ada ruang rahasia di dalam sini untuk bisa bersembunyi.” ujar Vina kepada Desi.
“Apa Lisa marah karena kita tidak pernah menjenguknya lagi?” Desi khawatir.
“Entah! Aku tidak merasa begitu karena dia masih suka menceritakan keadaan di yayasan ini.” terang Vina.
“Dia juga bercerita tentang keadaan dirinya sendiri?” Desi menyela.
“Tidak! Tapi, sebenarnya kemarin aku ingin menghubunginya untuk memberitahu bahwa kita akan datang hari ini.” terang Vina. “Dan panggilanku ditolak.”
Desi pun semakin yakin dengan persangkaan sebelumnya. Vina dan Desi merasa resah menjadi tidak peduli dengan hati seorang Lisa. Ia sedang membutuhkan dorongan positif dan kuat dari orang-orang di sekitar yang mau melindungi dirinya. Tiba-tiba suara yang halus itu bersenandung sendiri.
“Happy birthday to you!…Happy birthday to you!...Happy birthday dear Vina!...Happy birthday to you!”
Lisa masuk melalui pintu itu dengan anak-anak asrama. Mereka menampilkan satu kotak kue berlapis cokelat dan buah-buahan di atasnya. Ada pula yang membawa banyak cupcake dengan topping krim vanila dan tiramisu kesukaan Vina. Sebuah kejutan sederhana itu membuat haru bahagia kedua tamu yang sudah seperti anggota dari keluarga besar di sana.
“Selamat ulang tahun yang ke 24 Casilda Yavina!” ucap Desi kepada rekan satu komunitasnya tersebut.
Ternyata Desi menjadi dalang dari rencana ini dan telah mengabari Lisa sebelumnya. Vina sendiri malah tidak pernah mengingat-ingat hari lahirnya. Mungkin ia baru akan mengingatnya jika ada kebutuhan seperti untuk pengisian formulir. Jujur,Vina sangat terharu karena baru pertama kali mendapatkan kejutan spesial dari orang-orang yang juga spesial.
Mulai detik itu, Vina dan Desi lebih intensif untuk datang ke tempat bu Amanda. Terkadang mereka membawa serta rombongan komunitasnya. Desi juga terus terlibat aktif dalam penggalangan donasi baik untuk kepentingan masuk maupun keluar yayasan.
Lisa mulai berpikir bahwa keraguan awalnya sejak menginjakkan kaki di tempat itu ternyata menjadi respon positif. Lisa tidak tahu, ia akan mampu memulai jalan kehidupan yang baru di sana. Meski kecelakaan yang mengerikan menimpanya dan telah merenggut nyawa kedua orang tua, Lisa ingin berjuang hidup dengan orang-orang ini. Terlebih dengan Vina dan Desi yang berhasil mendobrak dan membukakan mata hatinya.
Rasa syukur dan terima kasih juga menyelimuti jiwa seorang Amanda. Usaha yang didirikannya tidak sia-sia dan mengalami kenaikan omset. Tempat makan itu pun menjadi yang paling ramai dengan para pelanggan khusus dan terbuka untuk hidup bersanding dengan lingkungan baru yang mereka bawa. Hingga hari ini Lisa, Vina, Desi dan nyonya Amanda bersama-sama di dalamnya untuk mengelola tempat makan tersebut menjadi tempat berkumpul yang teristimewa.