Lisa tak menampik bahwa Ervan adalah sosok pria yang baik kepadanya. Ia selalu hadir dengan rona semangat menyapa hari-hari Lisa terlepas dari bagaimana pertemuan pertama mereka. Meski kadang ia menjadi orang dengan emosi yang penuh kejutan. Misterius, begitulah sedikit kesan yang Lisa dapatkan. Akankah kini menjadi awal cerita cinta, atau semua memang bermula hanya untuk sebuah tipu daya?
Pagi itu seperti biasa, Lisa berangkat ke Amanda’s resto dengan berjalan kaki. Dia tampak kuyu, efek samping mimpi buruknya tadi malam. Lisa menyusuri trotoar, menengok kanan kiri jalan dengan pandangan mata yang sayu. Tiba-tiba Ervan menyetop langkahnya dengan motor skuter di bahu jalan. Ia menyodorkan sebuah helm kepada Lisa.
“Apa ini maksudnya?” tanya Lisa.
“Aku pikir kemarin, kamu tidak mau membonceng motorku karena aku tidak bawa helm satu lagi. Jadi, ini kubawakan untukmu!” ujar si Ervan.
Lisa menerimanya dengan ragu.
“Sekarang naiklah!” pinta Ervan.
Lisa diam saja kemudian memakai sendiri pelindung kepala yang ada di tangannya. Tak sempat ia berpikir macam-macam karena sudah cukup dibuat penat. Setelah sang Teman merasa aman di atas boncengan, Ervan pun menarik halus handle gas kendaraan roda duanya. Dan sampailah mereka di depan resto pinggir jalanan.
Vina, Desi dan pak Tomo sudah memulai pekerjaan di dalam sana. Nyonya Amanda pun tampak ke sana ke mari. Padahal biasanya mereka semua belum terlalu sibuk di jam sepagi ini. Lisa tidak salah mengamati waktu, sekarang masih jam delapan kurang menit yang ke tujuh.
“Lisa, mengapa kamu diam saja? Cepat ke lantai atas, sana! Kamu tadi dicari sama bu Amanda.” beritahu Desi.
“Iya! Kamu tidak baca pesan di grup HowsApp?” Aku saja masih dapat BC-an pribadi dari bos.” ujar Vina.
Lantas Lisa segera mengecek isi tasnya. “Aduh! Hp aku ketinggalan.”
“Ya, udah! Sekarang langsung temui nyonya Amanda saja.” saran dari Desi.
Lisa masih celingukan di tempat. “Loh! Ervan tadi mana?”
“Ervan sudah masuk ke dapur. Tidak usah dipikirkan, bu Bos hanya ingin berurusan denganmu saja, Lisa!” tutur Vina.
Salah satu pelayan resto tersebut semakin penasaran dengan situasi ini. Lisa menapaki anak tangga untuk naik ke ruangan di lantai dua. Kemudian ia mengetuk pintunya yang sudah dibuka.
Datang-datang, Lisa langsung dimarahi. Nyonya Amanda menyalahkan ia yang datang terlambat padahal sudah diberi instruksi sejak pukul 5 pagi. Lisa pun hanya bisa beralasan kalau ponselnya baru di-charge saat itu dan dalam kondisi mati. Bahkan ia sampai lupa untuk membawa saat pergi dari rumah. Namun si Bos tidak menerima alasan dalam bentuk apa pun di tempat ini. Secara tegas bu Amanda menugaskan Lisa untuk membeli bunga dekorasi yang banyak.
“Tapi..?” ucap Lisa.
“Tidak ada tapi-tapi! Ini debit card saya, boleh kamu gunakan. Kabari kalau sudah mau bayar ke tokonya, saya kirimkan nomor PIN tapi kamu harus rahasiakan loh! Nanti sore minta diantarkan langsung ke sini sama penjualnya. Terus apa lagi ya? Ah! Coba carikan juga hadiah yang cocok untuk wanita umur lima puluh tahun! Tas, baju atau apalah terserah kamu! Perhiasan juga bolehlah.” saran sang Bos wanita.
