Bunga-bunga artificial telah menghiasi dekor ruang makan para pengunjung Amanda’s resto. Ada yang dipasang dekat pintu masuk, di atas meja, menjadi gantungan pada dinding bahkan ada bunga hias ranting lampu bercahaya putih di dua sudut ruang dan berhadapan secara diagonal. Walaupun tidak menyebarkan undangan secara resmi, ada beberapa orang asing yang sengaja datang untuk meramaikan suasana pesta “sederhana” tersebut. Para tamu itu benar-benar bukan salah satu dari sekian banyak pengunjung yang pernah menikmati masakan di kedai makan ini. Namun begitu, bos Amanda tampak menggulirkan senyum merekah dan menyambut hangat jabatan tangan-tangan dari beberapa pasangan suami istri yang datang. Tidak ada yang membawa serta remaja maupun anak-anak kecilnya. Mereka semua adalah pasangan yang sudah jauh melewati umur 40 tahun. Tersirat derajat kedewasaan juga kebijaksanaan dari kerut wajah para orang tua di sana. Tidak terlepas pula dari bagaimana cara berpakaian, bersolek bagi kaum wanitanya yang terhormat serta parfum yang dikenakan. Lisa yakin pengunjung-pengunjung malam ini adalah dari kalangan elite. Bisa dinilai dari mobil-mobil pribadi mereka saat berdatangan di lahan parkir samping kedai makan.
Pertanyaan Lisa, mengapa sewa tempat untuk perayaan spesial harus di resto yang serba terbatas ini? Bahkan ada satu mobil terakhir yang baru datang, terpaksa harus memarkirkan kendaraannya di bahu jalan. Apa tidak membuat malu yang punya acara meski satu ruangan makan di sana sudahlah cukup untuk menampung semua tamu yang datang!
Sekarang, kak Niko berdiri di tengah-tengah manusia yang menjadi kenalan akrab ibunya. Termasuk bos Amanda.
“Terima kasih, Bapak Ibu sekalian atas kehadirannya pada kesempatan malam hari ini! Acara yang mungkin sangat diharapkan oleh Ibu saya, walau suaminya sudah tidak bisa lagi bersanding dengan beliau saat ini. Sebagai putra, saya juga berharap pengabdian seorang bapak Arya Adiguna Atmaja semasa hidupnya masih bisa mengalirkan manfaat yang baik bagi kita semua yang telah pribadi beliau.” kalimat dari Niko, disambut tepuk tangan orang-orang dewasa sebagai satu bentuk penghargaan luar biasa.
Namun ada seorang pria muda di dapur itu yang mendengar kalimat Niko dengan sinis. Kemudian keluarlah Ervan, Lisa, Vina dan Desi dari ruang dapur. Membawakan aneka jamuan makan dan minum kepada tamu-tamu yang hadir. Niko pun mengakhiri sambutannya.
“Baiklah! Di malam perayaan hari lahir ke 50 tahun ibu Melati Atmaja ini, semoga beliau senantiasa dianugerahi kesehatan, kebaikan dan tentunya keselamatan. Selamat menikmati hidangan istimewa kami dari Amanda’s resto. Terima kasih!” tutupnya.
Meninggalkan para pengunjung di ruangan depan itu, Desi dan Vina mulai mendiskusikan hal yang tidak penting. Desi sangat terkejut mendengar fakta bahwa ibunya kak Niko baru genap berusia lima puluh. Muda sekali, padalah putra satu-satunya sebentar lagi juga sudah berusia 30 tahun. Berarti sang Ibu mengandung ketika umurnya baru menginjak 20 tahun! Tapi kalau menikah di usia muda, kenapa kak Niko sampai tidak punya saudara kandung lagi?
“Des! Aku keluar sebentar, ya?” pinta Lisa tiba-tiba masuk di tengah-tengah perbincangan Desi dan Vina.
“Duh! Memangnya siapa sih yang nungguin kamu, Sa? Waktu pulang masih satu setengah jam lagi loh!” canda si Vina.
“Tahu! Aku cuma mau beli makan sama minum untuk kita.” ujar si Lisa.
“Eh! Bukannya pak Tomo juga buat masakan tersendiri untuk kita?” Desi bertanya.
“Mana ada! Kamu tahu sifat bos kita, bukan? Makanan mewah hanya untuk tamu hari ini dan kita dibiarkan menahan lapar sampai acara ini selesai. Anggaran konsumsinya sudah mepet.” celetuk Vina.
“Bukankah semua keperluan sudah di-cover sama kak Niko!” perjelas Desi.
“Iya, pada awalnya! Tapi bos Amanda sendiri yang memaksa untuk menanggung semua biaya makan dan minum sebagai bentuk hadiah kepada sang Pemilik rumah kontrakan yang ia tempati. Jadi, tumbalnya adalah kita. Betul kan, Lisa?” tegas Vina.
“Ya sudah! Aku belikan mi instan saja, ya? Nanti kita masak sama-sama. Terus kalian minumnya mau apa?” tanya Lisa lagi.
