Dua hari yang lalu, di suatu pagi setelah Lisa mengantarkan Vina dan Desi sampai ke muka pintu depan rumah untuk berangkat ke Amanda’s resto. Terdengar jelas bahwa ada suara benda pecah dari lantai dua di kamar atas. Lisa bersegera naik guna memeriksa apa yang terjadi hingga melupakan kruk yang digunakannya bila berjalan. Ketika membuka pintu kamar, kaca jendelanya sudah retak dan meninggalkan bekas lubang. Nyaris Lisa menginjak serpihan kacanya. Dari bawah jendela itu, ia tak mendapati apa-apa selain sebagian pecahan yang tercecer di lantai balkon. Namun di bawah ranjang tidur, Lisa justru menjumpai sebuah batu. Tampak batu dengan permukaan halus itu sengaja dilempar, bersama dengan sebuah kertas gulung yang diikatkan. Kertas yang berisi pesan dari masa sekarang namun dimensi tempatnya yang berbeda.
“OPERASINYA TIDAK SUKSES!”
Begitulah pesan yang disampaikan. Lisa kemudian tersadar. Tiba-tiba saja dia bangun dari posisi tidurnya di atas tenunan kain dan alang-alang lantai kamar. Tentu dia menjadi bingung. Lisa tadi ketiduran atau justru baru sadar karena jatuh pingsan! Namun, batu itu nyata berada dalam genggaman si Wanita. Lisa bangkit dalam keadaan buta melihat lingkungan di sekitarnya. Seperti saat ia sekejap masuk ke dalam ruangan setelah berjemur lama terik matahari siang di luar. Gelap! Begitulah kesan pertama Lisa, meskipun sudah berusaha dengan membuka kedua bola mata lebar-lebar. Kemudian cahaya yang terang datang melalui lubang pecahan kaca jendela tadi. Lisa pun terinspirasi, memiliki ide untuk menutupnya sementara dengan lakban kaca sebelum meminta tolong kepada seorang pekerja untuk mengganti dan memperbaikinya.
Sampai sekarang, lakban itu masih menempel kuat pada jendela kamar Lisa. Ia belum sempat menelepon ke jasa bongkar pasang kaca jendela. Dalam pikirannya hanya ada rencana ingin menghubungi kak Niko, membatalkan ikatan pertunangan di antara mereka. Bagi Lisa sudah cukup waktu beberapa hari ini untuk berpura-pura.
Pagi berikutnya, Lisa merasa dirasuki hawa dingin yang tidak biasa. Menggigil, sakit kepala, keringat berlebihan, kulit memerah, badan terasa lemah dan sebagainya. Akhir-akhir ini Lisa seperti orang yang sakit-sakitan. Badannya rentan ditimpa penyakit dari luar maupun dalam. Diambillah obat dari dalam kotak obat di rumahnya dengan segelas air putih menjadi pelarut tablet yang ditelan. Seharian itu, Lisa beristirahat saja di rumah. Berbaring di atas tempat tidur, di dalam kamar. Kepala terasa sangat pusing, mungkin juga efek dari pertengkaran Lisa dan kak Niko semalam. Beruntung setelah kejadian, pria dari keluarga terpandang itu tak mengganggu hidupnya lagi. Lisa merasa yakin bahwa telah mengambil keputusan yang benar. Sekarang, ia tinggal menguatkan diri untuk menempuhi masa depannya sendiri. Meski belum melihat arah tujuan dengan jelas, Lisa optimis akan mendapati yang namanya sukses. Lebih-lebih terkait urusan asmara ini, ia tidak mau dibodohi.
