Masih ingatkah Lisa pada peristiwa kebakaran gedung perpustakaan yang telah merenggut satu korban jiwa? Pihak kepolisian telah membebaskan sang Petugas perpustakaan. Mereka tidak pernah menahannya. Hal tersebut telah jelas membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun yang berbeda kali ini adalah polisi menemukan fakta temuan bahwa insiden tersebut mengandung unsur kesengajaan dan bukan lagi suatu kelalaian dari pihak tertentu. Polisi masih mengumpulkan data terduga pelaku yang dicurigai dari rekaman CCTV lobi gedung. Begitulah perkembangan berita yang termuat di salah satu situs media online terpercaya.
Tersangka utama belum diamankan. Ia masih bebas berkeliaran tanpa sedikit rasa bersalah yang dipendam. Lalu siapa sebenarnya identitas korban?
Telah diketahui bahwa ternyata korban adalah salah satu pelaksana teknis perpustakaan milik pemerintah kota tersebut. Kabar buruknya, setelah ditelusuri ternyata si Korban juga pernah terlibat dalam jaringan peredaran narkotika lintas negara. Salah satu kasus besar yang diungkap oleh Direktorat Reserse Narkoba beberapa tahun lalu. Satu orang bandar narkoba telah dipidana dan divonis hukuman mati. Satu poin yang menjadi pertanyaan, apabila sosok pelaku pembakaran gedung perpustakaan mengenali jati diri korban yang terlibat sindikat narkoba itu. Apakah bisa dikatakan dalam tanda petik, kebakaran itu sebagai upaya untuk menghilangkan barang bukti baru sekaligus saksi hidup yang masih bekerja di sana? Jika tidak, apa pelaku adalah pihak ke tiga yang hanya ingin melampiaskan dendam karena alasan pribadi? Tentu, belum ada yang bisa memastikan. Tapi merujuk pada alasan nomor dua, benang merahnya justru mulai terlihat.
Lisa sedang membaca lagi kisah dalam novel yang ia pinjam dari Ervan.
...........
Wanita dengan kardigan merah panjang bangkit dari alam bawah sadarnya. Ia bangun dalam keadaan linglung. Ruang di sekelilingnya gelap. Hanya ada tiga lubang sumber masuknya cahaya dari atas yang membantu jangkauan penglihatan. Tapi wanita itu tak pernah tahu, apakah berkas sinarnya akan menunjuki kepada jalan keluar atau sebaliknya.
Teng...Teng...Teng...!
Suara lonceng besar menggema entah dari mana asalnya. Membuat telinga tiba-tiba berdenging, kepala pun menjadi pusing. Wanita itu berjalan gontai menuju ke depan. Pandangannya sedikit kabur, namun dalam remang cahaya ia menangkap bayangan seorang anak. Gadis kecil berdiri di hadapan jalan, memandang tokoh wanita dengan polosnya.
Ruang gelap itu berubah menjadi lorong panjang yang tersusun dari pintu-pintu kamar dengan kilauan warna perak. Gadis kecil tadi mengintip dari balik salah satu pintunya. Wanita kardigan merah datang menghampiri kemudian menyaksikan segala keindahan yang tercipta di dalam kamar si Anak.
Ruangan yang begitu luas, bernuansa putih dan terang. Sang wanita bahkan memperoleh kain sutera yang berkilauan manik batu permata. Kelemahan fisiknya seketika menghilang. Lupa pulalah perasaan tak berdaya yang dialaminya. Wanita dua puluhan tahun itu ingin menikmati kelembutan sutera-sutera dalam balutan pakaian. Tapi gadis kecil tadi tiba-tiba muncul dari dalam lemari dan berlari dengan cepat keluar kamar. Terdengar tawa kanak-kanak di sepanjang lorong tersebut yang dindingnya telah menjadi besi berkarat. Wanita kardigan merah pun mencari arah dari mana datangnya sumber suara.
Tangannya lalu ditarik dan dimasukkanlah wanita itu ke dalam kamar di sebelah kiri. Si Gadis kecil berada di sana. Ia duduk manis di atas kursi penumpang yang dilepaskan dari mobil. Tatapannya tetap kosong, tiada berkedip dan tak ada gurat senyum di pipi.
