Bergeming ia menatap masa-masa yang suram. Seberkas cahaya pun tak mampu lagi dilihat oleh Lisa. Ucapan keprihatinan itu masih sanggup diterima, namun raungannya sendiri tak ada lagi yang mau mendengarkan. Orang-orang terdekat Lisa telah tidur panjang di awal relung keabadian. Gadis aktif seusia kelas 2 SMA, tidak bisa lagi menyaksikan dua wajah anggota keluarga yang kini membiarkan ia hidup sendiri. Padahal Lisa merasa sangat gembira waktu itu. Saat wanita yang duduk di samping kursi, membisik kepadanya untuk berbagi rahasia kecil.
“Besok kita buat acara makan-makan di restoran, undang semua teman-teman kamu! Tapi jangan beritahu Ayah, ya?”
Wanita dewasa itu tahu betul jika ayah Lisa tidak menyukai pesta perayaan. Meskipun untuk putri tunggalnya sendiri yang berhasil meraih medali pada ajang olahraga nasional sebagai atlet lari tahun ini. Rencana rahasia itu tetap menjadi rahasia, sampai akhirnya harus menemui batas kemampuan dari manusia. Sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut segalanya dan menyebabkan luka seumur hidup bagi seorang Lisa.
Sesungguhnya bukanlah sebab mata itu yang tidak bisa lagi melihat tetapi yang buta ialah mata hati. Lisa terlalu takut, berpikir untuk kehidupan macam apa yang harus dijalaninya setelah peristiwa yang nahas itu. Akan tetapi selalu ada kalimat untuk mengingatkan, bersyukurlah karena kamu termasuk ke dalam orang-orang yang selamat. Hidup Lisa akan lebih baik jika lekas menyadari satu hikmah. Mungkin juga ujian ini bisa menjadi takdir baik untuknya. Lisa harus menjalani sisa umur sebagai jiwa baru dengan raga yang sama.
Namun hidupnya mulai dibelenggu. Lisa sangat sulit untuk bisa membangun kepercayaan kepada orang-orang di sekitarnya. Walau seberapa keras usaha itu coba untuk mendekati, kalimat rayuan dari mulut mereka tidak lebih dari kata-kata yang kosong nilainya. Tidak ada arti karena kebenaran adalah apa yang Lisa rasakan sendiri. Satu setengah tahun meringkuk dalam ruang gelap, dipaksa, dibawa pergi ke arah dan tempat berbeda meski tujuannya tetaplah sama. Supaya Lisa tidak ikut ‘mati’. Tapi ia selalu memberontak, tidak mudah menerima kenyataan pahit yang telah menimpa diri.
Hingga satu kali pertemuan dengan Vina membukakan akal sehatnya. Mengenal Desi, menghidupkan juga rasa simpati dan empatinya. Lisa pun kembali, bangkit dan terus bergerak menjalani hari-hari. Kini gadis itu mulai percaya bahwa masih ada orang-orang yang mau melindungi sebuah harga diri. Memperlakukannya sebagai manusia normal bukan sebab rasa kasihan yang berlebihan. Vina maupun Desi sudah berbuat baik terhadap Lisa. Seharian pergi dengan kak Niko pun membuat rasa aman nan menyenangkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Lalu, apa tujuan Ervan mengingatkan Lisa agar berhati-hati dengan seorang Niko? Sebagai pria yang jauh lebih muda, Ervan bahkan tidak lagi menaruh hormat kepadanya. Dua pemuda tersebut seperti menyimpan rahasia yang saling berhubungan erat. Lisa tidak mau, jika harus berdiri di antara dua jurang ini. Jika ada ruang untuk perasaan pribadi pun, lebih baik jika ia tinggalkan. Sebelum semua terlambat, hanya untuk menyanggupi rasa penyesalan dan kekecewaan yang tak bermanfaat. Kalau Lisa masih penasaran dan ingin mencari tahu kebenaran tentang Ervan maupun Niko, maka jangan sekali-kali untuk mengeluhkan rasa sakit di dalam hati.
