Sore, Lisa kembali ke Amanda’s resto diantar oleh kak Niko. Setelah mengucapkan terima kasih, Niko berlalu meninggalkan Lisa di jalan depan kedai. Dia hanya menitipkan masakan rumahan untuk diberikan kepada Amanda. Untungnya bos wanita tersebut merasa senang dengan titipan dari bu Melati yang Lisa bawa ke depan meja kerjanya. Si Bawahan lalu keluar dengan menutup pintu ruangan pelan-pelan.
“Kamu balik ke sini lagi, Sa? Aku kira izin sehari penuh!” singgung Desi yang buru-buru ingin ke toilet.
“Tidak kok, Des! Masih sore, aku enggak enak sama kalian.” Alasan si Lisa.
“Oh, begitu! Iya, iya. Bentar ya aku sudah kebelet!” potong Desi.
Sesaat setelah itu, Vina memanggil Lisa untuk segera mengenakan seragam kerja. Baru saja mereka kedatangan beberapa pengunjung baru yang belum dilayani pesanannya. Hingga waktu terus bergulir, sampai hari yang gelap tiba. Tepat pukul 9 malam, nyonya Amanda membuka kunci mobilnya. Seperti kebiasaan hari-hari yang mana beliau pulang paling awal dan menyisakan pekerjaan yang diurus sendiri oleh para karyawan. Maksimal 15 menit-lah untuk mereka selesaikan dengan cara berbagi tugas. Dan malam ini, Desi yang mendapat giliran membawa kunci cadangan kedai makan ini.
Pak Tomo dan Vina sudah pulang terlebih dahulu. Ervan tanpa kalimat sapaan, lewat begitu saja sambil pura-pura tak melihat Lisa. Seharian ini, kedua rekan itu tidak sanggup untuk bertegur sapa di tempat kerja bahkan di luar sekalipun. Lisa tetap saja duduk di kursi panjang depan resto, menunggu seseorang. Sehingga pintu depan kini telah dikunci dengan rantai dan gembok.
“Lisa, kamu belum pulang?” tegur Desi.
“Kita kan, sudah janjian mau bicara di luar!” jawab Lisa mengingatkan.
“Oh! Aku pikir tidak jadi. Terus kita mau cari tempat ke mana?” Kembali Desi bertanya.
Lisa kemudian mempunyai ide kalau mereka berdua mampir dulu beli kudapan ke outlet sebelah. Selanjutnya Desi dan Lisa datang ke sebuah gerai minuman kekinian yang juga masih buka. Mereka mengambil tempat duduk pada deretan kursi kosong di samping gerai.
“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan tentang Ervan?” ucap Desi lalu menyeruput minumannya dengan sedotan besar.
“Ervan bilang cinta ke aku!” ujar Lisa blakblakan.
Desi tersedak sampai sulit menghentikannya. “Lisa, kenapa tiba-tiba bilang begitu? Tunggu aku menelan minuman ini dulu bisa, kan?”
“Maaf! Kamu tadi pertanyaannya juga to the point, sih!” jawab si Lisa. “Terus bagaimana? Ervan minta jawabannya besok.” cecar Lisa.
Desi menanggapi dengan santai. “Bagaimana apanya? Ya, kamu tinggal terima atau ditolak saja. Beres, kan!”
“Aku tanya ke kamu tuh, biar kamu kasih aku saran baiknya seperti apa! Tidak semudah itu, Des!” Lisa menggerutu.
“Lha kamu sendiri suka enggak sama Ervan. Lebih dari sekadar teman loh, ya!” pertegas Desi.
“Iya..., aku juga tidak tahu! Aku dan Ervan belum terlalu lama saling mengenal.” Keraguan ucapan Lisa.
Kemudian Desi berbagi pengalamannya selama ini dalam mendapatkan pacar. Ia mengaku tidak pernah pendekatan lebih dari satu bulan. Begitu kenal, intens komunikasi, saling merasa suka dan selesai deh! Desi lantas jadian.
“Tapi kamu pernah terbayang-bayang wajah Ervan entah dalam mimpi atau kenyataan setiap hari, begitu? Terus kamu juga pernah grogi kalau ada di dekat dia!” petunjuk Desi.
“Iya, pernah! Tapi tidak sering juga.” Lisa menyela.
“Ah! Itu udah ada tanda-tandanya kalau kamu itu mulai jatuh cinta sama Ervan, Sa!” katanya.
“Menurutmu seperti itu?” Lisa menyambut pendapat sang Teman.
Desi lalu memberi saran terbaik untuk sahabatnya itu. “Sudah, kamu terima saja!”
“Biar nanti kak Niko yang jadi milik aku!” batin Desi bahagia.
Tiba-tiba ponsel Lisa bergetar. Ada notif pesan dari Ervan yang mengajak ketemuan.
“Terus kenapa kamu tidak pergi sekarang?” tanya Desi.
“Dia minta bertemunya besok, sepulang kerja.” ungkap si Lisa.
