Pagi yang berawan. Lisa tengah mengelap meja pelanggan sementara Vina justru menjadi orang terakhir yang datang ke kedai hari ini. Alih-alih mengucapkan salam, Vina duduk di kursi bersebelahan dengan Desi sambil menggerutu.
“Semalam hujannya deras banget ya? Mana listrik juga padam. Nih, sampai sekarang hp aku mati gara-gara tidak bisa isi ulang baterai!” Vina memperlihatkan layar hp mati.
“Mana belum sempat beli makan untuk sarapan pula!” keluh Vina.
Lisa tersenyum mendengar nada bicara Vina lalu ia pun menyelesaikan pekerjaannya.
“Ya sudah sarapan sana, itu ada bubur ayam di meja dapur! Tadi pak Tomo yang bawa. Desi juga sudah makan. Sini! Mana hp kamu Vin? Aku charge di ruangan atas sekalian.” ujar Lisa menawarkan bantuan.
“Wah, terima kasih Lisa! Memang kamu ini teman yang baik deh! Pak Tomo juga, sudah mau repot-repot bawa makanan. Tidak seperti yang duduk di sebelah nih, dandan mulu!” sindir Vina kepada Desi setengah bercanda.
“Eh, biarin! Toh yang dirias juga wajah aku sendiri. Nih kalau kamu mau didandanin nih! Nih!” Balas Desi dengan menodongkan spons bedaknya ke arah muka si Vina.
Vina pun mengelak lalu segera menyerahkan ponselnya kepada Lisa. Ia pun berlari ke dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Setelah Lisa menuruni tangga dari lantai atas, Desi baru teringat akan satu hal penting. Ia memberitahu Lisa bahwa bos mereka mulai hari ini tidak datang ke kedai. Nyonya Amanda tersebut sibuk berkemas untuk pergi liburan besok. Mendapatkan dua tiket gratis berlibur ke Jepang dari sahabat karibnya yang akan berulang tahun pada minggu ini, tentu saja tidak akan pernah disia-siakan oleh beliau.
Begitulah alasan bagaimana keempat karyawan di Amanda’s resto, bisa bekerja tanpa adanya pengawasan langsung dari nyonya Bos.
“Pak Tomo ke mana ya?” tanya Vina seusai makan dan berjalan dari arah dapur.
Sebelum ada yang menjawab, pak Tomo sudah masuk dari pintu samping dengan membawa sebuah kardus berisi stok bahan tahan lama. Vina yang sudah kenyang spontan membantu pak Tomo, mengangkat beberapa buah kardus yang lain untuk disimpan ke dalam pantry. Lisa juga tidak mau ketinggalan sementara Desi kembali duduk di posisinya sebagai kasir dan penerima pesanan.
Sebelum nyonya Amanda pergi, rupanya ia telah mengurus semua keperluan untuk restonya tersebut. Biasanya setiap hari beliau giat berbelanja sendiri dengan mengendarai mobil pribadi. Kini suplai bahan-bahan masakan akan langsung dikirimkan oleh pemasok dan tentunya dengan berbagai rincian perhitungan yang telah dibuat oleh bos Amanda sendiri. Meskipun demikian, selalu barang yang diterima tetap dalam kondisi segar dan terjamin kualitasnya.
Jam 9 pagi, Amanda’s resto buka. Satu dua pelanggan mulai berdatangan. Paling ramai kalau sudah masuk jam makan siang atau sore hari hingga kedai makan tersebut tutup.
Pada siang hari itu, ada seorang pelanggan tetap mampir ke kedai dengan gembira menggandeng tangan seorang anak. Laki-laki dengan kumis tipis itu melihat bahwa seluruh meja telah ditempati. Dengan lapang hati ia memesan tiga bungkus makanan untuk dibawa pulang. Lisa kenal baik dengan orang tersebut dan menaruh hormat akan semangat hidup yang dimilikinya. Berjuang dari bawah bahkan sempat menjadi seorang tunawisma, kini beliau punya tempat usahanya sendiri. Meskipun masih sederhana namun ia sanggup menopang kebutuhan keluarga kecilnya. Dalam kesempatan lain ayah dari satu anak tersebut mengatakan tengah menanti kelahiran anak keduanya. Betapa senang dirinya saat tahu bahwa akan memiliki anak perempuan setelah bersyukur dikaruniai seorang putra pertama.
Vina dengan ramah menyerahkan tiga bungkus makanan yang telah dipesan. Ayah dan anak itu kemudian segera pulang dengan perasaan senang. Lisa melihat ke arah keduanya. Kepuasan mengikuti langkah kepergian pelanggan yang menuju pintu keluar.
Namun tanpa diduga, Lisa melihat ada seseorang yang berdiri mengawasi mereka di depan pintu kaca. Pria asing, tidak diketahui apa maksud dari kehadirannya berada di sana. Ia tidak lekas masuk ke dalam kedai tetapi juga tidak mau pergi dari tempat ia berdiri.
Lisa merasa heran serta sedikit waspada. Pria aneh tadi beberapa kali membetulkan posisi kacamata yang dipakai. Tampaknya ia sangat ragu dengan keputusan yang akan ia ambil.
Karena takut pelanggan lainnya akan merasa terganggu atau tidak nyaman, Lisa memutuskan berjalan keluar untuk bertanya secara langsung.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Tidak! Terima kasih!” ucap tamu tak diundang itu lalu kabur seperti orang yang ketakutan.