Lengan si Kardigan merah bergetar. Tangan bergerak sendiri tanpa adanya keinginan, menyambut uluran tangan yang lebih kecil di sana. Keduanya kini saling berpegangan. Kemudian sosok gadis kecil melebur dalam debu dan menjalar masuk hingga ke ujung kuku. Tubuh wanita itu tersentak, ada makhluk asing yang ingin merasuki dirinya.
“Tolong! Tolong!” teriak si Wanita.
Tiba-tiba ruangan tadi dipenuhi oleh lumpur yang pekat. Setengah tubuhnya sudah tenggelam. Semakin ia menarik diri justru semakin terisap kuat ke dasar lembah. Mata sang Wanita justru dibutakan oleh kekalutan. Ia tidak bisa menemukan pegangan untuk selamat. Dan hawa yang teramat dingin sudah mencapai ulu hatinya. Menggigil dan tinggallah usaha untuk memasrahkan diri. Berucap doa dalam hati bersama lumpur yang masuk ke lubang telinga di kedua sisi. Matanya erat memejam. Sosok wanita dan gadis kecil mulai tersesat bersama, menuju penumbra gerhana.
.....
Tidak berdaya. Itulah yang Lisa dapatkan. Namun seseorang menggandeng tangannya dengan ramah. Lisa pun berjalan mengikut saja.
“Ervan!” panggil si Lisa.
“Aku di sini.” jawabnya sambil terus menjadi penunjuk jalan keluar.
“Tidak bisakah kita beristirahat sejenak? Aku sudah lelah.” pinta Lisa.
“Tidak bisa, Lisa! Kalau kamu tidak segera pergi dari sini, orang lain yang akan membawamu.” kata Ervan tanpa ragu.
Lisa bertanya-tanya, “Siapa?”
Ervan tidak sekali pun menjawabnya. Ia tetap bergegas menyelamatkan diri sendiri beserta Lisa.
“Ke mana kamu mau membawanya!” teriak Vina dengan lantang.
Lisa hanya bisa mendengarkan arah sumber bunyinya karena kondisi yang tiada bercahaya. Terdengar pula suara Ervan yang memberikan tanggapan kepada Vina.
“Aku akan meninggalkan Lisa di rumahku. Tempat ini terlalu berbahaya.” ungkap Ervan namun dengan reaksinya yang biasa-biasa saja.
“Kami tidak akan membiarkannya! Betul kan, Desi!” penentangan dari Vina.
“Betul sekali! Bagaimana dengan kak Niko! Kak Niko?” tanya si Desi.
Langkah kaki dari orang baru itu pun mulai mendekati.
“Siapa yang minta kalian untuk memberitahunya? Kamu berdua tidak bisa dipercaya!” geramnya Ervan.
“Jika kamu tidak menginginkan kak Niko berada di pihak kami, maka serahkan Lisa sekarang juga! Kami para sahabatnya lebih berhak dari pada seorang pria yang belum lama dikenal sepertimu.” tantang Vina dengan berani
“Tapi perlakuan kalian mengapa berbeda terhadap Niko!” Ervan memperbandingkan.
“Perlakuan kami tetaplah sama, Ervan! Namun sayangnya, saat ini kaulah yang memperdaya Lisa. Jadi, lepaskan dia!” lisan Desi meminta kerelaan.
Ervan bersikap keras. “Kalian tahu apa? Aku ingin menolong Lisa. Hanya aku yang bisa melindunginya, bukan Niko. Tidak juga bagi kalian!”
“Kamu mempengaruhi Lisa untuk membenci teman-teman baiknya. Enyah dan pergilah sebelum matahari naik sepenggalah! Lisa, lepaskan tanganmu! Pulanglah bersama kami!” ujar Vina terdengar khawatir.
“Tidak! Jangan Lisa! Tetaplah di sisiku. Kamu akan tetap aman bersamaku.” Kata Ervan memperingatkan.