Hari Senin, Lisa hampir lupa untuk masuk kerja. Kesenangan batin yang kemarin, berubah menjadi derita fisik kemudian. Kedua kakinya dirasa sakit dan pegal. Lisa lantas mengambil ponsel di meja lalu menelepon Vina.
“Vin?” sapa Lisa.
“Iya! Pagi-pagi sudah standby telepon! Ada apa?” gerutu si Vina.
“Kamu sudah siap berangkat?” tanya si Lisa.
“Baru sarapan ini! Kenapa?” tak acuh Vina sambil mengunyah roti selai di mulutnya.
“Nanti aku nebeng ya? Hari ini kamu bawa sepeda, kan?” tanya Lisa sekali lagi.
“Iya sih! Tapi kamu ingat kan, kalau sepedaku itu model kayuh bukannya motor?” perjelas orang yang ditelepon.
Lisa sudah sangat tahu tentang hal itu. “Iya, nggak apa-apa Vin! Aku tahu. Oke! Kalau begitu, aku mau mandi dulu!”
“Apa? Jadi kamu baru bangun ti!”
Lisa langsung menonaktifkan panggilannya. Pelan-pelan ia berjalan menuju kamar mandi dengan gerak kaki yang terseret-seret. Masih cukup waktu bagi Lisa untuk bersiap diri sambil menunggu Vina sampai di muka rumah pinggir jalan ini. Hingga muncullah notif chat masuk pada layar ponsel mereka.
Lisa keluar dari rumah dan mengunci pintu dengan aman.
“Nggak biasanya kamu minta bonceng! Udah bosan jalan kaki?” tukas teman dari atas sepeda.
“Bukan begitu! Aku capek banget rasanya. Kemarin pulang kemalaman juga.” ucap Lisa santai saja.
“Oh, kamu jadi pergi sama kak Niko!” pertegas Vina.
“Iya! Udah, ayo! Nanti kita terlambat kalau kebanyakan cerita.” desak teman yang langsung duduk pada boncengan sepedanya.
Vina terpaksa mengayuh lagi dan lagi, membawa beban tubuh sekaligus beban hidup Lisa yang sudah berat. Untung waktu dipakai berangkat jalanannya banyak turunan. Tapi kalau pulang kerja Lisa mau nebeng lagi, sudah deh! Vina memilih untuk menyerah saja.
Akhirnya mereka berdua pun sampai di depan Amanda’s resto. Desi tak cukup terkejut mendapati teman-temanya itu datang ke tempat kerja berbarengan.
“Kamu tidak membonceng Ervan saja, Sa? Itu!” tunjuk Desi dengan mengarahkan mukanya ke ujung jalan raya.
Tak disangka Ervan berangkat dengan mengendarai sepeda motor sendirian. Bingung Lisa melihat pria di sana. Biasanya juga jalan kaki, ini kenapa harus bawa motor segala kayak tempat kerjanya jauh saja.
“Uch! Benar kata Desi. Seharusnya tadi kamu minta tumpangan sama Ervan saja! Duh, sekarang kaki aku yang merasa sakit semua!” keluh Vina tanpa henti.
“Ya, maaf! Aku kan tidak tahu.” jujur Lisa.
Saat itu, Ervan memarkirkan motor skuternya di halaman sempit depan kedai makan tersebut.
“Ada apa?” tanya Ervan melihat ketiga rekannya hanya berdiri dan bengong.
“Nggak ada apa-apa, Van! Ini, Lisa pagi-pagi sudah bikin repot.” ujar Vina.
“Aku tadi sudah minta maaf. Kok kamu nggak ikhlas gitu, sih!” protes Lisa.
“Iya, iya! Bercanda, juga! Eh, Van! Nanti pulang tolong boncengin nih anak! Kasihan, capek jalan kaki dia!” sindir Vina.
“Vina! Tidak usah, Van! Nanti aku pulang jalan kaki aja.” tegas si Lisa.
“Oh, boleh kok! Kita pulang dari sini biasanya juga bareng-bareng, kan?” jelas si Ervan.