“Aku mau kopi.” jawab Desi.
“Jangan! Nanti diare baru tahu rasa kamu! Air mineral saja, Sa!” kata si Vina.
“Oke! Aku pergi dulu.” pamit Lisa.
Merasa takut kalau yang lain sudah benar-benar kelaparan, Lisa bergegas keluar melalui pintu di belakang dapur. Pelayan kedai makan itu berjalan dengan cepat hingga berlari-lari kecil. Tergesa-gesa ia mencapai toko kelontong terdekat. Saat melewati belokan jalan, tiba-tiba tangan Ervan menarik lengan Lisa. Kakinya yang baru mempercepat langkah, berhenti dalam sekejap. Namun jantungnya masih berdegup dengan kencang.
“Ini! Aku sudah beli untuk semuanya!” ucap Ervan lantas menyerahkan satu kantong plastik besar.
Koki muda itu kemudian berjalan santai meninggalkan Lisa.
“Hoi! Haruskah aku yang membawa ini semua?” panggil Lisa tanpa dipedulikan lagi oleh Ervan di sana.
“Banyak juga yang ia beli!” gumamnya yang sedikit mengalami kerepotan.
Lima botol air mineral berjejer rapi di atas meja dapur yang sempit. Akhirnya sekelompok orang di belakang layar pesta itu mampu menyajikan menu olahannya tersendiri. Mi rebus panas dengan telur, daun sawi dan suwiran daging ayam yang masih tersisa di dalam panci. Lisa, Ervan, Vina, Desi beserta pak Tomo sangat menikmatinya. Menu sederhana ini rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan lezatnya hidangan para tamu di atas meja. Dan kondisi di luar kini, hujan rintik-rintik menyapa malam mereka yang telah merasakan sibuk, lelah juga lapar. Mereka bersantai sejenak meski pada ujungnya, pegawai-pegawai Amanda’s resto harus disibukkan lagi setelah selesai acara.
Para pengunjung sudah keluar dari kedai makan dan pergi jauh bersama dengan mobil-mobil pribadinya. Sudah menjadi kewajiban dan hal biasa bagi para bawahan nyonya Amanda untuk bekerja sampai melewati jam tutup. Namun kali ini, mereka yang telah ikut bekerja keras menerima hadiah. Masing-masing pegawai Amanda mendapatkan satu kotak kue lapis stroberi yang menggiurkan. Siapa lagi kalau bukan dari kak Niko dan ibunya.
Nyonya Amanda kemudian memperkenalkan nama para pegawai restonya satu per satu. Semua turut berterima kasih kepada bu Melati, ibunda dari kak Niko atas pemberiannya. Meskipun merasa senang dan bersyukur, tampak juga gurat kesedihan beliau tanpa kehadiran suaminya yang telah wafat.
Tak berselang, Niko berbicara. “Ibu masih ingat kan, dengan Lisa? Karyawan Amanda yang aku ceritakan waktu itu.”
Bu Melati memastikan lagi siapa yang dilihatnya. “Oh! Jadi kamu Lisa yang menemani Niko jalan-jalan?” sapanya dengan memandang ke arah Lisa dalam jarak dekat.
Lisa mengangguk pelan. “I, iya!”
“Terima kasih banyak karena sudah membuat Niko sangat senang hari itu!” ucap si Ibu.
“Senang?” heran Lisa.
Niko tersenyum simpul mendengar pengungkapan dirinya oleh ibu kandung sendiri. Ia lalu berkata, “Saya dengar bunga dekorasi bahkan kalung yang ibu pakai sekarang, Lisa juga yang secara khusus memilihkannya.”
“Benarkah? Kamu baik sekali! Pas dengan selera saya. Dan bunga Marigold ini, saya sangat menyukainya. Warna oranye dan kuning yang paling saya suka. Saya benar-benar puas dengan pelayanan resto milik Amanda ini. Kamu hebat, Amanda! Kalian semua juga. Sekali lagi terima kasih banyak atas kerja samanya!” tutur bu Melati yang berulang tahun.
Berulang kali ibu kandung dari Niko tersebut mengucapkan terima kasih. Beliau merasakan kehangatan serta keakraban yang menghapuskan duka kehilangan di dalam keluarganya sendiri. Sampai kak Niko dan ibunya menuju ke mobil hingga berpesan kepada semua anak buah Amanda agar kapan-kapan bisa mengunjungi kediaman mereka.
“Terutama untuk kamu, Lisa! Saya dan Niko sangat mengharapkannya” kata bu Melati dengan ramah namun cukup serius.
Mungkin saja karena beliau tidak memiliki seorang anak perempuan, jadi merasa sangat senang dengan kehadirannya. Menurut pandangan Lisa sendiri.
“Terima kasih atas undangannya. Kapan-kapan kalau ada kesempatan, saya akan bertamu ke rumah Ibu Melati.” jawab Lisa guna menyenangkan hati.
“Saya tunggu, ya!” janji ibu kandung kak Niko.