Tak berselang lama, Lisa dan Desi memutuskan untuk segera pulang. Bus terakhir di halte pun sudah menanti Desi bersama beberapa penumpang malam yang lain. Kedua sahabat tersebut berpisah, sementara Lisa kembali ke rumah hanya berjalan sendiri saja.
Paginya sebelum berangkat, Lisa berpikir untuk menyatakan perasaan lewat pesan obrolan di aplikasi. Akan tetapi Ervan tidak sigap membalas. Padahal statusnya jelas-jelas online dan telah dibaca. Lisa turut mengabaikan urusan pribadi ini untuk sekarang. Ia ingin sampai duluan ke kedai makan. Saat melewati depan rumah Ervan, tampak sepi dan tertutup. Apa ia sudah berangkat atau pria itu justru masih tertidur? Lisa iseng melakukan panggilan ke nomor penghuni rumah. Dua kali percobaan, gagal. Ervan terkesan yang sengaja tidak mau mengangkatnya. Lisa tak mau buang waktu lagi dan menuju kepada dua orang sahabat yang ternyata sudah sampai di Amanda’s resto terlebih dahulu.
Seketika, Bruk....
Satu rim brosur dengan wajah glowing nyonya Amanda menumpuk di kepala Lisa. Pelayan kedai makan tersebut lalu menerima dengan tangannya.
“Kamu sebarkan semua sampai habis! Kita harus membuat promosi besar-besaran untuk meningkatkan omset bulan ini.” Begitu perintah sang Bos secara langsung.
“Ke mana?” spontan Lisa berucap.
“Ya, ke mana saja Lisa! Ke rumah Niko juga boleh.” sindir nyonya Amanda. “Pergi saja di tempat yang banyak orang lalu lalang!”
Lisa mengangguk saja dengan percaya diri.
“Ingat! Harus dibagikan sampai habis ya, baru boleh kembali ke sini. Saya tidak mau rugi biaya cetak!” ultimatum dari sang Pimpinan.
Belum juga masuk jam kerja, Lisa sudah disuruh kerja di lapangan. Belum juga sempat melihat Ervan, tidak tahu pula ia sudah berangkat atau justru tidak masuk hari ini. Lisa mulai mencari lokasi strategis sambil berjalan-jalan. Sesekali juga memberikan brosur kepada orang yang ditemui dalam perjalanan.
Kebalikannya, Ervan baru saja masuk ke dalam resto. Asisten juru masak itu celingukan, tampak penasaran mencari keberadaan seseorang. Melihat Ervan heran karena sekeliling yang agak sepi, Vina menyeletuk ringan.
“Lisa disuruh keluar sama Bos untuk membagikan brosur.” kata Vina.
Ervan sok cuek. “Memangnya, siapa yang cari Lisa!”
“Oh! Kalau nyonya Amanda juga baru keluar. Nanti balik lagi jam 9, setelah kedai makan dibuka. Bagaimana? Kamu bukan mencari bos juga!” ketus si Vina.
Ervan tidak memberikan tanggapan lagi. Dia lebih memilih untuk lekas masuk ke dalam dapur yang lebih aman dari intimidasi seorang jomblowati.
Dari sebelum buka, semua pegawai dan kondisi resto Amanda sudah siap. Tampaknya usaha Lisa tidak terlalu buruk. Masih di bawah jam 12 siang, pengunjung yang datang semakin banyak sambil membawa selebaran yang didapatkan. Wajah-wajah baru, datang dengan hasrat makannya tersendiri. Semua karyawan Amanda’s resto senang dan bersemangat memberikan pelayanan terbaik. Sebelum satu musibah yang menghebohkan itu terjadi.
“Cepat panggilkan ambulans! Tolong, siapa saja!” Keras suara Vina begitu gagapnya menghadapi situasi.
Ada seorang pengunjung berinisiatif lebih cepat dalam melakukan panggilan darurat. Namun bukan saja ambulans yang dihubungi, orang tersebut diam-diam juga memanggil ke nomor tujuan kantor polisi. Beberapa pengunjung yang lain, sudah tak berselera menikmati masakan pak Tomo lagi. Mereka memutuskan untuk pergi meski tetap membayar utuh setiap harga makanan dan minuman yang telah dipesan. Desi yang berjaga di dekat pintu keluar pun, tidak bisa menghentikan kepergian tamu-tamu perdana Amanda’s resto tersebut.
Lisa yang tidak tahu berita apa-apa, sangat menyesal harus kembali dengan sisa 88 lembar brosur di tangan. Ia terpaksa balik dulu untuk menerima jatah makan siang. Padahal ketika Lisa masuk, suasana sedang tegang. Tampak wajah Vina dan Desi yang resah. Mereka menyambut ketibaan satu orang kawan itu dengan kekhawatiran. Lisa berniat menanyakan tentang kejadian apa yang telah terjadi selama ia tinggal pergi.