Tiba-tiba getar ponselnya mengejutkan pergelangan tangan si Lisa. Vina juga Desi, masing-masing mengirimkan foto kebersamaan mereka dengan pak Tomo termasuk nyonya Amanda. Beberapa slide gambar itu, Lisa amati dengan penuh tawa yang mengandung kerinduan. Tampang sebal dari wajah bos resto di sana terlihat amat menjengkelkan, namun masih punya rasa kangen juga sebab baru sepekan lama tak berjumpa. Seolah menggambarkan isi mulutnya, kalau sampai besok Lisa tidak masuk kerja lebih baik Aku cari pelayan resto yang baru! Akan tetapi, nyonya Amanda tentu bisa mengerti dengan keadaan fisik Lisa yang belum cukup mumpuni.
Melihat kegembiraan, kejengkelan, kesibukan, keteledoran, kecekatan, dan kesepian suasana di kedai makan pagi ke siang itu membuat Lisa terharu. Ia ingin cepat-cepat bekerja lagi dengan semangat yang telah diperbarui. Walaupun dapur resto kini benar-benar kosong apabila ditinggal sebentar oleh pak Tomo. Sebab, tak ada lagi asisten juru masak yang akan menggantikannya. Ervan, apakah dia sengaja dipecat hingga berlaku untuk selamanya?
Keesokan harinya lagi, Lisa datang ke resto Amanda. Bukan sebagai karyawan tetap, melainkan salah satu dari sekian jumlah pengunjung yang ingin makan. Lisa bahkan hadir di tengah suasana kedai yang dipenuhi keramaian. Saat itu, ia ingin sekali menghabiskan waktu makan siangnya bersama teman-teman di sini. Lisa pun mengambil tempat duduk di meja paling sudut. Tak lama kemudian Vina mengantarkan semangkuk bubur kacang hijau untuk dinikmati Lisa, sambil menunggu jam istirahat mereka tiba. Mengepul asap panas dari dalam mangkuk itu, bagai penutup panci dibuka pertama kali saat airnya mendidih di atas nyala api. Hangat ketika Lisa menyeruput sesendok kacang hijau ditambah sedikit ketan hitam, yang mana dua bahan tersebut sudah direbus sampai benar-benar empuk. Rasa di lidah yang manis dan gurih dari santannya alami. Lisa pun menikmati makanan dengan nuansa nostalgia pada masa-masa sehat yang mana kehidupan pribadinya masih sangat stabil dan normal.
“Kamu yakin sudah lebih baik, Lisa?” tanya Vina sembari meletakkan nampan di atas meja pengunjung itu.
Lisa mengangguk-angguk cerah. “Aku bahkan sudah tidak sabar lagi buat masuk kerja! Lagi pula di rumah hanya sendirian saja. Lebih bagus kalau aku bertemu setiap hari dengan semuanya.” antusias Lisa.
“Ck! Sebenarnya siapa sih yang melakukan tabrak lari terhadapmu? Kalau sampai ketemu akan aku hajar dan menuntutnya untuk berlutut meminta maaf! Sekalian kita minta ganti rugi biaya rumah sakit. Jadi, kamu tidak perlu berutang budi dengan kak Niko.” tutur Vina.
Lisa bergeleng-geleng kepala dan melambaikan kedua telapak tangan sebagai tanda penolakan. “Tidak perlu, Lisa! Itu semua akibat kecelakaan beruntun di jalan raya. Untuk kasusku ini, tidak ada yang dapat disalahkan karena semata-mata terjadi di luar kendali.” Jawaban Lisa yang masih tak mengetahui kebenaran, bahwa Niko telah sengaja menabrakkan mobil ke arahnya.
“Kamu jangan terlalu baik, Sa! Nanti mudah disakiti orang loh!” tegur si Vina.
“Ada yang membicarakan kak Niko ya, di sini?” ganggu Desi yang ikut menghampiri meja Lisa.
“Eh! Siapa yang ngomong tentang Niko, sih?” heran Vina.
“Ya siapa tahu kalian dengar-dengar kabar tentangnya, begitu! Terakhir ketemu kan, pas kak Niko keluar dari rumah Lisa. Kesal deh jadinya, kalau tahu dia tidak balik menyapaku sedikit saja!” ingat-ingat Desi.
