Sebelum senja, Lisa dan Ervan sudah tiba di masing-masing rumah. Lisa merasa lebih segar setelah mandi dengan air dingin juga berkeramas. Sambil mengeringkan rambutnya yang masih lembap dengan hair dryer, ia membaca kembali novel pinjaman waktu itu.
... Sosok wanita dan gadis kecil mulai tersesat bersama, menuju penumbra gerhana.
Malangnya... Remang cahaya di sana tak membantu sama sekali. Sang wanita dewasa mencari sebelah tangan yang hilang.
Di mana tangan si Anak tadi. Namun tokoh wanita itu masih bisa merasakan kehadiran jiwa gadis kecil yang telah keluar dari raganya. Ia berada di tempat. Tepat di depan mata wanita yang memakai kardigan merah.
Namun dirinya tetap saja tak tahu. Hingga, kedua pupil mata hitam yang melebar tersebut, ditiup sekelebat angin secara bersamaan.
Sangat menyilaukan! Cahaya itu terlalu terang dan membutakan. Tapi anehnya, penglihatan si Wanita justru menjadi jernih. Pupil mata yang mengecil, kini mencermati keadaan sekelilingnya. Walau hanya putih saja dengan banyak bulu burung yang beterbangan. Unggas macam apa ini? Warna bulunya seputih salju, tapi tulangnya menyirip bak tulang ikan.
Entah siapa yang berbisik! Ia masukkan tangan kanan ke dalam tumpukan dan tanpa ragu mendapatkan satu batang bulu yang berujung runcing. Bagaimana pula, seketika dari satu titik bagiannya keluar tinta merah yang menyala.
Jari telunjuk dan ibu jari mulai bergerak. Terus menggulirkan coretan merah yang bersambung juga terpisah. Tangannya menulis indah, melayang-layang di udara hampa. Membuat orang yang menulis sendiri, sulit untuk percaya.
PENIPU! PEMBOHONG! DUSTA! SEMUA PERASAANMU ADALAH PALSU! DASAR PEMBUNUH!
Seketika muncul api yang melalap semua kalimatnya hingga padam. Dari balik asap, dua orang pria datang berlumuran darah. Mereka tampak seperti lelaki paruh baya.
“Pergilah, Nak! Menjauhlah dari putra-putra kami!” Begitu seruan keduanya dengan suara nan serak.
.....
Lisa sontak terbangun. Ia nyaris tertidur lagi dengan raung bunyi dari mesin hair dryer. Lisa lekas mematikan alat pengering rambutnya yang tergeletak di atas meja. Kenapa selalu begini jadinya? Lisa sampai beranggapan, novel ini digarap dengan genre horror atau dongeng sebelum tidur. Karena sering kali ia langsung mengantuk pada bagian tengah-tengah cerita.
Diamati dengan jeli buku milik Ervan tersebut. Biasa saja! Tidak ada penanda khusus dengan kertas warna-warna ataupun kata yang disorot menggunakan stabilo. Tapi Lisa baru sadar kalau pembatas bukunya tampak sedikit ganjil.
( ar-ya-a-di-guna-at-ma-ja )
Begitulah kumpulan huruf-hurufnya yang dilingkari, bila disusun dari urutan kiri ke kanan. Terkejutlah Lisa. Susunan suku kata ini adalah nama lengkap dari ayahnya kak Niko. Tertulis pula di sebaliknya, the X-day of july 2021! Apa maksudnya? Ervan dan kak Niko baru bertemu di bulan Oktober. Jadi benar jika Ervan mempunyai koneksi, terlebih dengan ayahnya Niko saat masih hidup. Tetapi perlu diingat bahwa, tepat di bulan Juli pula pak Arya meninggal dunia.
“Mungkin pelaku yang disangkakan dalam obrolan kak Niko tadi siang adalah sengaja mengarah kepada Ervan.” gumam Lisa yang begitu sulit untuk menerima kesimpulan ini.
Sekarang, Lisa merasa tidak ingin lagi mengetahui kelanjutan cerita dari novel milik Ervan. Perasaannya begitu ditakuti oleh satu alat bukti yang belum terkonfirmasi. Lisa ingin segera mengembalikan buku itu kepada sang Pemilik.
