Sudah minggu ke dua sejak kehadiran Niko di kedai makan milik nyonya Amanda. Hari ini Lisa menepati janji untuk menemaninya jalan-jalan keliling kota. Tak ingin Lisa menunggu lagi, Niko menjemputnya hingga di depan rumah. Lisa memberikan alamat setelah berkali-kali disarankan oleh Niko dengan alasan sekalian jalan.
Pagi itu, ia duduk di kursi depan mobilnya sambil menunggu Lisa keluar. Niko membuka jendela mobil lalu melihat sekitar kawasan tempat tinggal tersebut. Jalanan masih sangat lengang dari deru kendaraan bermotor. Terlihat beberapa orang yang masih giat berolahraga pada hari libur. Tapi dengan santainya Niko justru menyalakan api rokok. Seorang lelaki paruh baya datang kepadanya, iseng meminta bantuan untuk menghidupkan korek api yang dibawa. Kemudian pria itu pergi dengan mengisap asap rokok dari mulutnya. Terpampang wajah kusam dengan senyum yang menakutkan darinya. Lisa pun datang menghampiri Niko di sana.
“Kak Niko, Anda baik-baik saja?” tanya Lisa merasa resah.
Niko yang langsung ditanyai hal seperti itu menjadi agak bingung. “Iya, saya tidak apa-apa. Memangnya kenapa Lisa? Wajahmu terlihat khawatir.”
“Saya kira kak Niko tadi diganggu olehnya. Orang gila itu memang sering keluyuran di daerah sini, tapi belum pernah membuat keributan juga sih!” jelas si Lisa.
“Orang gila?” Niko kembali bertanya-tanya.
Kemudian ia melihat ke arah ruas jalan yang diisyaratkan oleh Lisa. Pria paruh baya dengan rambut yang telah dibotaki tadi menjelma dengan tingkah laku tak wajarnya. Ia bicara melantur dan tertawa-tawa sendiri di sepanjang jalan dengan sebatang rokok sebagai hiasan di sela daun telinga. Ia cukup mengganggu beberapa pejalan kaki yang lewat. Seketika ia marah juga jika diganggu oleh anak-anak kecil yang mencoba mempermainkan.
“Jadi, dia orang gila ya? Saya baru tahu ternyata orang gila sekarang pakaiannya bisa rapi dan trendi juga!” ujar Niko dengan lugu menilai cara berbusana laki-laki itu.
Lisa tertawa kecil membuat Niko menjadi agak takut. “Tidak juga! Dia sudah pernah dibawa ke rumah sakit jiwa. Kemungkinan besar dia kabur dari sana.” ungkap Lisa.
Setelah gurauan kecil itu, Niko dan Lisa memutuskan untuk segera berangkat memulai perjalanan. Mobil yang mereka tumpangi melintasi jalanan di depan kediaman si Rekan kerja. Ervan berdiri di halaman rumah yang sempit dan mobil itu melaju di depannya. Geram si Ervan melihat Niko duduk bersanding dengan Lisa. Lisa sempat menoleh ke arahnya namun Niko segera mengajaknya bicara untuk mengalihkan perhatian. Mereka berdua pergi menuju ke daerah pinggiran ibu kota.
Lisa pikir Niko hanya ingin berkeliling saja melihat-lihat suasana. Ternyata ia hanya ingin ditemani Lisa untuk pergi ke suatu tempat. Mobil masuk melalui Pintu 3 yang terletak di sebelah barat. Setelah keluar dari tempat parkir mobil, mereka menikmati kawasan kebun raya dengan berjalan kaki. Berlibur ke Kebun Raya Botani adalah kebiasaan Niko bersama ayahnya sedari kecil. Karena sudah terlalu sering, ibunya merasa bosan dan tidak pernah lagi mau jika diajak pergi bersama.
Lisa melihat orang-orang di sana. Banyak wisatawan yang berlibur dengan membawa satu keluarga. Sementara ia hanya jalan-jalan berdua dengan Niko di sampingnya.
“Apa yang membuat kak Niko setelah jauh-jauh belajar di luar negeri, hanya ingin bertandang ke tempat ini?” tanya Lisa penasaran.