Nyonya Amanda lekas “mengusir” Lisa dari ruangan tersebut. Lisa yang disuruh datang kini malah dipaksa harus pergi lagi. Gadis itu keluar dari kedai makan. Sekarang dia harus naik apa? Masa mau bayar taksi pakai kartu debit nyonya Amanda! Uang di dompet Lisa tidak akan cukup untuk membayar argo sampai ke tempat tujuan. Toko yang menjual bunga untuk berbagai keperluan dekorasi, letaknya cukup jauh dari resto ini.
“Tunggu dulu! Kenapa bos tidak pesan secara online saja sih!” pikir Lisa. “Apa aku yang order saja? Eh, tapi ponselku ketinggalan! Pinjam ke Desi atau Vina kali, ya?” ide si Lisa.
Akan tetapi mereka semua yang di dalam, masih sangat sibuk dengan tugas yang sudah dibagikan secara masing-masing. Sebenarnya mau ada acara apa sih? Kesibukan hari ini bukanlah hal biasa yang ditangani para pegawai kepada pengunjung resto. Lisa pun melihat papan penanda di pintu kaca yang masih CLOSED. Dalam rasa keingintahuan itu, Lisa justru mendapati sebuah taksi yang menawarkan tumpangan berbayar di depannya. Terpaksa ia naik karena pintu mobil otomatis itu terbuka.
“Mau ke mana?” tanya si Sopir.
“De Florist!” jawab Lisa.
Sampai setengah perjalanan, Lisa menengok total ongkos pada argometer taksinya. Uang Lisa hampir tak cukup lagi. Ia meminta sopir untuk setop di situ. Tapi sang Pengemudi tak mendengarkan dan tetap melaju kencang menuju lokasi pemberhentian. Dan mobil tersebut baru benar-benar berhenti tepat di depan toko. Lisa kemudian mengeluarkan uang seadanya dari dalam dompet.
“Uang saya ...” ucap Lisa tidak percaya diri.
“Tidak perlu! Seseorang telah membayarkannya untuk Anda.” kata pak Sopir.
“Apa?” ujar Lisa tak percaya.
Tapi ia sudah turun dari taksi dan sopirnya langsung melaju dengan mobil biru meninggalkan Lisa sendiri. Si Penumpang lalu menyimpan uangnya kembali. Siapa juga, orang yang telah diam-diam berbaik hati kepadanya. Jangan-jangan bos Amanda! Walau rasanya sangat tidak mungkin, namun bisa jadi juga iya!
Lisa masuk ke dalam De Florist. Matanya langsung disuguhkan oleh aneka contoh rangkaian bunga-bunga segar maupun artificial yang dipajang. Lisa tidak ingin mengambil yang bunga asli karena harganya bisa terlalu mahal. Apalagi ia juga tak tahu konsep apa yang diinginkan oleh bosnya di kedai makan. Sewaktu melihat-lihat, kesan menarik Lisa lebih tertuju pada imitasi bunga Marigold pada sudut siku ruangan. Warna oranye dan kuning, Lisa sangat menyukainya.
“Anda mau memilih yang mana?” tanya salah seorang pegawai toko bunga.
-----
Pesanan dan pembayarannya sudah beres. Tinggal menunggu waktu, nanti sore semua kiriman akan datang ke alamat resto mereka. Lisa berpikir untuk segera kembali ke tempat kerja, tapi ia merasa masih terganjal satu hal yang nyaris terlupakan.
"Hadiah!"
Lisa ingat harus membelikan barang tertentu sebagai hadiah untuk seseorang. Ia kembali berjalan kaki menuju arah jalan pulang. Sepertinya Lisa tahu ada sebuah toko perhiasan yang dilewatinya saat berangkat menaiki taksi. Dan benar saja! Lisa menemukannya meski berjarak dua ribu meter dari toko yang tadi sudah didatangi. Kemudian ia masuk dan membelikan sebuah kalung emas dengan liontin huruf M. Dalam benak Lisa, benda spesial ini adalah hadiah untuk putri bu Amanda yang bernama Maria.