Pegawai kedai makan tersebut turun ke lantai bawah lantas menuju keluar rumah. Ia tenteng bukunya sambil berlari. Lisa mengetuk di depan rumah Ervan. Ketika teman prianya itu membuka pintu, Lisa secepat kilat melemparkan buku novel yang dipinjamnya ke tubuh Ervan.
“Terima kasih!” ucapnya terus berlalu.
Lisa tinggalkan Ervan yang berekspresi dungu.
“Hei! Kenapa ini!” teriak pria tersebut sampai ke jalanan.
Lisa berlari ke dalam rumahnya, kemudian langsung mengunci pintu utama. Ia merasa ketakutan sendiri. Bagaimana ini? Apa sekarang giliran Ervan yang harus ia jauhi? Lisa segera naik ke kamar. Tapi pembatas buku tadi, ternyata malah ketinggalan di atas meja.
“Aduh! Bagaimana sekarang?”
Lisa bingung, apakah harus mengembalikannya sekarang juga atau dibuang sekalian ke tempat sampah! Tanpa punya cara lain lagi, akhirnya Lisa memotong kertas persegi panjang itu menjadi serpihan kecil. Lalu diterbangkanlah mengikuti arah angin lewat jendela kamarnya di lantai 2. Segera ia tutup daun jendela, agar tak kembali masuk ke sana.
Kelakuan Lisa menggambarkan jati dirinya di masa lalu. Ia tidak bisa mempercayai orang. Walaupun belum terbukti, kini dirinya juga menaruh curiga.
“Ervan! Tidak tepat jika aku berprasangka buruk padamu. Tapi, sama seperti kalimat cerita dalam novel tadi. Aku takut kamu adalah salah satu cerminan dari umpatan yang ditulis.” gelisah Lisa.
Selanjutnya, apa yang akan menjadi jawaban Lisa untuk esok lusa. Terlalu jelas kalau dia akan menolaknya. Tapi dalamnya hati siapa tahu, seperti cinta yang bisa datang dengan tiba-tiba. Lisa pun mengambil ponsel miliknya.
Des! Bisa kita bicara di luar?✓✓
Bisa! Kapan, Sa?✓✓
Besok, sepulang jam kerja.✓✓
Oke!✓✓
Selesai membuat janji dengan Desi, Lisa iseng mencari nama Ervan di mesin pencarian. Tanpa tahu atau lupa nama belakang Ervan. Begitu muncul, banyak sekali hasil penelusurannya. Lisa cari yang lebih spesifik masuk ke platform media sosial. Dari sekian banyak nama akun dan foto profil identitas, ada satu yang mengusik pandangan Lisa. Tiba-tiba bel pintu depan berbunyi.
“Vina!” terkejut ia ketika membuka pintu untuk tamu.
Vina datang dengan dua kantong plastik yang penuh dengan barang belanjaan. Wajah gadis itu tampak bersemangat namun sekaligus menyembunyikan rasa tak enak.
Lisa maupun Vina lalu menyibukkan diri di belakang. Mereka ke dapur rumah orang tua Lisa tersebut, untuk membuat sedikit camilan yang dinikmati menjelang petang.
“Maaf, Sa! Aku ke sini hanya merepotkanmu saja.” kata Vina.
“Santai saja, Vin! Aku justru senang kamu mau menginap di sini.” jawab Lisa.
Vina mengeluh, “Kalau saja kakakku yang preman itu tidak menunggu seharian di depan tempat kos!”
“Memangnya kalian selalu bertengkar seperti ini jika bertemu?” kulik si Lisa.
“Bukan lagi! Dia hanya datang kalau lagi butuh cuan. Sayangnya jika sudah dikasih, uang itu hanya dihabiskan untuk berfoya-foya dengan teman-teman yang tidak jelas kepentingannya.”
“Aku pernah memergoki dia minum-minum sama temannya di dalam kamar. Apa tidak jijik ya? Warna kuning seperti air kencing. Tak sengaja mencium baunya saja, lubang hidung pun tak sudi!” kecam si Vina.
“Terus, bagaimana nasibnya setelah itu?” tanya sang Tuan rumah.
