Sejauh apa Ervan berbuat yang terbaik, wanita itu sudah tidak peduli lagi padanya. Kini, Niko justru berhasil memperdaya dan seolah menjadi malaikat pelindung bagi Lisa dalam kondisi terlemahnya. Ia benar-benar tertipu. Wanita itu tidak tahu orang macam apa yang dengan sengaja menabrakkan mobil ke arahnya. Tindakan bak seorang pengecut, memanfaatkan momentum dimana sebuah kecelakaan beruntun telah terjadi sebelumnya di satu lokasi kejadian. Walaupun dokter di rumah sakit sudah mengatakan bahwa Lisa tidak menderita amnesia, rasanya menjadi sangat ganjil apabila hanya Ervan yang terlupa dalam ingatannya.
Sudah dua hari Lisa tinggal di rumah Niko guna mendapatkan perawatan intensif untuk masa pemulihan fisik serta pasca trauma. Namun wanita itu merasa berat hati jika terus merepotkan kedua tuan rumah, sedangkan mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan sejauh ini. Ibunya Niko juga sudah berumur. Bahkan seharusnya ia yang lebih memperhatikan faktor kesehatannya sendiri. Lisa meminta izin untuk pulang pada hari ke tiga. Niko pun menyerahkan segala keputusan kepada Lisa lalu mengantarkannya kembali sampai di rumah.
Kira-kira pukul 7, saat pria itu kembali dari membeli makanan untuk menu sarapannya di pagi hari. Ervan melihat mobil Niko melintasi jalanan di area tempat tinggalnya tersebut. Jantung ini berdegup kencang, mungkin saja Lisa juga berada di dalam mobilnya. Ervan sedikit berlari mengikuti laju kendaraan yang akhirnya berhenti di depan rumah si Lisa. Ia juga berhenti dan menjaga jarak aman agar tidak diketahui.
Niko turun dari mobil. Ia membuka kunci pintu rumah wanita tersebut. Tatapan mata Ervan mulai merespons hal-hal yang dinilai tidak wajar. Ia menyaksikan Niko dengan segera kembali ke mobil dan memapah Lisa untuk membantunya masuk ke dalam rumah. Satu hal ringan yang sangat meledakkan amarah si Ervan. Alhasil ia juga secepat mungkin menyusul keduanya, menyelonong lewat pintu yang sama.
Terlihat Lisa yang baru saja merasa nyaman dengan posisi duduknya di atas sofa ruang tamu. Niko hendak keluar lagi dari sana namun terhenti karena mendapati Ervan yang berdiri kokoh di muka pintu. Tanpa permisi Ervan bermaksud untuk menemui Lisa.
“Lisa, ke mana kamu selama dua hari ini?” tanya Ervan tergesa-gesa.
Lisa layaknya orang linglung. “Niko, dia siapa?” Pertanyaan itu membuat Ervan mengalami keresahan.
Niko menatap tajam ke mata Ervan. “Dia?” sambil menunjuk, “Dia, Ervan! Rekan kerja sekaligus tetangga rumahmu di sini.” jawab si Niko dengan tenang.
Ervan mengira pria itu akan menjawab dengan hal yang tidak-tidak. Namun ia tetap saja tidak mendapatkan jawaban sebenarnya dari pertanyaan yang ia ajukan.
“Aku keluar dulu sebentar mau mengambil barang-barang dari dalam bagasi mobil!” kata Niko kepada Lisa.
“Hei, bocah! Kau bisa membantuku bukan?” tunjuk Niko pada Ervan dengan nada bicara kasar.
Lisa hanya diam melihat dengan raut wajahnya yang polos kepada dua orang lelaki di hadapan. Ervan kemudian beralih mengikuti Niko, kembali ke tempat mobil yang masih terparkir di depan kediaman Lisa. Ditariklah pundak pria yang melangkah di depannya itu. Saat Niko berbalik dan, “Uh!!!”
Ia terkapar di depan mobilnya hanya dengan satu kali tinju dari kepalan tangan Ervan. Bibirnya sampai mengeluarkan darah. Namun Niko cukup menyekanya dengan satu jari tangan saja. Ia tertawa dengan sengit.
“Hah! Sekarang kau bisa lihat betapa menakutkannya dirimu. Bagaimana bocah sepertimu mau berdampingan dengan Lisa? Kamu tahu sendiri keadaannya saat ini. Dia butuh seseorang yang bisa melindunginya bukan mencelakainya!” gertak Niko.
Ervan membalasnya dengan semakin lantang. “Siapa yang kau maksud mencelakai? Kamu sendiri tidak melihat betapa liciknya dirimu! Sudah jelas bahwa kau yang sengaja telah menabraknya waktu itu. Aku lihat sendiri kamu keluar dari mobil lalu berpura-pura menjadi korban juga kepada petugas yang datang memeriksa. Dan sekarang, apa yang kau lakukan padanya? Aku bertanya apa yang kau lakukan pada Lisa!”
