Kehidupan Ervan yang beraksi ke sana kemari semakin tak jelas. Tujuannya kini apa? Meski tidak dinyatakan menang telak, ia dan teman-teman satu gengnya telah berhasil melemahkan d******i Niko. Bahkan dalam kondisi kacau malam itu, keputusan yang sigap dengan melarikan diri sudah menyelamatkan mereka dari kecurigaan para petugas patroli. Sehingga, hanya orang-orang sewaan Niko yang ditangkap oleh petugas karena terbukti nyata melakukan tindak keonaran di kawasan pelabuhan. Namun di sisi lain, pelarian Ervan cs juga menemui kisah tersendiri.
Sempat melihat Lisa masuk ke dalam mobil bersama Niko lalu pergi, seseorang dengan nada suara tidak asing datang memanggil nama Ervan. Sosoknya tiba-tiba muncul bersama sekelompok teman yang tadi ikut membantu dalam pertarungan.
“Ervan!” panggil orang di belakang dengan wibawa.
Asisten dari Mafia rahasia itu memergoki kelakuan anak baru yang berani mempergunakan ‘pasukan’ tanpa izin. Ervan pun dikumpulkan bersama teman-teman di area kolong tol layang. Tempat di mana mereka biasa didatangi untuk menyerahkan uang setoran masing-masing. Selanjutnya, pemuda-pemuda tersebut otomatis langsung kena teguran keras.
“Untuk siapa kalian bekerja?” tanya seniornya dengan sangar.
“Bos!” jawab Ervan dan kawan-kawan kompak.
“Siapa yang memberi kalian uang dan makan?” tegas ketua yang mengontrol perilaku kriminal amatir di sana.
“Bos!” perjelas para anak buah.
“Siapa yang telah memberi ruang di bawah tol ini untuk kalian jadikan tempat tinggal?” bentak sang Asisten mafia itu.
Semua terdiam. Namun ada satu yang berujar secara spontan, “Negara!” katanya.
“Negara?” heran si Asisten gundul.
“Iya kalau bukan negara yang punya proyek jalan tol layang ini kan, kita tidak punya ruang di sini untuk dijadikan tempat tinggal! Selain itu, kita sendiri yang membuat hunian bersama-sama. Bos tidak pernah ikut turun tangan, tuh!” bertubi-tubi alasan dari salah satu anak didiknya.
Remaja 17 tahun itu pun malah ditampar keras karena lancang merendahkan derajat bos Mafia yang harusnya mereka segani.
“Kalian harus camkan dan ingat baik-baik! Kalau bukan karena Bos yang mau ‘membiayai’ kebutuhan hidup kita di kota ini, siapa lagi! Dan kalian semua pasti hanya akan menjadi gelandangan yang tak punya nilai dan arti! Kalian tahu, siapa yang telah melahirkan dan mengajari ilmu kepada kita?” geram laki-laki yang merasa berkuasa.
“Ibu dan guru-guru di sekolah.” lugas si Riki dengan polosnya.
Ia pun terkena tamparan keras sekali lagi.
“Apanya yang salah!” keluh anak buah yang pandai memprotes sejak tadi.
“Bos! Semua jawaban kalian sepatutnya hanyalah, Bos! Dialah yang telah menjadi penjamin kalian selama hidup di sini.” sergah pria botak yang bangga menjadi tangan kanan dari seorang Mafia.
Riki masih ingin mengeluarkan jawaban terbaiknya, tapi kali ini ia menahan diri agar tak sampai ditampar kembali
Pada kesempatan itu, Ervan sendiri turut pula mengkritisi ucapan pria berkepala plontos dengan rompi denim lawas yang berdiri di hadapan mereka semua.
“Tapi kami juga belum pernah melihat sendiri, orang seperti apa sang Bos itu! Siapa dia sebenarnya? Apa profesi sejatinya? Di mana dia tinggal selama ini? Bahkan kami juga pernah bertanya-tanya, apakah sosok Bos itu memang benar-benar ada atau hanya merupakan alasan seseorang untuk mengelabuhi kami?” desak kecurigaan Ervan yang seketika menyeruak ke permukaan.
“Iya, benar! Coba Anda katakan siapa namanya?” tuntut si Riki lalu mendapat tamparan di wajahnya lagi.
Orang kepercayaan yang disudutkan itu, berupaya membela diri. “Haha! Lantas apa kau pikir aku berbohong hanya demi menolong kalian semua? Aku merekrut kalian satu demi satu karena kasihan. Dari pada luntang-lantung di pinggir jalan, mending kalian aku ajak kerja sama agar bisa menghasilkan uang!”
