Mengisi waktu libur sehari di akhir pekan. Lisa memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Ervan. Dipencetnya tombol bel di samping pintu itu sebanyak tiga kali. Tak ada suara dari sang Penghuni rumah. Hampir saja Lisa mengurungkan niatnya, lalu pintu pun terbuka. Mata yang berbinar-binar itu menyambut baik kedatangannya. Lisa dipersilakan untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sementara si Tuan rumah izin pergi ke belakang sebentar. Lisa merasa tidak enak hati karena langsung datang tanpa mengabari Ervan terlebih dahulu.
“Apa aku terlalu pagi datang ke sini?” tanyanya.
“Ah, tidak kok! Aku hanya belum sempat mandi sejak bangun tidur. Maaf ya!” jawab Ervan dengan santai.
Lisa tersenyum kecut. Ervan pun menyuguhkan segelas air dan sepotong kue manis di atas piring kecil.
“Apa kamu tinggal sendiri, Van? Eh, maaf aku sok tahu ya!” ujar Lisa.
Ervan tertawa. “Apa karena aku hanya menyuguhkan air putih dengan sepotong kue ini untukmu?”
“Tidak! Bukan begitu maksudnya.” Lisa takut Ervan merasa tersinggung.
Namun ternyata Ervan mengakui bahwa dirinya memang tinggal sendiri. Orang tuanya sudah tiada dan ia tak memiliki saudara kandung. Semua keluarga besar baik dari ayah maupun ibunya tinggal di kota yang berlainan. Lisa memaklumi keadaan Ervan kemudian mengambil minum, seteguk air cukup membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
“Ayo ikut!” ajak Ervan.
Lisa bertanya-tanya, “Eh! Ikut ke mana?”
Ervan menjelaskan kembali maksud kedatangan Lisa ke rumahnya adalah untuk mencari buku novel yang diinginkan. Lisa baru teringat. Kegusarannya sejak semalam masih berdampak sampai membuat Lisa serba salah di hadapan Ervan.
Lisa masuk ke dalam sebuah ruang perpustakaan pribadi. Setelah mempersilakan Lisa untuk bebas mencari judul novel yang hendak dibaca kemudian Ervan keluar meninggalkannya sendiri. Dengan sengaja ia membiarkan pintu itu tetap terbuka.
Buku-buku yang tersusun dengan sangat rapi berdasarkan kategori yang berbeda. Tak pernah Lisa melihat ada seseorang yang memiliki ruangan seperti ini di dalam rumahnya. Ruang berukuran 3x6 meter dengan lantai kayu benar-benar penuh oleh koleksi buku pada setiap raknya. Hanya ada dua kursi dengan satu meja tempat untuk membaca. Terkesan sangat klasik dalam pandangan seorang Lisa.
Namun bagi wanita 20an tahun tersebut kesan sesungguhnya dari tempat itu adalah bau menyengat dari kertas-kertas lama. Disimpan bersama debu-debu halus yang menempel. Apa Ervan tidak pernah lagi menggunakan ruangan tersebut?
Mata Lisa tertuju pada satu cover berwarna merah marun. Tanpa segan ia mengambilnya dan membaca sembari duduk. Diletakkan dan dibuka buku itu di atas meja. Lisa masih ingat bagian terakhir yang ia baca malam itu.
Dalam teks tertulis : Bab 12. Bulan Merah
…Seberkas cahaya itu tak bisa ia dapatkan. Hanya merasakan dingin, gelap di dasar kedalaman jiwa. Gadis kecil kembali tersesat dalam umbra gerhana malam ini. Sunyi dan sendiri. Ia menangis ingin kembali. Tapi hawa yang jahat menguasai dirinya, sekali dan sekali lagi…
Tiba-tiba, terdengar jelas ada suara pintu yang dibanting. Lisa berkali-kali memanggil sebuah nama namun tak pernah ada jawaban. Ia pun menutup buku novel yang sedang dibaca lalu mencari dimana keberadaan Ervan.
“Ervan…Ervan! Di mana kamu?”
