Bunyi klakson melengking tanpa henti dan saling bersahutan. Belum terlihat tanda-tanda ada polisi yang akan datang ke lokasi kejadian. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver menembus pembatas jalan yang dimaksudkan agar berhati-hati karena sedang ada perbaikan. Lisa pun menjadi korban tabrakan.
Wajah Cemas Niko menyertai iringan brankar dari ambulans. Lisa terbaring di sana setelah menyaksikan kecelakaan beruntun itu terjadi. Pelupuk mata masih terbuka, kondisinya setengah sadar dalam perjalanan menuju ke rumah sakit terdekat. Samar dalam penglihatannya, dahi Niko tampak luka berbalut darah. Lalu pandangan Lisa pun menjadi gelap dan terus diantar ke unit gawat darurat.
Mata itu terbuka pelan-pelan, menatap plafon rumah sakit yang ada di atasnya. Lisa berada di dalam ruang inap setelah dilakukan tindakan operasi sebelumnya. Kata dokter ia belum boleh banyak bergerak. Lisa telah sadarkan diri, namun tidak ada siapa pun yang berada di sampingnya.
Tiba-tiba bayangan itu hadir. “Lisa! Lisa!”
“Iya! Namamu adalah Lisa. Kamu bisa mendengarku?” tanya Ervan.
Lisa terus memanggil-manggil namanya sendiri dengan suara yang lemah. Seorang petugas medis masuk dan meminta Ervan untuk menenangkannya, sementara perawat tersebut memanggilkan dokter untuk segera datang ke ruang perawatan. Lisa kelihatannya menderita trauma pasca kecelakaan tadi malam.
Ervan mendapatkan informasi dari dokter bahwa Lisa mengalami cedera ringan pada kepalanya namun tidak sampai menyebabkan amnesia. Ervan juga diminta untuk menghubungi anggota keluarga si Pasien sehingga bisa membantu proses pemulihannya. Tapi dalam hati, Ervan tidak bisa melakukan hal tersebut sebab tidak ingin orang lain tahu mengenai kecelakaan yang disengaja ini.
Ervan memilih untuk merahasiakannya. Kecuali bagi Niko, ia telah melihat sendiri kejadian apa yang menimpa Lisa. Membiarkan wanita itu beristirahat dengan tenang. Ervan duduk di sebelah ranjang rumah sakit yang menjadi tempat tidurnya dan memandang wajah gadis yang tampak kuyu.
“Maafkan aku, Lisa! Bukalah matamu dan dengarkan penjelasanku! Aku mohon Lisa, aku mohon!’ pinta Ervan lalu menggenggam punggung tangan wanitanya.
Ia berharap besar, Lisa bisa menjalani kehidupan seperti dulu lagi. Bersama-sama memulai kembali hubungan mereka tanpa bayang masa lalunya. Ervan menangis. Entah ia menyesali perbuatannya yang salah atau berharap Lisa mau menerima keadaan dirinya. Mendengar rintihan itu, Lisa terbangun.
“Siapa di situ?” tanya Lisa dengan suara parau.
Ervan ternganga. “Aku, Lisa! Ini aku, Ervan!”
“Cepat panggilkan perawat, aku mau pulang!” kata Lisa.
Tapi kondisinya terlihat masih belum stabil, sehingga lebih baik jika Lisa dirawat dulu di rumah sakit. Saran dari Ervan tersebut adalah pilihan terbaik untuk kesehatannya. Lisa tetap tak mau mendengarkan.
“Cepat cari sana! Atau kamu yang pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” kecam wanita yang tengah terbaring sakit itu.
Akhirnya Ervan pun memenuhi keinginan Lisa untuk memanggil perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien di ruangannya. Setelah itu ia diminta untuk menunggu di luar. Ervan sempat ketiduran, saat tersadar ia melihat dokter yang baru saja keluar dari kamar sang Pasien.
Ia menghalangi jalan sang Dokter dan menanyakan perihal bagaimana perawatan lebih lanjut terhadap Lisa. Dokter itu mengatakan kalau Lisa boleh pulang hari ini. Ervan merasa lega apabila dokter yang sudah berkata seperti itu. Tapi dari ujung koridor rumah sakit ia melihat Niko berjalan ke arahnya. Lagaknya penuh percaya diri meski dengan sedikit jahitan untuk menutup luka sobek di dahinya.