“Aku? Apa yang aku lakukan padanya? Ck! Aku tidak harus melakukan sesuatu, cukup beri saja apa yang Lisa mau. Aku rasa dia lebih senang bila denganku!” ucap Niko.
“Jangan berbohong! Aku tahu apa yang menjadi tujuanmu. Kau bisa saja menghancurkan hidupnya hanya untuk mengancamku. Bukan begitu?” tuduhan keras menyadarkan kembali hasrat pria yang lebih tua dari Ervan tersebut.
“Jika begitu, bukankah seharusnya kau yang sadar diri dan segera membuat pengakuan di depan polisi? Jadi, aku tidak perlu lagi mengotori tangan dan pikiran hanya untuk menyeretmu ke meja pengadilan.” ungkapnya.
Niko berusaha menekan psikis Ervan. “Tanyakan pada dirimu! Untuk apa juga kau melindunginya? Kau bisa pergi sekarang dan melarikan diri, meski aku akan tetap menemukanmu di tempat lain. Tapi di sini ada Lisa, jika kau menginginkannya sama saja kau menargetkan dia sebagai korban perang di antara kita.”
Ervan menyanggah dengan santai dan menyepelekan perkataan Niko.
“Bisa-bisanya kau menjadikan Lisa sebagai alasan. Aku tidak pernah mencintainya, kenapa pula dia harus dikorbankan? Aku ingin melindunginya sekadar karena aku telah menganggapnya sebagai teman. Aku tidak ingin ada orang lain terlibat dalam urusan kita!”
“Benarkah? Lalu, sekarang siapa pria yang akan mencintainya? Kau atau aku? Mungkin tidak di antara kita berdua. Aku pikir, mulai sekarang apa yang harus aku perbuat pada Lisa? Tapi itu semua tergantung padamu. Kau tahu, aku hanya menunggu pengakuan dari pelaku pembakaran gedung perpustakaan kota yang menghabisi nyawa ayahku!” ujaran sinis anak dari pemilik kontrakan nyonya Amanda tersebut.
Niko lalu kembali masuk ke rumah Lisa dengan membawa satu buah tas dan kruk di kedua tangan. Sementara Ervan membawa satu tas besar yang lainnya.
“Terima kasih semuanya! Eh, Niko kenapa mulutmu berdarah?” tanya Lisa yang menyadari luka memar di wajah kak Niko.
“Oh ini! Bukan masalah besar! Tadi aku terbentur pintu bagasi mobil saja karena kurang berhati-hati! Kamu tidak perlu khawatir.” Ia beralasan.
“Apa benar begitu?” Lisa cukup tak percaya.
Niko kemudian langsung pamit karena sudah ditunggu kliennya di kantor. Dengan senang hati, Lisa mengantar kepergiannya meski hanya duduk di atas sofa.
“Hati-hati di jalan!” pesan Lisa.
Niko lalu mendekat dan mencium kening si Wanita. Pandangan semacam apa ini yang dalam sekejap membuat Ervan merasa serba salah di hadapan mereka. Hawanya semakin panas dan membuat gerah saja.
Setelah Niko pergi, Ervan belum pindah dari tempat ia berdiri. Lisa menyentilnya. “Kamu tidak ingin pergi dari sini? Saya tidak ingin ada orang melihatmu lalu berpikir yang macam-macam. Bisakah Anda membiarkan saya sendiri? Oh ya kalau boleh, nanti pas keluar sekalian tolong tutup pintunya!” ujar Lisa.
Ervan merasa heran. Saat masih di rumah sakit, Lisa membentaknya dengan keras tapi kini ia bicara dengan suara yang sangat sopan. Terasa seperti berbicara kepada orang asing yang baru dikenal.
“Anda mendengar saya?” Lisa sampai menjentikkan jari-jarinya.
Ervan mengangguk. “Iya, tapi tak bisakah aku menolongmu untuk membawakan tas-tas ini ke kamar? Mungkin kamu akan kesulitan dengan kruk itu.”
“Tidak perlu, terima kasih! Saya masih bisa kok membawanya satu per satu. Silakan Anda pulang!” pinta Lisa.
Ervan menjadi lebih kecewa. Dia mencoba untuk melangkah keluar dari rumah Lisa. Tapi tiba-tiba...
“Apa, tunangan saya sudah berbuat sesuatu yang salah? Sebenarnya tadi saya mendengar ada suara keributan di luar.” Lisa bertanya.
Apa? Apa Ervan tidak salah dengar? Tunangan?
“Apa maksudmu dengan tunangan?” tanya Ervan.
Lisa menunjukkan cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya. “Sebenarnya kemarin Niko memberikan cincin ini untuk saya pakai di acara resmi besok. Meski pertunangan itu masih pekan depan, ibunya tadi pagi meminta saya untuk mengenakannya sebelum pulang.” Lisa memberitahu Ervan.
“Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, Vina, Desi dan semua yang ada di Amanda’s resto?” tanya si Pria.