Bunyi tetes air keran dari wastafel yang berada di ujung lorong, memecah suasana di dalam rumah yang sungguh sunyi.
Lisa melihat pantulan wajahnya pada sebuah cermin di dinding. Ia merasa tampak pucat, lingkar matanya menghitam, kulit muka kusam dan muncul tanda jerawat. Lisa memang tak bisa tertidur semalam suntuk. Bukan berpikir tentang Ervan melainkan telepon dari Desi yang terus menangis setelah tiba-tiba diputuskan oleh pacarnya tanpa alasan. Lisa serasa mendengarkan rekaman kaset yang diulang-ulang.
Kembali terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras. Lisa terkesiap.
“Ervan! Jangan menakut-nakutiku!” sikap Lisa mulai geram.
Kemudian ia berjalan lagi menghampiri daun pintu yang bergeser. Meski bukan di malam hari tapi kondisi di dalam rumah membuat Lisa merasa ngeri. Ia melihat dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka itu dengan hati-hati. Lisa mungkin tak salah lihat. Ada sebuah penampakan di sana, namun beberapa kali tertutupi oleh tirai kain dari jendela yang tertiup angin.
“Lisa…!”
Namanya disebut sebanyak tiga kali. Lisa semakin menajamkan konsentrasinya. Ia tidak yakin dengan makhluk jenis apa yang tengah dilihatnya. Apakah ada wujud kepala atau tidak, tapi dua kaki itu jelas menapak di atas bangku pendek dekat tempat tidur seseorang.
“Lisa!”
Pangilannya kini terdengar sangat dekat dan jelas, membuat jantung berdetak lebih cepat. Saat Lisa menoleh ternyata ada Ervan yang sudah berdiri di sampingnya.
“Apa ada yang salah dengan kamarku?” tanya Ervan.
“Hah? Maaf aku sudah tidak sopan! Tidak ada yang salah kok!” terang Lisa dengan rasa gugup.
Ervan langsung menutup rapat pintu kamarnya dan meminta Lisa untuk menunggu di ruang tamu.
Lisa terduduk dengan rasa bersalah sekaligus masih tanda tanya dengan sosok di dalam kamar Ervan. Tak lama kemudian Ervan datang lagi menemuinya. Tanpa disangka, Ervan meminta Lisa untuk keluar dari rumahnya sekarang juga. Ervan tampak tergesa-gesa dan memastikan kembali bahwa Lisa benar-benar sudah mendapatkan novel yang dicari dari rak buku miliknya.
Wanita dengan midi dress kasual biru lengan panjang itu keluar dari pintu. Lisa melihat sendiri tangannya menjadi gemetar sambil memegangi buku novel. Begitu cepat pintu rumah ditutup tanpa ada kesempatan sekadar untuk berpamitan. Lisa masih berdiri terpaku dan termenung sendiri. Ia semakin merasa tidak tahu diri. Ia menghela napas panjang. Kepalanya menengadah menatap terik matahari di siang hari.
“Ayo pergi!” suara seseorang datang dari arah samping rumah.
Lisa tak mengira, tiba-tiba ada ajakan untuk pergi ke bioskop. Ervan bersemangat sambil menunjukkan dua tiket film yang dimilikinya. Dia juga tampak lebih rapi dari penampilan sebelumnya. Setelah melalui nuansa horor dan tidak percaya diri, Lisa justru mendapatkan kesempatan menonton film bergenre komedi romantis. Mereka memang jalan berdua namun jangan diartikan bahwa ini akan menjadi sebuah kencan.
Baru setengah pemutaran durasi film, Lisa sudah merasa bosan. Genre romantis ternyata tak sesuai dengan selera visualnya. Lisa melirik ke arah Ervan. Menurut wanita itu si Pria juga tak menikmati jalan cerita. Dia hanya diam menatap lurus ke depan layar lebar. Ervan sama sekali tak menghiraukan Lisa yang terus saja memperhatikan kekakuannya. Tidak sejalan dengan romantisme tokoh pria dalam film yang mereka tonton. Tokoh pria itu membuat kejutan saat melamar tokoh wanita di depan khalayak ramai. Semua pemeran pendukung menyoraki si Wanita untuk menerima sang Pria dengan penuh semangat dan rona bahagia. Namun, orang yang duduk menonton di kursi sebelah Lisa sama sekali tak menunjukkan ekspresi di wajahnya.