“Ya, aku langsung mengadukannya sama orang tuaku dan langsung dimarahi. Makanya, sekarang dia memilih hidup di jalanan. Kakakku tidak mau pulang ke rumah, tapi sialnya dia selalu menemukan tempat di mana aku berada. Dan begitulah seterusnya, seperti yang kau ketahui alasan aku sampai ke sini.” jelas Tamu tak diundang tersebut.
Lisa lantas menyuguhkan dua gelas minuman, sementara Vina telah selesai melapiskan selai pada dua tangkup roti tawar panggang. Kedua gadis menikmati roti dengan latte panas mereka di meja makan. Si Tuan rumah juga memberi tahu Vina, bahwa ia baru saja berkirim pesan dengan Desi. Ia mengaku, ada yang ingin dibicarakan dengan teman mereka itu besok malam.
Lisa ingin tahu seberapa teliti Desi yang kerap mengamati gerak-gerik Ervan di tempat kerja. Entah benar-benar seorang yang patut dicurigai sebagai pelaku kejahatan atau tidak, Lisa hanya ingin mengidentifikasinya lebih dalam. Sang pemilik rumah berbagi cerita panjang lebar mengenai pengalaman hidupnya hari ini.
Sampai pada suatu kesimpulan, Vina bertanya. “Maksudmu, Ervan adalah pelakunya?”
“Aku masih belum yakin, Vin! Aku sendiri juga bingung. Apakah sejauh ini, aku hanya terbawa narasi dari kak Niko atau bagaimana? Tapi kalau benar, patutkah jika Ervan disalahkan?” Lisa bertanya-tanya.
“Tentu saja!” tanggapan Vina tanpa ada keraguan.
Lisa malah terdengar membela si Tersangka. “Ervan mengaku, ayahnya difitnah sampai harus masuk penjara. Beliau pun menjadi sakit dan meninggal di dalam sel tahanan.”
“Lisa! Sebagai anak, dia memang berhak untuk marah. Tapi tidak berarti boleh membalas dengan seenaknya. Cara semacam itu sudah bentuk kejahatan yang murni dilakukannya sendiri dan melampaui batas. Dia tidak bisa menutupi alasan hanya dengan menyalahkan perilaku orang lain yang menjadi pemicu konflik. Seharusnya jika merasa benar dan dikorbankan, Ervan membawanya ke ranah hukum juga!” tegas sahabat Lisa.
Lisa justru pesimis. “Mungkin realitas kehidupan membuat keadaan mudah bisa jadi lebih sulit dari yang kita pikir.”
“Mau bagaimana? Kita tetap tidak bisa menganggap benar perbuatan yang jelas-jelas salah, kan!” sambung Casilda alias Vina.
Lisa paham dengan apa yang tegaskan oleh sang Sahabat dekat.
“Eh! Telepon Desi, yuk!” usulnya.
Lisa menggapai smartphone di meja makan. Ujungnya, mereka berdua memutuskan untuk membuat panggilan video saja. Lama bagi Desi untuk mengangkat satu panggilan baru. Padahal kedua teman di satu atap ini sudah sepakat membuat Desi merasa iri.
“Nih, anak! Saat dibutuhin malah nggak mau jawab.” kesal Vina.
Sementara dari dalam sebuah kamar yang lain di kompleks rumah perkotaan itu, seorang Ervan tengah menyelidiki buku novelnya. Ia mengusap lembaran terakhir yang masih sangat diingat. Ervan tak terkejut lagi hanya disebabkan kertas pembatas buku novelnya hilang. Ia sudah yakin bahwa Lisa-lah yang menjadi penyebab.
Laki-laki itu tersenyum sendiri. Mengerikan sekali! Sorot matanya menjadi jahat. Ervan mengeluarkan masker dan topi hitamnya dari dalam laci. Ia pun menaruh dua lembar kertas bergambar sketsa Lisa dalam urutan ketiga dan keempat. Empat barang bukti, kini ada di atas meja pribadi.
Kemudian, Ervan menelepon tiga digit nomor darurat di buku kontak. Setelah panggilannya diterima, dengan kalem ia bicara.
“Halo! Polisi?”