Pada malam kemarin saat Lisa terjebak di dalam ruang pantry, Vina dan Desi telah pulang terlebih dahulu. Mereka ingin mampir ke sebuah hipermarket untuk membeli stok kebutuhan belanja mingguan masing-masing. Desi yang sudah tidak memiliki kekasih biasanya sudah pesan ojek online. Tapi kali ini ia mencicil perjalanan ke rumah dengan berjalan kaki. Vina pun tak mengayuhkan pedal, hanya menuntun setang sepeda sambil mengiringi langkah Desi di sependek jalur trotoar yang dilewati. Ia yang selesai berfoto selfie memulai topik pembicaraan tanpa banyak berbasa-basi.
“Vina! Ervan itu kayaknya suka sama Lisa!” kata Desi yang tiba-tiba menarik kesimpulan.
“Masa? Tahu dari mana, kamu? Jangan asal ngomong!” sambung Vina dengan nada bicara keras.
“Idih! Biasa aja kali! Begitu saja marah. Kamu cemburu, ya?” ejek Desi kepadanya.
“Emang siapa sih Ervan? Dia mau suka sama siapa aku juga nggak peduli!” balas si Vina.
Awal mula Desi bercerita. “Bener ya! Tapi kamu nggak boleh penasaran loh! Dari meja kasir aku bisa melihat aktivitas semua orang, kecuali Ervan dan pak Tomo karena berada di dalam dapur.”
Vina seolah tak mendengarkan.
“Nah! Aku perhatikan kalau ada waktu sebentar saja keluar dari ruang dapur, pasti yang dicari Ervan adalah Lisa. Dia memang tidak bilang apa-apa. Memanggil nama Lisa pun tidak. Kalau belum ketemu, Ervan kelihatan khawatir lalu mondar-mandir di depan pintu dapur. Tapi kalau sudah melihat Lisa di sudut ruang mana pun itu, dia tampak merasa lega dan langsung senyum sendiri gitu!” celoteh Desi.
“Terus kamu bisa langsung menyimpulkan kalau Ervan 'jatuh cinta' sama Lisa?” tanggapan dari sahabatnya.
Desi menjawab dengan santai. “Tidak juga!”
“Tapi, Des! Aku pikir yang suka sama Ervan sebenarnya kamu. Lisa saja tidak pernah memperhatikan Ervan sedetil itu!” kata Vina membalikkan fakta.
“Iya Lisa kan sibuk kerja. Dia tidak akan sempat memperhatikan orang kain selain para pengunjung.” alasan Desi yang masuk akal.
“Oh berarti selama ini kamu kerjanya nggak bener, ya? Bukan menghadapi tamu yang datang dan pergi malah mencermati kinerja teman sendiri.” Hal baru yang dikeluhkan Vina sebagai rekan kerja.
“Kok sekarang jadi aku yang dipojokkan? Jadi sebel! Bawaannya makan hati kalau cerita sama kamu, Vin!” kesal sang Sahabat.
Vina lalu tertawa dengan puasnya.
Kemudian tercetuslah sebuah ide konyol. “Pokoknya mulai besok kita harus menyelidiki hubungan asmara apa di antara Lisa dan Ervan! Jangan-jangan mereka sudah pacaran. Kita kan tidak pernah tahu kalau sebelum ini, ternyata mereka sudah punya hubungan dekat!” tutur Desi.
“Kita? Kamu sendiri saja, kali! Bikin repot kehidupanku saja!” Vina menghindar.
“Mudah, Vin! Kamu tinggal kasih kode ke aku. Besok kalau kamu tahu si Lisa sama Ervan baru berduaan, biar aku yang akan menguping pembicaraan mereka. Siapa tahu kita bisa dapat petunjuk!” uji Desi.
“Senggang banget sih, Des! Biarkan saja kenapa sih, kalau mereka memang pacaran! Kita juga nggak dirugikan kok.” Kalimat tak acuhnya Vina.