Lisa sampai kehabisan minum dan camilan padahal durasi film masih setengah jam lagi. Ia ingin keluar terlebih dahulu tapi merasa tidak enak hati terhadap teman kerjanya yang sudah mau mengajaknya pergi. Tapi, Ervan juga tak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang sebelum film selesai diputar. Lisa pun menyandarkan punggungnya dalam posisi ternyaman pada sandaran kursi.
“Ha! Ha ha! Ha ha ha! Ah ha ha ha ha ha!”
Lisa mulai tertawa dan terus menertawakan adegan lucu yang baru muncul sepanjang akhir pemutaran film. Kini ia sangat menikmati alur film tersebut tanpa peduli lagi dengan Ervan. Komedi dari pasangan karakter dua tokoh yang selalu bertengkar setelah menikah, sungguh tak menggugah selera humor pria muda itu. Tidak seperti Lisa.
Akhirnya, Lisa dan Ervan pulang. Rasa lapar benar-benar sudah melilit perut Lisa. Ervan yang ingin mentraktirnya makan, justru ditolak. Lisa memilih untuk makan di rumah saja. Kali ini Ervan langsung menuruti apa yang dikatakannya. Mereka menaiki bus selama perjalanan dan turun di halte daerah tempat tinggal.
Setelah turun dari bus, kedua karyawan kedai makan tersebut kembali berjalan kaki seperti bagaimana saat berangkat siang tadi.
“Apa kamu suka dengan filmnya, Lisa?” tanya Ervan membuka topik pembicaraan di antara mereka.
“Iya, lumayan sih! Tapi cuma pas bagian akhir-akhir saja.” jawab si Lisa. “Kalau kamu, Van?”
Ervan tampak berpikir lalu hanya melepas senyum yang menyeringai. Tanpa dijawab, Lisa bisa mengerti dari sikap yang ditunjukkan oleh Ervan. Namun Lisa tak ingin mengungkapkannya.
“Mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir kali bagi kita untuk menonton film bersama!” ucap Lisa bercanda.
Kecanggungan itu langsung mencair dengan nada tertawa yang sama. Berlanjut pada obrolan santai di antara mereka tak menjemukan langkah kaki yang beriringan, hingga Ervan sampai di depan rumahnya. Lisa terlebih dulu mengucapkan salam perpisahan, tapi Ervan tetap tegak berjalan di sisi kanannya.
“Kau mau ke mana?” tanya Lisa keheranan.
“Tidak mau ke mana-mana! Hanya ingin jalan-jalan saja.” ujar Ervan tak semanis biasanya.
Lisa berpikir 80%, Ervan benar-benar orang yang aneh. Perubahan emosi yang kontras itu entah disadarinya atau tidak sama sekali. Ervan berjalan hingga Lisa sampai di rumahnya.
“Sampai jumpa lagi! Kalau aku sih tidak ingin jalan-jalan, Van. Aku sudah lapar! Aku mau makan.” keluh si Lisa.
Ervan hanya mengangguk sembari tersenyum dan mempersilakan Lisa untuk masuk ke dalam rumah.
“Lisa!” Ervan memangilnya sekali.
Lisa menunggu lalu diberikannya selembar kertas putih. Satu gambar sketsa lagi untuk Lisa yang tertidur di bangku penonton dengan tema yang sama seperti sebelumnya, monokrom. Lisa tidak tahu sejak kapan Ervan mengeluarkan pensil dan buku sketsa kecilnya, melihatnya membawa kedua benda itu pun juga tidak.
Jalannya lalu berbalik arah. Ervan kembali ke rumah bersama angin senja yang meniupnya.