“Kalian pikir, uang setoran dari kalian itu cukup untuk membelikan makan tiga kali sehari di kota besar ini? Semuanya serba mahal kalau mau makan makanan yang enak dan bergizi tinggi!”
“Sudahlah aku tidak mau didebat lagi! Sekarang jelaskan padaku, siapa yang memiliki ide tawuran macam tadi? Apa kau saja, Ervan!” tudingnya begitu tajam.
Tanpa takut, Ervan mengakui inisiatifnya. “Benar! Saya yang sengaja membawa 'teman-teman' ke sana! Saya menantang para komplotan polisi gadungan itu guna memberi perhitungan kepada pihak yang membayar mereka.”
Selesai bicara, Ervan langsung ditendang bagian belakang kakinya. Kedua lutut pun langsung terhantam, jatuh tepat di atas jalan cor-coran.
Pria tertua di antara gangster lokal tersebut memaki-maki Ervan dengan kata-kata yang tidak pantas. Ia merasa berang karena Ervan memanfaatkan keahlian anak didiknya untuk urusan pribadi. Ujung-ujungnya dia juga meminta pemberian ganti rugi.
“Mana uang! Kau harus membayar biaya jasa mereka semua yang telah membantumu menyukseskan rencana kerdilmu itu!” tagihnya tanpa malu.
Terpaksa Ervan mengeluarkan dompet dari saku celana jin. Tak mau menjadi lamban, preman gundul tersebut langsung merebut dompet pria dari tangan si Pemilik.
“Punya uang sedikit saja, berani-beraninya mau kurang ajar sama atasan!” Mengomel ia sambil menghitung berlembar-lembar nilai transaksi, lalu mengambil seluruh uang tunai di dalamnya. Hingga yang mengaku Asisten bos Mafia tersebut, melemparkan dompet kosongnya di depan pemuda saat masih bersimpuh dengan kedua lutut. Ervan berkeras hati namun tak mampu membela harga diri sendiri.
“Mulai detik ini, jangan lagi ada yang berani berulah di belakangku! Kalau masih nekat, tidak hanya uang kalian yang aku rampas. Tapi jasad kalian juga bisa hilang tanpa jejak dan tidak akan ada yang pernah menemukan! Paham!” gertaknya hanya sembarang.
Asisten bos Geng kemudian pergi meninggalkan para anggota yang bersikap malas dan berjalan ke hunian reyot mereka. Pada waktunya untuk tidur malam, Ervan merasa sesak dan panas. Berkumpul serta beristirahat dengan berdesakan satu sama lain setiap hari di dalam satu ruangan, lama-lama merasa muak dengan keadaan. Ervan pun memutuskan untuk keluar tenda tanpa pikir panjang. Malamnya kini begitu gelap gulita di luar barak. Mau di dalam hunian pun hanya ada lampu emergency yang hanya mampu menyala selama 6 jam saja. Kalau daya listrik baterainya habis, harus numpang mengecas pula ke kafe-kafe yang gratis. Tidak pesan makan minum, namun sok garang memaksa dapat bantuan untuk isi ulang.
Hanya lampu senter pada ponsel yang memberi cahaya kehidupan malam dari sosok pria yang mengenal Lisa. Ervan duduk bertengger di jembatan bendungan. Menyinari aliran air yang mulai naik di musim pancaroba dengan lampu senternya. Suara arus yang dikirim dari hulu menjadi penghilang penat di benak laki-laki muda sebatang kara. Ervan bermenung, memikirkan nasibnya. Ketika itu, satu ‘teman’ yang ikut keluar tenda mengikuti Ervan dan berhenti agak menjauh dari posisi ia berada, akhirnya datang menghampiri juga. Si Kacer biasa ia dipanggil, ikut-ikutan duduk bertengger meski redup cahaya dari layar lcd hp yang menyala.
Bocah laki-laki yang lebih muda dari Ervan tersebut, melirik-lirik orang di sampingnya yang tidak punya niat untuk bercengkerama.
“Kau tidak mau melihat mukaku? Aku sudah digampar berkali-kali hari ini, nih!” rintih si Riki walau sebenarnya sudah tak merasakan sakitnya lagi.
Ervan akhirnya menolehkan kepalanya hingga melihat luka dan memar pada wajah si Kacer. Ia sendiri masih kalah banyak, jumlah bekas pukulan yang didapatkan dalam aksi sembrono tadi.