“Saya? Ehm...Saya hanya ingin bernostalgia, mengingat kesenangan yang saya alami dulu saat bersama ayah.” jawabnya.
“Lalu, kenapa tidak mau mengajak ayah kak Niko lagi saja kalau begitu?” heran Lisa.
Niko tertawa masam. “Bukan tidak mau tapi saya sudah tidak bisa! Ayah saya sudah meninggal sekitar dua bulan yang lalu saat saya masih berada di luar negeri.”
Lisa terperanjat. “Maaf, saya tidak tahu, Kak! Saya jadi ikut sedih mendengarnya!”
Kali ini Niko tersenyum manis. “Tidak apa-apa! Saya juga tidak ingin kamu mengetahuinya.”
Lisa mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Eh, tapi bisakah kita mengobrol tanpa menggunakan kalimat formal? Saya, Anda, kedengarannya canggung sekali! Bagaimana kalau mulai sekarang panggil saja dengan sebutan nama biar lebih akrab?” saran dari Niko.
“Terserah Anda saja! Eh, Kak! Eh, terserah Niko saja maksudnya! Sepertinya ini terlalu sulit bagi saya sebab usia kita kan terpaut lima tahunan?” jelas Lisa. “Eh! Saya salah bicara ya?”
Lisa merasa seperti itu karena Niko seketika terdiam dan tidak memberikan tanggapan lain.
“Kalau begitu biar aku saja yang menyebutmu dengan nama, Lisa. Tapi jangan sampai keluar kata Anda ya, kesannya aku sudah sangat tua dibandingkan denganmu!” canda si Niko.
“Iya! Terima kasih kak Niko atas pengertiannya.” ucap Lisa dengan perasaan lega.
Kemudian Niko terus mengajak Lisa mengeksplorasi beragam fasilitas dan apa saja yang ada di kawasan kebun raya itu. Tak terasa lelah di kaki-kakinya, sampai mereka selesai berkeliling dan ingin makan di sebuah garden resto yang ada di sana.
“Ingin aku pesankan sesuatu?” tanya Niko.
“Boleh! Terima kasih!” jawab Lisa dengan jelas dan singkat.
Niko memesan spicy chicken strip plus nasi, potato chip dengan smoothies untuk minumannya. Lisa sempat tercengang dengan selera makan anak pemilik kontrakan tersebut.
“Sepertinya kak Niko lebih menyukai makanan orang barat ketimbang negeri sendiri!” katanya.
“Tidak juga! Bukankah itu sama saja dengan ayam goreng pedas, keripik kentang juga jus buah di sini?” terang Niko.
“Oh begitu rupanya. Di Amanda’s resto, kami tidak menamainya dengan istilah asing!” Lisa menahan rasa malu. Kemudian keduanya makan dengan porsi masing-masing.
Sementara tempat lain, hari mulai menjelang malam saat Ervan mengharap kepulangan Lisa. Ia merasa bukan siapa-siapa kalau harus bertanya di mana Lisa sekarang walau via aplikasi chatting saja. Bukan karena takut akan mengganggu mereka, justru Ervan ingin Lisa segera mengakhiri urusan dengan Niko. Meskipun ia tak bisa memberikan alasan yang benar untuk saat ini. Ervan merasa gundah sampai mondar-mandir serta keluar-masuk rumahnya.
Lisa dan Niko sangat menikmati sajian dari resto yang luas nan terbuka dengan nuansa alam itu. Mereka sudah mau pulang setelah Niko menerima tagihan pembayaran. Keluar dari tempat makan itu, tiba-tiba Niko tertarik dengan seorang fotografer keliling. Sudah tidak banyak ditemukan lagi profesi sepertinya di tempat-tempat wisata seperti ini. Niko menarik tangan Lisa dan mengajaknya untuk membuat foto kenangan bersama. Keduanya tersenyum dalam jepretan kamera polaroid. Dari semua foto, Niko hanya memilih pose terbaik yang diberikannya kepada Lisa untuk disimpan baik-baik. Selebihnya untuk ia simpan sendiri.
