Pohon cemara di tepi danaunya memiliki aroma khas yang segar saat tertiup angin. Namun siang itu, justru kecanggungan yang muncul. Dua anak muda di sana bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya sebatas teman. Iya, teman!
Entah dari mana Ervan mendapatkan sebuah tikar gulung yang kini digelar di atas bayang hitam pohon cemara. Ervan merasa geli untuk mengatakannya, tetapi ia mengaku baru pertama kali ini berlibur bersama teman di luar. Lisa tidak percaya begitu saja. Buktinya Ervan bisa bergaul akrab dengan murid-murid SMA di tempat kerjanya dulu. Jadi tidak mungkin kalau Ervan tidak punya teman yang bisa diajak pergi. Tetapi pria itu memang mengatakan apa adanya, karena yang ia maksud adalah teman wanita.
Tanpa diundang, seorang penjaja makanan berkeliling dengan mangkuk ayam jago dan sumpit yang dibawanya.
“Mau pesan bakso atau mi ayamnya, Mbak! Mas!” tawar si Pedagang.
Ervan berbalik menawari Lisa. “Kamu mau makan?”
“Boleh!” sahut Lisa.
“Ehm.., pesan bakso 2 porsi. Minumannya ada juga, Bang?” tanya Ervan.
“Ada teh botol jika bersedia.” katanya.
“Tidak apa. Tolong 2 juga!” pinta si Ervan.
Abang penjualnya kembali ke warung makan yang ditinggalkan kepada seorang rekan. Mungkin baru sepi, jadi salah satu ada yang jemput bola menarik pembeli.
Piknik dengan Ervan seperti ini, tentu sangat kontras bila dibandingkan saat Lisa menemani kak Niko jalan-jalan di kebun raya waktu itu. Mulai dari tempat mereka makan, menu yang ditawarkan dan nuansa alam yang dihadirkan. Meski terkesan lebih sederhana, Lisa sama kikuknya dengan masa lalu bahkan jauh lebih kikuk lagi. Saat jalan berdua dengan Niko, wisatawan lain datang dengan anggota keluarga. Sedangkan ketika duduk-duduk di samping Ervan, wisatawan di sekitar adalah pasangan anak muda yang berpacaran.
Apa Ervan serius, mengajak Lisa ke tempat seperti ini? Bisa jadi Ervan justru tidak berpikir sampai sejauh itu. Wajah cerianya polos seperti anak kecil yang sangat senang diajak ke tempat wisata oleh kedua orang tua. Hingga kemudian, Lisa mulai mengungkit masalah yang belum terjawab.
“Apa di masa lalu kamu pernah mengenal kak Niko?” tukas Lisa begitu saja tanpa kalimat pembuka.
“Apa?” balas Ervan layaknya pura-pura tak mendengar.
Lisa pun dengan sabar mengulangi pertanyaan. “Apa kamu di masa lalu pernah mengenal kak Niko?” ujar Lisa sedikit lebih keras.
Sekarang, Ervan ingin mengelak lagi dan lari dari situasi. “Boko? Tidak! Aku belum pernah ke candi Ratu Boko.”
“Lisa, kamu butuh tisu? Biar aku belikan dulu!” kata Ervan hendak bangkit dari tempat duduknya.
Lisa mencegah dia pergi dengan menarik pergelangan tangan. Lisa menggelengkan kepala, tanda bahwa ia tidak membutuhkan tisu untuk saat ini. Ia hanya ingin jawaban jujur atas rasa permusuhan yang terjadi. Ervan tidak bisa melarikan diri, sementara Lisa sudah sangat menantikan penjelasannya secara pasti.
Saat yang membuat deg-degan itu, ia berseru. “Ah! Baksonya sudah datang. Sini, Bang! Wah, panas!” sambut Ervan menerima dua mangkuk makanan berkuah.
Diturunkan menu siang beserta teh botolnya dari atas nampan. Abang itu pergi, lalu Ervan segera memimpin doa sebelum makan. Rasa payah menantikan jawaban, alhasil Lisa turut makan karena Ervan terlanjur lahap untuk menghabiskan. Selama itu, tidak ada kata terucap dari mulut keduanya. Hanya pujian atas rasa makanan yang enak, masih panas dan terasa segar di kerongkongan.
