Sudah lima hari Amanda’s resto ditinggalkan oleh pemiliknya. Entah kenapa para pegawai justru mengalami kelesuan, bermalas-malasan dengan smartphone dan riasan. Terkecuali pak Tomo yang selalu rajin mengelap satu per satu peralatan makan di sana. Dua hari ini kondisi kedai sangat sepi. Hampir saja tidak ada satu pelanggan yang datang dalam satu hari.
Semua terjadi semenjak Ervan masuk bekerja dimulai kemarin pagi. Air mukanya kini selalu tampak berseri-seri. Sifat Ervan yang ringan tangan dan bersahabat kepada semua, membuat ia mudah diterima dan cepat pula dalam beradaptasi. Sangat bertolak belakang dengan kesan awal pertemuannya bersama Lisa.
Ervan memiliki sertifikasi sebagai seorang juru masak. Lisa dan kawan-kawan percaya untuk memberikan posisi kerja selayaknya pak Tomo. Sebagai orang yang telah lama berada di bagian dapur itu, dengan senang hati memberikan pengetahuan mengenai menu-menu masakan yang ada di Amanda’s resto. Tidak terlalu menyusahkan karena Ervan juga cepat belajar.
Sebenarnya penambahan karyawan baru ini belum dikonfirmasikan secara pasti kepada bos mereka. Nomor pribadinya tidak bisa dihubungi. Desi juga sudah mengirimkan pesan melalui email, tapi dalam waktu 1x24 jam tak ada balasan. Bisa diketahui bahwa nyonya Amanda sangat ingin menikmati masa liburannya kali ini sehingga tidak mau diganggu dengan hal sekecil apa pun.
Sementara itu Ervan mengharapkan keputusan segera apakah ia jadi diterima atau tidak untuk bekerja di sana. Lisa, Vina, Desi serta pak Tomo bersepakat untuk menerima Ervan. Mereka mencoba percaya dan yakin dengan ucapan Ervan sebelumnya yang mengaku telah bertemu langsung dengan nyonya Amanda dan katanya beliau sendiri yang menawarinya pekerjaan. Ditambah lagi bukti bahwa Ervan memiliki kartu nama sang Pemilik kedai makan. Sementara para pegawainya tahu jika nyonya Amanda tidak pernah sembarangan memberikan kartu nama pada orang lain apalagi yang baru ditemui. Akhirnya keinginan Ervan pun terwujud.
Lisa merasa sangat bosan. Ia mendekati Ervan yang tengah berada di meja pelanggan paling belakang.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lisa.
Konsentrasi Ervan sempat terpecah. “Eh? Tidak. Em... Aku hanya sedang menggambar.”
“Gambar? Kukira buku kecil itu semacam buku catatan untuk menulis.” respon balik dari Lisa.
Ervan hanya tersenyum simpul. “Coba lihat, ini sketsa ruangan Amanda’s resto! Aku juga sudah buat gambar sketsa bangunannya tampak dari jalan di depan.”
Lisa melihat hasil goresan pensil pada buku yang ditunjukkan oleh Ervan. Ia pun mengakui bahwa pegawai baru itu memang punya bakat dalam bidang seni.
Hingga waktu sore tiba mereka masih saja tidak kedatangan pelanggan.
“Haruskah kita tutup kedai makan ini lebih awal teman-teman?” Usul Lisa.
“Apa kamu yakin? Nanti kalau bos tahu bisa-bisa kita semua dimarahi loh!” suara Desi mengingatkan dari arah meja kasir.
“Tapi kalau seharian kosong begini namanya buang-buang waktu. Mungkin baru besok para pelanggan ramai datang ke sini?” ujar Vina ingin memperkuat saran dari Lisa.
Ketiga wanita itu berdebat panjang.
“Selamat datang!” sambut Ervan kepada seorang pelanggan yang baru saja melewati pintu masuk.
Dengan cepat Desi menyingkirkan tas makeup dari atas mejanya.
“Silakan pesan dahulu makanan Anda di sini, Pak! Bapak!” pinta Desi.
Tapi pelanggan baru tersebut berlalu begitu saja dan langsung mengambil tempat duduk di salah satu meja yang tersedia. Sedikit menunggu, Vina lalu menghampiri dan menawarkan daftar menu makanan dan minuman yang bisa dipesan. Namun si Tamu menolak dan berkata tidak ingin memesan apa-apa.
Vina mundur kemudian bergantian dengan Lisa yang turut menawarkan hal serupa. Dua sampai ketiga kalinya sang Pelanggan itu tetap menolak dengan cara yang sama. Bersikap sangat dingin dan tatapan matanya tajam membuat dua orang pelayan kedai bingung untuk mengatasi keadaan.
Untuk yang terakhir kali Lisa memberikan pengertian terhadap orang tersebut. Lantas dipesanlah secangkir kopi hitam. Lisa pun pergi dan beralih ke ruang belakang.
Setelah membuka pintu dapur, “Pak Tomo, tolong buatkan kopi hitam panas satu! Nanti untuk penyajiannya letakkan juga satu buah sendok kecil di atas cawannya.” pinta si Lisa.
Pak Tomo menjawab dengan satu senyuman dan anggukan tanda mengerti kepada Lisa. Ervan yang berdiri di balik pintu dapur itu amat mengagetkan Lisa.
“Huh? Apa yang sedang kamu lakukan di situ? Bantu pak Tomo sana!” ujar Lisa menahan rasa kesal lalu menutup pintu.