Perjalanan pulang di dalam mobil itu, kini terasa lebih menyenangkan bila dibandingkan saat berangkat pagi tadi. Lisa dan Niko menjadi santai untuk bercengkerama. Suasana pun ramai meski obrolan di antara dua orang saja. Niko yang tetap fokus ke jalan selama mengemudi kendaraan, justru yang meminta Lisa untuk banyak menceritakan satu hal agar ia tidak mengantuk. Akhirnya mereka pun tiba di rumah Lisa dengan selamat, saat malam sudah hampir larut.
Lisa beserta Niko turun dari mobil lalu memergoki Ervan yang duduk termangu di depan pintu rumah si Lisa.
“Ervan? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Lisa karena terkejut.
Wajah Ervan hanya menatap muram ke arah Niko. Niko pun menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ervan saat itu juga.
“Kalian menikmati jalan-jalannya?” tanya Ervan.
“Sebenarnya...” Penjelasan Lisa terpotong.
“Tentu saja! Kami sangat menikmati waktu-waktu bersama seharian ini. Mungkin kapan-kapan kami ada rencana lagi.” Niko menjawabnya asal-asalan.
Lisa tidak mengerti dengan sikap kedua pria yang saling berhadapan tersebut.
“Kalau begitu aku pamit pulang dulu, Lisa! Aku harap kamu lebih berhati-hati lagi tinggal di sini. Sampai jumpa!”
Niko kemudian pergi dengan meninggalkan pandangan sinis kepada Ervan.
“Bukankah dia sendiri yang seharusnya lebih berhati-hati?”
Lisa mendengar apa yang digumamkan oleh Ervan tersebut.
“Ervan! Apa kalian ada masalah?” Lisa bertanya.
“Aku? Dengan orang itu? Ha! Bermasalah dengannya hanya akan membuang-buang waktuku!” Ervan menyangkal walau tampak sekali kemarahan di raut wajahnya.
“Tapi, kamu benar baik-baik saja kan, selama bepergian tadi?” Ervan bertanya dengan kesungguhan.
Lisa semakin merasa aneh. “Apa yang kamu pikirkan, Ervan? Kak Niko tidak melakukan aksi yang berbahaya juga! Kami hanya berkunjung ke Kebun Raya Botani, selesai terus pulang tidak mampir ke mana-mana lagi!” jelasnya.
“Lebih baik sekarang kamu kembali ke rumah dan beristirahat! Besok pagi kita sudah harus masuk kerja.” sambung si Lisa.
Ervan menerima perkataannya. “Kau benar! Tapi aku serius dengan perkataanku sebelumnya bahwa orang itulah yang seharusnya berhati-hati! Kalau bisa kamu juga harus berhati-hati dengannya, Lisa!” pesan Ervan dengan tegas.
Pikiran Lisa semakin lelah, tak sedikit pun menangkap maksud dari ucapan Ervan. Ia hanya membiarkan waktu yang akan menjawabnya. Lisa kemudian masuk ke dalam huniannya yang gelap gulita. Ia menyalakan lampu di dapur untuk mengambil minum air putih sebelum tidur. Baru sekarang kedua kakinya terasa pegal-pegal.
Lisa duduk sebentar di dapur dengan bersandar pada kursi rotan. Satu lembar foto polaroid dikeluarkan dari dalam dompet wanita tersebut. Lisa memandanginya.
“Pengambilan gambar yang bagus!” Begitu penilaian dari Lisa. Ia menyukai ekspresi keduanya saat difoto. Rasanya benar-benar mengingatkan pada kenangan lama yang bahagia. Lisa seperti jatuh cinta dibuatnya. Melihat sorot mata dengan senyum di bibirnya itu memancarkan rasa suka yang menggemaskan hati seseorang.
Lisa kemudian mematikan lampu di dapur dan naik ke kamarnya. Ia menekan sakelar pada dinding kamar, lalu tangan itu mengambil penjepit kertas dan menggantungkan fotonya pada seutas tali berderet dengan sketsa gambar dirinya yang dibuat Ervan. Tiba-tiba listrik padam. Embusan angin yang kuat terdengar dari arah luar kamar di dekat jendela. Lisa menyalakan lilin untuk menemani kesendiriannya yang mana hujan turun di tengah malam.