Dua mangkuk berwarna putih ditumpuk. Sepasang sendok dan garpu juga telah saling beradu. Ervan kekenyangan sampai tak bisa menahan sendawa. Ia kira akan malu sendiri, ternyata Lisa juga spontan melakukan hal yang sama bukan sebab kebiasaan. Tapi porsi baksonya memang lebih dari biasa.
“Sekali ini saja, tolong dirahasiakan!” canda si Lisa lanjut bersendawa.
Ervan mengiyakan saja sambil tertawa. Pemuda itu lantas berdiri untuk mengembalikan alat makan milik si Abang. Ervan memberikan pembayaran dan menanti sebentar untuk uang kembalian. Abang penjual bakso itu tiba-tiba malah sok tahu.
“Tadi pacarnya, ya Mas!” ujar si penjual Bakso dan mi ayam tersebut.
“Hah? Bukan! Dia teman saya di tempat kerja.” Jawaban Ervan.
“Oh! Saya kira pacarnya. Pasti Anda berdua masih jomblo! Sudah, Mas! ‘Tembak’ saja Mbaknya! Mas menyukainya, kan?” terka si Abang tanpa mengada-ada.
“Tapi kami hanya berteman. Sungguh! ujaran Ervan terdengar meragukan.
“Kelihatan, kok! Sekarang waktu yang tepat untuk menyatakan cinta. Ini, uang kembaliannya!” Abang penjual itu memberi Ervan satu koin uang pecahan seribu.
Ervan kembali lagi menuju Lisa. Namun langkahnya menjadi kaku juga terlalu malu untuk bertemu. Ervan hampir mundur dan ingin menemui Abang tadi untuk meminta saran yang lebih bermutu. Di saat itu, Lisa justru menampakkan raut kesedihannya karena Ervan tidak mengindahkan rasa keingintahuan. Sang Pria sadar, bahwa Lisa penuh dengan tanya.
“Bagaimanapun caranya, aku tetap tidak sanggup memberitahukanmu. Hanya sampai di saat yang tepat, baik kamu mendengar secara langsung dariku atau terpaksa dari orang lain.” ucap Ervan dalam benak sendiri.
Ketika ia menghadap Lisa, tanpa diduga Ervan membuat satu pernyataan resmi.
“Aku tidak akan memaksamu lagi untuk menjauhkan diri dari Niko! Tapi dengan satu syarat.”
Apa ini saatnya Ervan untuk menaikkan status Lisa menjadi seorang kekasih? Dia menepuk bahu Lisa untuk bersungguh-sungguh meyakinkannya.
“Aku!”
“Aku...!”
“A...ku!”
“Aku ingin bertukar posisi kerja denganmu!” bongkar Ervan saking gugupnya.
Lisa sampai terpingkal mendengarnya. “Tidak bisa, Van! Aku tidak bisa memasak seenak buatanmu atau pak Tomo. Nanti para pengunjung malah kabur, lagi! Kita bekerja sudah sesuai kemampuan masing-masing. Tidak bisa lagi!” tanggapan si Lisa.
Ervan harus pura-pura ikut tertawa sambil mengusap-usap pelipisnya. Kalimat dari Lisa tersebut, entah mengapa sama saja berarti bahwa Lisa menolak Ervan untuk menjadi pacar dan akan lebih baik jika berteman saja.
Dalam rekayasa humor tidak lucu, seketika langit mendung disambut bunyi guruh yang menderu. Lisa maupun Ervan segera menggulung tikarnya untuk dikembalikan ke persewaan. Namun kepergian mereka terhalangi. Bukan sebab hujan yang buru-buru turun ke kawasan danau tersebut, melainkan Niko memanggil Lisa dari depan kafe. Pria itu melambaikan tangannya.
Lisa memperhatikan bagaimana reaksi Ervan. Inilah waktu tepat bagi Ervan untuk membuktikan janji bahwa Lisa tidak perlu menjauhi satu sosok di sana. Walau syarat yang sesungguhnya belum dipenuhi.
“Mari kita temui dia!” Ajakan Ervan tak biasa.
Ketiga orang itu masuk ke ruangan kafe. Sepertinya Niko sudah berada cukup lama di tempat. Tampak dari secangkir kopi yang sedikit lagi habis, bersanding piring kecil dengan bekas kue dan krim encer. Niko menawarkan traktiran kepada Lisa dan Ervan. Tapi di kafe tersebut hanya menyediakan minuman racikan dari biji kopi, sementara Ervan merasa paling tahu kalau Lisa tidak menyukai. Ia menolak tawaran minum kak Niko dengan sopan santun yang dipaksakan.