“Kamu benar enggak tahu bagaimana kak Niko akhir-akhir ini, Sa?” pertegasnya teruntuk Lisa.
Sahabat yang ditanya itu hanya tersenyum kecut dan agak ragu untuk menggelengkan kepala.
“Niko akan tinggal di luar kota!” sergap nyonya Amanda yang seketika muncul bersama pak Tomo.
Keduanya baru keluar dari ruangan dapur. Lisa merasa takut dengan gaya nyonya Bos yang begitu mantap mengentakkan heels pada sepasang sepatu kulitnya. Sang Bos menyilangkan kedua tangan sambil berjalan angkuh, membuat nyali yang menatap pun menjadi ciut. Berhenti ia dengan pose berdiri tangguh di hadapan Lisa yang duduk manis.
“Selamat siang, Bos!” sapa Lisa agak canggung.
Tak kuasa menahan haru, nyonya Amanda lantas menyambut Lisa dengan pelukan. Bak seorang ibu telah lama menantikan kepulangan anaknya yang tersesat di jalan dan hanya dikelilingi hutan.
“Akhirnya kamu kembali, Lisa!” Begitu ucapan bu Amanda yang aneh dalam pendengaran pegawai kedai makan lainnya.
“Sepertinya Bos kerasukan roh ibu Peri yang baik hati!” bisik Vina kepada Desi.
Mendengar hal tersebut, Desi malah memencet hidung si Casilda yang bicaranya bermaksud meledek.
“Awh!” desah Vina karena kesakitan hidungnya.
Nyonya Amanda terus mencurahkan kalimat-kalimat motivasi. Beliau kira bisnisnya akan berakhir sudah. Kehilangan dua pegawai dalam waktu bersamaan membuat si Bos wanita itu terpuruk. Pelayanan resto menurun, ibarat pasaran pun sepi efek domino dari insiden keracunan yang pernah terjadi. Yang terburuk adalah ia harus berusaha mencari karyawan baru lagi. Bisa-bisa pegawai barunya nanti akan menuntut uang gaji lebih tinggi dibandingkan yang ia keluarkan selama ini. Padahal Ervan apalagi Lisa adalah para bawahan Amanda yang terbukti mampu bertahan dengan bayaran pas-pasan. Mereka telah dinilai sebagai orang loyal bagi seorang Bos yang perhitungan.
“Tapi saya harus kuat, cerdas, tekun dan hemat! Saya adalah seorang Bos yang menjadi teladan bagi karyawan-karyawan saya di mana pun berada.” tekad dari diri nyonya Amanda.
“Saya juga bersyukur kamu berhasil melewati semuanya, Lisa! Masalah pertunangan itu tidak perlu dihiraukan lagi. Fokuslah pada pekerjaanmu dengan baik!” kata ibu satu anak itu setelah melepaskan pelukannya.
“Pertunangan?!” terkejut Vina dan Desi bersamaan.
Sementara pak Tomo hanya memasang senyum kehangatan di wajahnya yang bulat.
“Hari Sabtu kamu masuk kerja, ya? Resto sering kali ramai kalau weekend.” ujar sang Pebisnis wanita.
Seharusnya mereka sadar dari awal. Bos Amanda bukannya rindu setengah mati kepada Lisa, tapi cuma karena butuh pegawai yang bisa bantu-bantu saja. Sedang posisi asisten juru masak masih akan terus dikosongkan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Pengelola resto di sana terus memperhitungkan untung rugi dengan merekrut anak buah baru. Sebab beliau sebenarnya telah memegang satu kartu As. Seorang lulusan sekolah kuliner terbaik di dunia telah mempromosikan diri secara pribadi. Siapakah dia, hingga membuat keraguan besar bagi nyonya Amanda? Apakah seorang pria muda akan kembali tergabung di kedai makan ini? Atau justru,...