Niko berbicara kepada Ervan. “Aku telah memenuhi janji. Semua biaya rumah sakit sudah beres. Sekarang biarkan aku yang membawa Lisa pulang ke rumah! Kamu tenang saja, kali ini aku akan menjaganya dengan sangat baik.”
“Aku juga akan menyiapkan tim medis untuk memantau perkembangan kesehatannya. Saya kira sudah cukup. Terima kasih sudah mengurus Lisa selama ada di rumah sakit!” unjuk Niko yang baru datang kali kedua hanya untuk menjemput Lisa.
Sebenarnya Ervan tidak terima dengan sikap yang diambil oleh Niko. Tapi mereka berdua telah membuat kesepakatan demikian ketika sama-sama menunggu jadwal operasi si Lisa. Demi melindungi rekan kerja tersebut, Ervan harus membiarkannya bersama Niko untuk sementara. Tak lama setelah itu Lisa keluar bersama sang Perawat yang mendorongnya dengan kursi roda, dan membawanya menuju ke halaman parkir di depan rumah sakit. Ervan turut mengantar di belakang mereka.
Setelah mencapai pintu mobil, Niko dan perawat membantu Lisa untuk masuk dan menempatkannya di kursi penumpang. Pintu ditutup sementara Ervan melihat Niko masih dengan dendam di dalam hatinya. Niko tersenyum sinis melirik ke arah Ervan lalu membuka pintu depan mobil hendak mengemudi. Mobil berwarna silver itu pun pergi meninggalkan dia sendiri.
Hal yang lebih menyedihkan bagi Ervan adalah Lisa pulang tanpa sepatah kata untuknya. Hanya menunduk, memalingkan muka dari serpihan hati yang menyayanginya itu. Ervan tidak bisa berbuat banyak untuk wanitanya. Andaikan waktu itu ia tidak perlu membuat Lisa menunggu atau bisa pergi ke rumah sakit lebih cepat daripada Niko, tentu Lisa sudah aman bersamanya. Meski pun harus tetap terluka biarkanlah Ervan sendiri yang menanggungnya.
Sepanjang perjalanan di mobil itu, Lisa terdiam saja. Pandangan matanya yang masih kosong melihat wajah yang tengah serius mengemudi dari kaca spion dalam mobil. Ia berbicara. “Kak Niko?”
Niko menyadari ucapan Lisa. “Iya! Kamu tidak lupa denganku bukan? Aku yang telah membawamu sampai di rumah sakit.” jelasnya.
“Iya, aku tahu! Dahimu juga terluka saat itu.” suara Lisa semakin kedengaran serak.
Niko setengah menutupi bekas lukanya itu lalu berkata, “Kamu boleh tidur dulu, Lisa! Nanti kalau sudah sampai rumah, aku akan membangunkanmu!”
Kemudian Lisa yang duduk bersandar, memejamkan kedua matanya.
“Kak Niko!” panggil Lisa lirih.
“Iya, ada apa Lisa?” tanya Niko tetap fokus memperhatikan rambu jalan raya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku! Aku tidak tahu bagaimana bisa selamat dari kecelakaan beruntun itu!” Lisa bicara seperti orang yang tengah mengigau.
Niko tak menjawabnya lagi, lidahnya kelu. Sepertinya memori Lisa sedikit terganggu. Niko lebih memilih berkonsentrasi pada laju kendaraan yang melalui jalan berliku. Hingga mobilnya menuju depan pintu gerbang yang disambut satu pohon pucuk merah di antara deretan hutan pinus.
Niko membawa Lisa pulang ke rumahnya. Ibunya sendiri sudah menunggu mereka di beranda rumah. Niko tidak membangunkan Lisa yang tertidur. Ia langsung membopongnya masuk ke dalam kamar yang sudah keluarga itu siapkan.
Dibaringkannya gadis yang malang itu di atas tempat tidur. Bu Siska, asisten rumah tangga di rumah Niko lalu menyelimuti Lisa dengan selimut tebal agar ia merasa hangat. Baik Niko maupun bibi Siska kemudian pergi membiarkan pintu kamar itu terkunci. Niko lalu menemui sang Ibu untuk berbicara lebih lanjut tentang masalah ini.