“Eh! Salah kamu. Kita harus memastikan hubungan mereka dulu, jadi nanti tidak ada alasan lagi bagi kak Niko untuk dekat-dekat dengan Lisa!” dalih si Desi.
Sang teman mulai paham. “Jadi ini semua karena egomu semata!” geram Vina. “Padahal kak Niko kan sudah senang banget pergi bareng sama Lisa kemarin!”
“What? Lisa sama kak Niko jadi jalan-jalan berdua?” kejut si Gadis trendi dengan mengacungkan dua jari ke muka Vina.
“Heehm!” jawab Vina dengan kesal menyingkirkan tangan Desi dari kulit mukanya.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya teman itu penasaran sekali.
Vina iseng. “Entahlah! Mungkin kak Niko sudah meminta Lisa untuk menjadi pacarnya juga?”
“Ah! A, aah Vina! Masa secepat itu sih? Kamu pasti bohong, ya? Ayo cepat ngaku!” celoteh Desi kepada sahabat dekat tersebut.
“Terserah kalau kamu tidak mau percaya. Aku mau belanja saja. Bye!” tinggal Vina dengan menaiki sepeda.
“Hei, Casilda! Tunggu! Aku juga mau ikut.” manja si Desi sambil berlari kecil.
Masuk ke dalam hipermarket, kedua gadis itu langsung memborong barang sesuai kebutuhan. Lalu yang belum lama dibicarakan pun hadir. Vina tak sengaja bertemu kak Niko di sana. Mereka saling bertegur sapa. Mumpung Desi tidak ada di dekat mereka, Vina mulai melancarkan siasatnya. Kalau sampai bertemu dengan Desi, kak Niko diminta untuk mengakui bahwa ia sudah resmi berpacaran dengan Lisa. Vina ingin Desi jera dari ikut campur terhadap urusan hati orang lain. Kak Niko langsung mengerti maksud dari kebohongan ini yang hanya untuk menjahili Desi. Tapi agaknya dia susah untuk berpura-pura, kak Niko bukan lagi seorang remaja yang baru memasuki masa pubertas. Pikiran dan tindakannya sudah jauh lebih dewasa.
Tiba-tiba Desi muncul, mukanya mengagetkan kak Niko yang berdiri di hadapan Vina. Kemudian Vina dengan tenang memberikan isyarat untuk menjalankan aksi sesuai rencana.
“Hai! Aku kira Vina hanya datang sendirian. Ternyata ada kamu juga, Desi!” sapa Niko.
“Kak Niko mau belanja juga di sini?” selidik Desi.
“Ya iyalah Des! Masa mau main sepak bola!” batin Vina berbicara.
Kak Niko menanggapi pertanyaan tersebut. “Iya ini, mau cari...” Seketika ia jadi melupakan tujuannya sendiri. Vina pun memanfaatkan situasi dan melirik ke sekotak cokelat pada rak display produk di dekat mereka.
“Ini!” ujar Niko dengan gugup dan lekas mengambil sekotak cokelat dengan bentuk hati tersebut. “Iya ini! Saya ingin membeli cokelat manis untuk Lisa sebagai hadiah awal kami jadian.” bohong si Niko.
Vina pun menahan ekspresi jahil di wajahnya. Sementara Desi terlihat sangat kecewa.
“Jadi kak Niko sama Lisa benar pacaran, ya?” putus asanya.
“Iya!” pertegas kak Niko.
Setelah sukses menahan tawa, Vina bertanya kepada Desi. “Kamu tidak mau kasih selamat ke kak Niko?”
“Iya! Selamat ya kak Niko! Semoga kalian cepat putus. Eh! Maksudnya semoga bisa sampai ke pelaminan... Iya, itu dia maksudnya!” ucap Desi tak semangat.
Desi merasa sudah tertinggal banyak langkah, jauh di belakang Lisa. Hingga di halaman parkir usaha retail itu, Vina dan Desi berpisah dengan kak Niko yang membawa mobil. Saking kecewa, Desi jadi merasa segan untuk menumpang mobilnya Niko walaupun akan cepat sampai dan tiba tepat di depan rumah. Desi cemberut.