“Cieee, yang barengan!” ledek Desi kepada Lisa dan Ervan.
Vina ikut menertawakan situasi yang membuat canggung satu orang temannya kini.
“Apaan sih! Sudah, aku mau masuk dulu! Kerjaan belum beres juga, pengunjung keburu datang nih!” kesal si Lisa kepada semua yang ada di sana.
Segera setelahnya, Vina, Desi dan Ervan menyusul langkah giat Lisa. Tak berselang lama pak Tomo muncul bersama bos Amanda yang pulang dari berbelanja kebutuhan pasokan bahan-bahan dapur mereka. Dan mulailah geliat aktivitas di resto kecil-kecilan yang memampang wajah bersinar dari foto profil pemiliknya.
Semua berjalan lancar sampai Lisa mulai membuat kecerobohan. Ujung jari telunjuknya tergores pisau saat membantu pak Tomo untuk mengiris satu jenis sayuran. Untung tidak mengeluarkan darah meski kulit arinya sudah terluka. Tiba-tiba saja, Ervan datang dari pintu masuk dapur lalu setengah memarahi Lisa.
Ia bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini!”.
“Kamu tadi sedang keluar, jadi aku bantu pak Tomo untuk memotong labu siamnya.” jawab Lisa.
“Seharusnya tunggu aku kembali saja. Kenapa pula kamu meniup-niup jari? Ha? Terkena pisau?” gertakan Ervan pertama kali.
Dengan cepat anak muda itu mengambil kain yang bersih untuk menutupi luka pada jari Lisa.
“Ervan! Ini apaan?” cegah Lisa.
“Sudah! Nanti biar darahnya tidak mengalir ke mana-mana.” kata si Ervan yang cukup berlebihan.
“Iya! Tapi kalau ditekan begini malah lukanya jadi berdarah. Tadi hanya tergores tipis saja kok!”
Lisa lantas melepaskan sapu tangan dan mengembalikannya lagi bersama dengan genggaman tangan Ervan. Lisa meninggalkan ruang dapur dan mengemban tugasnya semula. Menunggu dengan siap, menyambut pengunjung kedai makan yang memanggilnya, lalu mengantarkan makanan ke tiap meja.
Pada jam istirahat siang pun, Lisa tak berhati-hati. Ia hampir terjatuh saat menuruni tangga dari lantai atas karena terpeleset. Untung ada Ervan yang cepat tanggap memegang tangan Lisa hingga mendapat keseimbangan tubuh kemudian bisa lekas berdiri tegak.
Tak ayal waktunya jam pulang, pintu ruangan pantry ternyata rusak. Jika tidak diganjal, pintu bisa tertutup juga malah terkunci dari dalam. Lisa masih berada di sana dan tidak bisa lagi membuka pintunya. Yang membuat ia lebih khawatir, orang-orang sudah pulang semua karena hari ini jatah Lisa yang terakhir kali menutup resto.
Pelayan resto itu menggedor dan memutar-mutar handle pintu, siapa tahu bisa terbuka dengan sendirinya. Tiba-tiba seseorang bersuara keras dari ruang depan.
“Minggir!” teriak pria di sana.
Setelah menyadari, Lisa segera mengambil langkah mundur dan menjauh dari muka pintu. Lalu panjang kaki itu menendang hingga pintu pun terbuka lebar membentur tembok di sebelahnya.
“Kamu tidak apa-apa?”
Lisa menggelengkan kepala. Ia justru lebih syok dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Ervan, tepat di depan mata. Lisa cepat-cepat keluar dari pantry dan disusul Ervan. Setelah itu Lisa menutup kembali pintu yang rusak. Pria di belakangnya bertanya-tanya. Lisa baru memberitahu kalau pintu itu hanya bisa dibuka secara normal dari sisi luar saja. Jadi Ervan tidak perlu sampai harus mendobrak atau menendangkan kakinya sekuat tenaga. Dibawa santai saja, membuka pintu ruang pantry itu seperti biasa.