Kembali Lisa merasakan keganjilan. Ia pun segera masuk ke dalam terus menyapa beberapa pelanggan yang akan keluar karena telah selesai menikmati menu-menu makan siang di sana. Tidak lupa Lisa menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan para pelanggan.
“Silakan datang kembali” kata Lisa dengan senyuman hangat.
Para pelanggan tampak puas dengan kelezatan hidangan yang setiap hari kedai makan ini sajikan. Memang, masakan olahan tangan pak Tomo sudah teruji di lidah para penikmatnya. Begitulah hari-hari dilalui dengan pembeli yang datang silih berganti.
Jam 9 malam Amanda’s resto tutup. Semua pegawai pulang ke rumah masing-masing. Pak Tomo selalu dijemput oleh anak tertuanya dengan sepeda motor. Desi dijemput oleh sang Pacar. Vina yang kerap bersepeda atau terkadang naik bus malam hari, malam tersebut dijemput oleh temannya. Sementara itu dengan langkah kaki pemberani, Lisa berjalan sendiri pulang ke rumah. Sebenarnya kondisi jalan di jam-jam ini juga masih cukup ramai. Lisa telah terbiasa hidup di kawasan tersebut. Sangat aman di sana walau berjalan sendiri di malam hari. Bagi Lisa tidak pula butuh waktu lama untuk bisa sampai di depan pintu rumah.
Tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada perjalanan pulang kali ini, Lisa justru sempat bergidik dibuatnya. Pria muda itu sekali lagi muncul dihadapannya. Ia sedang berdiri di atas trotoar di bawah tiang lampu jalanan. Selayaknya rindu, tengah menunggu seseorang akan datang menghampirinya.
Lisa curiga sejak siang orang itu memang belum pergi meninggalkan tempat ini. Penampilannya masih sama. Lisa mencoba tetap bersikap tenang dan berjalan santai seraya mengabaikannya. Namun niat hati berubah.
“Maaf! Bukannya Anda yang tadi siang ada di depan kedai makan kami?” sapa Lisa secara sopan.
Si pria gelagapan menghadapi lontaran pertanyaan tersebut. Ia berusaha menutupi wajahnya dan hendak pergi.
“Tunggu!” Satu kata yang tak bisa menghalanginya untuk menghilang dengan cepat.
Tanpa sadar pemuda tadi menjatuhkan buku saku dari dalam tasnya yang setengah terbuka.
“Sungguh aneh!” kesan Lisa terhadap orang yang belum dikenal tersebut.
Lisa memungut buku kecil itu dan membawanya pulang. Siapa tahu mereka akan bertemu lagi esok hari.
Lisa masih kesulitan. Matanya yang terpejam sama sekali tidak bisa membuatnya langsung tertidur. Padahal ia sudah merasa cukup lelah dan mengantuk. Tiba-tiba Lisa terpikirkan kembali dengan buku saku yang tadi. Ia pun membuka-buka lembaran untuk melihat isi buku, mungkin saja Lisa bisa menemukan nama si Pemilik.
Kosong! Buku masih sangat bersih dengan halaman-halaman kertas putih yang polos. Tak ada catatan sama sekali. Namun hanya dari warna sampulnya kelihatan buku tersebut sudah cukup usang.
Lisa tersenyum. Seolah ia baru mendapatkan sebuah ide.
“Mungkin ini adalah sebuah buku rahasia. Jadi apakah aku harus menyiramkan air di atasnya lalu akan menampakkan tulisan atau hal-hal lain semacamnya?” Lisa menebak.
Seperti bercanda, Lisa memulai untuk melakukan uji coba. Ia menyemprotkan air pada lembar kertas halaman pertama. Benar saja kertas itu menjadi basah semua namun sayang tak ada tanda-tanda pesan rahasia yang terkuak. Sepertinya memang ini hanya sebuah buku saku biasa. Alhasil Lisa harus berupaya mengeringkannya agar kembali seperti dalam kondisi semula.
Keesokan pagi, Lisa telah siap untuk berangkat kerja. Pintu pun dibuka. Betapa terkejutnya ia tiba-tiba saja mendapati sosok manusia di muka pintu rumah. Pria yang ditemuinya sejak kemarin berada di sini. Tanpa basa-basi ia meminta kembali buku saku yang telah diambil Lisa. Hal yang hampir terlupakan. Kemudian Lisa lekas kembali masuk dan mengambilkannya dari dalam kamar.
“Sebenarnya kamu ini siapa?” tanya Lisa ingin tahu.
Laki-laki itu lalu menyimpan bukunya dengan baik ke dalam ransel.
Kali ini tanpa ragu ia menunjukkan satu kartu kepada Lisa. Tertera sebaris nama yang sangat familier dan ada logo kedai makan di bagian atasnya. Jelas kartu nama ini adalah milik nyonya Amanda.
“Nama saya Ervan. Saya akan bekerja di Amanda’s resto.” Perkenalannya sangat jelas dan tegas.
“Tapi, kenapa harus di depan rumahku?” batin Lisa menjerit.
Ervan juga menjelaskan bahwa selama ini mereka hidup bertetangga. Hanya berjarak beberapa rumah saja. Namun waktu yang tak pernah tepat untuk bisa mempertemukan keduanya. Lisa baru mengerti setelah Ervan menunjukkan letak rumah yang ternyata sering pula dilewatinya.
Lisa tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapinya. Bos sendiri tidak pernah mengabarkan tentang hal ini. Tapi tunggu dulu! Karyawan baru? Di kedai makan? Lalu di mana lagi orang ini akan diposisikan?
Lisa menunggu tanggapan dan informasi dari kawan-kawan.