“Tapi sepotong kue es krim boleh juga sebagai makanan penutup kami!” gengsi si Ervan.
Kak Niko lantas memesankan satu menu pencuci mulut, sama seperti yang sudah dihabiskannya. Sembari menunggu, kenalan baik Amanda tersebut dengan santai membuka ruang obrolan.
“Saya merasa sangat senang kita bertiga bisa berkumpul seperti ini. Hal yang pasti sulit terjadi, bukan? Bolehkah jika saya menyebut ini sebuah keberuntungan?” Kalimat Niko yang penuh sindiran.
“Bagaimana menurutmu, Lisa? Kamu juga berpikir begitu?” tanya kak Niko.
Lisa setuju namun sadar bahwa keadaan saat ini sungguh tak mengenakkan. Ervan tetap diam. Niko berlanjut menanyakan tentang kehidupan mereka di tempat kerja. Sama seperti sebelumnya, hanya Lisa yang memberi banyak tanggapan. Hingga tiba, waktu di mana Niko mulai mengusik kehidupan pribadi di dalam keluarga. Kak Niko mengingatkan Lisa pada cerita lama tentang dirinya.
“Kalian sudah tahu, kalau ayah saya wafat beberapa bulan yang lalu. Sekarang kami tinggal berdua saja di rumah, dengan seorang asisten rumah tangga dan tukang kebun yang merangkap sopir. Kamu tahu, Lisa? Ibu sekarang menjadi sangat manja. Beliau ingin aku selalu bisa menemaninya ke mana saja. Bahkan aku yang lulusan universitas luar negeri pun tidak sempat untuk mendapatkan pekerjaan tetap di tanah air sendiri. Jadi, aku memutuskan untuk merintis usaha baru sambil mengelola perusahaan milik Ibu. Selama ini beliau tekun menggeluti bisnis sedang mendiang ayah sudah senang dengan status pegawai negeri sipilnya.” Pengisahan kak Niko.
“Memangnya ayah kak Niko pegawai negeri di kantor mana?” tanya Lisa.
“Balai perpustakaan milik Pemkot.” tegasnya.
“Gedung yang terbakar itu, kan?” perjelas Lisa.
“Benar. Tapi lebih tepat disebut sengaja dibakar. Dan ayahku telah menjadi korbannya.” ungkap Niko.
“Apa? Saya turut prihatin yang sedalam-dalamnya. Maaf, baru sekarang mengetahui kebenaran ini! Pelakunya pasti orang yang sangat jahat. Dia seharusnya sudah mendapat hukuman yang setimpal.” tutur si Lisa.
“Tapi sayang, orang jahat itu belum ditangkap. Pun kelihatan kalau ia tidak pernah mau menyerahkan dirinya ke kantor polisi.” beber kak Niko.
“Apa kak Niko sudah tahu identitas si Pelaku?” desak Lisa.
Kak Niko melihat ke arah Ervan dan mengatakan, “Tidak! Aku belum yakin siapa pelakunya. Sampai tersangka itu datang sendiri dengan sebuah pengakuan.”
“Oh, begitu!” pasrah gadis yang bertanya.
Pesanan mereka akhirnya datang. Niko mempersilakan Lisa dan Ervan untuk menikmati makanan, sementara ia meminta tambahan satu cangkir lagi untuk kopi panas. Lisa senang menikmati kue es krimnya. Tapi dua pria yang duduk berhadapan itu masih melemparkan tatapan saling mengancam.
“Kamu tidak mau mencicipinya, Ervan? Bukankah kamu sendiri yang menyarankan!” ujar si Niko.
“Aku berharap tidak akan mengalami keracunan setelah memakan menu yang sama denganmu!” gumam Ervan yang menahan kesal sejak tadi.
“Kalau pemilik kafe mendengarnya, dia bisa marah!” sambut gurauan Niko.
Ervan mengambil suapan pertama. Dia juga tidak mau kalah dalam bercerita kepada Lisa.
“Ayahku telah meninggal sekitar empat tahun yang lalu.” ucap Ervan hingga membuat Lisa tersedak.
Mereka sedang membandingkan kesedihan satu sama lain, atau apa?
“Beliau dijebak seseorang hingga harus mendekam di penjara.” tambah si Ervan.
Dengan sedikit kekakuan, Lisa juga mengucapkan rasa duka cita dan meminta maaf karena baru sekarang mengetahuinya. Lisa merasa seperti tidak memperhatikan kesulitan hidup yang banyak dirasakan oleh teman sendiri.