Di tempat yang berbeda, Ervan merana. Rasanya baru kemarin pagi Lisa mengatakan bahwa ia menerima cintanya tapi kini Ervan sudah dicampakkan. Lisa pergi bersama pria lain. Tapi Ervan tidak menyalahkannya. Masalah yang terjadi memang disengaja dan ia tahu itu perbuatan jahat yang dilakukan seseorang untuk membalas Ervan.
Hari sudah malam saat ia sampai di rumah. Berjalan lunglai, pikiran kacau dan sikapnya menjadi tak terkendali. Ia memaksa diri datang ke rumah yang ditinggali oleh Lisa. Diketuk-ketuknya pintu dengan keras meminta si Penghuni untuk keluar menemui dirinya. Sesekali Ervan mencoba untuk mendobrak pintu itu sambil merengek.
“Hoi, jangan berisik! Ini sudah malam. Tidak ada orang di sana! Kau tidak lihat rumahnya yang gelap gulita? Cepat pergi dari sana, dasar Pengganggu!” Teriak tetangga di sebelah rumah itu.
Ervan berusaha melihat dengan pikiran yang sehat. Ia pernah mendengar cerita Lisa belakangan ini yang sering bermimpi buruk. Jadi ia mulai tidur dengan tetap menyalakan lampu di kamarnya. Kalau semua lampu masih mati, berarti Lisa juga belum pulang. Ervan bingung sendiri dengan kekhawatiran yang berlebihan. Ia tidak tahu ke mana jadinya si Niko membawa pergi Lisa. Ervan begitu takut jika kali ini akan kehilangan Lisa untuk selamanya.
Ia pun berusaha dengan berkali-kali menelepon Lisa, tapi panggilannya selalu dialihkan. Bagaimana cara Ervan untuk menghubungi Niko sementara nomor kontaknya pun tak sudi untuk ia simpan dalam memori.
Keesokan harinya di Amanda’s resto Ervan datang paling pagi. Tak mungkin ia berharap besar Lisa akan masuk kerja pada hari ini. Ia masih membutuhkan waktu rehat. Ervan hanya merasa sesak sebab tak tahu di mana Lisa kini berada. Niko, satu-satunya orang yang tahu ke mana ia telah memulangkan Lisa.
Vina mendapati Ervan dengan kondisi yang tak biasa. Potongan sayuran yang tengah dicuci itu membludak nyaris keluar dari pancinya. Vina mematikan air keran dari wastafel dapur yang terus mengalir deras.
“Van, kalau kerja jangan sambil melamun!” tegur Vina.
Ervan melirikkan mata pada Vina lalu tertunduk sambil mencuci sayuran yang akan dimasak.
“Besok berangkat aku mau menghampiri Lisa sekalian, Ah! Habis dia dihubungi susah! Chat dari kita juga tidak dibaca.” singgung Vina.
Ervan tidak bisa membiarkan mereka tahu kejadian sebenarnya. “Jangan! Biar aku saja yang mencari tahu keadaannya.”
“Kamu sendiri tidak tahu kenapa Lisa tidak masuk hari ini, Van? Katanya kalian bertetangga!” ujar Vina.
“Iya, tapi kami tak sedekat itu.” elak si Ervan. “Tapi, apakah kamu punya nomor dari anak pemilik kontrakan bos kita itu?”
Vina berpikir sejenak. “Kak Niko maksudnya? Aku tidak punya. Tanya saja ke Desi, biasanya dia yang paling gerak cepat kalau sudah ada yang menarik hatinya! Kenapa memang?”
“Tidak apa-apa! Kalau begitu aku pergi ke tempat Desi dulu!” Ervan spontan menyerahkan panci dengan sayurannya kepada Vina. Vina melongo dengan ulah si Ervan yang tidak bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Asisten juru masak itu berjalan cepat ke meja kasir. Sementara Desi tengah bermain-main dengan aplikasi terbaru di smartphone miliknya.
“Desi! Des! Desi!” teriak Ervan.
“Uh, berisik deh! Habis selesai makan ya? Semangat amat!” keluhnya.