Ervan sedikit menyesal. “Maaf! Aku telah melibatkan kalian dalam permasalahan pribadi.”
Si Riki pura-pura tidak terima. “Huh! Apa maaf bisa membuat wajah mudaku ini menjadi tampan kembali? Hehe!” tawanya remeh.
“Traktir kami makan di resto tempat kerjamu yang dulu, baru aku beri maaf!” ucapnya main-main.
Ervan tersenyum kecut saja menanggapi tingkah berandal kecil tersebut.
“Mengapa kau tidak kembali ke sana saja?” saran yang melemahkan denyut jantung si Ervan.
“Maksudku, kau dapatkan kembali pekerjaan di kedai makan Amanda itu! Kau juga bisa pulang ke rumah dan tidur di atas matras sendiri. Untuk apa terus bergabung dengan kami di sini sementara kau masih punya segalanya di tempat lain!” jelas Riki kepada sosok yang lebih tua darinya.
Mantan asisten koki pun dengan jujur menjelaskan keadaannya. Ervan mengakui segala kesalahan yang sengaja dilakukan. Sehingga dia harus dipecat bahkan pergi dari lingkungan tempat tinggal sendiri. Rumahnya telah dibiarkan kosong tanpa perabot interior yang memadai. Sudah habis diangkut semua untuk disimpankan sementara ke lokasi aman. Hanya sedikit setelan pakaian yang sengaja di tinggal di dalam lemari juga buku-buku koleksi yang tersusun di balik rak tersembunyi. Untuk sekarang, tak ada satu alasan penting bagi Ervan kembali pulang.
“Pacar? Memangnya pacarmu tidak bisa menjadi alasan kuat bagimu untuk pulang ke rumah?” tebak si Kacer.
Ervan memandang sinis remaja aktif itu. “Sepertinya kau hanya bermodus untuk mengusirku. Dasar bocah tengil!”
“Tidak-tidak! Aku berkata sungguh-sungguh! Ada, lah cewek yang selalu menunggumu jauh di sana! Kalau enggak, gebetan ada? Ya, kau ini juga tidak jelek-jelek amat, bukan?” ejek si Riki ingin bercanda.
“Kenapa diam? Benar ada?” tanyanya.
Si Ervan malah tak bersedia mengakui. Ia berpikir, mungkin semua hanya terbawa perasaan atau bisa jadi Lisa sudah terlalu abai kepadanya. Karena dia terus saja berada di dekat Niko. Kemudian Ervan menyerang balik ‘Kacer’ dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Namun siapa sangka, anak muda dari rantau itu justru mengungkap kisah pilunya tersendiri.
Enam belas tahun usianya saat pertama kali menginjakkan kaki di kapal feri. Riki pergi dengan modal upah jualan ikan tenggiri yang ditabungnya. Susah untuk meluapkan emosi awal, tapi dia nekat ikut menyeberang untuk mencari peruntungan. Mengubah takdir, begitulah yang banyak orang katakan. Ia ingin punya rencana kuliah seperti kawan-kawan di kelas. Tapi, untuk kebutuhan sehari-hari saja orang tuanya sudah kelimpungan guna memperoleh pinjaman. Si Kacer mengaku tak memiliki otak sepandai siswa lain yang seangkatan. Nilainya pas-pasan bahkan sangat kurang dan selalu mendapat urutan rangking paling bawah. Di saat murid STM lain mencari namanya dari baris atas ke bawah, Riki tak pernah kesulitan menemukan nama lengkapnya yang terpampang nyata pada daftar terakhir. Tapi sekali yang membuat ia merasa bodoh adalah tinggal setahun untuk lulus dan menerima ijazah sekolahnya. ‘Kacer’ malah menuruti emosi, benci dengan jalan hidupnya yang serba susah dan kekurangan. Bukannya tidak ada usaha tapi keadaan ekonomi mereka seolah tidak bisa lagi diubah ke arah yang lebih baik. Riki tinggalkan sekolahnya, teman mainnya termasuk keluarganya. Namun, keadaan macam inikah yang harus ia terima sekarang? Siapa pun yang bisa bekerja memang tidak dilihat dari nilai rapor atau ijazah kelulusannya. Akan tetapi Riki juga tidak pernah terpikir untuk bekerja sebagai seorang gangster. Pemula pula!
“Kalau aku bisa kabur dari sini, pasti aku sudah pergi!” keluhnya.