Sementara putra di sampingnya itu hanya tersenyum memandangi Lisa dan kawan-kawan yang mengantar kepulangan mereka. Ibu dan anak tersebut pergi, semua ikut membubarkan diri. Lekas bersih-bersih jangan sampai pulang ke rumah sampai pagi. Tapi ternyata, nyonya Amanda masih punya hati juga. Ia tahu para bawahannya sudah tekun bekerja sejak pagi, jadi mereka dibebastugaskan hanya untuk malam ini. Tak payah cuci-cuci. Semua sisa pekerjaan diselesaikan full esok hari. Kebetulan besok adalah tanggal merah jadi kedai makan tutup. Kalau begitu seharusnya Lisa, Ervan, Vina, Desi dan pak Tomo libur. Tapi karena piring gelas kotor dan hal-hal lain, mereka tetap harus masuk. Jadi, tidak ada yang namanya makan gratis di dunia para pegawai sini.
Pada saat pulang, Lisa berdiri di jalan depan kedai makan yang sepi. Ia tersenyum manis, lalu Ervan yang terakhir mengunci pintu dibuat bertanya dengan perilaku Lisa di sana.
“Kamu sedang menungguku atau hanya ingin menikmati kelap-kelip lampu Tumblr seperti anak kecil!” sindir si Ervan yang berjalan mendatangi rekan kerjanya.
Lisa terus menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengatakan sesuatu. “Aku hanya tersadar kalau acara tadi sudah berjalan dengan sangat lancar. Dan rasanya, semua kebetulan ini saling menyambung satu sama lain. Warna bunga oranye dan kuning. Inisial kalung berhuruf M, ternyata untuk Melati. Lalu lampu hias yang kita pasang di luar itu juga bercahaya kuning. Kalung hadiahnya juga! Benar-benar ulang tahun emas perayaan yang ke-50, bukan? Lihat sketsa rangkaian lampu yang kau buat! Kalau dari jauh semacam siluet wajah dan tatanan rambut dari ibunya kak Niko, kan!” tunjuk Lisa setelah merincikan apa yang ia lihat dan ia nilai.
Seketika raut muka Ervan muram, mendengar Lisa mengucapkan nama Niko di hadapan mata.
“Kamu mengada-ada. Itu semua hanya khayalanmu belaka! Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.” omel si Ervan.
“Semua pasti sudah direncanakannya dengan matang.” kata Ervan di dalam hati.
“Dia marah lagi?” gumam si Lisa karena teman itu terus diam saja dan berlalu mendahuluinya.
Lisa cepat berlari menyusul langkah Ervan tersebut karena sudah jauh meninggalkannya. Ervan berjalan dengan jangkah yang panjang, hingga dia tak sanggup lagi mengejar.
“Aku lelah. Hei! Jangan mentang-mentang karena kamu lebih tinggi ya!” protes si Lisa.
Ia ditinggalkan. Satu langkah panjang Ervan saja sudah tiga kali dari langkah pendek Lisa. Pemuda itu berhenti di tempat sementara temannya masih terduduk di atas jalan trotoar. Ervan berbalik arah dan tertuju kepada Lisa yang terengah. Ia mengulurkan tangan, meminta sang Gadis untuk bangkit lagi dan berdiri. Lisa tak menyambutnya karena sekarang dia yang dibuat merasa kesal. Ia berdiri namun dengan kekuatan sendiri.
“Aku tidak tahu seberapa besar rasa tidak sukamu kepadanya. Tapi paling tidak, beri tahu aku alasan kenapa kamu tiba-tiba marah kepadaku!” Lisa bilang seperti itu.
Lisa menerka-nerka. “Kamu merasa cemburu dengannya, begitu?”
Ervan malah mencoba bersikap kalem. “Aku tidak iri atau semacam apalah itu namanya. Aku hanya tidak merasa senang jika kamu membahas orang itu di depanku.” begitu tuturnya.
“Kamu aneh! Kenapa tidak kamu jelaskan saja dengan terang? Sebenarnya masalah di antara kalian itu apa? Kamu dan Niko!” tegas Lisa yang kembali membuat Ervan mendengar namanya dengan emosi.
“Apa kamu tidak pernah mendengarkan peringatanku? Kita harus berhati-hati padanya. Dia orang berbahaya yang mempunyai modus untuk membuat orang lain celaka. Kamu tidak mengingat pesanku kemarin? Aku memintamu untuk menjauhinya tapi kenapa tetap saja kamu selalu menyebut-nyebut namanya.” berisik Ervan.
“Kita tidak punya pilihan untuk menghindari pertemuan dengannya. Kak Niko itu sudah seperti teman bagi bos Amanda! Kalau kamu memintaku untuk menjauh, aku tidak bisa!” ujar si Lisa secara gamblang.
“Terserahlah! Aku tidak bisa bercerita lebih banyak lagi dari ini.” tutup Ervan.
“Van! Ervan!” panggil Lisa, namun pria itu justru semakin cepat-cepat menjauhinya.