“Sekarang kamu masih mau memata-matai hubungan Lisa dengan Ervan?” singgung Vina.
“Tentu saja! Kita lihat saja besok. Lisa yang akan putus dengan kak Niko atau menjauh dari Ervan.”
Vina tidak habis pikir dengan tingkah konyol anak yang satu ini. Ia pun meninggalkan Desi setelah mendapati transportasi umum yang masih beroperasi.
Di lokasi berbeda, Lisa telah menemukan sebuah keganjilan di dalam rumahnya. Bukan karena ia baru menyadari bila lampu kamarnya sudah dinyalakan sebelum ia masuk. Akan tetapi ini soal gambar sketsa dirinya yang hilang. Kedua lembar kertas dari Ervan tersebut telah dilepaskan dari penjepitnya yang tergantung pada tali di dinding. Meski lelah, Lisa mencarinya sampai ke bawah-bawah tempat tidur.
Tidak ada! Sepertinya benda itu tidak pernah tersapu apalagi terbuang ke tempat sampah secara sengaja. Lisa bingung tapi tidak tahu harus menemukannya di mana. Ia berharap Ervan tidak akan pernah menanyakan barang pemberiannya. Apalagi sampai tahu kalau Lisa sudah menghilangkannya padahal ada di dalam rumah sendiri.
Inikah yang menjadi alasan Ervan memandang ke arah kamar Lisa? Apa mungkin ia telah memasuki rumah temannya itu tanpa izin dan mengambil kembali gambar sketsa yang pernah dibuatnya untuk Lisa simpan? Jika Ervan lebih tidak suka melihat Lisa dekat dengan Niko, seharusnya foto mereka berdua yang ia ambil. Sementara kini, foto kenangan Lisa bersama kak Niko masih terpajang indah di antara penjepit kertas yang sudah kosong.
Pada keesokan pagi ada lagi hal tak biasa. Desi dan Ervan, keduanya sudah berada di ambang pintu rumah Lisa yang terbuka. Dengan wajah berbinar mereka menyapa suasana pagi seorang teman.
“Kalian berdua mau berangkatnya jalan kaki juga?” heran si Lisa.
Ervan lalu menjawab “Iya!”. Sementara Desi hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-anggukkan kepala sampai rambut cepol ala korea-nya ingin terlepas. Meski patut dicurigai, Lisa tidak akan terlalu peduli.
Ervan pun berjalan di samping Lisa seperti biasa. Namun Desi justru seperti orang asing yang mengendap-endap padahal berjalan tepat di belakang keduanya. Lisa melirik ke arah Ervan yang senantiasa menghadap lurus ke depan dengan menebarkan senyum positif. Lalu, tidak adakah di antara mereka bertiga yang akan memulai perbincangan ringan di tepian jalan?
Lisa berbalik ke belakang dan mendapati langkah Desi yang tersentak.
“Desi, kamu sudah punya pacar lagi ya? Kok sekarang tidak pernah telepon aku.” ujar Lisa berbasa-basi.
“Aku belum mau pacaran lagi, Sa! Iya, nanti malam aku telepon kamu deh! Kalau nggak ya kita chatting-an aja seperti biasa.” sambut Desi.
“Tapi, bukannya kamu sendiri yang udah punya pasangan Lisa?” Ia balik bertanya.
“Aku? Siapa memangnya yang mau jadi pacar aku sih Des?” pesimis si Lisa.
“Kak Niko, kan?” pertegas Desi.
Pendengaran Lisa dan Ervan sangat jelas. Lisa sendiri malah kebingungan sedangkan Ervan mulai memandang dengan pikiran yang negatif.
“Kok kamu malah diam, Sa? Kemarin kak Niko sendiri yang bilang ke aku sama Vina.” beritahu Desi.
Kini Ervan yang melirik ke arah Lisa yang berjalan lurus ke depan dengan raut wajah bimbang antara menyembunyikan suatu rahasia atau justru meragukan kata-kata dari si Teman.
