Pada dasarnya perasaan Ervan tetaplah sama. Sejak awal ia hanya ingin menjalin pertemanan dengan Lisa. Kata-kata cinta sekadar pemanis di bibir saja agar diri sang Wanita percaya dan terus berada di pihaknya. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Biar segala macam tudingan, persekongkolan, perdebatan bahkan kecurigaan dari Lisa sekalipun tak serta merta merusak hubungan di antara keduanya. Harapan dan niat untuk menjauhi Ervan pun luntur sudah oleh kenyamanan yang Lisa rasakan. Berjalan bersama Ervan membuat langkahnya ringan menapaki sisa hari yang melelahkan. Tapi kenyataannya nyaman itu hanya sampai jam dua belas lewat menit ke satu.
Lisa terbangun di tengah malam. Memori perjalanan pulang sempat terulang dalam mimpi alam bawah sadar. Selimut kasurnya terbang-terbang karena kaki yang m