Lisa pun memberikan jawaban. “Oh! Niko memintaku untuk keluar setelah kami menikah katanya! Vina dan Desi juga sudah mengetahui kabar ini.”
Yang benar saja! Ervan tak menghiraukan ucapan wanita itu lagi. Ia lekas keluar dari pintu rumah tanpa menutupnya. Ervan tidak habis pikir, apa yang ingin Niko lakukan dari rencana pertunangan ini. Bukankah dia hanya ingin menekan Ervan agar menyerahkan diri ke polisi? Walau demikian, kenapa Ervan merasa Lisa seolah tak pernah menganggapnya sebagai teman dekat ataupun mantan kekasih walau sehari. Bagaimana pun juga, Lisa telah menerima cinta pura-pura si Ervan dengan ketulusan hati.
Sang pria kebingungan. Apa yang telah terjadi pada Lisa? Ingatannya seperti timbul dan tenggelam, Lisa masih mengenali sahabat dan lingkungan kerja tapi tidak dengan Ervan. Lisa hanya melupakan dirinya seorang.
------
Suasana di rumah Lisa kembali tenang. Dengan bantuan alat gerak, Lisa berjalan menuju kamarnya. Semua baju telah ia rapikan ke dalam lemari pakaian. Ia menatap dekat kaca jendela yang dibuka saat menjelang siang. Perasaan Lisa kini jauh lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Terlihat dua gambar sketsa yang tergantung pada dinding kamar itu. Tapi Lisa tidak bertanya-tanya, sejak kapan lembar kertas kecilnya kembali tergantung di sana? Kembali dijepit rapi, berjejer pada satu utas tali yang sama dengan foto polaroid dari kak Niko.
Dari dua sketsa yang Lisa tahu, hanyalah siapa yang telah memberikannya. Yakni seorang lelaki seusia yang awalnya malu-malu dan sedikit membuat ia takut. Tapi ternyata sangat bersahabat dan senang membantu pekerjaan rekannya.
“Ervan, maafkan aku!” ucap Lisa begitu lirih. Hanya didengar oleh burung kicau yang mematuk-matuk kaca jendela kamarnya. Apa yang ingin Lisa sembunyikan hingga berpura-pula lupa ingatan di depan Ervan? Sungguh nahas nasib hubungan antara mereka berdua. Hanya karena Lisa seorang wanita pun, Ervan pernah beranggapan kalau tidak ada salahnya ia mengaku mencintai Lisa agar selalu bersama dan tak bisa pergi meninggalkan dirinya. Sebenarnya, Ervan hanya menginginkan satu sosok teman. Padahal ungkapan kalimat palsu itu mulai berbalas dengan perasaan. Lisa juga pernah menyatakan dengan kesungguhannya.
Tapi kini ada Niko juga yang ada di tengah-tengah mereka. Dan dalam hitungan waktu yang teramat singkat, ia begitu saja merebut Lisa dari Ervan. Hingga si Target berada di tempat kerjanya tepat pukul 12 siang saat jam istirahat, Niko muncul lagi di hadapan seorang Ervan.
Niko yang datang dengan seorang pengacara mengungkapkan bukti dari insiden keracunan yang terjadi di kedai makan beberapa hari lalu. Mereka ingin menunjukkan adanya keterlibatan pihak dalam atas kasus yang telah membahayakan nyawa seorang customer. Semua bukti dan analisa mereka, mengarah kepada salah satu juru masak di sana. Tentulah semua tuduhan itu sengaja ditujukan bukan untuk pak Tomo, melainkan Ervan.
Nyonya Amanda sudah sangat berusaha menahan amarahnya dengan semua jalan dan arah pemikiran yang dipaparkan. Ia hampir tak percaya, mana mungkin salah satu dari pegawai sendiri yang telah berusaha meracuni seorang pembeli di kedai makan miliknya. Bahkan kejadian itu hanya terjadi sekali dan belum pernah terulang lagi. Vina, Desi juga pak Tomo tak kalah pusing hingga meradang. Sementara Ervan tidak berupaya untuk membela diri atau semua rekan.
Dari apa yang diusahakan Niko sejauh ini, tampaknya bukan sekadar memenjarakan Ervan tetapi lebih ingin membuat hidup pria yang lebih muda darinya itu menderita olehnya.
Benarkah Ervan adalah pelaku yang sengaja ingin meracuni salah satu penikmat masakan di sana atau ini hanya sebuah jebakan untuknya? Kebenaran akhirnya datang dari diri manusia itu sendiri. Ervan mengakui perbuatannya. Ia sengaja mengombinasikan dua jenis bahan makanan yang bisa menimbulkan efek keracunan. Korban adalah orang yang telah memfitnah Ervan sehingga dipecat sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah SMA Yayasan. Namun, Ervan sama sekali tidak menduga kalau reaksinya bisa terlihat begitu parah seperti teracuni dengan bahan kimia berbahaya.
“Ervan, mulai sekarang kamu saya pecat!” tegas nyonya Amanda, si Pemilik Amanda’s resto.