Semua kejadian ini hanya membingungkan Lisa saja. Bagaimana ia bisa mengambil keputusan sementara hanya pemandangan gelap yang Lisa ketahui dengan pasti. Kenapa teman-temannya tersebut bisa saling berseteru? Apakah Ervan, Vina dan Desi bisa melihat di dalam kegelapan cahaya ini? Lisa merasa takut hanya dengan mendengar kalimat-kalimat yang seakan mengungkung jiwanya sendiri.
Tiba-tiba secercah cahaya menyinari langkah kedatangan dari seseorang yang berhenti di antara empat orang. Sekarang Lisa bisa menengok lima pasang kaki manusia. Namun selain itu tak ada bagian lain yang mampu diketahuinya. Semuanya masih tertutup oleh kabut hitam yang menyamarkan.
“Niko!” begitulah desah ucapan Ervan yang Lisa dengarkan. Tiba-tiba Ervan menguatkan pegangan tangan lalu berlari, membawa kabur Lisa untuk menjauhi sosok pria yang baru saja tiba.
“Kembali!” sontak kak Niko di belakang dua pasangan yang berlari.
Niko, Vina dan Desi berupaya mengejar. Semua orang berlarian menuju satu titik cahaya terang. Akan tetapi kekuatan Desi melemah. Kecepatan larinya semakin tertinggal dengan yang lain. Vina si Kaki besi tetap meneguhkan hati. Ia berusaha menyusul Lisa bersama dengan kak Niko tanpa henti. Namun kaki pria itu malah sengaja menjegal langkah Vina.
Vina tertelungkup begitu saja. Ia terus diam dari tempat jatuhnya. Sementara dua kaki Niko bertambah kuat. Semakin cepat ia berlari dan menjadi sangat dekat jaraknya dengan Lisa dan Ervan.
Laki-laki yang ingin melindungi Lisa tidak tinggal diam. Ervan melepaskan pegangan tangannya, lantas menyuruh Lisa untuk terus berlari tanpa menengok ke arah belakang. Lisa pun terus berlari ke depan menuju satu cahaya yang semakin terang. Tapi ia tidak menepati permintaan Ervan. Lisa menoleh ke belakang dan langsung membuatnya berhenti di tempat. Dua pasang kaki yang beralaskan sepatu tali, tengah saling mengintimidasi. Sepertinya terjadi pergulatan di antara Ervan dan Niko. Namun lagi-lagi di mana tubuhnya, di mana wajah mereka? Lisa tidak tahu siapa masing-masing yang memukul atau yang dipukul. Ia ingin mendekat untuk melerai keduanya.
Terlambat! Lisa terjatuh. Jatuh ke bawah permukaan tanah yang seketika runtuh. Tinggallah suara teriakan itu menuju kedalaman jurang yang memupuk rasa kehilangan.
“Waktunya Untuk Bangun! Sekarang Jam Tiga! Waktunya Untuk Bangun! Sekarang Jam Tiga! Waktunya Untuk Bangun! Sekarang j..!”
Refleks tangannya menggapai ponsel dan mematikan nada dering alarm. Lisa pun bangun dari tidur dan mimpi panjangnya. Bangkitlah dia dari tempat duduk lalu membuka jendela kamar. Terlihat sinar terang bulan di langit sana telah melewati fase gerhana. Kemudian Lisa melihat ke arah buku novel yang masih terbuka di atas meja. Ia terus saja tertidur setiap kali menyelesaikan setengah bagian cerita. Apa ada yang aneh dengan buku novel milik Ervan tersebut? Bisa jadi juga sebab Lisa yang mudah mengantuk.
Jam tiga dini hari. Apa yang ingin dilakukan Lisa? Ia sadar beberapa hari ponselnya selalu berdering pada jam-jam ini. Entah saat itu telepon dari nyonya Amanda atau sekadar alarm bangun pagi. Lisa tidak bisa tertidur lagi. Berkali-kali terpikir akan kejadian aneh ia temui tanpa memperoleh jawaban sama sekali. Tentang kebakaran, anak laki-laki di jendela kontrakan si Bos, hingga mengenai perasaan pribadi Ervan kepada Lisa. Di balik itu semua hanya satu masalah utama. Dia telah menyamarkan identitas aslinya.
Siapakah Lisa yang sebenarnya?