Setelah enam puluh detik tanpa suara, Desi mulai bosan harus menunggu lama kata dari Lisa apalagi Ervan. Dari awal tidak ada yang bisa ia kulik dari kedekatan kedua teman yang berjalan mendahului langkah kakinya.
“Lisa! Ervan! Apa kalian punya hubungan terlarang?” ucap Desi spontan.
Sontak kalimat pertanyaan yang rancu itu menggoyahkan hati orang-orang yang mendengarnya.
“Apa yang kamu katakan?” kalimat pertama yang baru terdengar dari mulut seorang pria.
“Aku hanya bertanya saja! Iya, Lisa kan sudah berpasangan sama kak Niko. Terus kenapa kalian masih berdekat-dekatan?” usil si Desi.
Lisa dan Ervan baru tersadar kalau lengan jaket mereka bersentuhan faktor cara berjalan yang beriringan. Segeralah mereka saling menjauh satu sama lain dan membuang muka sebab salah tingkah.
“Kamu sebaiknya jangan membahas hal itu lagi. Kita semua sudah berkawan baik.” kata Lisa.
Desi pun merasa kecewa. Bukan karena tak mendapat pengakuan dari Lisa maupun Ervan, tapi karena tak terasa perjalanan singkat mereka yang sudah sampai di tempat tujuan. Desi tidak bisa memanfaatkan kesempatan besar di awal. Namun gadis ceria itu tak menyerah. Selama melakukan pengamatan dari meja kasirnya, kesan Desi terhadap Ervan tetaplah sama. Setiap ada kesempatan kecil untuk keluar dari dapur, pemuda itu bersikap tak wajar saat ada berbanding tidak ada Lisa di antara meja pengunjung kedai makan.
Meskipun begitu, tiada satu petunjuk kecil yang menunjukkan bahwa ada something special antara Lisa dan Ervan seharian berada di tempat kerja. Akhirnya Desi memaksa Lisa untuk mengakui segalanya di akhir-akhir jam kerja. Desi merengek, ingin kejelasan status salah seorang sahabatnya. Apakah ia memilih tetap berhubungan dengan kak Niko atau condong kepada Ervan yang tampak sangat menyukai Lisa. Kalau tidak mau memilih berarti Lisa hanya ingin menikung teman sendiri sehingga Desi tidak akan pernah bisa selamanya mendekati sosok kak Niko.
“Yang kamu pikirkan itu apa, Desi! Kenapa aku harus memilih antara kak Niko atau Ervan? Sudah jelas aku katakan, kita semua berteman dan baik-baik saja. Aku juga tidak pernah jadian dengan kak Niko! ceramah Lisa di gudang peralatan.
Desi tetap mengeluh. “Tapi kak Niko sendiri yang bilang!”
“Mana mungkin! Kalau benar, dia pasti cuma bercanda. Kita juga baru bertemu dua tiga kali, masa iya langsung jadian begitu saja!” Lisa beralasan.
“Ya bisa saja dong, Sa! Namanya love at the first sight, gitu!” tambah kalimat dari Desi.
“Sudah, jangan bersikap seperti inilah! Pasti ada ulah dari Vina, ya? Dia kan yang sering menjahili kita.” ingat Lisa.
“Oh! Bisa jadi itu! Vina juga yang pertama kali bilang kalau kamu sama kak Niko udah jadian kemarin! Benar-benar ya Vina! Firasatku memang sudah mengatakan kalau ucapannya itu bohong.” geram si Desi.
“Casilda! Oh.. Casilda!” cari Desi dengan perasaan campur aduk hingga ke ujung halaman belakang resto nyonya Amanda.
Namun, hati Lisa mulai berbicara. Benarkah yang telah diungkapkan sahabatnya itu, bahwa Ervan sering kali memperhatikan dirinya? Lisa memandang ke tempat Ervan yang masih membereskan kondisi dapur sendirian. Apakah seorang pria di sana bersungguh-sungguh dengan perasaan pribadinya kepada Lisa?