Akhirnya pegawai kedai makan itu telah kembali. Papan penanda masih menunjukkan bahwa Amanda’s resto tutup. Lisa membuka dompetnya dan merasa yakin saldo debit card nyonya Amanda pasti cukup terkuras. Tapi untuk hari ini saja terlihat sekali kalau bosnya itu sedang royal. Jadi Lisa tidak banyak-banyak khawatir mengenai keputusan yang telah diambilnya. Namun di resto itu hanya tinggal sepi. Orang-orang sudah tidak ada di tempatnya masing-masing.
“Vin! Des!” panggil Lisa.
“Kami ada di ruang atas!” suara itu berasal dari lantai dua.
Lisa kemudian menaiki anak tangga lagi di sana. Semua orang telah berkumpul dan hanya ia yang datang paling akhir. Mereka tengah berdiskusi mengenai konsep sebuah acara penyambutan. Lisa yang baru ikut bergabung belum tersambung jalan pikirannya. Pesta? 50 tahun? Niko? Bagaimana pembicaraan dalam rapat terbatas para kru kedai makan ini bisa mengarah kepada nama Niko? Sampai perkumpulan itu membubarkan diri, Lisa masih saja termenung sendiri.
“Lisa, kenapa kamu tidak kembali bekerja seperti yang lainnya?” tanya nyonya Amanda.
“Bukankah hari ini, kedai makan tutup!” jelas Lisa.
“Lalu, apa berarti tidak ada tugas lain yang saya berikan kepadamu?” heran si Bos.
Kemudian Lisa melaporkan hasil pekerjaannya dan mengembalikan kartu debit milik bos Amanda. Tak ketinggalan ia menyerahkan sebuah kotak persegi panjang, berisi perhiasan berupa kalung yang sudah dibungkus dengan kotak kado dan berhiaskan pita merah di bagian atasnya. Bos merasa puas meski belum tahu seberapa banyak saldo tabungan yang habis dipergunakan oleh sang Anak buah.
“Kalau begitu, sekarang kamu bantu Ervan memasang lampu hias di bawah.” perintah atasannya.
“Di bawah?” Lisa mengulangi kata.
“Maksud saya di depan resto. Cepat! Waktu kita tidak banyak.” desak bos Amanda.
Lisa memang sekadar bawahan, jadi mau tidak mau dia menurut saja. Didatanginya Ervan yang sibuk membuat sketsa dengan klem paku lampu Tumblr untuk dekorasi luar kedai makan mereka. Lisa pun bantu mengambilkan rangkaian lampu LED tersebut dari dalam kardus. Sementara itu Ervan yang memasangkannya dengan menaiki alat bantu tangga.
“Bos sangat loyal hari ini. Luar biasa!” heran Lisa.
“Kamu jangan memujinya. Ini semua sama sekali tidak menggunakan uang pribadi Amanda.” ungkap si Ervan.
Lisa tercengang. “Lalu, pakai uang milik siapa?”
“Nanti kamu juga tahu sendiri. Aku sudah sangat malas untuk membicarakan hal tentangnya.” kata Ervan.
Lisa menjadi bergumam sendiri. “Kenapa tiba-tiba dia marah lagi?”
Niko. Semua hal di sini tengah berurusan penting dengannya. Satu-satunya orang yang tidak senang adalah Ervan. Namun ia tidak punya cara lain untuk menghindar karena pemimpin tertingginya ialah nyonya Amanda. Ervan loyal dan tetap mempertanggungjawabkan pekerjaan sesuai porsinya.
Hingga nanti malam tiba, bisakah acara yang istimewa akan berjalan biasa-biasa saja? Tapi sekali lagi, ini adalah pesta! Jadi sudah seharusnya suasana akan lebih semarak meski dengan kehadiran Niko dalam satu ruang bersama Ervan. Jangan sampai pesta sambutan ini berubah menjadi ajang perkelahian!