Tampak raut wajah Ervan sedikit kecewa. Seolah mengatakan, kenapa tidak bilang dari tadi! Sehingga ia tidak akan menghabiskan banyak energi. Mana sudah malam ditambah suasana luar yang berangin pula.
Akhirnya Lisa selesai mengunci pintu depan resto milik nyonya Amanda. Ervan lantas menawari si Tetangga untuk pulang bersama dengan motornya.
“Tidak perlulah, Van! Aku kan sudah bilang mau jalan kaki saja.” kata Lisa menegaskan.
“Oh! Ya sudah. Aku pergi duluan, ya?” tutur Ervan, segera berlalu dan tancap gas.
“Eh??” Lisa celingukan. Dikira Ervan akan memaksakan bantuan yang ditawarkan, malah benar-benar meninggalkan ia sendirian. Ini antara Lisa yang beruntung atau justru terjadi kemalangan sebab gengsinya yang tinggi? Rasa tegang pada otot-otot kedua kaki masih ada, jujur wanita tersebut juga agak kepayahan jika harus pulang dengan berjalan kaki sampai ke rumahnya.
Langkah Lisa lamban seperti orang yang putus asa mencari jalan pulang. Badannya sudah lunglai. Sesekali Lisa mencari dudukan atau berdiri dengan bersandar pada sesuatu guna mengobati keletihan walau sejenak. Matanya terpejam-terbuka karena saking mengantuk sebab lelah yang tak mengada-ada. Jarak sekitar satu setengah kilometer itu bagai ditempuh Lisa dalam waktu perjalanan satu tahun cahaya. Lama sekali ia, sekadar bisa sampai ke rumah saja.
Hingga ia temui sebuah kursi halte bus di samping jalur pedestrian. Lisa mengambil tempat duduk. Ia merasakan kenyamanan mendapat sandaran punggung yang hangat dan empuk itu.
Tunggu dulu! Empuk? Bagaimana bisa! Ini kan kursi dari kayu, seingatnya tidak ada sandaran punggung pula. Bersandar pada apakah Lisa yang sudah membuatnya begitu nyaman melepaskan segala kepenatan?
Ia terbangun dari kursi tunggu tersebut dan langsung berbalik. Betapa terkejut Lisa melihat ada sosok yang membelakangi dirinya dan menahan posisi duduk yang melayang di udara. Sadar bahwa Lisa telah menjauh dari punggungnya, seseorang itu lalu bangun dari tempat di mana ia menyamarkan diri.
“Lisa?” terkejut si Ervan setelah balik kanan.
Bukankah yang seharusnya kaget itu Lisa, ya? Ervan tertawa kecut. Ia mengira Lisa sudah lanjut jalan lagi. Ternyata dia masih berdiri di tempat.
“Semestinya kamu sudah sampai di rumah, bukan? Kenapa masih berkeliaran di sini!” tegur Lisa.
“Aku memang sudah sampai rumah. Buktinya motorku tidak ada di sini, karena sudah aku tinggal di garasi.” kata Ervan beralasan.
Lisa tidak mau mendengar basa-basi yang lainnya lagi. Ia pun beranjak malas dari titik halte menuju kediaman sendiri, meninggalkan Ervan yang tidak jelas akan maksudnya datang lagi ke sini. Pemuda itu terus mengikuti langkah Lisa yang gontai. Saking lelah dan mengantuk dia hampir saja menabrak tiang lampu jalan, terjatuh ke dalam selokan bahkan ikut-ikutan Abang penjual kroket yang masih sibuk merapikan tempat dagangan ketika mau ditinggal pulang.
Dan tibalah waktunya bagi Lisa untuk menikmati masa istirahatnya. Ervan pun ikut merasa lega setelah seorang teman itu, dengan selamat masuk ke dalam rumahnya sendiri. Ervan pun menengok dari jalanan luar, jendela kamar Lisa di lantai dua. Tidak sadarkah wanita itu, jika lampu kamarnya sudah menyala? Bahkan sebelum Lisa sampai di depan rumah.