“Kalau begitu, pergilah!” kata si Ervan.
Namun dipertegas kalau si Kacer tidak bisa melakukannya karena masih punya utang dengan si Asisten botak itu hingga tersisa sebanyak satu juta rupiah. Semua hitungan itu berasal dari pinjaman untuk kiriman ke orang tuanya setiap bulan. 'Kacer' terus bekerja dalam geng ini untuk memberikan setoran sekaligus mengangsur utang. Entah sampai kapan ia akan meninggalkan kawasan ini agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di ibu kota.
“Maka dari itu, aku menyarankanmu untuk segera keluar dari penjara ini! Kalau terlalu lama, bisa-bisa kau tidak akan pernah lagi menikmati kehidupan yang berarti di luar sana. Semangat, Bro! Kesalahan tidak menutup pintu tobat. Hiduplah dengan lebih baik!” pesan dari seorang Remaja yang banyak tingkah.
Apa-apaan ini! Ervan diceramahi oleh anak petakilan berusia tujuh belasan. Tapi ucapannya memang dinilai benar. Mungkin sudah saatnya bagi Ervan untuk kembali menempuhi perbaikan dalam kehidupan.
“Siapa nama aslimu?” tanya Ervan.
“Riki!” jawab si Kacer singkat.
“Riki. Jika suatu hari aku sudah bekerja tetap dan mempunyai uang seribu kali lipat dari yang sekarang, aku akan ke sini lagi untuk melunasi semua utangmu.” janji Ervan yang mana uang di sakunya hanya tinggal 2000 perak.
Ervan pun menunjukkan selembar uang itu. Kemudian Riki menyambutnya. “Baiklah. Untuk sekarang, uang ini aku ambil dulu. Jadi kau tinggal melunasi 998.000 sisanya! Yang dua ribu mau aku buat belikan es besok siang.” alasannya.
“Berengsek!” kesal si Ervan meski dengan gaya candaan.
“Lalu, kau akan pergi tengah malam ini?”
Ervan pun terdiam.
---
Dan pada malam yang panjang itu, Niko masih memendam gejolak di dalam batin serta pikiran. Dia menduduki meja ruang kerja pribadi di kediaman dengan penuh rasa gundah. Kemudian sang Ibu masuk setelah mengetuk daun pintu. Ibu itu bisa merasakan bahwa ada banyak hal yang tengah mengganggu pikiran anaknya. Namun bu Melati masih meminta Niko untuk mempertimbangkan baik-baik setiap keputusan yang diambil. Gagalnya pertunangan dengan Lisa memang tidak berarti apa-apa bagi keluarga mereka. Namun jika Niko yang justru pindah domisili ke kota lain, apa itu tidak berlebihan? Dia meninggalkan ibunya sendiri di sini dengan Ervan yang masih bebas berkeliaran.
“Kapan kamu mau serius melaporkan anak itu ke polisi?” tanya bu melati. “Apa harus dengan cara menyingkir terlebih dahulu hingga semua opini kita akan membuka tabir di balik kematian ayahmu?”
Sang Anak hanya bermenung diri. Niko secara pribadi yakin, tanpa informasi dari dirinya pun polisi akan menangkap Ervan dengan barang bukti pendukung lain. Walaupun dikomplain ibu sendiri, Niko tetap memutuskan pergi sementara dari rumah. Ia ingin fokus mengembangkan rintisan usaha di bidang desain grafis dan fotografi. Sampai keesokan hari pukul 7 pagi, Niko melaju pergi meninggalkan gerbang kediamannya dengan mengendarai mobil silver lagi.
Sedangkan di titik lain sebelum matahari terbit pun, Lisa sudah menyempatkan diri berjalan-jalan hingga ke sekitar lahan resmi milik pemerintah kota. Sebuah tempat di mana seorang pemuda mulai terkuak rahasianya. Bekas gedung perpustakaan tersebut tidak hanya direnovasi tapi sudah dirobohkan dan hendak dibangun total dari fondasinya. Cukup sebentar saja untuk memutar kembali memori Lisa. Lalu gadis itu melangkah lagi di sepanjang pedestrian menuju ke rumah.
Dengan santai Lisa menghirup bersihnya udara pagi dan menikmati hawa sehat yang dulu sepertinya jarang ia syukuri. Namun, terhentilah Lisa di tengah perjalanan. Mendapati Ervan yang berdiri menyandarkan punggung pada pagar tembok rumah.