Secangkir kopi dengan kepekatan rasa pahit akhirnya disajikan di atas meja si Pelanggan. Vina sedikit-sedikit mencuri pandang pada gelagat laki-laki sekitar usia 40 tahunan itu. Mengapa orang tersebut hanya diam saja? Tak terlihat ia ingin meminum apalagi sekadar menyentuh cangkir kopi pesanannya.
Tanpa ada yang tahu, tiba-tiba pelanggan tersebut sudah meninggalkan meja.
“Hah? Mana orangnya tadi? Aku lengah sebentar saja sudah menghilang!” Vina mengomel sendiri.
Dihampirinya meja nomor 3 tersebut untuk segera dibersihkan. Vina menemukan ada uang yang ditinggalkan oleh pelanggan tadi. Anehnya kopi yang telah menjadi dingin itu tidak berkurang sedikit pun. Jelas bahwa orang yang memesan sama sekali tidak meminumnya.
Namun sendok kecil yang dimintanya sudah berubah dari posisi semula. Bagian dalam sendok yang cekung itu kini menghadap ke atas. Ada noda serbuk putih pada bagian ujungnya.
“Lisa, haruskah kita membereskan semua ini?” Vina bertanya penuh keraguan.
Lisa tidak mengetahui apa sebab pertanyaan dari Vina yang tidak biasa, “Ada apa Vin? Sudah lakukan saja seperti biasanya!”.
Vina segera memindahkan semua peralatan minum tersebut ke atas nampan dan meninggalkannya di dekat wastafel dapur. Ia juga sempat membuang sisa minuman tersebut.
Pada malam hari setelah kedai makan ditutup, Lisa dan Ervan pulang bersama. Mereka berjalan melewati depan gedung perpustakaan yang masih terlantar dengan sekat garis polisi itu. Lisa menghela napas panjang saat memandangi gedung tersebut dalam remang cahaya lampu taman. Ervan berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang telah terjadi pada diri Lisa.
“Ada masalah?” tanya Ervan.
“Hem? Oh, tidak ada apa-apa! Sebenarnya waktu itu aku ingin pinjam buku novel di sana, tapi...” jawab Lisa.
Ervan dengan cepat memotong ucapan Lisa, “Aku ada banyak koleksi buku. Kalau mau kamu bisa datang ke rumahku!”
“Memangnya kamu punya buku novel yang aku inginkan?” remehnya.
“Mungkin!” Ervan berusaha meyakinkan.
Namun begitu, Lisa tidak menjanjikan kapan ia akan bertandang ke rumah Ervan dan pastinya bukanlah hari ini. Ervan pun mempersilakan Lisa untuk datang sewaktu-waktu.
Ervan telah sampai di depan rumahnya terlebih dahulu. Mereka berdua berpisah kemudian Lisa kembali melanjutkan perjalanan pulang. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari arah belakang.
“Ervan?” ucap Lisa.
Diambillah sebuah buku dari kantong jaket lalu disobeknya satu lembar kertas.
“Untukmu!” ujar Ervan kepada Lisa sambil memberikan kertas miliknya.
Sehelai kertas putih bergambar sketsa diri Lisa saat berada di dalam ruangan pantry dengan nuansa warna hitam putih. Tergambar dalam coretan itu betapa susahnya Lisa untuk meraih sebuah kotak yang diletakkan di atas lemari.
Lisa ingin bertanya, “Kapan kamu membuat...?”.
“Sampai bertemu besok!” teriak Ervan yang ternyata telah kembali berada di depan pintu pagar tempat tinggalnya.
Sambil terus melambaikan tangan kemudian Ervan pergi memasuki rumah.
“Aku pulang!” sapa Lisa kepada penghuni rumah.
Ia pun lantas mengunci pintu.
Tidak ada jawaban. Mungkin semua anggota keluarganya sudah tidur. Kemudian Lisa menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar. Sebelum beristirahat, ia hendak membersihkan diri terlebih dahulu.
Cukup panas hawa udara pada malam hari ini. Atau mungkin hanya terasa pengap karena Lisa berada di dalam kamarnya. Ia melirik lagi pada selembar kertas di atas meja. Lisa melihat lagi gambar sketsa dirinya sebentar. Diambilnya penjepit kertas dan digantungkan dengan seutas tali pada dinding ruangan.
Lampu dimatikan. Semua pintu dan jendela sudah ditutup. Lisa pun menarik kain selimutnya lalu memejamkan kedua mata. Ia berharap bisa tidur nyenyak untuk malam ini.
Tiba-tiba angin masuk berembus dengan ringan serasa ada yang meniup-niup daun telinganya. Beberapa kali Lisa membolak-balikkan posisi tidurnya. Hingga didapatkanlah posisi yang nyaman setelah tubuhnya dimiringkan ke sebelah kanan. Meski hanya tangan yang menjadi bantalan, Lisa bisa tertidur tanpa ada lagi gangguan.
Namun, embusan angin tidak pernah pergi menjauh darinya. Angin itu sesekali menggoyang-goyangkan tali gantungan dari sehelai kertas kecil itu. Menggerakkan kertas bergambar sketsa diri Lisa ke kanan dan ke kiri seakan kekuatan embusannya mampu untuk memutar-mutar kedua sisi kertas tersebut. Orang yang berada di atas ranjang pun semakin terlelap dalam tidurnya.
Tapi, masih ingatkah Lisa pada malam sebelum kebakaran di dalam gedung itu terjadi? Sudah lupakah ia pada dua pasang mata yang saling bertatapan meski hanya pada detik pertama?.