“Orang yang menuduh ayahmu itu, pasti juga orang jahat. Dia akan mendapat balasannya nanti! Kamu sudah membuat laporan balik?” kata-kata Lisa.
“Keluarga kami tidak akan pernah menang, melawan orang berduit dengan cara melaporkannya ke polisi.” sesal si Ervan.
“Lalu sekarang, apa kamu juga tinggal bersama ibumu?” tanya si Lisa.
Ervan menyuapkan satu sendok bagian kue ke dalam mulut sendiri.
“Tidak. Ibuku sudah lama meninggal karena sakit, jauh sebelum ayah wafat.” jawabnya.
Mereka bertiga terdiam.
“Ya begitulah, kabar tentang keluargaku.” singkat Ervan.
Lisa telah menghabiskan sepiring kecil makanannya terlebih dulu. Kini ia yang berganti membagikan kisah dari keluarganya kepada dua orang di lingkaran meja.
“Kalau aku, aku masih merasa tinggal bersama dengan kedua orang tuaku di rumah. Tapi kami tidak pernah terlihat berkumpul lagi seperti keluarga yang lainnya. Mungkin ayahku terlalu marah karena aku dan ibu merencanakan pesta perayaan tanpa melibatkan dirinya. Ayah bahkan sengaja tidak ingin kami beritahu. Ibu pasti sangat kesulitan untuk membujuknya, karena beliau juga tidak pernah bisa menyapaku lagi. Aku selalu pergi dan pulang ke rumah dengan ucapan salam yang tak sekalipun mendapat jawaban dari mereka. Seolah-olah, aku hanya hidup sendirian di rumah.” Curahan hati seorang Lisa.
Ervan menghabiskan makanannya. Kesan mendalam dari tiga cerita yang berbeda tidak menghilangkan nafsu makan begitu saja. Lisa pikir, mereka bertiga dipertemukan karena masalah yang sama yaitu tentang keluarga.
“Kalau demikian, akan sangat bagus bila kita bertiga sama-sama saling menguatkan.” saran Lisa untuk merukunkan kembali hubungan antara Ervan dan kak Niko.
Namun ide dan sikap positifnya hanya muncul pada diri Lisa. Karena bukan kesedihan dan rasa kasihan yang diharapkan Niko dari penuturannya. Ia ingin mendapatkan keadilan. Sementara Ervan ingin membuktikan sisi kebenaran.
Hawa semakin panas. Meski mendung, hujan tak kunjung turun sampai ketiganya berpisah. Lisa kembali berdua dengan Ervan. Tumpangan dari kak Niko ditolak sepihak, karena Ervan mengaku keduanya sudah ada janji yang harus ditepati.
Berjalan dan berjalan kaki lagi. Kenapa pula hari ini Ervan tak terpikir untuk mengendarai motor jika memang berencana pergi dengan Lisa? Sehingga gadis itu tak terlanjur lelah meski perutnya merasa kenyang. Ini bukan efek terlalu banyak makan. Hanya rasa malas menggelayuti badan setelah lembur hampir setengah hari pada agenda liburan.
“Kamu sebenarnya tidak ada niat mengajakku pergi ke tempat lain, bukan? Berbohong dengan alasan untuk menghindari kak Niko lagi.” tebak Lisa dalam perjalanan tak tentu arah mereka.
“Kau tahu?” terkejut Ervan.
“Tapi kita memang sedang membuat perjanjian sebelumnya. Satu syarat agar kamu tak perlu susah-susah untuk menjauhi anak dari pemilik kontrakan itu.” katanya dengan terus terang.
Lisa merasa harus menertawakan omong kosong si Ervan. Untuk apa mereka membuat persyaratan demi hal sepele seperti itu?
“Aku kan sudah bilang, kita tidak bisa bertukar posisi di tempat kerja!” celoteh Lisa.
“Bukan itu! Aku mau kita pacaran!” sontak Ervan keceplosan.
Ha? Gadis itu tak pernah dibuat pusing oleh seorang laki-laki. Sekarang ia hanya ingin pulang, bukan menerima pernyataan dari hati pria bernama Ervan. Tapi pemuda tersebut tidak ingin terburu-buru. Ia memberi waktu bagi Lisa untuk memberikan jawaban dari pernyataannya esok lusa.
Lusa? Lisa bahkan tidak yakin pertemuan keduanya akan terjadi.