Bos Amanda tampak frustrasi duduk di salah satu kursi pengunjung. Sudah tidak ada lagi orang yang menikmati ataupun menunggu pesanan. Sepi. Pak Tomo beserta Ervan juga tak lepas dari hawa-hawa depresi ini. Juru masak utama dan asistennya itu tidak kembali masuk ke dapur mereka. Keduanya kini berdiri penuh sesal di dekat sang Atasan, dengan melepaskan topi koki dari kepala. Apa mereka tengah dimarahi karena membuat kesalahan? Lisa pun tak mendengar cerita apa-apa dari Vina maupun Desi. Para gadis di sana tidak berani bicara saat ini. Sampai akhirnya seorang Polisi datang, mengawal pemilik resto tersebut untuk ikut ke kantor dan memberikan keterangan. Nyonya Amanda lalu pergi dengan syarat harus dengan menaiki mobil milik sendiri. Sebelum meninggalkan tempat, beliau berpesan kepada semua bawahannya untuk menutup kedai makan detik itu juga.
Desi membalikkan papan tanda pada pintu kaca. Amanda’s resto tutup delapan jam lebih awal dari biasanya.
“Apa yang telah terjadi di sini?” tanya Lisa, berdebar rasa takutnya di dalam hati.
Vina lantas menarik lengan Lisa dan mengajak duduk bersama.
“Tadi ada yang keracunan!” kabar buruk terkuak dari mulut Vina.
Sekonyong-konyong Lisa terperanjat dari bangku yang diduduki. Ia amat tak yakin.
“Tapi, apakah benar kalau pengunjung tadi benar-benar keracunan makanan olahan di sini? Bukan sebab penyakit bawaan, misalnya! Kita selalu menjaga kualitas dari setiap hidangan. Kok bisa hal seperti itu dapat terjadi? Kalau racunnya berasal dari luar, tega sekali si Pelaku melakukan kejahatannya di tempat ini?” debat si Lisa.
“Pokoknya kalau kamu tadi melihat sendiri, ngeri Sa! Aku baru pertama kali tahu orang keracunan bisa seperti itu. Semoga saja dia baik-baik saja sekarang!” harap cemas Desi yang menyambung pembicaraan.
Karena sudah diminta tutup oleh sang Pengelola resto, Lisa dan rekan kerja yang lain juga menyusul untuk pulang. Teriknya siang hari ini sepanas insiden yang baru menimpa kedai makan milik Amanda. Namun juga terasa begitu dingin bila dibandingkan antara hubungan Lisa dan Ervan. Saat berjalan pulang bersama, mereka berdua saling mendiamkan. Lisa merasa gengsi untuk bicara terlebih dahulu. Ia hanya terus berjalan pelan di belakang Ervan.
Sampai saat bilamana Ervan tampak mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana levisnya. Tiba-tiba ia berbalik badan dan mengingatkan janji bertemu langsung dengan Lisa nanti malam. Lisa termangu sebab Ervan tak mengatakan hal lain lagi setelahnya. Pria di sana memilih untuk langsung pergi meninggalkan Lisa.
-----
Jam 7 malam di Stasiun Menara, waktu dan tempat mereka berdua akan berjumpa. Menjelang petang hari, Ervan keluar lagi dari rumahnya. Ia meminta Lisa untuk menunggu. Gadis itu sudah sampai di lokasi dekat menara pemancar radio setengah jam sebelum jam 7. Sedangkan Ervan harus terkatung-katung lantaran sepeda motornya macet parah. Tidak ada bengkel yang buka, ia sendiri tidak cakap memperbaiki mesin. Lisa sudah mengajak Ervan untuk berangkat bersama dengan menaiki bus tapi ia tidak bersedia.
Pada puncak kegalauannya, Ervan berlari menuju stasiun Menara sebutan mereka, dengan berlari. Berlari tanpa batas semangat sebagai bukti cintanya yang akan berbalas. Hingga sudah lewat dua setengah jam, Ervan tidak kunjung terlihat. Lisa menelepon lebih dari lima kali, tapi selalu bilangnya sebentar lagi sampai dan ini sudah mau sampai. Terlalu lama bagi Lisa untuk menunggu seseorang yang baru tadi pagi telah diterima cintanya.
Lisa sudah putus asa. Hampir lebih dari tiga jam ia berdiam diri di satu titik tempat yang sama. Gadis itu sudah berniat pergi dari sana. Lisa berjalan sambil mengirim pesan kepada Ervan bahwa ia akan menunggunya di halte terdekat. Jika mereka tidak sempat bertemu, berarti Lisa sudah berada dalam perjalanan di bus.
Lisa sedang berjalan di sepanjang trotoar. Nahas! Saat ia begitu terkejut karena mendapati peristiwa nahas yang terjadi di depan mata, Lisa malah ditabrak mobil dari arah tidak terduga. Bunyi klakson pun masih melengking panjang di kala kecelakaan tunggal tersebut menimpa Lisa.